
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?"
Bardy mondar-mandir gelisah, mengusap-usap dagu sambil berdecak. Lalu, dia menatap jendela. Mereka tengah berkumpul di suatu ruangan, berikut Daisha dan Laila. Pun dengan Aleena dan orang tuanya.
Dewi duduk dengan tubuhnya yang masih bergetar hebat. Kejadian tadi kembali membuatnya syok dan beruntung dia tidak jatuh pingsan. Hanya saja, wajahnya memucat, kedua bibir sedikit membiru dan gemetaran. Ia memeluk tubuh sendiri, sesekali mengusap sudut mata yang tanpa sadar telah menangis.
Laila memeluk Daisha, Alfin dan Dareen duduk sejajar ikut memikirkan kejadian yang tidak mereka sadari sama sekali.
"Apa saja yang dilakukan para penjaga di luar sana? Apa mereka tidak becus untuk mengurus hal semacam ini?" Bardy berbalik menghadap Dewi.
Mata itu merah dan menyalang, menghujam tepat di kedua manik Dewi yang basah.
"Aku tidak tahu, aku tidak tahu apapun tentang semua ini. Sungguh, aku pun tidak menduga akan ada kejadian seperti ini," rengek Dewi terus memeluk tubuhnya sendiri sambil menangis.
Bardy semakin meradang, orang yang harus disalahkan dalam hal ini adalah Dewi. Hanya Dewi karena dia membuat rencana pesta tanpa musyawarah bersama keluarga. Semaunya sendiri, tanpa peduli pada pendapat orang lain.
"Ini semua salahmu, Dewi. Seharusnya kau meminta pendapat semua keluarga sebelum mengambil tindakan. Apa salahnya kau membuka rapat bersama kami, bertanya tentang apa saja yang perlu disiapkan dalam pesta. Keamanan, kenyamanan, semuanya. Aku tidak habis pikir seperti apa jalan pikiranmu itu," bentak Bardy, jari telunjuknya menuding lurus wajah Dewi yang semakin dibanjiri air mata.
Dewi menatap berani suaminya, tidak terima disalahkan. Ia berdiri dan berhadapan langsung dengan Bardy. Kemarahan jelas memuncak, membuatnya tak dapat berpikir jernih.
"Kenapa kau menyalahkanku? Kau mau tahu siapa yang menyebabkan semua ini, hah? Dia!" Tangan Dewi menuding Daisha. Yah, dialah sumber masalah yang terjadi di dalam pesta.
Seandainya dia memilih pulang dan tidak menetap apalagi bergabung di dalam pesta, kekacauan itu tak akan pernah terjadi.
"Dialah yang menyebabkan semua kekacauan ini. Seharusnya dia tidak ada di sini, seharusnya dia kembali saja ke rumahnya di desa itu. Mengapa kau justru menahannya? Kau juga salah, Bardy. Kau juga bersalah karena telah membiarkan gadis pembawa sial itu masuk ke keluarga kita!" bentak Dewi menggelegar mengalahkan ringkikan keledai.
Daisha menunduk, penghinaan seperti apa lagi yang akan dia terima. Laila membelalak lebar, menggeram marah sampai-sampai tubuhnya gemetar hebat. Tidak ada yang berani mengatakan itu selama ini, Daisha bukan pembawa sial.
"Cukup, Bu!" Dareen segera saja berdiri, Dewi sudah keterlaluan.
"Apa? Sejak kau mengenal gadis buta itu, kau jadi pembangkang, Dareen. Kau menolak pertunanganmu dengan Aleena, bahkan berani membantah Ibu," tukas Dewi masih dengan suara yang melangit.
Bardy mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga semua buku jari memutih. Kecewa. Itulah yang terlihat di wajah laki-laki berumur itu. Setelah berpuluh tahun membina rumah tangga, Dewi bukan semakin dewasa dan berpikir justru semakin membuatnya berkuasa dan semaunya.
Aleena menjatuhkan kepala di pelukan sang ibu, dia tengah berperan sebagai kelinci lemah dan mudah ditindas. Menangis tersedu-sedu merasa dikhianati.
"Ibu mau tahu kenapa aku menolak pertunangan ini? Apa Ibu ingin mengetahuinya? Akan aku beritahu Ibu dan semua orang yang ada di sini," ucap Dareen dengan tegas.
Aleena sontak saja mengangkat wajah, gelisah dan cemas. Rasa takut mulai merambat di dalam hatinya, sebuah rahasia yang dia simpan dengan baik seorang diri. Apakah Dareen telah mengetahuinya? Tidak!
Wanita itu mengira Dareen masih amnesia dan belum mengingat Aleena sebagai calon tunangannya. Berharap seiring berjalannya waktu, dia akan kembali mengingat siapa Aleena dan menerimanya sebagai pasangan. Bukan gadis buta yang tak berguna itu.
"Aku tidak mengada-ada, Ibu. Perlu Ibu tahu, aku sebenarnya hanya berpura-pura lupa padanya. Bukan tanpa alasan, aku hanya ingin membuktikan bahwa dia gadis yang tak tahu malu dan tak tahu diri. Bukan Daisha!"
"Dareen!" bentak Dewi.
"Cukup! Jika kau tidak ingin bertunangan dengan anakku, maka setidaknya jangan pernah menghinanya. Cukup kau tolak saja, jangan memutarbalikkan fakta yang ada!" Ayah Aleena turut meradang, dia berdiri sambil mengepalkan kedua tangan.
Dareen berpaling padanya, tak gentar sama sekali. Dia tidak merasa rugi kehilangan Aleena karena Daisha jauh lebih baik dari wanita mana pun.
"Kalian juga perlu tahu seperti apa kelakuan putri kalian itu, Tuan dan Nyonya. Dia berselingkuh di belakangku, dan merencanakan sesuatu yang akan membuatku hancur setelah kami berhasil menikah. Apakah aku harus mempertahankan hubungan yang tidak sehat ini? Tidak! Aku berhak memilih dan memutuskan, juga menolak untuk kehidupanku sendiri," ungkap Dareen sukses membuat Dewi melebarkan mata.
Wanita paruh baya itu menoleh, menatap wanita yang dia banggakan sebagai calon menantu. Aleena menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Sungguh, dia tengah menahan gejolak saat ini. Rasa malu, kecewa, marah, gelisah dan cemas bercampur jadi satu.
"Itu tidaklah benar! Putri kami tidak mungkin melakukan itu. Kau hanya membual demi bisa hidup dengan gadis itu!" tolak ibu Aleena dari tempat duduk sambil memeluk anaknya.
Bardy mengernyit tak senang, dia lebih percaya pada putranya sendiri daripada orang lain. Dia tahu Dareen tak pernah mengatakan kebohongan. Sejak kecil dareen selalu berkata jujur bahkan tentang perlakuan sang kakak terhadapnya. Bardy mengetahui semuanya dan dia menyimpan itu dengan baik. Untuk itulah, kekuasaan tertinggi dia berikan kepada Dareen meskipun dia anak kedua bukan kepada Bardy yang seharusnya menduduki kursi itu sebagai anak pertama.
"Aku tidaklah membual. Tanyakan saja pada putrimu, tapi jika dia berkilah aku tidak ingin memaksa. Terserah kalian, percaya atau tidak aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin melanjutkan hubungan bersamanya dan kalian tidak bisa memaksaku!" tegas Dareen.
Mereka membeku, termasuk juga Dewi. Dareen tidak main-main, garis wajahnya tegang dengan mata memancarkan ketegasan. Semua mata kini tertuju pada satu orang, Aleena. Wanita itu menggelengkan kepala sambil terus menunduk dan menangis. Tak sepatah kata pun terucap dari lisannya, kelu dan tak mau menyahut sama sekali.
Buntut dari kejadian tadi, saling menyalahkan satu sama lain. Yang tak akan menemukan titik akhir dari perkara yang sedang terjadi.
"Berhenti saling menyalahkan dan memojokkan. Kita semua salah di sini karena sudah lalai sehingga penyusup itu bisa masuk ke dalam acara. Aku tahu, Kak Dareen sempat melihat orang itu, bukan? Katakan saja pada kami, jangan lagi disimpan sendiri," ucap Daisha mulai membuka suara.
Pandangan semua orang kini beralih pada Dareen, menuntut penjelasan dari apa yang dibicarakan Daisha tentang penyusup itu.
"Kau benar, aku memang melihatnya. Waktu itu aku ingin mengejar dia, tapi tidak ingin meninggalkanmu sendirian lagi. Jadi, aku menelpon penjaga di depan gedung untuk mencari tahu tentang penyusup itu. Sayangnya, mereka mengatakan tidak melihat orang dengan ciri-ciri seperti yang aku berikan," tutur Dareen tak lagi dapat menyembunyikan apapun dari gadis itu.
Daisha menghela napas, semua orang berpikir tentang penyusup itu. Bardy bahkan menghubungi para penjaga untuk turut berkumpul bersama mereka.
"Kemungkinan penyusup itu adalah salah satu tamu undangan dalam pesta. Dia tidak pernah meninggalkan gedung dan tetap berada dalam pesta dengan tampilan berbeda. Dunia bisnis memang kejam, apapun akan dilakukan untuk menghancurkan saingannya," timpal Daisha sambil tersenyum sinis usai mengakhiri kalimatnya.
Semua orang berpaling padanya, berteguk-teguk ludah diluncurkan guna membasahi tenggorokan yang mengering. Tetap saja, senyum sinis Daisha tak mampu menghilangkan gugup dalam diri mereka.
Siapa sebenarnya Daisha?