Mohabbat

Mohabbat
Dia Pembunuh!



"Mencari sesuatu? Atau sedang menghindar?"


Suara teguran Daisha menyentak seorang laki-laki yang dirundung gelisah di halaman belakang rumah besar itu. Ia yang sedang berjalan bolak-balik sambil memikirkan sesuatu lekas saja menoleh pada sumber suara.


Matanya memicing, menilik Daisha yang asik berdiri di dekat sebuah kolam ikan menatap hampa ke depan.


"Kau ... apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sengaja membuntuti aku?" geramnya.


Ia berdiri dengan kedua tangan yang mengepal, melihat Daisha seolah-olah melihat sosok dari masa lalu yang selalu membuatnya gemetar.


Daisha terkekeh, ia berbalik tanpa menatap sosok laki-laki itu berpura-pura buta dan lemah. Kedua maniknya memancarkan dendam dan kebencian yang jelas terlihat. Siapapun yang melihat, pasti akan tahu jika hatinya tengah membara.


"Membuntuti? Kukira tidak, aku hanya sedang mengenang kekalahanmu pada waktu itu, Kakak ipar. Apa kau ingat? Kau pernah menyeretku ke sini dan bahkan berniat membunuhku. Aku tahu apa tujuanmu. Kau takut dosa masa lalumu terbongkar, bukan? Aku benar." Daisha tertawa sampai kedua matanya menyipit.


Mata laki-laki yang tak lain adalah Cakra itu membelalak, bulat sempurna. Sungguh tak menyangka selain dendam karena pamannya, dia juga dendam karena Cakra selalu mengganggunya.


"Katakan sesuatu, Kakak ipar? Apa kau sudah melupakan itu?" tuntut Daisha sembari melangkah ke depan.


Cakra menilik kedua mata wanita itu, teringat pada cerita Aleena tentang penglihatan Daisha saat di rumahnya. Namun, mata itu tetap kosong tak ada harapan. Masih sama seperti sebelumnya.


"Lalu, kau mau apa? Mau membalaskan dendam dengan keadaanmu yang seperti ini? Hah ... berjalan saja kau harus merayap," cibir Cakra sembari mengambil sebuah balok kayu untuk ia hantamkan pada kepala Daisha.


Ia melangkah pelan sambil menatap Daisha dengan awas. Sebagai orang yang pernah berduel dengan wanita itu, dia tahu Daisha memiliki kepekaan dan ketepatan yang sempurna meskipun dia buta.


"Membalas? Kau ingin aku membalas dengan cara apa? Kelumpuhan, ataukah kematian?" sahut Daisha sembari melirik Dareen yang berjalan memutari tubuhnya.


Laki-laki itu mengangkat balok kayu, bersiap memukul kepala Daisha dari belakang.


"Apapun yang kau inginkan, aku tidak masalah."


Cakra mengayunkan balok tersebut tepat di bagian tengkuk adik iparnya.


"Mati kau!"


Bugh!


Begitu cepatnya balok itu terayun hingga terlempar jauh. Tubuh Daisha yang memutar dengan kaki terangkat berhasil memukul mundur Cakra hingga membentur tembok sekaligus menjatuhkan kayu tersebut. Daisha berlari, kemudian mengangkat kakinya menekan leher Cakra ke dinding.


Daisha menggerakkan kaki ke atas hingga dengan terpaksa Cakra mengangkat dagunya. Rahangnya beradu keras, menimbulkan rasa tak nyaman di bagian wajah. Ia menyamping, menatap Cakra dari balik kakinya yang lurus.


Senyum tercetak sinis, matanya menatap lekat sang kakak ipar yang tak berkutik. Kedua tangan Cakra mencengkeram kaki Daisha, tapi semakin kuat dia meronta, semakin kuat pula kaki itu menekan.


"K-kau ...."


Cakra menggeram dari balik giginya yang terpaksa merapat.


"Kau pikir aku masih buta? Adikmu telah berkorban banyak untuk membuatku bisa melihat lagi. Dia orang baik yang terjebak di dalam keluarga jahat seperti kalian."


"Argh!"


Cakra menjerit tatkala istri Dareen itu melepas kaki di lehernya dan menghantam wajah itu dengan kaki yang lain. Cakra jatuh tersungkur sambil memegangi rahangnya yang terasa kram dan kaku.


"Bangun! Bukankah kau berdiri tegak saat membunuh pamanku? Bangkit, bajingan! Kau lemah!" cibir Daisha yang tak dapat menahan dirinya.


Cakra beranjak pelan-pelan, tapi Daisha tidak memberinya kesempatan untuk berdiri tegak. Ia melayangkan pukulan tepat di wajahnya, lalu menendang perut Cakra lagi hingga tubuh laki-laki itu melayang dan jatuh berdebam.


"Aku tidak menyangka, ternyata aku menikah dengan adik seorang pembunuh. Kau juga yang menghancurkan duniaku, membuatku buta tak bisa melihat. Takut aku akan membalas dendam ... kau pengecut! Kau harus mati, Cakra!" geram Daisha sembari mendekati Cakra yang meringis di tanah.


Seolah-olah tak ingin memberinya ampun, Daisha melayangkan tendangan lagi berkali-kali hingga darah menyembur dari mulutnya.


"A-ampun ... a-ampuni aku. A-aku ... minta maaf," lirih Cakra terbata dan tersengal.


Wajahnya mengalami lebam, bibir berbau busuk itu dipenuhi cairan merah. Cakra tidak berdaya.


"DAISHA!"


Suara tinggi melengking menghentikan kalimat Daisha, juga tangannya yang hendak kembali menyerang Cakra. Ia mengepalkan jemari di udara, seraya menariknya kembali.


"Daisha! Apa yang terjadi? Kenapa kau memukuli Kakak?"


Suara Dareen ikut menyeruak menambah sesak dalam dada karena emosi yang tertahan. Daisha menghela napas, memejamkan mata menahan kesal. Kepalan tangannya menguat hingga memutih semua buku-bukunya.


"Wanita pembawa sial! Kenapa kau memukuli anakku?!" hardik Dewi penuh amarah.


Dia dan Aleena berhambur mendekati Cakra yang sudah tidak berdaya. Wanita hamil itu bahkan menangis sesenggukan melihat kondisi sang suami. Daisha diam membeku, suara di belakang tubuhnya terdengar riuh bagai suara lalat yang mengganggu.


Aleena mengangkat wajahnya yang telah basah dibanjiri air mata. Di mata semua orang dia terlihat seperti seseorang yang menyedihkan. Meratapi keadaan suaminya yang sudah tak berupa.


"Kau wanita jahat! Kau iblis! Kau tidak pantas hidup!" serbu Aleena sambil berlari mendekati Daisha dan memukul-mukul perut wanita itu.


Daisha bergeming seolah-olah tak merasakan sakit. Ia tidak membalas ataupun beranjak, berdiri bagai patung yang diam tak bergerak. Dareen yang melihat tidak terima, ia melerai Aleena. Mendorong tubuh istri Cakra itu cukup keras.


"Hati-hati dengan perutmu. Kau tak ingin kehilangan bayi itu, bukan? Jangan bertindak berlebihan yang bertentangan dengan hatimu," ucap Daisha sama sekali tidak terlihat seperti pendosa.


"Kau!"


"Cukup, Aleena. Yang dikatakan wanita itu benar, jangan sampai cucuku kenapa-napa!" bentak Dewi yang melihat menantunya meringis.


"Kakak!"


"Daisha!"


Suara Laila dan Areta sama-sama merasuk dalam gendang telinga Daisha. Ia tak peduli Dareen yang berdiri di sisinya, karena bagaimana pun darah tetap lebih kental daripada air.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau memukuli Kakak?" tanya Dareen sekali lagi.


Ia menatap ngeri istrinya itu, benar-benar tidak mengenali lagi sosok Daisha. Ke mana Daisha yang ia nikahi? Wanita lembut dan sabar, semua itu tak terlihat dari sosoknya yang sekarang.


Lihat mata itu! Bagai sebilah pedang yang siap menghunus musuh, menatap begitu tajam pada Cakra yang terbaring dipangku Dewi.


"Dia pembunuh!" lirih Daisha penuh penekanan.


Dareen membelalak, berpaling pada sang kakak yang terus saja menggelengkan kepala.


"Fitnah, itu hanya fitnah!" ucap Cakra tersengal-sengal.


Daisha menggeram, wajahnya merah menyala begitu pula dengan pancaran matanya.


"Katakan yang sebenarnya pada semua orang apa yang telah kau lakukan di masa lalu? Mungkin aku akan mempertimbangkan maaf untukmu," ucap Daisha cukup lantang dan mengancam.


"Apa? Apa yang telah kau lakukan di masa lalu, Kak?" Dareen berteriak.


Teringat pada kisah memilukan Daisha yang ditinggalkan semua keluarganya. Apakah Cakra terlibat?


"A-aku ... aku tidak tahu. Sungguh!" Cakra terus saja berkilah.


"Biadab! Kau membunuh pamanku!" teriak Daisha yang sontak saja membuat semua mata membelalak terutama Areta.


"Dia membunuh pamanku juga yang membuatku buta. Dia ingin aku mati agar tidak ada lagi saksi atas kasus kematian Alejandro!"


*****


Cut! Sambung besok. Selamat malam, dan terimakasih untuk yang selalu setia.