Mohabbat

Mohabbat
Mimpi Buruk



Di depan dua gundukan tanah, di sebuah tanah lapang yang tak seluas pemakaman. Pemakaman itu tak seperti pemakaman pada umumnya. Hanya ada beberapa makam saja yang terawat dengan baik, rumput-rumput dipangkas rapi, tak ada daun yang berjatuhan mengotorinya.


"Apa ini pemakaman keluarga? Kau masih begitu ingat dengan tempat ini, itu artinya belum lama ini kau pindah kota?" tanya Dareen sesaat setelah mereka melangitkan doa untuk kedua orang tua Daisha dan para leluhurnya.


"Yah, kita istirahat di villa sana dulu. Ada pak Deni dan istrinya yang merawat tempat ini," sahut Daisha seraya mengajak mereka untuk menuju sebuah bangunan yang berada tak jauh dari pemakaman itu.


Dareen mengernyit bingung, untuk mempekerjakan orang menjadi pengurus makam pastilah dengan biaya yang tak sedikit. Dari mana Daisha mendapatkan uang untuk membayar para pekerja di pemakaman? Sebuah tanda tanya besar kini menuntut jawaban. Namun, Dareen enggan bertanya, khawatir Daisha akan tersinggung.


"Dulu, ketika kedua orang tuaku meninggal, aku diurus paman yang sudah tua. Rumah sengaja aku jual dan mendirikan bangunan di sini. Tinggal bersama paman dan juga suami istri itu. Aku belajar untuk menjadi kuat, tapi paman juga meninggalkan aku. Lalu, kecelakaan itu pun merenggut duniaku. Jika tak ada pak Deni dan istrinya yang selalu mengingatkan aku tentang Tuhan, mungkin aku sudah bersama mereka." Daisha menghela napas mengingat sederet derita yang pernah dia alami.


Perlahan, tapi pasti trauma yang selama ini menguasai dirinya mulai hilang meskipun masih terasa. Di depan bangunan sana, berdiri dua orang menyambut kedatangan mereka.


Dareen tertegun mendengar kisah pilu itu lagi, ia melirik gadis di sampingnya yang berjalan seperti orang biasa. Lalu, melirik kedua paruh baya yang berdiri di depan bangunan dengan senyum tersemat.


"Selamat datang, Nona! Kami sangat senang Anda kembali ke sini. Mari!" sambut keduanya dengan tubuh membungkuk sopan.


Laila yang baru pertama kali datang sama seperti Dareen, tercenung menatap bangunan itu. Ia tak menyangkan Daisha masih begitu kuat mengingat tempat yang telah lama ia tinggalkan.


"Terima kasih sudah merawat tempat ini, Pak, Bu." Daisha membungkuk meskipun tak tahu di mana posisi kedua paruh baya itu.


Pak Deni dan istrinya saling menatap satu sama lain, nona mudanya itu tidak berubah. Masih sama seperti yang dulu.


"Jangan sungkan, Nona. Kami senang melakukannya," sahut istri pak Deni penuh haru.


Daisha tersenyum dan mengangguk pelan. Ia mengajak keduanya untuk masuk beristirahat di dalam bangunan tersebut. Sigap, istri pak Deni gegas menyuguhkan minuman ke atas meja di mana mereka duduk.


Laila masih mendongak, menatap sekeliling villa yang berhiaskan berbagai lukisan unik. Bangunan berlantai dua itu tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman karena keadaannya yang bersih dan rapih.


"Bagaimana kehidupan Anda, Nona? Kenapa tidak tinggal di sini saja? Kami kesepian," tanya pak Deni setelah lama diam.


Mereka duduk berjejer di atas sofa ruang tamu. Tak perlu mencari keindahan lagi karena hanya melirik jendela saja, mata akan dimanjakan oleh pemandangan berbagai tanaman bunga yang terawat dengan baik.


Daisha menghela napas, pada hakikatnya ia pun ingin tinggal di sana. Membangun usaha keluarga yang ia tinggalkan begitu saja. Hanya saja, dengan kondisi matanya yang buta, ia hanya akan mendapat cibiran dan hinaan. Jadilah dia pergi dan hidup mandiri, dipertemuan dengan Laila, gadis remaja yang begitu menyayanginya.


"Kehidupanku baik-baik saja. Aku ditemani seorang adik di sana, kami menjual bunga untuk menyambung hidup. Mungkin suatu hari nanti, aku akan kembali ke sini, tapi tak tahu kapan." Daisha melirih sedih.


Kedua tangan meremas tongkat yang tak pernah jauh darinya. Menekan trauma yang hilang timbul mengganggu ketenangan.


"Menginap saja di sini, Anda pasti lelah jika harus kembali hari ini juga. Perjalanan juga tidak dekat, bukan?" pinta istri pak Deni setelah melihat raut lelah di wajah Daisha, padahal dia sedang menahan gejolak yang meluap-luap.


"Benar, menginaplah, Daisha. Aku tahu kalian itu lelah. Esok Ayah pulang, aku ingin kau bertemu dengan beliau dulu. Please!" Dareen memohon sambil menggenggam tangan gadis itu dan menempatkannya di dada.


Daisha gamang, di sisi lain ia ingin menginap beberapa hari di sana, tapi sisi lainnya khawatir jika terlalu lama trauma itu akan kembali dan ia lepas kendali. Laila mengerti apa yang sedang dirasakan kakaknya itu. Dia bukanlah lelah, tapi sedang gelisah.


"Please, Daisha. Aku mohon, setelah bertemu Ayah aku berjanji akan langsung mengantarkan kalian pulang. Kumohon, Daisha, menginaplah semalam saja."


****


"Kau berkhianat, Damian! Mengapa kau melakukan itu semua? Apa kau ingin menikmati keuntungan itu sendirian, hah?"


Gelegar petir menyambut suara seorang laki-laki yang melengking tinggi malam itu. Laki-laki dengan wajah merah padam hampir menghitam. Dadanya bergemuruh hebat, emosi telah mencapai puncaknya. Sementara itu, laki-laki yang satunya terlihat bingung, seolah-olah tak tahu apapun tentang masalah yang terjadi.


"Khianat? Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti. Kita bisa membicarakan ini semua baik-baik, bukan? Kau bisa bertanya padaku, dan akan aku jelaskan. Tidak seperti ini, kau justru membuatku bingung," sahut laki-laki bernama Damian itu.


Ia mengangkat tangan hendak menyentuh bahu temannya, tapi ditepis dengan cepat dan sengit. Kedua tangan laki-laki itu terkepal erat, mata merah, rahang mengetat kuat.


"Tidak! Kau mengkhianati perjanjian kita, kau bocorkan rahasia yang seharusnya hanya kita yang tahu. Kau tahu, itu sangat berharga untukku. Mungkin bagimu tidak karena kau telah memiliki segalanya. Coba kau pikir, Damian, aku merintis semuanya dari nol!" bentak laki-laki itu berapi-api.


Damian menggelengkan kepala, bibirnya tersenyum tipis. Ia mendekat dan memberanikan diri menyentuh pundak temannya.


"Kau salah faham, aku tidak pernah membocorkan rahasia apapun pada siapapun. Percaya padaku. Tidak mungkin aku mengkhianati perjanjian apalagi persahabatan kita," sahut Damian dengan sikap yang tenang.


"Bohong!" Dia menepis tangannya, "mereka memberikan semua bukti kepadaku. Bukti kau telah berkhianat. Kau menghancurkan semuanya, Damian. Kau menghancurkan semuanya." Dia menangis meluapkan kekecewaan.


Dor!


****


"ARGH!"


Daisha terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal, keringat membasahi wajah hingga ke seluruh tubuh. Mimpi buruk itu datang lagi, awal mula kehancuran hidupnya.


"Kakak!" Laila ikut terbangun, ia mengambil segelas air dan memberikannya pada Daisha.


"Minum dulu, Kak."


Dengan tangan bergetar, Daisha mengambil gelas itu dan meminumnya. Namun, tak juga membantu meredakan sesak dalam dada. Peristiwa kelam yang selalu membuatnya ketakutan. Dia menangis histeris, memanggil-manggil ayah dan ibunya.


"Tenang, Kak. Apa Kakak bermimpi lagi? Kakak harus tenang," ucap Laila sambil mengusap-usap punggung Daisha yang bergetar.


"Aku tidak tahu, peristiwa itu terlalu nyata. Seolah-olah baru saja terjadi di depan mataku. Ayah dan Ibu, meninggalkan aku sendirian."


Laila memeluk tubuhnya saat tangis Daisha semakin histeris. Gadis buta itu terus meracau tentang peristiwa pembunuhan kedua orang tuanya. Malam gelap mencekam, gelegar petir menyambar tiada henti.


Laila tak tahu harus apa, ia hanya diam mendengarkan kisah mengerikan yang diceritakan ulang oleh Daisha. Butuh waktu satu jam lamanya, sampai tangis gadis itu mereda dan kembali tenang.


"Sebaiknya kita tidur lagi, Kak. Semua itu hanya mimpi, Kakak harus kuat. Kakak tidak boleh kalah. Biar aku balik bantalnya, kata orang setelah kita bermimpi buruk bantal harus dibalik agar tidak terulang lagi," ucap Laila, seraya membalik bantal yang akan ditiduri Daisha.


Mereka kembali merebahkan diri sambil berpelukan.