Mohabbat

Mohabbat
Kejutan II



Hening. Semua orang yang berada di dalam gedung tersebut diam dan tak banyak bicara. Hidangan di depan wajah berupa kudapan yang disuguhkan hampir tandas semuanya. Desas-desus mulai terdengar, mulanya hanya sebatas bisikan, lama kelamaan menjadi suara gemuruh bagai ribuan tawon yang datang menyerbu.


"Kenapa lama sekali!"


"Sampai kapan kita akan menunggu kedatangannya? Ayolah dipercepat supaya kami dapat pulang dengan cepat."


Sahut menyahut suara orang-orang di dalam aula membuat senyum Bardy tampak sempurna.


Berselang, pintu ruangan dibuka. Daisha berjalan di paling depan, diiringi Areta dan ketua dari perusahaan Yeworks Company tersebut.


"Selamat datang, Nona! Mereka semua telah menunggu Anda. Mari!" ucap pemandu acara dengan sikap sopan.


"Terima kasih!" jawab Daisha dengan lembut.


Mendengar suara itu, Dareen dengan cepat menoleh. Tak hanya suaminya, semua orang bahkan kini menatap ke arah rombongan Daisha.


"Hah! Daisha!"


Dewi, Aleena, Bardy, Dareen juga Alfin serentak berdiri dari duduk mereka. Daisha tersenyum menatapi mereka satu per satu.


"Tak perlu menyambutku seperti itu, silahkan duduk!" ucap Daisha sambil berjalan menuju kursinya.


kedua matanya fokus pada seseorang. Dia terlihat gelisah, peluh membanjiri wajahnya sampai ke punggung, bahkan kemeja yang dikenakannya pun telah terasa basah. Sungguh, suasana semakin panas setelah kedatangan Daisha.


Itu dia! Dia di sini. Ayah, dia ada di sini. Ibu, orang yang merusak kebahagiaan kita ada di sini. Dia menatapku dengan ketakutan. Lihatlah! Aku suka melihat ketakutan di matanya. Bayangan kematianmu telah hadir.


Daisha menggeram dalam hati tanpa mengalihkan pandangan dari sosok tersebut. Sosok yang telah merenggut kebahagiaan juga hidupnya. Dendam kembali berkobar di kedua manik Daisha, teringin segera membalas kematian kedua orang tuanya.


Dareen menatapnya dengan rasa tak percaya, sungguh tak pernah ia duga bahwa istrinya adalah tamu kehormatan di perkumpulan tersebut.


Dewi dan Aleena bergetar, begitu pula dengan kedua orang tuanya. Mereka saling berbisik dengan raut wajah yang kusut. Terutama Dewi yang sempat meminta maaf, kemudian kembali ke sifat awalnya.


"Kenapa dia sini, Ibu? Apakah dia orang yang kita tunggu?" bisik Aleena cemas.


Ia yang diapit Dewi dan ibunya menoleh meminta penjelasan tentang hadirnya sosok Daisha di ruangan tersebut.


"Ibu juga tidak tahu, mungkin dia hanya pengantar saja." Dewi menimpali. Mencoba menghibur diri sendiri.


"Tapi mereka begitu menghormati dia ,Bu. Bagaimana selanjutnya?" Rasa takut mulai menjalar, kegelisahan nampak jelas di wajah mereka.


"Sudah, tenangkan dirimu sendiri dulu. Kita akan tahu siapa di sini?" hibur Dewi mencoba menenangkan mereka.


Seseorang berdiri memapak langkah Daisha, ia mengulurkan tangan hendak berjabat dan terlihat ramah, tapi sebenarnya hanyalah seorang penjilat. Daisha tersenyum sinis.


"Selamat datang, Nona. Saya Hendrawan dari perusahaan Maju Utama. Saya ucapkan selamat datang kepada Anda," ucapnya dengan ramah dan senyum yang menyebalkan.


"Terima kasih. Jika Anda tidak keberatan, silahkan duduk!" ketus istri Dareen itu tanpa membalas jabat tangannya.


Tangan laki-laki itu mengepal sebelum menariknya. Ia duduk kembali di kursinya dengan perasaan malu dan Daisha melanjutkan langkah menuju singgasana. Pandangan matanya kembali tertuju pada sosok yang telah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya.


Begitu tajam dan menghujam, membuat nyalinya menciut dan merobohkan dinding angkuh yang dibangunnya. Daisha tersenyum sinis, menghantarkan ancaman yang tidak main-main.


Daisha berhenti di dekat kursi yang diduduki Bardy, ia menatap ayah mertuanya itu yang tak tahu malu sekali.


"Di mana aku duduk? bukankah kursi ini disediakan khusus untukku?" tanya Daisha pelan dan penuh penekanan tanpa membuang pandangan dari Bardy.


Dia benci laki-laki yang berselingkuh dari istrinya. Sekalipun dia membenci Dewi, tapi laki-laki seperti Bardy lebih dibencinya.


Seorang pemandu acara datang tergopoh-gopoh menghampiri Bardy, ia menunjuk kursi kosong yang seharusnya ditempati ayah Dareen itu.


"Maaf, Tuan. Tempat Anda bukan di sini. Silahkan duduk di sana!" tegurnya.


Suara tawa yang ditahan terdengar dari setiap orang yang ada. Termasuk Dewi yang menatap puas melihat Bardy dipermalukan di hadapan semua orang.


Laki-laki itu bangkit dan menuju kursinya sendiri, sedangkan sang sekretaris berdiri di belakangnya karena tak ada lagi kursi kosong.


Pemandu acara tadi membersihkan kursi bekas Bardy, dan mempersilahkan Daisha untuk mendudukinya. Areta dan ketua dari Yeworks Company berdiri di belakangnya seperti seorang penjaga. Benar, masing-masing dari mereka membawa satu orang sekretaris yang bertugas mencatat apa saja yang perlu.


Ketua tersebut maju dan berdiri di samping Daisha. Semua orang fokus padanya kecuali dia yang terus menerus ditatap Daisha dengan penuh ancaman. Juga Dareen yang tak bisa mengalihkan pandangan dari sang istri.


"Selamat datang pada semuanya saya ucapkan. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir di acara ini. Hari ini saya ingin memperkenalkan kepada kalian semua, ketua baru kita sekaligus Presdir dari Yeworks Company yang selama ini dinyatakan hilang."


Semua mata membelalak, terlebih Aleena yang nyaris melompat dari tempatnya. Daisha tersenyum seraya mengangguk sopan, disambut anggukan serupa oleh orang-orang yang hadir.


"Beliau Nona Daisha, putri tunggal dari Tuan Damian selaku pendiri sekaligus pemilik perusahaan Yeworks Company ini. Beliau tidaklah hilang, tapi menyembunyikan diri dari orang-orang jahat yang ingin membunuhnya. Sekarang, beliau telah kembali dan siap memimpin kita semua," jelas ketua tersebut.


Sial! Aku sudah memulainya dan tidak bisa berhenti begitu saja. Bibi berhasil merayuku agar mau menduduki kursi ini. Oh, pasti akan terasa membosankan.


Daisha menggerutu.


Daisha adalah sang pewaris itu? Aku tidak tahu apa-apa tentang ini semua. Mengapa semuanya jadi rumit seperti ini?


Dareen bergumam dalam hati, rasanya tak ingin percaya bahwa wanita yang dinikahinya adalah keturunan seseorang yang begitu dihormati dan berpengaruh besar dalam dunia bisnis. Sungguh, ia tak pernah menduga sebelumnya.


"Bukankah perusahaan ini telah beralih kepemilikan pada orang lain? Apa berita itu benar?" tanya salah seorang dari mereka.


Ketua itu tersenyum, seraya menjawab, "Sebenarnya tidak. Kursi itu kosong bukan karena ditinggalkan pemiliknya, hanya sedang menunggu kesiapan mental sang pewaris untuk mendudukinya. Sekarang, beliau sudah di sini dan menghapus rasa khawatir dalam hati kita."


Semakin tercengang Aleena dibuatnya. Dia bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Daisha. Hanya sebutir debu yang dengan mudah dihempaskan istri Dareen itu.


Pertanyaan demi pertanyaan tentang kabar Yeworks Company pun diajukan orang-orang yang hadir di sana dan dijawab dengan tenang oleh Areta dan laki-laki tua tersebut.


"Perusahaan ini baik-baik saja, semuanya berjalan dengan normal bahkan kami sedang membuat produk baru yang akan segera diluncurkan. Kabar tentang goyahnya perusahaan karena kursi pemimpin yang kosong, itu tidaklah benar."


Semua orang bernapas lega mendengar penjelasan dari laki-laki tua itu. Mereka pikir perusahaan Yeworks Company akan bangkrut karena kabar yang beredar di luaran membuat mereka khawatir.


Setelah mendapatkan penjelasan dari kabar burung tersebut, kecemasan di hati mereka perlahan hilang berganti senyum-senyum sumringah.


"Ada yang ingin aku sampaikan di sini. Aku harap kalian akan mendengarkannya dengan baik."


Suara Daisha yang terdengar lembut sekaligus dingin itu berhasil menyita perhatian semua orang. Mereka menunggu dengan was-was apa yang akan disampaikan pemimpin baru mereka.