Mohabbat

Mohabbat
Kebahagiaan Sempurna



"Kau tidak mendaftar?" tanya Dareen begitu tiba di rumah sakit, tapi Daisha melewati tempat pendaftaran begitu saja.


"Aku sudah membuat janji dengan dokternya, tidak perlu mendaftar lagi," jawabnya terus berjalan diikuti Dareen di belakangnya.


Keduanya terus melewati ruang demi ruang, tanpa sadar terpisah karena Dareen yang mendahului terus berbelok ke kiri menuju ruang pemeriksaan dokter mata. Akan tetapi, Daisha terus lurus ke depan menuju dokter kandungan.


"Apa kita langsung masuk saja, atau menunggu panggilan?" tanya Dareen sambil berdiri di depan ruangan bersama para pasien yang mengantri.


Dareen mengernyit ketika tak mendapat jawaban dari istrinya. Ia berbalik dan celingukan ke kanan dan kiri mencari-cari Daisha.


"Daisha?"


"Sayang!"


Panggilan yang dilakukannya tak kunjung mendapat jawaban. Ia menghampiri seorang pasien dan bertanya tentang wanita yang datang bersamanya tadi.


"Anda datang sendiri, Tuan. Tidak ada wanita yang datang bersama Anda," jawab pasien tersebut kebingungan.


"Tidak, Nyonya. Saya datang dengan istri saya. Dia cantik, berkulit putih, rambutnya bergelombang. Dia memakai dress berwarna ungu bermotif bunga pink. Jika ada yang melihat tolong beritahu saya," ucap Dareen sambil melirik pada pasien yang lainnya.


Tak ada sahutan dari mereka, kesemuanya menggelengkan kepala tak tahu karena yang mereka lihat Dareen datang sendirian.


"Oh, wanita tadi itu sepertinya pergi ke dokter kandungan. Coba Anda cek di sana, tadi saya melihatnya," jawab seorang wanita yang baru saja datang.


Dareen tertegun, berpikir untuk apa ke dokter kandungan, sedangkan dia ... mata Dareen membelalak, menerka kemungkinan. Ia segera berlari meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke dokter kandungan. Di sana, Daisha tengah menunggu dirinya.


Ia melambai dengan bibir yang mengerucut kesal, berbalik meninggalkan Dareen memasuki ruang pemeriksaan lebih dulu. Dareen menggaruk kepalanya serba salah, ia tak tahu jika tujuan Daisha adalah dokter kandungan.


"Silahkan duduk, Tuan!"


Dokter tersebut menunjuk kursi kosong di samping Daisha. Dareen yang terlihat bingung pun mengikuti perintah dokter tersebut. Ia duduk sambil melirik Daisha yang diam tak menjelaskan apapun.


"Sayang, kenapa kita di sini?" tanyanya pada Daisha sambil melirik dokter yang tersenyum tak jelas.


"Kakak tidak bertanya, kenapa pergi meninggalkan aku begitu saja? Memangnya Kakak pikir kita mau ke mana?" Daisha bersungut-sungut.


"Dokter mata?"


"Untuk apa?"


"Untuk memeriksa matamu itu, apa lagi?"


Daisha mendesah, ia menunduk menahan segala emosi. Dalam hati menertawakan suaminya itu. Ia mengangkat wajah, menatap nakal pada Dareen.


"Mataku baik-baik saja, tidak ada masalah apapun. Yang aku khawatirkan dia yang ada di sini," ucap Daisha sambil menarik tangan Dareen dan menempatkan tangan tersebut di perutnya.


Beberapa saat Dareen berhenti bernapas, tubuhnya melayang entah ke mana? Ia tercenung, kedua matanya membelalak dan tak berkedip barang sedetik pun. Sungguh kejutan luar biasa untuknya.


"Kakak! Hei, kenapa melamun?" tegur Daisha sembari mengibaskan tangan di depan wajah suaminya.


Dareen menundukkan pandangan, menatap tangannya yang masih menempel di perut sang istri. Pandangannya kembali terangkat memandang Daisha yang tersenyum manis dan lembut.


"K-kau ha-hamil?" Dareen terbata bertanya pada istrinya.


Di pelupuk, air tengah berkumpul dan siap jatuh kapan saja. Apalagi saat Daisha mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaannya itu.


"Iya, di sini Dareen kecil sedang berjuang untuk tumbuh," jawab Daisha lirih.


Jatuh air mata Dareen, ia memeluk istrinya dan terisak lirih. Daisha melirik dokter yang tengah memperhatikan mereka dalam diam. Tersenyum melihat kebahagiaan dari sepasang suami istri muda itu.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah memberiku hadiah ini. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakan rasa terima kasihku padamu, sayang. Aku benar-benar bahagia," ucap Dareen penuh syukur.


Daisha melepas pelukan, mengangguk seraya menghadap dokter bersamaan dengan Dareen.


"Jadi, ada keluhan apa, Nyonya?" tanya dokter memulai pemeriksaan.


"Tunggu, apa kau merasakan sakit? Kenapa tidak mengatakannya padaku?" tanya Dareen dengan cepat dan cemas.


Daisha hanya tersenyum canggung, ia terus menceritakan semuanya. Tentang kepergiannya pagi tadi dan hampir menabrak seseorang di jalanan.


"Apa? Kau mengendari mobil sendiri? Tapi ke mana kau pergi?" Dareen tersentak kaget mendengar cerita istrinya.


"Tidak apa-apa, sekarang mari kita lakukan pemeriksaannya." Dokter menengahi setelah melihat Daisha yang kebingungan untuk menjelaskan pada suaminya itu.


"Ah, ya. Benar, semoga kalian baik-baik saja," timpal Dareen seraya beranjak dan membantu Daisha untuk berdiri pula.


Di atas sebuah ranjang khusus pemeriksaan, Daisha berbaring. Dokter membuka pakaian atasnya, dan menyelimuti bagian bawah Daisha. Mengoleskan gel khusus ke permukaan perutnya untuk kemudian melakukan USG.


"Hhmm ... sepertinya dia baik-baik saja. Janin kalian masih sebesar biji kacang. Lihat, dia di sini dan sedang berkembang." Dokter menunjukkan letak janin di dalam rahim Daisha.


Berkaca-kaca kedua pasang mata yang melihatnya, Dareen begitu terharu. Ia terus menciumi tangan Daisha tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor di depan mereka. Itu adalah calon anaknya, Dareen kecil yang sedang berjuang untuk tumbuh.


"Usia kandungannya sudah memasuki mingguh ke empat, dan biasanya muncul gejala-gejala yang disebut ngidam pada trimester pertama ini. Seperti mual, muntah, dan banyak lagi. Apa Nyonya merasakan itu semua?" tanya dokter sambil merapikan kembali alatnya.


"Tidak, Dokter. Hanya sesekali saja saya merasa mual, biasanya di waktu pagi," jawab Daisha sembari beranjak dibantu Dareen.


"Awalnya aku mengira hanya masuk angin biasa, tidak tahu jika sedang hamil. Aku tahu setelah tertembak dan dilarikan ke rumah sakit," jawab Daisha membuat Dareen membelalak.


"Kau tertembak? Kau juga tidak mengatakan ini kepadaku, di mana ... di bagian mana kau tertembak?" Dareen terlihat cemas, ia memeriksa tubuh Daisha dari ujung rambut hingga kaki.


Dokter tersenyum kecil melihat itu, ia kembali ke kursinya menunggu sepasang suami istri yang sedang berdebat kecil di sana.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja dan sudah sembuh. Sudah tidak sakit lagi," jawab Daisha sembari mengajak Dareen untuk kembali ke kursi.


"Tidak! Katakan dulu di bagian mana kau tertembak?" tuntut Dareen mencegah istrinya untuk beranjak.


Daisha menghela napas, ia membuka baju bagian kiri dan menunjukkan luka bekas hantaman timah panas itu. Dareen menyentuh luka tersebut, hatinya perih melihat Daisha harus menahan kesakitan seorang diri.


"Maafkan aku karena tidak tahu kau terluka. Aku memang tidak berguna. Aku tidak berguna."


Dareen merutuki diri sendiri, tapi Daisha meletakkan jari telunjuknya di bibir itu. Ia menggeleng menolak segala pernyataan Dareen.


"Ini tidak lebih sakit daripada harus berpisah denganmu. Luka ini bisa diobati siapa saja, dokter mana saja, tapi rasa rindu yang menyiksa hanya kau yang bisa mengobatinya," tutur Daisha begitu menghanyutkan perasaan Dareen.


Laki-laki itu tertegun mendengarnya, mereka lupa sedang berada di mana hingga deheman dokter membuat keduanya berpaling dengan wajah malu yang kentara.


Dokter memberikan resep vitamin setelah mereka duduk berhadapan dengannya. Keduanya keluar ruangan dengan hati yang riang dan bahagia. Dareen tidak membawa Daisha pulang, tapi mengajak istrinya ke tempat yang dia inginkan.


"Kak, aku ingin menghubungi Bibi. Aku berjanji padanya akan membawa Bibi ke makam paman. Jadi, kita akan menunggu Bibi dulu," ucap Daisha.


Dareen menepi, Daisha menghubungi Areta dan menunggunya. Begitu antusias wanita itu akan bertemu dengan suaminya walau hanya berupa gundukan tanah. Ia datang dengan cepat mengendari mobil sendiri. Daisha segera menuntun ke sebuah tempat yang tidak terpencil seperti villa Alejandro.


Sungguh tempat yang tak pernah Areta duga sebelumnya. Masih berada di wilayah tersebut dan tak jauh dari keramaian kota. Hanya saja sangat tertutup dan nyaris tak pernah terbuka.


Dareen mengkonfirmasi kedatangannya pada Pak Deni


juga sang istri. Gerbang tinggi itu terbuka, Areta terkagum melihatnya. Ia memuji kecerdikan Daisha yang telah mendesain tempat tersebut.


"Dia memang luar biasa, sungguh pemikiran yang sangat cerdas membangun tempat tertutup dan misterius di tengah-tengah kota yang ramai," puji Areta sambil melihat-lihat sekitar tempat tersebut.


Mobil terparkir dan mereka turun, di sana Pak Deni dan istrinya telah berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang kembali, Nona, Tuan. Nyonya, bagaimana kabar Anda? Lama kita tidak bertemu," sapa Pak Deni dengan ramah dan sopan.


"Terima kasih, Pak," sahut Daisha tak kalah ramah.


"Deni? Astaga! Aku tidak percaya ini, kau begitu setia terhadap Damian hingga masih bekerja untuknya padahal dia sudah tiada. Kau memang pantas diberikan penghargaan," puji Areta terkagum-kagum pada sepasang suami istri itu.


"Terima kasih, Nyonya. Saya senang melihat Anda kembali. Mari, saya antar!" ucap laki-laki itu seraya berbalik dan menuntun mereka menuju belakang villa tersebut.


"Jadi, di sini mereka dikuburkan? Kau pandai sekali." Areta kembali memuji.


Semua itu tidak membuat Daisha terus senang, dia membangun tempat itu semata-mata hanya untuk menyembunyikan makam ketiganya agar tidak diketahui orang-orang yang telah membunuh mereka.


Areta menumpahkan kerinduan pada suaminya dengan menangis tersedu di depan makam Alejandro. Ia mengais-ngais tanah seolah-olah ingin menggalinya kembali.


"Sudahlah, Bi. Lagipula, semuanya sudah impas. Sekarang biarkan paman beristirahat dengan tenang, kita doakan saja semoga paman mendapatkan tempat terbaik di sana," ucap Daisha menyadarkan Areta dari kesedihan yang membuatnya larut.


Areta beranjak, ia menggelengkan kepala menolak meninggalkan makam tersebut.


"Bibi ingin tinggal di sini beberapa waktu, bolehkah? Bibi masih merindukan pamanmu," pinta Areta dengan sangat-sangat.


Daisha menatap Dareen, laki-laki itu mengangguk mengizinkan Areta untuk menetap di sana.


"Ya sudah, Bibi. Kami kembali dulu, tinggallah sesuka hati Bibi di sini. Ada Pak Deni dan istrinya yang akan melayani Bibi selama di sini, tapi kuharap Bibi tidak terus menerus menangisi paman," ucap Daisha sebelum pergi meninggalkan Areta sendirian di makam tersebut.


****


Di rumah, oleh karena Areta tidak datang menjemput, Laila pergi ke rumah Daisha seorang diri sepulangnya sekolah. Ia tidak tahu jika di rumah itu ada Dewi yang berkuasa saat Daisha tak di rumah.


"Kakak!" panggil Laila dari teras rumah. Ia membuka sepatu dan menaruhnya di rak.


Masuk ke rumah terus langsung menuju dapur. Melihat Bibi yang sedang membereskan dapur, Laila tersenyum.


"Bibi, ke mana Kakak?" tanyanya sambil duduk di kursi dan meletakkan tas di meja.


"Nona pergi bersama Tuan ke rumah sakit dan belum kembali," jawab Bibi.


Laila mengangguk-anggukan kepala, kemudian beranjak dan hendak menuju kamarnya.


"Eh, Nona. Jangan ke kamar, di sana ada mertua Nona sedang beristirahat," sergah Bibi sebelum Laila pergi dari dapur.


"Apa? Nenek sihir itu?"


Bibi mengangguk.


"Untuk apa dia di kamarku?" Laila menggeram.