
Malam terus berlanjut melewati puncaknya, tapi wanita itu masih bergeming di dekat jendela kamar. Dengan kondisi lampu kamar yang dimatikan, ia tengah menunggu seseorang.
Dewi melirik jam di dinding, sinar dari lampu taman cukup memberinya sedikit penglihatan untuk dapat melihat pukul berapa ketika deru mobil suaminya tiba di halaman.
Pukul satu dini hari. Orang yang ditunggunya tiba, di sana dengan jelas Dewi melihat dua orang turun dari mobil. Mereka berjalan saling bergandengan tangan, memasuki rumah. Dewi beranjak ke balik pintu menunggu dan berniat memberi mereka kejutan.
Melihat keadaan kamar yang berubah, juga ada bau asing yang tercium, Dewi akhirnya menyadari Bardy bermain-main di tempatnya. Itulah yang membuatnya enggan untuk merebahkan diri di sana.
Suara derap langkah terdengar mengetuk di atas tangga, Dewi menunggu dengan jantung yang berdebar-debar. Kedua tangannya mengepal erat, menahan emosi yang terus meluap hingga mencapai puncak.
Namun, ia tidak akan melakukan kesalahan lagi. Setelah kejadian kemarin yang membuatnya harus masuk ke rumah sakit, Dewi mencoba untuk bersikap tenang dan menerima takdirnya.
"Terima kasih untuk semua yang kau berikan padaku. Kau memang laki-laki hebat."
Suara wanita itu terdengar begitu menggoda, Dewi memejamkan mata menahan gejolak di dalam dada. Sanggupkah ia melihat keduanya? Sekuat mungkin menahan diri agar air mata tak menjatuhi pipi.
"Tidak masalah, selama kau merasa senang," sahut suara Bardy yang semakin membakar hati Dewi.
"Tapi kapan kau akan menikahi aku? Kau juga akan menceraikan istrimu itu, bukan? Kenapa sampai sekarang masih belum juga. Kita sudah tiga tahun berhubungan seperti ini, aku ingin diresmikan," tuntut wanita itu dengan nada manja.
Dewi menggeram, ia memejamkan mata kuat-kuat menahan gejolak yang memanas dalam dada. Air jatuh dengan sendirinya ketika kelopak itu terbuka. Dewi segera menyapunya, tak ingin terlihat lemah di depan dua orang yang tidak tahu malu itu.
"Hhmm ... jangan selalu bertanya seperti itu! Kau senang bersamaku, bukan? Jangan menuntutku yang macam-macam. Jika kau masih mencintai semua yang aku berikan, maka diamlah!" tegas Bardy.
Wanita itu cemberut, tapi kemudian menurut seperti seekor kucing yang bersikap manja kepada majikannya karena takut dilempar ke jalanan.
"Baiklah, maafkan aku. Jangan marah seperti itu, kau terlihat jelek ketika marah," katanya sambil bergelayut di tubuh Bardy.
"Dasar wanita gatal, ******, murahan. Kau juga sama Bardy, laki-laki bajingan, tak tahu malu, tak ingat umur. Kau selalu mementingkan dirimu sendiri," umpat Dewi nyaris tak bersuara.
"Baiklah, tapi malam ini berikan aku sesuatu yang memuaskan."
Dewi bergetar mendengar kalimat yang diucapkan suaminya itu. Jatuh air matanya, jatuh pertahanannya. Ia berjongkok di dekat pintu, meratapi nasibnya. Masih menunggu di sana, tapi untuk apa?
Pintu berderit disusul dua orang melangkah masuk sambil berpagutan mesra. Hati Dewi remuk redam dibuatnya. Dengan tangan bergetar ia mengirimi Dareen pesan untuk segera pulang ke rumah.
Dengan mata kepalanya sendiri, Dewi menyaksikan bagaimana Bardy bergulat dengan wanita itu. Ia meradang, napasnya memburu berat. Bukan karena cemburu, tapi karena ada rasa ingin membunuh kedua manusia durjana itu. Seketika ia sadar, itulah yang dirasakan Daisha waktu itu.
Dewi melirik pada pakaian yang teronggok di lantai, berserakan. Begitu pula dengan selimut, ia memunguti satu per satu dan mengumpulkannya secara bersamaan. Dewi harus kuat melihat semua itu, dia menunggu Dareen tiba.
Di rumahnya, Daisha terbangun ketika ponsel milik suaminya berdering. Dibacanya pesan dari Dewi, pesan yang membuat hati Daisha ikut merasa bergetar.
Dareen, pulang, Nak! Tolong Ibu. Tolong Ibu!
Meski hatinya masih merasa sakit, Daisha tidak tega membiarkan wanita itu menderita. Ia membangunkan Dareen dan menyampaikan pesan Dewi pada suaminya itu.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Dareen sedikit enggan menanggapi pesan tersebut.
"Pulang. Ibu membutuhkan anaknya. Perasaanku tidak enak, sesuatu yang buruk sedang terjadi di rumah kalian. Kau harus pulang, Kak. Pastikan keadaan Ibu," ucap Daisha.
Belum menjawab, dering ponsel miliknya kembali berbunyi.
Datanglah diam-diam, dan langsung ke kamar Ibu. Ibu membutuhkan dirimu, Nak. Ibu mohon, datanglah!
"Pulanglah, Kak. Sebaiknya cepat, jangan sampai terlambat!" ucap Daisha lagi.
Dareen mengangguk, ia mengecup dahi istrinya sebelum beranjak.
"Kau, bagaimana?"
Wanita itu menggelengkan kepala, sambil tersenyum ia menjawab, "Aku akan tetap di sini."
Daisha menunjukkan hatinya, seketika Dareen mengerti dia masih menyimpan sakit hati atas semua ucapan Dewi waktu itu. Dareen menyambar kunci mobil yang selama beberapa hari menganggur itu. Dengan cepat menyalakannya dan segera pergi meninggalkan rumah.
Daisha mendesah, memikirkan semua yang terjadi belakangan ini. Di saat itu, Areta mengiriminya pesan. Sebuah pesan yang memintanya agar menyiapkan diri untuk sesuatu yang besar.
Ia tidak membalas, meletakkan ponsel di ranjang dan beranjak turun untuk kemudian melangkah ke dekat jendela. Berdiri sambil menyibak tirai, menonton bintang gemintang menari-nari di angkasa.
"Apakah aku siap untuk semua ini? Ayah, Ibu, apa kau sedang melihatku sekarang? Apa kalian berada di sana, di bulan purnama itu? Jika iya, maka berikan aku kekuatan untuk menghadapi takdirku," gumam Daisha sambil terus menengadah ke langit malam.
Keadaan dini hari yang sepi, memberinya ketenangan untuk berpikir. Daisha hanya perlu menyiapkan diri juga mentalnya, sisanya biarkan Areta yang melakukan.
Daisha menunduk untuk melirik perut sendiri, mengusapnya dengan pelan sambil tersenyum bahagia. Mengingat satu pembunuh telah ia temukan, hanya tinggal mencari pembunuh kedua orang tuanya.
"Aku pasti akan menemukan orang itu, cepat ataupun lambat. Aku yakin, dia akan segera aku temukan," tekad Daisha sambil mengelakkan tangan yang berada di kedua samping tubuhnya.
Ia menutup tirai, dan kembali merebahkan diri di ranjangnya.
Sementara itu, Dareen memarkir mobil tak jauh dari gerbang rumahnya. Ia masuk dengan berjalan kaki, dan pintu rumah tidaklah terkunci, bahkan gerbang pun tidak ada yang menjaganya.
Dareen terus melangkah tanpa suara menapaki anak tangga menuju lantai dus rumahnya. Di kamar itu, Dewi sudah tak berdaya. Matanya berkabut karena air yang menggenang, pergulatan dua insan yang tanpa sehelai benang pun semakin memanas.
Suara lenguhan juga napas yang mendesah, membuat hatinya semakin remuk dan mati rasa. Ingin beranjak, tapi tiba-tiba tenaganya hilang entah ke mana? Seluruh otot dan tulang di tubuhnya melemas, membuatnya tak berdaya.
Sebuah pengkhianatan sebagai balasan dari sikap setia yang ia pelihara selama ini. Sungguh tidak sepadan, apa yang diberikan Bardy kepadanya.
Dareen mempercepat langkah, segera saja menuju kamar orang tuanya. Ia membuka pintu kamar itu dengan kasar sambil berteriak memanggil ibunya.
"Ibu!"
Brak!
Pintu itu terbanting keras, beruntung Dewi sudah beranjak dari sana setelah memunguti pakaian mereka.
Kedua orang di atas ranjang itu tersentak, segera saja melepaskan diri dan mencari-cari selimut untuk menutupi tubuh mereka, sayang tak ada apapun di sana. Dareen memicing curiga, ia melirik ketika suara lirih tertangkap telinganya.
"Ibu!"
Dua orang di atas ranjang itu menegang, Dareen menutup pintu, berjalan pasti mendapati saklar lampu. Ia menekannya, seketika saja terlihat hal menjijikan di depan mata.
"Ayah!"
Bardy salah tingkah, ia menutupi bagian bawahnya, sedangkan wanita itu bersembunyi dibalik tubuhnya.
Apa yang akan dilakukan Dareen selanjutnya?