
"Apa yang kau inginkan?" tanya Daisha dingin.
Ia menatap tajam Aleena yang tengah mencekal tangannya. Begitu pula dengan istri Cakra itu, maniknya memancarkan dendam yang mendalam. Kebencian terhadap Daisha yang sudah memisahkannya dari sang suami.
"Pergi! Aku ingin kau pergi seperti suamiku yang pergi meninggalkan aku. Juga anak dalam kandunganku. Semua yang terjadi padaku karena kau. Mengapa kau masih berani datang ke hadapanku? Kau memang tidak tahu malu. Pergi!" sengit Aleena yang tak menutupi kebenciannya pada Daisha.
Istri Dareen itu melirik, begitu tajam menghunus kedua netra Aleena. Semua mata tertuju pada mereka termasuk Dewi yang masih menahan geram melihat kedatangan Daisha.
"Aku tidak akan membiarkan kematian pamanku sia-sia. Semua kejahatan harus mendapatkan balasannya. Nyawa dibayar nyawa," tegas Daisha menohok hati Aleena.
Wanita angkuh itu meneguk ludah, gemetar hatinya mendengar ucapan keras Daisha. Dia pernah berbuat demikian terhadap istri Dareen itu, apakah juga akan mendapat balasan? Oh, sudah ternyata. Kehilangan bayi lebih menyakitkan daripada sebuah pukulan.
"Kau tidak memiliki bukti yang kuat jika suamiku adalah pembunuh pamanmu. Tuduhanmu itu bisa kuadukan kepada pihak berwajib, dan kau akan membusuk di dalam penjara," ancam Aleena sembari menuding wajah Daisha lurus-lurus.
Daisha tersenyum sinis, ancaman bagaimanapun tidak membuatnya takut. Itu hanyalah butiran debu yang sangat mudah untuk disingkirkan.
"Kau pikir aku takut?" Daisha mengangkat wajah, menarik tangannya yang dicekal Aleena. Matanya tertuju pada Dewi yang diam menunduk, juga pada berpasang-pasang mata yang menonton aksi Aleena.
"Bukankah kalian sudah memasukkan laporannya ke kantor polisi? Lalu, kenapa sampai saat ini aku masih bebas padahal aku tidak bersembunyi." Daisha kembali melirik Aleena yang tampak terkejut.
Tak hanya istri Cakra itu, tapi Dewi juga kedua orang tua Aleena turut membelalak mendengar ucapan Daisha.
"Kau tidak tahu siapa Alejandro? Apa pengaruhnya bagi negara ini? Jika tidak ada pamanku tak akan para pengusaha hidup dengan tenang. Kau, orang tuamu, juga mereka-mereka yang memiliki kemewahan, semuanya mengandalkan pamanku untuk menjaga hidup mereka agar tetap tenang. Kau pikir siapa orang-orang yang berjaga di rumahmu, di perusahaan milik kalian? Semua itu orang-orang pamanku. Jika aku mau, aku bisa mengambil mereka kembali," tegas Daisha lebih tepatnya mengancam.
Mereka semua tersentak kaget, rasa tak percaya dan memang benar semua bodyguard yang mereka miliki adalah orang-orang dari kelompok Alejandro.
"Sekarang, jangan halangi jalanku!" tegas Daisha lagi hendak mengayunkan langkah kembali.
Akan tetapi, Aleena tetap bersikeras menahannya agar tidak masuk lebih dalam ke gedung tersebut.
"Aku terkejut, tapi aku tetap tidak ingin kau berada di sini. Lagipula untuk apa? Kau bukan siapa-siapa di sini. Sebaiknya pergi karena kehadiranmu hanya akan membuat kami malu. Pergi!"
Aleena mendorong tubuh Daisha cukup keras, tapi wanita itu bergeming hanya bergeser sedikit saja. Beruntung, saat itu Areta memasuki lobi dan menahan Daisha dari belakang.
"Bibi!" Daisha tersenyum melihat sang bibi.
"Ada apa? Kenapa kau menghalangi jalan keponakanku?" sengit Areta tak senang dengan sikap Aleena yang mengusir Daisha.
"Kenapa? Karena dia memang tidak pantas berada di sini. Juga Anda, Nyonya. Penjahat seperti kalian tidak seharusnya berada di sini. Tempat ini hanya untuk orang-orang terhormat seperti kami, bukan untuk kalian!" ketus Aleena menggerakkan jari telunjuknya pada semua orang.
Areta, dia juga membenci bibi Daisha. Ingin rasanya mencabik wajah awet muda itu dan membuatnya menjadi si Buruk rupa.
"Benarkah? Memangnya kau tahu siapa pemilik gedung ini sehingga kau berani mengusir kami dari sini?" sengit Areta sembari maju ke depan berhadapan dengan Aleena.
Areta terkekeh mendengarnya, sama sekali tidak tersinggung. Justru dia senang mempermainkan perasaan Aleena. Seseorang dengan kebencian yang berkobar di kedua matanya. Dia suka, itu terlihat seperti siksaan baginya.
"Kau juga bukan pemilik tempat ini. Jadi, kau tidak bisa membuat kami pergi dari sini," ucap Areta sambil tersenyum manis mengejek Aleena yang membelalak mendengar ucapannya.
Dewi dan kedua orang tua Aleena yang tak lagi dapat menahan geram, menghampiri mereka untuk membela wanita itu.
"Kami memang bukan pemilik tempat ini, tapi kami pemegang saham di perusahaan ini. Jadi, kami bisa mengusir kalian meskipun tanpa izin dari pemiliknya," ketus Dewi sembari membawa langkahnya mendekat.
"Lagipula, kudengar pewaris perusahaan ini hilang entah ke mana dan juga kepemilikannya telah beralih tangan pada orang lain," sahut ibu Aleena sama angkuhnya seperti Dewi.
Areta tetap tersenyum, sama sekali tidak terlihat gentar ataupun goyah. Daisha melangkah maju, mensejajarkan diri dengan Areta.
"Kami tidak peduli. Ayo, sayang. Kita tidak ada waktu meladeni orang-orang yang tak punya tata-krama seperti mereka," ketus Areta seraya menggandeng tangan Daisha meninggalkan mereka.
Daisha menunjukkan deretan giginya mengejek Aleena yang tak dapat menyahut lagi. Di bawah tatapan tajam dan penuh benci orang-orang itu, mereka melenggang dengan santai membelah perkumpulan tersebut.
Seorang lelaki datang tergopoh-gopoh dari dalam gedung. Dia direktur utama di perusahaan tersebut, siapapun mengenalnya. Menunduk penuh hormat di hadapan Daisha dan Areta membuat bingung semua yang ada di lobi.
"Maafkan saya, Nyonya, Nona. Saya terlambat menyambut Anda. Apa mereka memperlakukan kalian dengan buruk?" ucap laki-laki itu sambil melirik perkumpulan orang-orang di sana.
"Tidak ada masalah, Paman." Daisha menyahut dengan senyuman.
Keduanya pergi diantar laki-laki tersebut, desas-desus pun terjadi. Dewi dan Aleena menatap tak percaya apa yang terjadi di depan matanya. Mereka yang dianggap rendah, nyatanya disambut dengan penuh hormat.
"Kenapa direktur menyambut mereka dengan ramah? Sedangkan kita dibiarkan begitu saja," sungut salah seorang dari mereka.
"Mungkin saja wanita itu membayar dengan tubuhnya. Siapa tahu, mereka orang rendahan memang selalu melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," sahut Dewi membuat fitnah keji terhadap Areta.
"Oh, Nyonya. Bukankah wanita itu menantu Anda juga? Kenapa Anda begitu membencinya?" tegur seseorang.
Dewi salah tingkah, ia melengos pergi meninggalkan lobi menuju aula pertemuan. Pintu dibuka lebar, satu per satu dari mereka masuk dan duduk di bangku masing-masing. Mata Dewi tertuju pada seorang lelaki yang duduk berdampingan dengan seorang wanita.
Harusnya dia yang di sana, bukan wanita itu. Ia menahan cemburu, dan duduk di kursinya. Berbincang dengan orang tua Aleena untuk mengalihkan perasaan.
"Sepertinya semua orang telah datang, bisa kita mulai saja rapatnya?" ucap Bardy tak sabar ingin menunjukkan diri bahwa hanya dia yang pantas menduduki kursi tersebut.
"Betul, kita mulai saja. Jangan mengulur-ulur waktu," sahut yang lain setuju.
"Tunggu! Kita harus menunggu kedatangan ketua. Rapat ini akan dimulai setelah ketua berada di sini," seru seorang utusan dari perusahaan Yeworks Company sendiri.
Semua orang mengendus kesal.