
"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Daisha saat berkeliling di dalam pesta.
"Untuk apa menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas?" sahut Dareen sambil melihat-lihat para tamu yang asik berdansa di ruang tersebut.
Di kejauhan, sepasang pengantin nampak bahagia. Mereka turun ke dalam pesta dansa bergabung dengan tamu yang lainnya. Terselip di antara mereka, pasangan sepuh yang juga terlihat bahagia.
Mereka Dewi dan Bardy. Keduanya hanyut dalam kemeriahan pesta, tak seperti pada saat pesta pernikahan Dareen dan Daisha. Ada yang terbakar, tapi tak berasap. Hati Dareen teramat sakit melihatnya, merasa tak dianggap sama sekali, tersisih secara perlahan dari sisi keluarga.
Namun, itulah pilihan, tak perlu kata sesal yang hanya akan melemahkan jiwa. Cukup selalu bersyukur kepada Tuhan bahwa pemberian-Nya adalah yang terbaik.
"Kak, kenapa kau bergetar? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Daisha saat secara nyata merasakan getaran di tubuh Dareen.
Laki-laki itu tersentak, emosi dalam dadanya tanpa sadar tersalurkan hingga membuat tubuh gemetar. Ia menghela napas, membuang pandangan dari mereka semua dan melanjutkan langkah menuju sebuah kursi terpisah.
"Tidak ada, aku hanya sedang memperhatikan para tamu saja," jawab Dareen berbohong.
Ia menarik kursi untuk Daisha, duduk berdampingan menikmati waktu berdua.
"Oya, Kakak melihat Laila? Alfin mengajaknya ke pesta ini." Daisha teringat pada adiknya itu.
Sejak kedatangannya ke pesta, dia belum bertemu dengan Laila. Dareen mencari-cari keduanya, dia terkekeh saat matanya menangkap dua sosok yang sedang berdiri di depan meja panjang berisi makanan dan minuman.
"Mereka sedang menikmati hidangan. Kenapa semakin hari, semakin terlihat cocok? Mungkin mereka berjodoh," celetuk Dareen disambut senyum Daisha.
Jika semua itu menyangkut kebahagiaan Laila, maka tak perlu ditanyakan lagi bagaimana bahagianya Daisha. Tak ada yang dia inginkan di dunia ini selain melihat remaja yang dia rawat tumbuh dengan baik dan bahagia.
"Biarkan saja," katanya seraya menjatuhkan kepala di pundak Dareen.
Dansa masih berlanjut, acara pemotongan kue bahkan terlihat meriah dan disambut antusiasme para tamu. Dareen mengernyit, saat Tuan Nugraha berbincang serius dengan Dewi dan Bardy. sudah dapat diterkanya, pastilah tentang masalah tadi. Namun, apapun yang dilakukan orang tua itu, ia pastikan tak akan pernah berhasil memisahkannya dari Daisha.
Dewi nampak mengagumi sosok gadis itu, gadis yang tak tahu malu menginginkan suami orang. Bagaimana orang seperti itu disebut berpendidikan? Sementara dia mengusik kebahagiaan orang lain?
"Kak, kau bergetar lagi? Apa yang kau lihat?" Daisha beranjak dari pundak Dareen.
Menoleh pada suaminya meskipun tak terlihat. Daisha meraba wajah laki-laki itu, menangkupnya dengan kedua tangan. Ia tersenyum mesra, pancaran matanya penuh cinta. Cinta yang tak terbatas dan besar untuk dia seorang.
"Apa yang kau khawatirkan? Jika mereka sudah tidak menganggapmu lagi, maka jangan pedulikan. Kita memiliki kehidupan sendiri yang harus kita bangun. Saat satu dunia meninggalkan kita, maka kita harus menciptakan dunia yang lain. Bukan malah terpuruk dan menjadi lemah," tutur Daisha seraya menjatuhkan kepala di dada bidang Dareen.
Degup jantung laki-laki itu memang menunjukkan yang dirinya tengah merasa cemas, tapi setelah mendengar ucapan Daisha perlahan mulai tenang. Daisha adalah dunia yang dia inginkan, dunia yang dia pilih tanpa adanya paksaan. Dunia yang harus dibuatnya bahagia tanpa air mata dan beban hidup yang berat.
Lalu, untuk apa memikirkan dunia yang lain jika tak ada yang menerimanya? Benar. Menciptakan dunia sendiri, tak perlu hidup di dalam dunia orang lain. Dareen mendekap tubuh wanita itu, mengecup ubun-ubunnya mesra. Tak ingin lagi kehilangan dunia untuk yang kedua kalinya.
Cukup satu kali dunianya hancur, bahkan sebagian ingatan belum kembali. Kecelakaan seperti apa yang menyebabkan dirinya terjun ke dalam sungai sehingga dipertemukan dengan Daisha? Tak ada petunjuk lain selain dirinya sendiri.
"Maaf. Saya mengganggu kalian, tapi bisakah saya berbicara dengan istri Anda, Tuan Muda?" tegur seorang wanita dengan tampilan elegan nan klasik seperti para istri bangsawan.
"Saya Helen, teman Nyonya Dewi. Saya ingin berbicara dengan istri Anda, berdua." Wanita itu menegaskan kalimat dengan sorot mata yang menajam.
Senyumnya yang khas masih terbentuk sempurna, menunggu persetujuan Dareen.
"Maafkan aku, Nyonya, tapi aku tidak dapat meninggalkan istriku sendirian dengan orang asing," sahut Dareen tak mengizinkan dirinya menjauh dari Daisha.
Wanita itu berdiri tegak, usianya tak jauh beda dari Dewi, tapi ia tampak lebih muda dan tak ada kerutan sama sekali di wajahnya. Ia terlihat seperti wanita baik-baik dan berkelas, tapi siapa sangka? Mereka yang dianggapnya keluarga saja tega menyakiti dan ingin memisahkan, apalagi Helen yang notabene adalah orang asing.
"Saya mengerti, Tuan Muda. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal saja kepadanya, dan ini adalah rahasia. Saya hanya ingin berbicara berdua dengannya untuk memastikan sesuatu. Bukan ingin berbuat jahat padanya. Jadi, apa saya diizinkan?"
Wanita itu tak peduli pada Dareen yang selalu ingin menempel dengan Daisha. Menunggu dengan pandangan tegas tepat di kedua manik Dareen.
"Maaf, Nyonya -"
"Tidak apa, Kak. Lagipula, Nyonya Helen memang hanya ingin berbicara denganku. Aku tidak merasakan adanya bahaya, jadi kau tenang saja semuanya aman," sela Daisha disaat Dareen akan menolak kembali permintaan wanita tersebut.
Helen tersenyum, dari pandangan matanya dia mengagumi sosok Daisha. Dareen pun melihat itu, tidak seperti kebanyakan para wanita kaya yang akan mencibir Daisha meski hanya lewat sorot mata.
Dareen menoleh pada istrinya, memandang ragu keputusan Daisha untuk meninggalkannya sendirian.
"Apa kau yakin dia tidak akan menyakitimu, sayang? Perlu aku tempatkan pengawal di sekitar sini untuk menjagamu?" tanya Dareen cemas.
Daisha terkekeh mendengarnya, tapi itulah Dareen yang selalu ingin melindunginya meski tahu Daisha bahkan mampu mengalahkan lawan yang lebih kuat darinya.
"Tidak perlu, aku hanya membutuhkan dirimu untuk melindungiku. Cukup awasi saja kami dari tempatmu menunggu. Aku akan baik-baik saja." Daisha menggenggam tangan Dareen, menyatakan perasaannya lewat sentuhan tangan.
Laki-laki itu mendengus, kembali menatap Helen dengan manik yang memancar tegas dan tajam.
"Baik. Aku izinkan, tapi jangan coba-coba menyakitinya. Sehelai saja rambutnya kau sentuh, aku tak akan tinggal diam untuk membalas," ancam Dareen tidak main-main.
Helen tersenyum, ia mengangguk pelan. Tetap tenang selayaknya pada bangsawan.
"Anda tenang saja, Tuan Muda. Saya berjanji tidak akan menyentuhnya kecuali dia sendiri yang melakukannya," sahut Helen menciptakan kerutan di dahi Dareen.
"Sudahlah, Kak. Tidak apa-apa, biarkan kami berbicara. Mungkin ini memang rahasia antara wanita saja," sergah Daisha sebelum suaminya itu menimpali ucapan Helen.
Sekali lagi Dareen menatap ragu pada Daisha, yang akhirnya beranjak juga. Ia bergabung dengan Alfin dan Laila memperhatikan sang istri yang sedang berhadapan dengan wanita bangsawan itu.
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Nyonya Helen?" tanya Daisha membuka percakapan.
"Mmm ...."