Mohabbat

Mohabbat
Pergulatan



Tekanan yang dirasakan Daisha pada kepalanya, sama sekali tidak membuat gadis itu meringis ataupun merintih kesakitan. Dia tetap diam meski tangan lancang itu mencengkeram dagunya.


Daisha tersenyum sinis saat hembusan napas berat menerpa kulit wajahnya, mengusik telinga. Dia tahu siapa yang telah melakukan itu padanya.


"Apa hubunganmu dengan laki-laki itu?" tanyanya dengan suara berat lagi serak.


Emosi yang membuncah telah menguasai dirinya, rahang yang mengeras, napas yang memburu berat, dan kulit wajah yang menghitam. Tangannya semakin kuat menarik rambut bergelombang Daisha.


Beberapa saat diam, Daisha melayangkan serangan. Ia meludahi wajah si pemilik tangan lancang itu hingga sontak cengkeramannya terlepas.


"Sial! Wanita menjijikkan!" Dia mengumpat sambil berdiri mengusap ludah di wajahnya.


Daisha tertawa terbahak, serangan yang efektif untuk melepaskan diri dari dia yang lancang.


"Kau pikir akan mudah menindasku, Kakak ipar? Tidak semudah yang kau bayangkan!" Daisha meraba tongkat, berdiri perlahan dengan berani.


Sial! Kenapa dia tidak mudah ditindas?


Seseorang yang tak lain adalah Cakra itu, memicingkan mata tak senang. Mencari cara bagaimana mengalahkan Daisha.


"Kenapa kau begitu ingin tahu hubunganku dengan laki-laki itu? Apa kau takut? Haha ...."


Daisha kembali tertawa. Sementara Cakra mengepalkan tangan kuat-kuat bersiap menyerang adik iparnya itu.


"Alejandro memang luar biasa. Dia selalu berhasil membuat lawannya gemetar seperti dirimu, bahkan hanya mendengar namanya saja sudah membuatmu ketar-ketir seperti sekarang ini. Payah!" cibir Daisha semakin menyulut emosi dalam jiwa Cakra.


Kurang ajar! Aku tidak bisa menerima penghinaan ini. Lancang sekali si Buta itu! Dia juga sombong, dia pikir akan mampu melawanku? Sedangkan melihat saja, dia tidak mampu.


Cakra melayangkan serangan, dengan tangan terkepal dia menyerang wajah Daisha. Namun, si Gadis Buta itu berhasil menangkis serangannya, bahkan membalikkan keadaan. Terjadi pergulatan antara kedua orang itu, halaman belakang yang sengaja dibuat sepi oleh Cakra, menjadi medan tempur untuk mereka.


Setiap serangan yang dilayangkan laki-laki itu selalu berhasil dihalau Daisha sehingga tak satu pun pukulannya berhasil menyentuh tubuh sang adik ipar. Yang ada dua kali pukulan Daisha mengenai wajahnya.


Gadis buta itu mengayunkan tongkatnya, menepis tangan Cakra, dengan kakinya dia menendang dada sang kakak ipar hingga terkapar di atas tanah berumput.


Sret!


Gerakannya begitu cepat, entah kapan tongkat itu melayang, tahu-tahu ujungnya sudah berada tepat di leher Cakra. Sekali tusuk, dia tak akan pernah bisa berkutik lagi untuk selamanya.


Daisha tersenyum sinis. Langkahnya pelan, tapi menusuk. Tanpa segan, dia menginjak dada Cakra, menekannya hingga membuat laki-laki itu meringis. Jangan lupakan darah yang mulai mengering di salah satu sudut bibirnya. Dia kalah telak.


"Kau ingin tahu hubunganku dengannya? Dia adalah pamanku. Paman dari ayahku. Kenapa dia datang ke Indonesia? Satu alasan, untuk membalas dendam kematian kedua orang tuaku. Sayangnya, dia dikhianati teman sendiri karena terlalu percaya padanya."


Daisha membungkuk, cukup mengintimidasi meskipun kedua mata itu tidak mengarah pada Cakra. Mendengar kenyataan yang ingin diketahuinya, Cakra membelalak tak percaya. Ia meneguk ludah susah payah, gugup sekaligus takut mulai mengisi relung hatinya.


"Seseorang yang hidupnya bergantung saja dapat dengan mudah berkhianat. Untuk itu, aku tidak pernah mempercayai siapapun, termasuk semua orang di dalam rumah ini." Daisha menekan setiap kata yang diucapkannya.


"Itu artinya kau juga tidak mempercayai suamimu?"


"Argh!"


Cakra menjerit ketika Daisha menekan semakin dalam dadanya.


"Suamiku pengecualian. Aku sudah hidup dengannya beberapa bulan ini, tentu saja aku tahu bagaimana dia? Jangan pernah berpikir kau akan mudah mempengaruhi kami. Ingat ini baik-baik, berani kau menyentuh suamiku, maka aku tak akan segan membongkar semua rahasiamu di depan Ayah mertua. Lagipula ...."


"Argh!"


"Jika kau menginginkan posisi itu, kenapa tidak kau minta baik-baik saja pada ayahmu. Bicarakan padanya dengan logika yang dapat diterima. Jangan pernah menyerang dari belakang seperti seorang pengecut. Melakukan berbagai macam cara, bahkan dengan kejamnya merencanakan pembunuhan terhadap adik kandung sendiri. Hmm ...."


Daisha mencibirkan bibir, ia berbalik dan pergi meninggalkan halaman belakang. Ke mana dia mencari jalan? Dareen belum menunjukkan tempat itu padanya. Mengandalkan insting juga ayunan tongkat, dia mencari jalan sambil mengingat-ingat arah Cakra menyeretnya tadi.


Sementara itu di tempatnya, Cakra masih terbaring di atas rumput. Mengatur napas yang tersengal dan dada yang terasa sesak akibat hantaman kaki Daisha. Kedua matanya melirik tajam sosok yang menjauh sambil meraba-raba itu.


"Dia seperti kebanyakan orang buta, tapi kenapa begitu kuat. Dia juga bisa mengetahui arah datangnya serangan dan menangkisnya. Aku harus lebih berhati-hati, terlebih dia adalah keponakan laki-laki itu. Bagaimana mungkin? Bukankah Alejandro tidak memiliki saudara? Ah, sial!"


Cakra membanting kepalanya, menengadah menghadap langit yang tampak cerah. Matahari barulah naik sepenggalan, sinarnya terasa hangat menerpa, tapi amarah yang bergejolak dalam dada Cakra sudah mendidih selayaknya air di atas tungku.


Dia menyusut sudut buburnya, cairan merah itu sudah mengering. Terlihat membiru dan terasa ngilu. Dia bangkit sambil menahan nyeri di seluruh bagian tulangnya terutama punggung. Lemah!


Sementara Daisha berhasil menemukan jalannya meski di tempat berbeda. Bibi yang sedang membersihkan dapur tersentak melihat istri majikannya tiba-tiba muncul dari pintu belakang dengan keadaan yang kacau.


"Nyonya!" pekik Bibi seraya berhambur mendekati Daisha.


"Bibi? Kaukah itu?" Daisha bertanya dengan suara yang bergetar. Dia bahkan meneteskan air mata, terlihat ketakutan.


"Benar, Nyonya. Ini saya. Apa yang terjadi? Kenapa Anda muncul dari belakang dengan keadaan kacau seperti ini?" tanya Bibi cemas.


Daisha memeluk wanita paruh baya itu, menangis menumpahkan ketakutan yang sejak tadi ditahannya. Bibi tertegun, untuk seumur hidup dia bekerja di rumah itu, ini kali pertama sang majikan memeluknya tanpa segan. Tak ada jarak yang memisahkan mereka, Daisha merindukan pelukan seorang ibu.


Dengan ragu Bibi membalas pelukannya, mengusap punggung bergetar wanita itu. Rasa hangat mengalir di seluruh pembuluh darahnya, perlahan hati mulai menemukan kembali ketenangannya. Trauma yang dihilangkannya dengan susah payah, kembali datang menjelma bagai mimpi buruk.


Beruntung, dia bertemu dengan Bibi. Pelukan hangat juga sapuan lembut di punggungnya berhasil menepis rasa takut karena trauma yang datang tiba-tiba.


"Sudah, jangan menangis. Bibi antar ke kamar," ucap Bibi dengan lembut.


Daisha melepas pelukan, mengusap air mata dan mengangguk. Dituntun Bibi, ia menapaki anak tangga dengan kakinya yang lemas. Daisha tertegun di anak tangga yang ke sepuluh saat Cakra melintas di bawahnya.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Bibi cemas.


Daisha menggelengkan kepala seraya melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar. Bibi bahkan membantunya berbaring dan menyelimuti tubuh tersebut. Wanita paruh baya itu tertegun ketika melihat luka gores dan lebam di kaki Daisha.


"Tunggu sebentar, Nyonya. Saya akan segera kembali," ucap Bibi.


Ia pergi beberapa saat dan kembali dengan kotak obat juga air hangat.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Nyonya?" tanya Bibi sambil membersihkan luka gores di kaki Daisha.


"Seseorang mencoba melukaiku, Bi. Aku tidak tahu karena aku tidak dapat melihat," jawab Daisha lirih.


Bibi tertegun mendengarnya, berpikir tentang Aleena yang membenci Daisha, dan ada Dewi yang menolak hadirnya. Apakah kedua orang itu? Sayang sekali, tak ada cctv terpasang di halaman belakang itu.


"Siapa yang berani melakukan ini semua terhadap Nyonya. Sungguh, dia sedang menggali kuburannya sendiri."


Daisha tersenyum, masih ada yang peduli di rumah itu padanya selain suami dan ayah mertua.