Mohabbat

Mohabbat
Salah Memilih



"Lakukan sesuai dengan perintahku dan tidak boleh gagal," titah seseorang pada sekelompok laki-laki berpakaian preman.


"Siap!"


Mereka membubarkan diri setelah melihat jemari sang tuan mengudara mengusir. Ia duduk sambil menikmati secangkir teh yang masih mengepulkan asap. Sesekali akan meniupnya sebelum menyeruput teh tersebut.


"Ayah!"


Seorang gadis dengan sikapnya yang manja berlari dan berhambur ke dalam pelukan lelaki tadi. Dia bahkan tidak segan untuk duduk di pangkuan lelaki berumur itu. Meskipun itu adalah ayahnya, tapi dia tetap seorang laki-laki normal yang dibekali hasrat.


"Ada apa, sayang?" tanyanya sambil menatap wajah gadis itu penuh cinta.


Lilia beranjak dan duduk di kursi di lainnya berhadapan dengan sang ayah. Gaun pendek tanpa lengan selalu menjadi ciri khas dirinya.


"Bagaimana dengan janji Ayah? Ayah tidak lupa, bukan?" tanya Lilia menatap penuh pada ayahnya itu.


Tuan Nugraha mendesah berat, janji yang dia buat kali ini amatlah berat dan tak akan mudah begitu saja untuk memenuhinya. Dia beranjak, memandang Lilia yang tampak cantik dan menarik.


Dia adalah gadis sempurna, banyak laki-laki yang mengejarnya dan menginginkan dirinya untuk menjadi pasangan. Sayang, Lilia telah terpesona lebih dulu pada sosok Dareen yang notabene adalah lelaki beristri.


"Kau tenang saja, sayang. Sebentar lagi keinginanmu akan terkabul. Jangan cemas," ucap laki-laki tersebut sambil membelai kepala putrinya.


Lilia tersenyum, terkesan licik dan penuh muslihat. Itulah wanita, dia memang cantik, tapi wanita cantik terkadang memiliki sejuta muslihat untuk memperdaya mangsanya. Selalulah berhati-hati terhadap para wanita.


"Ayah, aku ingin wanita itu disingkirkan. Dia sombong sekali, aku tidak suka. Lagipula, dia hanya wanita buta yang tidak dapat melakukan apapun. Tidak berguna sama sekali," ucap Lilia.


Maniknya yang dilapisi dengan lensa berwarna hazel memancarkan api dendam dan kebencian. Membayangkan wajah Daisha, membuatnya muak. Seandainya waktu itu mereka tidak berada di pesta, sudah ia pastikan wajah cantik Daisha tercabik oleh kuku-kukunya yang panjang lagi runcing.


Sang Ayah tersenyum, itulah rencananya. Dia sedang melakukan sesuatu terhadap Daisha. Entah apa yang sedang direncanakannya, tapi dia telah salah memilih lawan.


"Kau tenang saja. Begitu dia sudah berada di tangan kita, kau bisa melakukan apa saja terhadap dirinya. Lakukan sepuasmu sampai hatimu merasa senang," ujar sang ayah dengan yakinnya.


Lilia tersenyum puas, rasanya tak sabar ingin segera berhadapan dengan wanita buta itu dan melakukan apa saja yang ingin dia lakukan terhadapnya. Dia akan mempermalukan Daisha, sama seperti si Buta yang telah mempermalukan dirinya.


****


Sementara di villa tempat di mana Areta tinggal, Daisha baru saja keluar dari pintu utama. Ia diantar Areta sendiri untuk kembali ke rumahnya. Tak ada yang tahu jika wanita itu adalah seorang istri mafia yang juga tak akan segan menghabisi musuh-musuhnya.


"Bibi, apa tidak merepotkan Bibi? Aku tidak apa-apa pulang sendiri," ucap Daisha tak enak hati.


Areta menyentuh bahu keponakannya itu, tersenyum meski tak terlihat oleh Daisha.


"Bibi sama sekali tidak merasa direpotkan, justru Bibi senang bisa mengantarmu pulang. Bukankah Bibi yang menjemputmu tadi pagi? Maka Bibi harus mengantarmu pulang," katanya disambut senyum manis Daisha.


Wanita itu mengajak Daisha untuk memasuki mobil, dia sendiri yang akan mengantarnya pulang tanpa supir. Mobil tersebut meninggalkan villa, menembus pepohonan besar yang menutupinya.


Sungguh tempat yang tersembunyi, berada di atas bukit dan dikelilingi dengan banyak pohon yang besar. Jalanan memutar dan menurun menjadi tantangan tersendiri untuk siapa saja yang melintasinya.


Lokasi tersebut berada di luar kota Jakarta, tepatnya di daerah perbukitan wilayah Jawa Barat.


Daisha membuka percakapan. Dulu, ketika Alejandro membawanya ke lokasi tersebut, dia teramat senang. Berceloteh dengan riang tentang pepohonan yang tinggi menjulang. Juga jurang-jurang yang curam. Aliran sungai terasa tenang menghanyutkan, pemandangan indah yang tak akan pernah dapat dia lupakan untuk seumur hidupnya.


"Tidak apa-apa, sayang. Bila kau dapat melihat lagi, Bibi yakin kau akan menemukan jalannya sendiri. Jangan cemas, Bibi tidak akan ke mana pun. Bibi memutuskan untuk tinggal di sini sampai menemukan para pembunuh itu. Lagipula, hanya kau satu-satunya keluarga yang Bibi miliki. Tak akan Bibi meninggalkanmu lagi," sahut Areta sambil mengusap tangan Daisha.


Benar. Tidak ada siapapun lagi yang mereka miliki di dunia ini. Meski Areta hanyalah orang lain sebelum dinikahi Alejandro, tapi Daisha tidak meragukan kasih sayangnya yang besar. Dia menyayanginya seperti anak sendiri. Daisha bersyukur dapat bertemu kembali dengan sosok Areta.


"Maaf, sayang. Bibi harus membeli sesuatu dulu. Tak apa, bukan, jika mampir sebentar di minimarket?" ucap Areta ketika mereka tiba di jalan besar.


Daisha mengangguk. Ia sendiri tidak ada keperluan apapun untuk dibeli karena Dareen sudah menyediakan semua yang dia butuhkan di rumah. Apapun yang menyangkut Daisha, laki-laki itu tak akan melupakannya.


Mobil berhenti di halaman sebuah minimarket. Areta melepas sabuk pengaman sebelum turun.


"Kau mau ikut?"


"Apa Bibi akan lama di dalam?" tanya Daisha saat Areta mengajaknya untuk masuk ke dalam.


"Mmm ... mungkin saja. Bibi sendiri belum tahu pastinya, tapi jika kau merasa jenuh kau bisa keluar menghampiri Bibi," sahut Areta yang diangguki Daisha.


Ia duduk menunggu di dalam mobil, sementara sang bibi masuk ke dalam untuk membeli segala keperluan. Tak ada yang dia lakukan selain duduk, memainkan ponsel pun tak bisa. Hanya menunggu siapa saja yang menghubunginya.


Mengingat percakapan mereka saat di villa tadi, Daisha bertekad untuk segera bisa melihat lagi. Bayangan wajah para pembunuh itu menari-nari di pelupuk. Menertawakan dirinya yang lemah dan tak mampu melakukan apapun.


Tanpa sadar tubuh Daisha bergetar, kedua tangan mengepal. Emosi memenuhi relung jiwanya. Tak lama, dia menurunkan amarah, menghela napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


Daisha memutuskan keluar dari mobil dan menunggu Areta di kursi depan bangunan tersebut. Ada beberapa pasang mata yang mengintai, di kejauhan dan tersembunyi.


"Kami menemukannya di sini! Cepatlah! Kita harus segera menyelesaikan tugas," ucap salah seorang di antara mereka.


Tubuh Daisha kembali beraksi, bola matanya bergerak waspada saat bahaya ia rasakan mengancam. Bibirnya tersenyum tipis, menunggu apa yang akan dilakukan orang-orang yang bersembunyi itu.


Tak lama, Areta muncul. Tanpa menunggu mereka kembali masuk ke dalam mobil dan pergi. Tiga buah mobil bermunculan membuntuti di belakang mobil mereka. Areta belum menyadari sampai Daisha memberitahunya.


"Bibi, ada yang membuntuti kita. Mereka memiliki niat yang jahat, apa yang akan kita lakukan?" ucap Daisha memberitahu Areta.


"Kacang?"


Daisha mengangguk.


"Baiklah. Saatnya bermain-main. Apa kau siap melakukan kesenangan, sayang?" Bibir Areta tersenyum nakal.


Daisha terkekeh, wanita itu selalu liar dan tak terduga. Dia senang menghadapai bahaya, dia juga senang berpetualang. Untuk itulah Areta menjadi istri dari sang mafia.


"Tentu saja, Bibi. Siapa takut! Mari bermain!" sahut Daisha pasti.


Mobil yang mereka kendarai berbelok menuju sebuah jalanan sepi, memancing para penguntit untuk menjauh dari keramaian. Merasa ada kesempatan, ketiga mobil itu segera melesat mendahului. Areta tersenyum, teringat pada perjalanannya dengan Alejandro, Daisha adalah partner yang sama hebatnya.


Mereka salah memilih lawan.