
Sinar mentari muncul secara perlahan, menabur kehangatan pada hati setiap insan. Menghidupkan harapan setelah pupus semalaman. Kelopak mata yang lelah mulai terbuka merasakan sinarnya yang berkilauan, menerpa kulit meresap menembus sanubari yang kesakitan.
Di atas ranjang pesakitan, wanita itu masih terbaring setelah berbincang dengan suaminya hampir semalaman. Dareen datang setelah keduanya terlelap, berbaring di sisi sang istri sambil memeluknya.
Keputusan yang diambilnya sungguh berat, Dareen memutuskan untuk meninggalkan rumah itu meski harus berdebat dengan ayah dan ibunya. Alasan yang dia berikan dianggap tidak masuk akal dan hanya mengada-ada saja.
Namun, demi keselamatan Daisha, demi kebahagiaan istrinya itu, dia harus mengambil keputusan. Bertanggungjawab atas wanita yang menjalin sumpah bersamanya di hadapan Tuhan dan semua para saksi.
Awalnya Dareen akan membawa Daisha tinggal di sebuah apartemen, tapi wanita itu menolak dan memilih tinggal bersama Laila di rumah sederhananya.
Dareen membuka pintu ruangan, ia membeli sarapan untuknya dan Daisha. Sementara Bibi telah pulang sejak subuh tadi. Dareen tersenyum melihat wanitanya masih terpejam dengan lelap. Sinar matahari sama sekali tidak membuatnya terusik. Ia tetap damai dalam tidurnya.
Diletakkannya bungkusan yang ia bawa di atas lemari kecil, duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah sang istri dengan saksama. Tangannya dengan lembut mengusap dahi hingga pipi Daisha, mengecup singkat bibir ranum miliknya itu.
Daisha mengernyit, merasa terusik hingga ia membuka mata meski sama saja baginya.
"Kak, kenapa tidak membangunkan aku?" Dihirupnya aroma tubuh dareen, dikalungkannya kedua tangan melingkar di leher laki-laki itu.
Dareen mengecup bibirnya lagi, sebelum beranjak membantunya duduk.
"Kakak beli sarapan? Bukankah sarapan disediakan pihak rumah sakit?" tanya Daisha saat mencium aroma makanan.
Dareen tersenyum, ia mengambil bungkusan yang dibelinya tadi seraya membukanya.
"Kata orang, masakan di rumah sakit itu tidak enak. Rasanya hambar dan membuat lidah terasa pahit. Jadi, aku membeli sarapan ini untukmu," ucap Dareen.
Daisha tersenyum mendengarnya, memang benar apa yang dikatakan orang itu. Masakan di rumah sakit dan masakan di rumah itu sangat berbeda. Entah mengapa demikian?
"Mmm ... ketoprak! Pasti rasanya enak," pekik Daisha sambil bersiap untuk makan.
Dareen menyuapinya dengan hati-hati, melihat wanita itu makan dengan lahap sungguh hatinya bahagia.
"Mmm ... sayang, beritahu aku siapa yang kemarin menyerangmu ... emmh, maksudku yang menyuruh mereka menculikmu," tanya Dareen di sela-sela menyuapi istrinya itu.
Daisha mengunyah cepat makanan di mulutnya, biarlah untuk kali ini Dareen mengetahuinya.
"Tuan Nugraha, dia yang telah memerintahkan mereka untuk menculikku. Demi anaknya bisa menikah denganmu, dia ingin aku mati," jawab Daisha seraya membuka mulutnya lagi.
Dareen tercenung setelah memberikan suapan terakhirnya pada Daisha. Kenapa banyak sekali orang yang ingin memisahkan mereka? Apa salah Daisha sehingga wanita itu dianggap tidak pantas menjadi pendamping hidupnya.
"Kak, aku mau minum. Apa kau membeli susu jahe untukku?"
Suara Daisha menyentak lamunan Dareen, laki-laki itu segera mengambilkan apa yang diminta olehnya. Daisha mengambil alih gelas tersebut dan meminumnya sendiri.
"Kenapa ada banyak orang yang ingin kita berpisah?" gumam Dareen tanpa sadar.
Batinnya tertekan karena penolakan itu, terlebih sang ibu yang sampai saat itu pun tidak mau menerima atau menganggap Daisha sebagai menantunya.
"Karena aku tidak sepadan denganmu, Kak. Terlebih, aku hanyalah wanita buta yang sudah pasti akan menyusahkanmu. Yah, seperti saat ini. Kau bahkan tidak pergi ke kantor hanya untuk menjagaku di sini," jawab Daisha terdengar tanpa beban sama sekali.
Dareen terkesima, tatapan matanya menolak pernyataan Daisha yang merendahkan dirinya sendiri.
"Tidak, sayang. Kau tidak menyusahkan aku sama sekali, tidak pernah. Justru aku yang selalu menyusahkanmu, Aku yang selalu membuatmu dihadapkan dengan masalah besar. Karena aku, kau bahkan mendapatkan perundungan. Semua itu karena aku," ungkap Dareen sembari mengusap pipi Daisha.
"Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Aku percaya kau mencintaiku. Itu saja sudah cukup." Daisha tak ingin berlarut dalam hal yang tidak seharusnya menganggu perjalanan mereka.
Biarkan saja mereka berbuat semaunya. Di dalam hidup ini berlaku hukum sebab akibat. Tak akan ada asap jika tidak ada api. Jadi, biarkan saja selama mereka tidak menyentuh kulit apalagi sampai menggoresnya, maka diam adalah lebih baik.
"Kakak!"
Teriakan Laila sambil membuka pintu dengan tiba-tiba mengejutkan mereka berdua. Remaja itu berlari memasuki ruangan dengan seragam sekolah melekat di tubuhnya. Dia menangis, memeluk Daisha dengan erat.
Berselang, Alfin menyusul masuk. Sepertinya laki-laki itu yang membawa Laila ke rumah sakit. Dareen beranjak, berpindah pada sofa. Duduk berdua dengan asistennya itu.
"Sudah, jangan menangis. Kakak tidak apa-apa," ucap Daisha menenangkan.
Tangannya mengusap-usap lembut punggung Laila yang berguncang. Ia jatuhkan kepala di atas pundaknya. Betapa dia merindukan adiknya itu, merindukan kebersamaan mereka seperti saat di desa dulu.
Laila melepas pelukan, menyusut air mata yang berjatuhan di pipi. Daisha tersenyum, terharu sendiri karena selain mereka yang membencinya, ada banyak yang mengkhawatirkan dirinya.
"Kenapa tidak ada yang mengatakannya kepadaku jika Kakak masuk rumah sakit? Apa Kakak sudah tidak menganggapku lagi? Aku sedih," ungkap Laila kembali menangis tersedu-sedan.
"Bukan begitu, sayang. Kakak hanya tidak ingin membuatmu cemas, lagipula kau sedang bersekolah. Fokus saja pada belajarmu, ya," sahut Daisha sambil mengusap pipi adiknya itu.
Laila menggelengkan kepala, menolak untuk pergi ke sekolah.
"Tidak mau. Hari ini aku mau di sini bersama Kakak. Aku tidak mau pergi ke sekolah hari ini, aku mau di sini," tolak Laila sambil memeluk Daisha kembali.
Alfin membelalak sambil menyahut, "Kau sudah berjanji akan pergi ke sekolah setelah bertemu dengan Nona. Kenapa sekarang kau mengatakan ingin di sini?"
Laila melepas pelukannya lagi, mengusap air matanya dengan cepat.
"Siapa yang akan tega meninggalkan Kakak dengan kondisi yang seperti ini? Kau tidak lihat, wajahnya pucat. Kakak juga terlihat lemas. Pokoknya, aku mau di sini!" tegas Laila mendramatisir keadaan Daisha.
"Kau!" Alfin tersentak.
Dareen menepuk bahunya membuat Alfin mendengus kesal.
"Sudahlah tidak apa-apa, biarkan Laila di sini. Aku juga merindukan adik kecilku ini," ucap Daisha mencetak senyum penuh kemenangan di bibir Laila.
"Kalian pergi saja ke kantor, biar aku yang menjaga Kakak."
Dareen menghela napas, hari itu dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor karena alasan menjaga Daisha. Jadilah mereka pergi dan Daisha ditemani Laila.
****
Malam kembali datang memberikan waktu pada semua manusia untuk jeda dari semua kegiatan. Tidur mengistirahatkan tubuh dalam dekapan sang gulita.
Dareen sedang berada di ruangan dokter, mendengarkan penjelasan tentang kondisi istrinya.
"Jadi begitu, Tuan. Persiapkan saja semuanya."
Dareen tertegun, lama ia menunduk sebelum menyetujui.