Mohabbat

Mohabbat
Bertemu



Di depan rumah sederhana, Daisha menghela napas berat dan panjang. Ia diberitahukan olah para pekerja di rumah itu bahwa Dareen masih berada di sana. Mengurung diri di dalam kamar, meratap setiap hari. Semua makanan dan minuman ditolaknya, tak ada apapun yang masuk ke dalam perut laki-laki bakal calon ayah itu.


"Apakah dia sebodoh itu? Menyiksa diri sendiri dan tak peduli pada orang yang memikirkannya. Dasar bodoh!" umpat Daisha sebelum mengayunkan langkah mendekati halaman rumah.


Ia meminta para pekerja untuk merahasiakan kedatangannya. Daisha bahkan meminta mereka pulang ke rumah masing-masing atau pada pekerjaan mereka yang lama karena ia sendiri yang akan merawat dan menemani suaminya.


Daisha memasuki rumah sembari menarik udara dalam-dalam, ia rindu kebersamaan dengan suaminya di rumah itu. Diletakkannya tas di sofa, sedangkan ia segera pergi ke dapur untuk memasak.


Dibukanya lemari es, senyum segera menyambut begitu ia melihat isi dari kotak tersebut. Daisha mengeluarkan beberapa bahan masakan untuk diolahnya menjadi makanan kesukaan Dareen.


Setelah satu jam lamanya berkutat di dapur, Daisha menghidangkan makanan tersebut di atas sebuah nampan yang akan dibawanya ke kamar.


"Semoga dengan begini, ayahmu yang bodoh itu mau memakannya. Jika tidak, maka aku akan membiarkannya kelaparan sepanjang hidup," umpat Daisha dengan bibir tersenyum manis.


Ia melepas apron dan merapikannya, lanjut menata makanan di atas baki tersebut untuk dibawa ke kamar. Seharusnya laki-laki itu membuka pintu begitu harum aroma masakan menyeruak memenuhi seisi rumah.


"Kau harus memakan ini, jika tidak maka aku akan pergi meninggalkan dirimu sendiri," katanya sembari mempercantik makanan yang akan dibawanya ke kamar menemui Dareen.


Ia mengangkat baki dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Tak lupa mengetuk pintu dan bersuara layaknya seorang pelayan.


"Makanan siap! Tuan, buka pintunya! Hari ini ada masakan spesial untuk Anda," ucap Daisha sembari mengangkat baki setinggi wajahnya sendiri.


Diciuminya aroma makanan yang masih mengepulkan asap itu, sudah dapat ia bayangkan betapa lahapnya Dareen ketika memakannya. Senyum Daisha raib ketika Dareen tak kunjung membuka pintunya.


"Sial! Kau yang memaksaku, Dareen!" umpatnya seraya mengambil posisi jarak yang cukup untuk mengeluarkan tenaga.


Dak!


Brak!


Daisha menendang pintu itu sekuat tenaga hingga terlepas dari tiangnya. Ia kembali berdiri tegak, berdehem sebelum memasuki kamar. Dareen yang sedang menikmati masa liburnya itu tersentak saat mendengar suara benda terbanting cukup keras.


Ia berpaling, wajahnya terlihat pucat, pandangannya mengabur, bibirnya gemetar. Ia bahkan tak mampu menggerakkan tubuh selain hanya menolehkan kepala saja.


"Sudah aku katakan, aku tidak ingin makan apapun. Aku hanya ingin bertemu dengan istriku," ucap Dareen dengan suaranya yang bergetar dan lirih.


Ia meringkuk kembali di atas ranjang, memeluk tubuhnya sendiri. Sungguh menyedihkan. Daisha menatap sendu suaminya, ia meletakkan nampan itu di atas lemari kecil samping ranjang mereka.


Dipan yang terbuat dari kayu tersebut berderit dikala Daisha mendudukinya. Ia menghela napas panjang sambil menatap punggung suaminya yang tampak lebih kurus.


Daisha menyapu punggung itu, air matanya jatuh tak tertahan melihat penderitaan sang suami. Bagaimana jika mereka berpisah selamanya?


"Kau harus makan, kau harus kuat. Ada seseorang yang menantikan dirimu untuk bermain dengannya. Bangun dan makanlah! Aku sudah di sini," ucap Daisha sembari terus memberikan sapuan pada punggung suaminya itu.


Mendengar suara istrinya, Dareen membuka mata. Hanya saja, karena kondisi tubuhnya yang lemah tak ada asupan makanan, ia tak dapat melihat dengan jelas apapun yang ada di depan matanya.


"Da-daisha? Apa itu kau? Apa telingaku juga bermasalah?" lirihnya bergetar.


"Katakan, apa kau istriku? Aku tak dapat melihatmu dengan jelas. Daisha, katakan jika ini memang benar-benar kau," ucap Dareen diiringi tangisnya yang membahana tatkala Daisha menganggukkan kepala.


"Apakah ini mimpi, Tuhan? Jika iya, maka aku tidak ingin bangun lagi. Biarkan aku terus tertidur agar aku bisa selalu bersamanya," ucap Dareen hampir seperti bisikkan.


Laki-laki itu memeluk tubuh Daisha dengan erat, tapi terasa lemah bagi istrinya itu. Air mata mereka tumpah ruah tak terkendali, haru dan bahagia bercampur jadi satu.


"Hidungku tak salah mengenali bau masakanmu, hatiku salah merasakan kehadiranmu. Ternyata kau memang di sini, sayang, tapi aku tidak mampu bergerak untuk menemui dirimu. Daisha, jangan pergi tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpamu," racau Dareen yang meskipun semakin lemah, ia tak ingin melepaskan pelukan.


Daisha beranjak, mengecup dahi suaminya sebelum mengambil makanan yang ia bawa.


"Sekarang kau harus makan agar bersiap menerima kabar dariku. Aku sudah membuat makanan kesukaanmu. Lihatlah, kau pasti suka," katanya sambil memperlihatkan makanan di piring yang ia angkat ke hadapan Dareen.


Bibir pucat Dareen tersenyum, ia mengangguk lemah. Pasti, makanan itu akan ia habiskan seorang diri. Dareen menerima suapan pertamanya, mengunyah diiringi lelehan air mata. Lidahnya tak salah mengenali rasa, itu memang masakan Daisha.


Dareen merebut piring itu dari tangan istrinya, terus menyantap makanan di atasnya dengan lahap. Daisha tersenyum sambil menangis, ada rasa haru dan bahagia yang terlihat ketika suaminya itu menikmati setiap gigitan dari makanan tersebut.


Oh, ternyata benar. Dareen belum makan setelah insiden pemukulan Cakra di belakang rumahnya.


Uhuk-uhuk!


Daisha segera mengambilkannya minum, serta mengurut dadanya.


"Hati-hati! Pelan-pelan saja, lagipula kau terlihat seperti orang yang tidak bertemu makanan selama berhari-hari saja," ucap Daisha.


Dareen tak acuh dan terus melanjutkan makannya, di bawah tatapan mata Daisha dia terlihat begitu lahap.


Sementara di tempat lain, jeritan kesakitan menggema dari sebuah ruangan yang terdapat dalam bangunan terpencil di dalam hutan. Suara itu kembali terdengar setiap kali ayunan cambuk menghantam tubuhnya.


Cakra menggeram, kedua tangannya mengepal kuat menahan rasa sakit yang hebat. Kulit di tubuhnya hampir terkelupas, nyaris terlepas dari dagingnya. Tulang-tulang itu sudah tidak dapat lagi menahan siksaan yang diberikan Areta.


"Kenapa kau tidak membunuhku saja?! Kenapa?!" Suara teriakannya menggema di dalam sana.


Burung-burung berterbangan tak kuasa mendengar jerit kesakitan yang digaungkan Cakra pada dunia.


Areta tertawa, merasa puas melihat keputusasaan di kedua manik pembunuh suaminya itu. Ia tak berniat memberikan kematian yang mudah padanya.


"Aku tidak akan puas jika tidak melihat keputusasaan dari kedua matamu itu. Teruslah memohon untuk kematianmu, agar aku segera mengabulkan keinginanmu itu," ucap Areta sembari tersenyum.


Wanita itu berdiri hanya beberapa jengkal saja dari tempat Cakra diikat. Bau amis dari darah yang menetes di tubuhnya, benar-benar membuat Areta merasa puas. Sayangnya, kobaran api dendam masih menyala di hatinya. Entah dengan cara apa api itu dapat dipadamkan?


Apakah kematian?


"Kurasa ... bahkan kematianmu saja tidak akan mampu memadamkan api dendam yang berkobar di hatiku!" ujarnya, seraya berbalik meninggalkan ruangan yang dipenuhi bau amis itu.