
Flashback.
Kembali pada saat mereka berada di mall. Dareen yang ingin membelikan sebuah hadiah untuk Daisha, membawa kedua gadis itu ke sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin. Ia sibuk memilih karena Daisha tak akan mungkin memilihnya sendiri.
Bardy berada di mall yang sama usai mengadakan rapat dengan beberapa rekan kerja. Laki-laki paruh baya itu memang sengaja memilih tempat tersebut karena menerima informasi keberadaan keduanya. Ia melihat putranya di toko perhiasan dan berpamitan pada semua rekan untuk mendekati mereka bersama sang asisten.
Bardy menepuk bahu sang anak, membuat pemuda itu tersentak dan menoleh waspada.
"Ayah!" Mata Dareen membelalak lebar, ia memegangi dadanya yang berdegup kencang karena terkejut.
Bardy tersenyum, melirik Daisha yang seketika diam di depan etalase toko. Bola matanya mengedar pada sederet perhiasan di dalam kaca. Seandainya gadis itu bisa melihat, mungkin lebih baik dia yang memilih sendiri.
Tak jauh dari Daisha, Laila pun diam bergeming. Ia menautkan jemari pada tangan Daisha, enggan bertatapan dengan laki-laki paruh baya yang baru saja muncul.
"Sedang apa kalian?" tanya Bardy setelah menatap putranya kembali.
Dareen mengusap tengkuk, menggigit bibir gugup.
"Aku hanya ingin membelikan hadiah kecil untuk Daisha sebelum dia kembali, Ayah, tapi masih bingung pilih yang mana," sahut Dareen sembari mengedarkan pandangan pada benda berkilau di hadapannya.
"Hmm ... apa sebuah cincin?"
Dareen mengangguk pelan.
Bardy menatap penjaga toko seraya bertanya, "Apakah ada cincin berpasangan? Untuk mereka berdua."
Sontak Daisha bereaksi cepat, mengeratkan jemari yang digenggam Laila. Begitu pula dengan Dareen, terkejut bukan main. Mereka bukannya ingin bertunangan, ia hanya akan membelikan hadiah untuk Daisha.
"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai hadiah dari Ayah untuk kalian," ucap Bardy sambil menepuk pundak anaknya.
Penjaga toko membawa beberapa pasang cincin yang ditanyakan Bardy. Menunjukkan sambil menjelaskan kepada mereka keunggulan dari masing-masingnya.
"Jadi, Tuan mau pilih yang mana?" tanyanya setelah mengurai penjelasan.
Bardy mengusap dagu, menimbang sambil memilih cincin yang cocok untuk tipe gadis seperti Daisha.
"Aku tidak dapat melakukannya, biar Dareen sendiri yang memilih," katanya menyerahkan putusan pada sang putra.
Dareen segera saja menunjuk salah satunya, sebuah cincin polos tanpa berlian. Ia bahkan meminta pada penjaga toko untuk memberikan nama mereka di kedua sisi bagian dalamnya.
Tak perlu waktu lama, cukup menunggu beberapa saat keduanya telah jadi sesuai keinginan.
"Bagus, sekalian saja kalian bertunangan di sini. Dengan disaksikan oleh Ayah, asisten Ayah, gadis kecil itu, penjaga toko dan para pengunjung toko ini. Setidaknya, ketika sesuatu yang tak kalian inginkan menghadang, maka kalian punya alasan untuk tetap bersatu."
Ucapan Bardy ketika itu, menjadi sebuah kenyataan. Dia sudah menyiapkan rencana tersebut karena mendengar rencana sang istri yang dirahasiakan darinya. Ia tahu, Dewi memesan bunga dari Daisha dan berniat mempermalukan gadis itu di acara pesta nantinya, tapi Bardy tak akan pernah membiarkan semua terjadi.
****
"Beruntung kita menuruti keinginan Ayah, jika tidak entah bagaimana akhirnya," ungkap Dareen sembari mengajak Daisha memasuki acara pesta.
Mereka berkeliling, Dareen memperkenalkan Daisha kepada beberapa rekan bisnisnya. Di antara mereka ada yang memuji kecantikan Daisha, tapi tak sedikit pula yang mencibir. Terutama para gadis anak dari kolega bisnis mereka. Akan tetapi, Dareen tidak terlalu memperdulikan mereka.
Dengan bangga dia menggandeng tangan Daisha, menunjukkan pada semua orang bahwa dia amat berharga. Rasa cinta yang besar tak segan ditunjukkannya meski mendapat perhatian dari banyak pasang mata.
"Kakak benar, mungkin Tuan tahu jika akan ada kejadian seperti tadi. Apa Nyonya baik-baik saja? Kudengar dia jatuh pingsan tadi," tanya Daisha sedikit mencemaskan keadaan Dewi.
"Tidak apa-apa. Kau tenang saja, Ibu akan baik-baik saja. Dia memang seperti itu disaat semua orang menolak keinginannya. Beberapa saat lagi Ibu akan bangun. Jadi, kau tidak perlu merasa cemas," jawab Dareen sambil menepuk-nepuk lengan Daisha yang melingkar di lengannya.
Laila. Di mana remaja itu?
Dia sedang menatap sederet makanan yang disajikan di sebuah meja panjang, mengambil piring kecil juga garpu, menatap liar setiap jenis makanan yang tersaji. Di kejauhan, Alfin yang sempat terkejut karena kehadirannya, tersenyum gemas melihat tingkah Laila yang memilih dan memilah makanan.
"Ekhem! Hallo, Nona, boleh saya temani?" tegur Alfin dengan nada berbisik di telinga Laila.
Gadis remaja itu tersentak, menoleh cepat dengan kedua mata membelalak lebar. Tatapannya bertanya sejak kapan laki-laki itu ada begitu dekat dengannya?
"Ka-kau ... sejak kapan?" Laila berjengit sambil sedikit menjauh.
Alfin terkekeh, mengambil piring kecil berikut garpu seperti yang dilakukan Laila.
"Sedari tadi, kau saja yang tidak menyadari karena terlalu hanyut dengan makanan di sini. Jadi, kita akan duduk di mana?" Alfin kembali menatap Laila usai meletakkan beberapa potong kue di piringnya.
Laila berkedip-kedip bingung, tak menduga laki-laki itu akan bersikap ramah padanya.
"Hallo!" Alfin mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Laila. Menyadarkan gadis remaja itu dari lamunannya.
"Ah, i-iya." Ia menunduk gugup. Entah mengapa, perasaannya tak karuan saat ini.
"Kau sudah selesai? Bisakah kita duduk dan berbincang? Aku ingin mengenalmu lebih jauh," pinta Alfin tanpa basa-basi.
Laila kembali mengangkat wajah, matanya melotot lebar. Untuk yang satu itu, ia benar-benar syok mendengarnya.
"Hei, apa kau suka sekali melamun? Ayo, kita duduk di sana saja," tegur Alfin lagi seraya menarik tangan Laila menuju sebuah kursi yang terpisah dengan kursi lainnya.
Oh, apa yang dilakukan laki-laki itu? Mengapa dia bersikap demikian terhadap seorang gadis remaja. Laila menunduk sambil menyelipkan rambutnya yang berantakan ke belakang telinga. Piring berisi beberapa kue dipangkunya, tak lagi berselera untuk melahap semua itu.
Tiba-tiba saja, perutnya merasa kenyang dan tak ingin makan lagi. Diam-diam melirik Alfin yang duduk santai tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Kau tahu, seumur hidup aku tidak pernah mengajak seorang gadis untuk duduk bersamaku. Tidak pernah," celetuk Alfin membuka pembahasan. Ia tak melihat Laila, terus menatap ke depan sambil mengunyah potongan kue.
"Ke-kenapa?" tanya Laila gugup. Remaja itu bahkan mengepalkan salah satu tangannya menahan resah, sesekali menggigit bibir merasakan degup jantung yang tak beraturan.
Terdengar helaan napas halus dari laki-laki itu, Alfin melirik Laila yang tiba-tiba menjadi gadis pendiam. Diam-diam tersenyum karena melihat semu merah di pipi remaja itu.
"Yah, tidak ingin saja. Selama ini tak ada wanita yang bisa menarik perhatianku. Setidaknya, sebelum aku bertemu denganmu," katanya.
Laila menoleh dengan mata melotot lebar, membuat Alfin terkekeh geli. Dengan sengaja mengusap wajah Laila membuatnya tersadar.
Semakin jelas warna merah di pipi remaja itu, ia berpaling tak ingin bertatapan lagi dengan Alfin yang terus menggodanya.
Jangan terbawa perasaan, Laila. Laki-laki berumur sepertinya memang senang menggoda gadis kecil sepertimu. Tahan dan sabar. Tarik napas dan bersikaplah normal. Normal, normal.
Laila menenangkan hatinya yang tak karuan. Tak ingin terbawa perasaan oleh rayuan gombal laki-laki itu.
Sementara di dalam pesta, Daisha dan Dareen duduk berdua sambil menikmati beberapa hidangan. Pesta tersebut berubah menjadi pesta sambutan untuk Dareen.
"Gadis tidak tahu malu, bisa-bisanya merebut calon tunangan orang lain!"
Baik Dareen maupun Daisha, keduanya terhenyak mendengar kalimat menohok itu.