Mohabbat

Mohabbat
Kemarahan Dareen



"Da-dareen? Kenapa kau di sini?" tanya Bardy tergagap.


Tangannya meraba-raba apa saja untuk digunakan menutupi bagian tubuh. Sayang, tak ada apapun yang dapat diraihnya. Tirai teramat jauh, jika ia bergerak sedikit saja sudah pasti semua akan terlihat.


"Menjijikkan!" cibir Dareen seraya berjalan ke arah ibunya.


Ia membalik tubuh Dewi agar tidak melihat keadaan suaminya yang tanpa busana sehelai pun.


"De-dewi? Kau juga di sini? Sejak kapan kau pulang? Kenapa tidak memberitahu aku?" tanya Bardy sembari meneguk ludah gugup.


Di luar Bibi sudah menunggu, antisipasi untuk Dewi yang keluar dari sana. Dareen meminta ibunya untuk pergi keluar dan ikut bersama Bibi.


Ia membuka pintu lebar-lebar, kemudian memungut pakaian dua orang itu dan berjalan pelan ke jendela. Dareen membuka tirai kamar itu, juga jendelanya. Tanpa segan melempar pakaian mereka ke balkon, ia melirik sebuah korek dan segera menyambarnya.


Seperti seorang psikopat, Dareen mengangkat sehelai pakaian milik Bardy, dan membakarnya.


"Ja-jangan, Dareen. Jangan lakukan itu, Nak? Ayah mohon!"


Wanita yang memunggungi Dareen terisak dan tubuhnya terguncang. Dareen tidak menghentikan aksinya, ia menjatuhkan pakaian tersebut ke atas tumpukan yang lainnya. Perlahan api mulai menyebar, merambat ke seluruh pakaian, dan bau menyengat pun memenuhi ruangan. Ia tak peduli rumah itu akan terbakar.


Dareen tersenyum sinis melihat wajah pucat sang ayah. Ia melangkah pelan, membuat Bardy gemetar ketakutan. Disambarnya tangan wanita yang memunggungi itu, dan ditariknya dengan kuat.


"Mau apa kau? Jangan lakukan apapun terhadapnya, Dareen!" cegah Bardy yang dengan cepat memegangi tangan anaknya itu.


Wanita selingkuhannya semakin histeris menangis, satu tangannya sibuk ia gunakan untuk menutupi area intimnya. Tertunduk menahan malu, harus mendapatkan perlakuan memalukan seperti itu.


"Kenapa? Bukankah dia juga sudah menyakiti ibuku? Kenapa aku tidak boleh menyakitinya?" sinis Dareen menatap berani pada kedua manik Bardy.


"Kumohon, jangan seperti ini. Dengarkan dulu alasan Ayah, kita bisa membicarakan ini baik-baik. Pinta ibumu untuk memberikan kunci lemari agar kami bisa berpakaian. Setelah itu, kita akan bicara," pinta Bardy memelas lewat sorotan mata.


Dareen bergeming untuk beberapa saat lamanya, sang ayah menatap dan mengangguk untuk meyakinkan anaknya itu.


"Sayangnya tidak!"


Tanpa ampun Dareen menyeret wanita itu hingga terjatuh dari atas ranjang. Dareen tidak peduli, meski terdengar suara permohonan darinya ia terus menyeret tangan wanita itu hingga keluar dari kamar.


"Kumohon, jangan lakukan ini! Aku minta maaf, aku mengaku salah. Aku akan pergi sejauh mungkin dari ayahmu. Aku berjanji! Jangan lakukan ini!" pintanya sambil berpegangan pada tiang pintu memohon.


Dareen melirik, membuat pegangannya terlepas dan digunakan untuk menutupi tubuhnya kembali. Suami Daisha itu tidak peduli, kembali menyeretnya hingga menuruni anak tangga.


Suara tangisannya menimbulkan kegaduhan hingga membangunkan para penghuni rumah. Bibi menemani Dewi di ruang tengah, dan dua pekerja lainnya berdiri di pintu dapur. Mereka menyaksikan bagaimana Dareen menyeret tanpa belas kasihan pada wanita yang tak mengenakan sehelai benang pun itu.


"Itu karma untuknya yang berani mengusik kehidupan seseorang. Aku setuju dengan tindakan Tuan Muda kita," celetuk salah satu pekerja sambil mendengus sinis.


"Memang benar, tapi sebagai sesama wanita aku merasa kasihan. Rasanya tidak tega melihatnya harus diseret dengan telanjang seperti itu," sahut yang lain menimpali.


"Hmm ... siapa peduli! Dari sejak kedatangannya ke rumah ini, aku sudah geram. Dia bukan siapa-siapa di sini, tapi sudah berani memerintah ini dan itu. Dia juga tega memecat teman-teman kita dan menambah pekerjaan."


Dua orang itu bergosip asik. Mereka geram, tapi juga tidak tega. Dewi yang berada di sisi lain, mencelos nyeri melihatnya. Ia berpaling muka, tak ingin melihat adegan tak senonoh di depannya itu.


Dareen melemparkan tubuh itu ke teras hingga terguling ke tanah. Ia meringkuk memeluk tubuhnya sendiri yang tak tertutupi apapun. Menangis dengan wajah tertunduk, tak berani beranjak.


"Apa yang kau inginkan dengan mengusik kehidupan ibuku? Bukankah kau juga seorang wanita? Mengapa menyakiti wanita lainnya?" sengit Dareen menatap nyalang wanita itu.


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu. Tolong maafkan aku!" lirihnya sedih.


"Maaf? Apa kau memikirkan bagaimana perasaan ibuku ketika kau mulai bermain dengan ayahku? Kau punya ibu, atau kau juga punya adik mungkin di rumah. Bagaimana jika mereka berada di posisi ibuku? Apa yang akan kau lakukan?" geram Dareen benar-benar tak kuasa menahan gejolak di hatinya.


"Astaga! Dareen, apa yang kau lakukan?" Bardy datang dengan tergesa.


Ia telah berpakaian meskipun harus mendobrak lemari. Di tangannya pula membawa pakaian untuk selanjutnya ia kenakan pada wanita itu.


Bardy berdiri, menghadap anaknya. Mereka saling menatap dengan tajam, terlebih Bardy yang sudah berubah jauh.


"Benar-benar keterlaluan-"


"Siapa? Kau? Itu benar," tukas Dareen memangkas ucapan ayahnya yang belum selesai, "Kau keterlaluan. Melakukan hal menjijikkan dengan wanita murahan itu di rumah ini. Bukankah kau yang keterlaluan?" lanjut Dareen tanpa segan membantah ayahnya.


"Kurang ajar!"


"Siapa? Kau lagi? Kau memang kurang ajar! Tidak tahu malu, dan tidak berperasaan. Kau bahkan melakukan hal yang tak pantas itu di depan istrimu sendiri. Bajingan-"


"Dareen!" bentak Bardy semakin kesal.


"Kenapa? Kau tidak terima? Apalagi jika bukan bajingan? Kau seperti binatang yang tak memiliki akal sehat. Kau tidak terima, hah?" tantang Dareen benar-benar menyulut emosi Bardy.


"Aku ini ayahmu, kau harus ingat itu!" tegas Bardy menyebutkan statusnya dalam hidup Dareen.


"Benarkah? Setelah kau menyakiti ibuku, apakah kau masih pantas aku sebut ayah? Perlu kau ingat, ibuku telah setia menemanimu. Dia bahkan tidak pernah mengeluh, apalagi membantah perintahmu, tapi apa balasan yang diterima ibuku? Pengkhianatan? Apakah sepadan?"


Bardy tertegun, kedua tangannya mengepal erat. Ia melirik Dewi yang duduk terisak di kursi bersama Bibi. Rasa bersalah terus hadir di dalam hati, penyesalan pun ikut memenuhi rongga dada.


"Pergi! Kau tidak mempunyai tempat lagi di rumah ini! Pergi dan bawa ****** itu bersamamu!" usir Dareen sukses membuat kedua mata Bardy membelalak terkejut.


Dareen melempar lirikan pada wanita di belakang ayahnya, dia menyembunyikan diri dibalik tubuh laki-laki menjijikkan itu. Dareen berbalik dan pergi meninggalkan teras.


"Dareen! Kau tidak bisa mengusirku dari sini! Ini rumahku, apa kau lupa?" teriak Bardy putus asa.


Dareen menghentikan langkah, melirik ke samping tubuh dan tersenyum sinis.


"Apa kau lupa? Rumah ini dan seluruh aset yang kau miliki adalah atas nama ibuku. Pergilah dan jangan pernah muncul kembali di hadapanku apalagi ibuku!" tegas Dareen.


Ia melanjutkan langkah, disusul seorang pekerja yang sigap menutup pintu. Tatapan matanya, cibiran di senyumnya, seolah-olah mengejek mereka berdua. Pintu itu tertutup dan terkunci tidak mengizinkan Bardy untuk memasukinya kembali.


Laki-laki yang tak lagi muda itu meneguk ludah kesal. Ia memukul udara, mengumpat dan mengucapakan sumpah serapah.


"Bagaimana sekarang?" tanya wanita itu cemas.


Bardy menoleh, mata merahnya membuat wanita itu seketika merasa takut.


"Jika kau ingin pulang, pulanglah. Aku akan ke apartemen milikku," ucap Bardy sinis.


"Aku ikut. Tidak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini. Aku malu," ucap wanita itu tak tahu malu.


Bardy mendesah, kemudian mengajak wanita itu bersamanya sambil memikirkan bagaimana caranya meminta maaf dari Dewi.