
Beberapa hari berlalu, semua berjalan dengan semestinya walau terkadang rasa kesepian datang membawa rindu pada seseorang yang beberapa bulan lalu menemani hari mereka. Daisha tak lagi murung, hampir setiap hari Dareen menghubungi lewat video call atau pun panggilan biasa.
Laki-laki itu tengah disibukkan dengan urusannya sebagai seorang presiden direktur di perusahaan menggantikan sang ayah. Hanya saja, ia tidak mengatakan itu pada Daisha.
"Kak, pesanan dari Jakarta!" pekik Laila saat melihat sebuah notifikasi yang berisi pesanan bunga.
Daisha tercenung, jarak antara desa mereka dan Jakarta tidaklah dekat. Tak akan mungkin tiba tepat waktu di lokasi. Rasanya tak masuk akal, bukankah di Jakarta pun terdapat banyak penjual bunga? Mengapa harus memesan sejauh ini.
"Dari mana?" tanya Daisha dari tempatnya merapikan bunga-bunga. Ada beberapa pelanggan yang sedang melihat-lihat dan bahkan memesan untuk hari spesial mereka.
Laila menyebutkan sebuah alamat yang tertera dalam pesan tersebut. Sebuah gedung, bukan alamat sebuah rumah hunian. Mungkin acara diselenggarakan di sebuah gedung yang disebutkan Laila tadi.
"Siapa yang akan mengantar ke sana? Itu terlalu jauh, Laila. Lagipula tidak ada kak Dareen yang akan membantu mengirimnya," ujar Daisha seraya beranjak dan berjalan pelan menuju sudut lainnya.
Harum semerbak bunga beraneka ragam dan jenis, menjadikan hati lebih berwarna. Ia senang mencium jenis bunga di toko satu per satu sebelum merangkainya menjadi apa saja sesuai pesanan. Beberapa buket telah tersedia di salah satu sudut ruangan, menunggu diambil sang tuan.
"Yah, mau bagaimana lagi? Pesanan ini tidak sedikit, kita bisa libur satu hari untuk mengantarnya. Sepertinya, untuk acara pesta pertunangan. Mereka memesan semua jenis bunga yang kita miliki," terang Laila setelah melihat dengan teliti pesanan dari Jakarta tersebut.
"Kapan tepatnya?"
"Awal bulan depan nanti, Kak. Mereka ingin pagi sebelum acara bunga-bunga itu sudah dikirimkan."
Daisha menghela napas, tak ingin tertipu seperti yang sudah-sudah ia lebih berhati-hati lagi.
"Coba kau pastikan dulu, jangan sampai pesanan itu hanya permainan saja yang akan membuang sia-sia waktu yang kita miliki. Setiap detik berharga, Laila. Lagipula, kau akan mulai bersekolah bulan depan," tuturnya mengingatkan.
Mendengar itu, Laila tercenung, tapi memikirkan uang yang akan mereka terima ia kembali bersemangat. Pesanan tersebut harus mereka terima, jarang sekali mendapat pesanan besar seperti itu.
"Sekolah dimulai pertengahan bulan nanti, Kak. Pesanan ini di awal bulannya, aku rasa tidak masalah kita menerima pesanan ini. Mereka akan mengirimkan sejumlah uang untuk pembayaran awal, sisanya bisa kita terima saat pengiriman nanti," sahut Laila menjelaskan.
Gerakan tangan Daisha yang sedang menyusun bunga terhenti saat mendengarnya. Ia tak tega menolak semangat gadis remaja itu, jadilah menyetujui menerima pesanan tersebut.
Sejumlah uang pun langsung mereka terima, dengan nominal tidak sedikit membuat kedua mata Laila berbinar terang.
"Mereka benar-benar mengirimkan uangnya," pekik Laila dengan senang.
Daisha tersenyum mendengar suara riang dan bersemangat dari sang adik. Sambil bersenandung riang, Laila menyiapkan setiap pesanan bunga yang akan diambil pemiliknya hari itu. Musim wisuda seperti itu, banyak pesanan bunga yang mereka terima. Terutama buket.
Membayangkan dirinya yang berada di atas podium dengan pencapaian yang luar biasa, pastilah Daisha akan merasa bangga terhadapnya. Laila bertekad untuk menjadi seperti yang kakaknya inginkan, menjadi manusia berguna tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
"Kak, aku pergi mengantar pesanan dulu," pamitnya seraya menyambar kunci mobil dan bergegas keluar.
"Hati-hati!"
Daisha beranjak, ia sudah menyelesaikan rangakaian bunga dan menyatukan dengan yang lainnya. Hanya tinggal duduk menunggu pemiliknya sambil sesekali melayani pelanggan yang datang membeli.
Hal yang tak bisa dirasakan Laila dan hanya Daisha seorang yang bisa merasakannya tiba-tiba hadir membuat gelisah. Daisha awas dan waspada, tapi tetap terlihat tenang. Ia merasa sedang diawasi.
"Keluar! Aku tahu kau bersembunyi di sekitar sini. Jangan menjadi pengecut, yang bisanya hanya mengintai saja!" hardik Daisha dengan suara yang meninggi.
Seseorang yang berasa di balik sebuah bangunan, celingukan ke segala arah memastikan tak ada orang lain lagi yang bersembunyi seperti dirinya.
"Kau! Tak perlu mencari orang lain, kau yang aku maksud. Katakan tujuanmu, dan jangan bersembunyi seperti binatang pengerat yang tak memiliki keberanian," ucap Daisha lagi semakin membuat sesosok yang sedang bersembunyi itu menegang.
"Apa maksudnya aku? Mengapa dia bisa tahu aku bersembunyi?" gumamnya tak percaya.
Ia memperhatikan Daisha, gadis itu memanglah buta. Lalu, keluar dari tempat persembunyian menunjukkan diri di hadapan gadis itu.
"Apa maumu? Kenapa kau mengintai tokoku?" tanyanya dengan berani.
Dahi laki-laki itu mengernyit bingung, tak sedikit pun ia melihat ketakutan dan keraguan yang terpancar di raut wajah gadis tersebut. Dia bahkan terlihat tenang dan berani untuk seukuran gadis yang buta.
Sosok itu menatap liar Daisha, menjilat bibirnya sendiri. Rencana busuk pun terlintas dalam pikiran, bagaimana jika ia nikmati saja tubuh molek itu? Bukankah dia tak dapat melihat dan pastinya tak akan mampu melawan.
Dia mulai melangkah semakin mendekati Daisha, seringai di bibirnya muncul ketika gadis itu hanya diam tak bergerak. Dengan leluasa ia memutari tubuh Daisha, menatap semakin liar setiap lekuknya. Air liur terus berkumpul, ingin segera mencicipi kenikmatan surgawi yang disuguhkan dunia.
Mata Daisha berputar sesuai arah laki-laki itu. Ia tahu betul di mana keberadaannya. Hanya berjarak beberapa jengkal saja dari sosok penjahat. Daisha masih diam dengan tenang.
Laki-laki itu mengangkat tangannya hendak menyentuh Daisha, begitu cepat, tapi gerakan tangan Daisha justru lebih cepat dari dirinya. Gadis tersebut berputar sambil mencengkram erat tangan lancang tersebut, mengayunkan tongkat tepat mengenai ulu hatinya.
Tubuh itu tersungkur ke belakang, jatuh berdebam sambil memegangi dadanya yang terasa panas dan nyeri. Daisha tak berhenti, ia melangkah dan menginjak dada laki-laki itu seraya menekannya dengan kuat.
Senyum sinis tercipta di bibirnya yang manis, sungguh tak terkira dia lihai bela diri. Laki-laki di bawahnya tertegun, tercengang melihat reaksi lain dari seorang gadis buta.
"Kau pikir bisa menyentuhku hanya karena aku buta? Semua itu tak semudah pikiranmu," katanya sambil menekan lebih dalam dada yang diinjaknya.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya laki-laki itu dengan napas tersengal-sengal menahan rasa sakit.
Daisha kembali tersenyum, senyum yang mengandung ancaman dan mengundang malaikat maut untuk mencabut nyawanya.
"Kau tak perlu tahu akan hal itu, sekarang katakan padaku untuk apa kau memata-matai tokoku? Siapa yang menyuruhmu? Apakah nyonya besar di rumah itu?" cecar Daisha yang kali ini turut meletakkan tongkatnya di dekat leher si penjahat.
Mata laki-laki itu menatap cemas benda panjang milik Daisha, rasa tak percaya dia kalah begitu saja oleh seorang gadis buta. Sekali lagi tangannya terangkat hendak meraih tongkat Daisha, tapi lagi-lagi digagalkan karena ayunan benda tersebut lebih dulu menghantam tangan laki-laki itu dan menguncinya.
Dia menjerit saat ujung tongkat Daisha menusuk telapak tangannya. Meski tak berdarah, tapi cukup membuatnya merasakan gelenyar rasa sakit di seluruh tubuh.
"Katakan pada orang yang menyuruhmu, untuk tidak bermain-main denganku. Jika tidak, jangan salahkan aku ketika kehancuran mendatangi mereka. Pergi! Pergi dengan cepat dan jangan pernah datang lagi!"
Daisha kembali menekan dada dan telapak tangannya sebelum menjauh. Ia membiarkan laki-laki itu pergi dan mengadu pada tuannya. Daisha tahu siapa yang telah menyuruhnya.
"Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan mengalah."