Mohabbat

Mohabbat
Gantikan Aku



Sepulangnya dari villa Daisha, Dareen tidak pergi ke rumah, melainkan pergi ke gedung tempat diadakannya pesta tadi. Dia bertekad untuk mencari tahu si pelaku melalui rekaman cctv yang ada di dalam gedung.


Mobil Dareen berhenti di halaman gedung tersebut, bunga-bunga masih terpasang dan segala dekorasi lainnya. Di sana Alfin telah berdiri menunggu, berbincang dengan seorang penjaga gedung berpakaian keamanan.


Dareen keluar menghampiri mereka dengan tergesa, tak sabar rasanya ingin segera mengetahui siapakah yang telah membuat kekacauan di pesta hingga menimbulkan korban. Beruntung, ambulans datang dengan cepat dan korban segera dilarikan ke rumah sakit.


"Bagaimana?" Dia bertanya begitu tiba di depan Alfin dan petugas tersebut.


"Dia bisa membantu kita mengecek cctv," lapor Alfin yang diangguki laki-laki tersebut saat Dareen menoleh padanya.


"Ya sudah, antar kami ke sana!" pinta Dareen sekali lagi diangguki laki-laki itu.


Mereka pergi mengikuti petugas kemananan gedung menuju sebuah ruangan rahasia yang sebenarnya tidak boleh dimasuki sembarangan orang. Akan tetapi, demi menguak kejadian tadi dan demi nama baik pemilik gedung, mereka bisa diajak bekerjasama dengan baik.


Kini ketiganya berhadapan dengan layar monitor besar yang menampilkan setiap sudut gedung, di depan layar duduk seorang penjaga ruangan memutar video di waktu yang diminta Dareen.


"Apa kau yang berjaga?" tanya Dareen sembari memperhatikan layar mencari sosok misterius yang menutupi kepalanya dengan hoodie.


"Benar, Tuan. Saya yang berjaga di sini," katanya fokus pada pencarian.


"Bisa kau tunjukkan posisi meja makan saat jam sembilan belas sore tadi?" pinta Dareen yang diangguki dengan cepat oleh laki-laki tersebut.


Tangannya menari dengan lincah memutar waktu. Dareen mendekat, saking dekatnya laki-laki penjaga monitor tadi sampai bisa merasakan hembusan napasnya. Ia bergidik ngeri, tapi tak dapat beranjak.


Di sana memperlihatkan seorang laki-laki berhoodie hitam yang sedikit bungkuk. Dia membelakangi kamera sehingga tak dapat terlihat seperti apa wajahnya.


"Berhenti di sana!"


Gerakan video tersebut pun berhenti, ia memperbesar gambar yang memperlihatkan punggung si laki-laki. Kening Dareen bertumpuk, mencoba mencari tahu persisnya sosok si pelaku.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Dareen pada si penjaga.


Kedua orang itu saling pandang satu sama lain, menggeleng kompak tak tahu siapa laki-laki misterius yang berdiri di depan meja panjang tersebut. Dia tidak terlihat melakukan sesuatu, hanya berdiri dan pergi.


Namun, alangkah terkejutnya mereka, ketika sosok tersebut tiba-tiba menghilang dan tak pernah muncul lagi. Tidak ada petunjuk lain selain itu, dan terasa sulit karena dia benar-benar pandai bersembunyi. Mungkin dia tahu ada kamera pengawas hingga telah memperhitungkan semuanya.


"Sial! Ke mana dia pergi?" Dareen memukul meja cukup kuat, membuat semua orang terlonjak kaget.


Ke mana pun layar digulir, tetap tak memperlihatkan sosok tersebut. Ini aneh. Alfin menepuk bahu Dareen, menenangkannya.


"Kita akan selidiki lebih dalam lagi bersama tim, mungkin salah satu dari mereka ada yang pernah melihat sosok itu. Sudahlah, ini sudah larut sebaiknya kita pergi," ucap Alfin.


Dareen menghela napas, menjauhkan dirinya dari layar monitor. Mereka tidak lupa untuk berterimakasih sebelum pergi meninggalkan ruang rahasia tersebut. Alfin bertindak sebagai pengemudi mengantarkan Dareen ke rumahnya.


"Kau tenang saja, aku yang akan mencari tahu tentangnya bersama tim. Istirahatlah, Dareen," ucap Alfin sebelum Dareen turun dari mobil.


Laki-laki itu melangkah gontai memasuki teras rumah. Seorang asisten rumah tangga sigap membukakan pintu untuknya.


"Selamat datang, Tuan Muda. Ada yang bisa saya lakukan? Mungkin Anda butuh disiapkan air hangat?" sapa asisten tersebut dengan sopan dan ramah.


Ia membuntuti Dareen hingga ke ruang tengah rumah dan membanting dirinya di sofa.


"Ah, benar. Kau memang pandai memanjakan aku, Bi. Tolong, ya," katanya sambil tersenyum.


Asisten tersebut mengangguk, membungkukkan tubuh sebelum berbalik menuju kamar Dareen. Pemuda itu mengendurkan dasi dan membuka kancing kemeja bagian atas untuk melancarkan pasokan udara ke paru-paru. Ia juga membuka kancing bagian lengan, dan menggulungnya hingga mendekati siku.


Dareen menjatuhkan kepala pada sandaran sofa, terpejam sambil memikirkan sosok misterius yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang di dalam pesta. Bunyi pintu terbuka diikuti derap langkah yang memasuki rumah mengusik telinga, tapi Dareen tak acuh dan tetap memejamkan mata.


"Bagaimana pestanya?" tanya Cakra sembari mendaratkan bokong di sofa single yang berhadapan dengan Dareen. Ia menyeruput minuman yang disiapkan assiten untuk adiknya itu.


Mendengar suara sang kakak, Dareen membuka mata dengan cepat dan menegakkan tubuhnya.


"Kakak! Kau kembali? Bagaimana bisnisnya?" tanya Dareen yang kembali bersandar.


"Yah, semuanya baik. Lalu, bagaimana pestamu? Apa semua berjalan sukses? Maafkan Kakak karena tidak dapat hadir," ucap Cakra penuh sesal.


Ia menatap sendu manik sang adik yang jelas terlihat sayu. Hanya melihat wajah kuyu Dareen saja, Cakra sudah tahu adiknya itu tengah mengalami masalah.


"Ada masalah apa? Coba katakan kepada Kakak, mungkin Kakak bisa membantu," ucapnya lagi menaruh perhatian sebagai kakak Dareen.


Pemuda itu menghela napas, menimbang apakah perlu menceritakan kejadian di pesta tadi pada kakaknya itu. Ia menatap Cakra, mencari kedamaian dari manik hitam di depannya itu.


Dareen tidak menemukan apapun di sana, dia hanya melihat kehampaan dan kekosongan di dalam pancaran mata Cakra.


"Aku tidak tahu, Kak. Banyak kejadian yang aku alami hari ini," keluhnya sambil menatap langit-langit ruangan.


Kejadian demi kejadian yang menimpa Daisha hari itu kembali membayang dan membuatnya bertambah kesal. Perundungan yang mereka lakukan, sungguh tak dapat diterima olehnya.


"Kejadian seperti apa? Bisakah Kakak tahu? Kau jangan menyimpannya sendiri, Kakak mungkin bisa membantumu memecahkan masalah," pinta Cakra teringin tahu apa saja yang terjadi di dalam pesta pertunangan Dareen.


Lagi-lagi Dareen menghela napas, teringat pada semua orang yang justru menyalahkan Daisha karena insiden racun di dalam makanan.


"Aku tidak tahu, Kak."


Cakra kecewa, tapi dia tidak bisa memaksa Dareen untuk bercerita.


"Ya sudah, tidak usah dibahas. Mmm ... bagaimana pertunanganmu dengan Aleena? Semua baik-baik saja, bukan?" tanya Cakra mengalihkan pembahasan.


Dareen menurunkan pandangan, menatap sang kakak yang lagi-lagi menyeruput minumannya.


"Ada apa?" tanya Cakra usai menyadari Dareen tengah melihat ke arahnya, ia tersenyum saat melihat minuman itu telah kandas. Terkekeh kecil seraya meletakkan kembali gelas di tangannya.


"Maaf, Kakak haus."


"Tidak apa-apa. Aku menolak bertunangan dengan Aleena, dan bertunangan dengan Daisha. Aku tidak mencintai Aleena, Kak. Aku ingin menikahi Daisha bukan yang lain," ungkap Darren memancing reaksi Cakra.


Cakra mengangkat alisnya tak percaya, siapa yang tidak mengenal Aleena. Dia gadis cantik anak konglomerat, banyak lelaki yang menginginkan jadi pasangannya.


Dareen bodoh! Menukar berlian dengan kerikil di jalanan.


Dia mengumpat dalam hati tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya itu.


"Dia pasti sangat sedih," katanya sambil menggeleng.


"Kakak benar, dia terlihat sangat syok. Semoga saja dia segera mendapatkan laki-laki lain," sahut Dareen sambil melirik Cakra.


"Hmm ... seandainya Kakak bisa mengambil posisimu sebagai tunangannya, mungkin akan sedikit mengobati luka hatinya," ungkap Cakra berandai-andai.


Dareen terkesiap, senyumnya mengembang lebar. Sebuah ide muncul di kepalanya.


"Benar, bagaimana jika Kakak saja yang menggantikan aku jadi tunangannya?"


"Apa!"