
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Nyonya Helen?" tanya Daisha membuka percakapan.
"Mmm ... bisakah Anda memanggil saya Areta, Nyonya Alvaro? Sepertinya itu lebih baik," ujar wanita tersebut sambil menyibak kipas di tangan dengan anggun.
Kedua matanya awas memindai reaksi Daisha setelah disebut nama Areta. Daisha tercenung, alisnya berkedut-kedut seolah-olah sedang berpikir keras tentang satu hal.
"Areta? Ada ribuan nama Areta, tapi aku mengenal salah satunya. Mungkinkah ... Bibi?"
Kedua mata Daisha membesar, tubuhnya bergetar. Sungguh hal yang tak terduga seseorang yang amat dikenalnya, akan ia temui hari itu.
"Jadi ... kau mengenali Bibimu? Kau mengenal Bibi?" pekik wanita itu teramat senang.
"Sebenarnya aku ragu karena aku tak bisa melihat wajahmu, Bibi. Juga ... kenapa suara Bibi berubah? Aku bahkan tidak bisa mengenalinya," ucap Daisha dengan kerutan di dahinya.
Terdengar helaan napas berat nan panjang darinya, membuat Daisha menunggu dengan cemas.
"Ini karena Bibi menangisi kematian pamanmu siang dan malam. Bibi menyesal tidak ikut dengannya waktu itu sehingga Bibi tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Bibi hanya menerima kabar bahwa pamanmu telah meninggal dunia," ungkap wanita itu terdengar sedih.
Daisha meraba meja, mencari-cari tangan Areta. Digenggamnya tangan wanita itu dengan lembut. Betapa ia mengerti seperti apa perasaannya saat ini.
"Aku akan menceritakan semuanya kepada Bibi, tapi tidak di sini. Terlalu berbahaya jika kita berbicara soal paman di sini. Bisakah kita bertemu secara rahasia?" pinta Daisha meyakinkan lewat genggaman tangannya.
"Mmm ... baiklah, tidak masalah. Bibi tinggal di villa pamanmu saat ini, jika kau berkenan datanglah berkunjung. Kau masih ingat, bukan?" pinta Areta menatap Daisha haru dan bahagia.
Istri Dareen itu menghela napas, melepas pelan tautan tangan mereka dan menumpuknya di atas paha. Tubuhnya sedikit mundur, ada kekhawatiran terlihat di raut wajahnya yang kusut.
"Aku sedikit lupa, Bibi. Sejak kecelakaan itu, aku melupakan sedikit tempat-tempat penting yang ... Bibi, kapan Bibi datang ke Indonesia?" Daisha tersenyum usai terlihat sendu.
Ia tak ingin membahas soal kecelakaan itu saat ini. Areta menatap iba pada keponakannya, sungguh tak disangka nasib buruk akan menimpa padanya.
"Aku terbang ke Indonesia setelah menerima kabar tentang pamanmu. Daisha, Kau tumbuh dengan cantik, persis seperti ayahmu. Hanya saja, semua orang hampir melupakan sosoknya. Sayang, kapan tepatnya semua itu terjadi? Maafkan Bibi karena tidak tahu soal ini," ucap wanita itu dengan sedih.
Dia benar-benar menyesal, seandainya waktu itu dia ikut ke Indonesia bersama suaminya. Kemungkinan hal buruk itu dapat dicegah. Daisha tak perlu kehilangan penglihatan, dan mereka bisa bersama-sama menjalani hidup. Seharusnya memang dia yang merawat Daisha waktu itu.
Gadis kecil yang tak berdosa harus kehilangan orang tua di masa belia. Pastilah sangat berat untuknya menjalani hidup sendirian. Tanpa cinta dan kasih sayang orang tua, sedangkan dia masih sangat membutuhkan keduanya.
Daisha mendesah, ia tersenyum mengerti. Keadaan Bibi yang disibukkan oleh bisnis di negaranya, tak memungkinkan ia untuk bepergian.
"Tak apa, Bibi. Sejak kematian Paman ... yang penting kita bisa bertemu di sini. Aku senang Bibi baik-baik saja, artinya aku masih memiliki keluarga dan tidak sendirian," sahut Daisha.
Dareen yang memperhatikan mereka dari jauh merasa cemas saat melihat riak wajah Daisha yang berubah-ubah. Ia khawatir wanita asing itu justru tengah merendahkan istrinya seperti orang-orang.
"Eh! Mau pergi ke mana kau?" cegah Alfin saat Dareen hendak melangkah menghampiri Daisha dan Areta.
"Aku mau menemui istriku, aku merasa cemas. Hatiku tidak tenang, Alfin. Bisakah kau membiarkan aku pergi?" pinta Dareen sembari melepaskan cekalan tangan Alfin di lengannya.
"Kakak benar, aku juga merasa cemas setelah memperhatikan Kakak dengan wanita itu. Aku juga mau pergi ke sana," timpal Laila seraya melangkah mengikuti Dareen.
Kedua wanita itu masih asik berbincang seputar masa lalu yang pernah mereka lewati. Daisha terlihat antusias mendengar cerita masa lalu yang ia lupakan.
"Benarkah?" tanya Daisha sambil tersenyum lebar.
"Tentu saja benar, Bibi memiliki semua potretnya." Areta tersenyum, tapi juga bersedih karena tak dapat menunjukkan gambar-gambar mereka saat Daisha kecil dulu.
"Apa kalian sudah selesai?"
"Kakak, kenapa datang tiba-tiba?" tanya Daisha tak senang.
Ia sedang bernostalgia dengan bibinya itu, tapi kedatangan Dareen membuyarkan semuanya. Bibi menjadi hening kembali, tak bersuara.
"Aku mencemaskan dirimu, sayang. Apa dia melakukan hal buruk terhadapmu?" sahut Dareen sembari melirik tajam pada Areta yang bersikap angkuh.
Daisha tersenyum, menggeleng pelan seraya menyahut, "Bukankah Kakak bisa melihatnya sendiri tadi? Aku baik-baik saja."
Dareen mendekat, menilik istrinya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hal tersebut membuat Areta tersenyum geli sendiri. Ia melirik Daisha, dan memperhatikan cara Dareen memperlakukan keponakannya. Sungguh, di mata laki-laki itu terpancar cinta yang dalam untuknya.
Aku melihat laki-laki itu sangat mencintai keponakan kita, sayang. Oh, dia mengingat aku padamu. Dulu, kau juga sering menatapku seperti itu.
Dareen menghela napas setelah memastikan keadaan Daisha yang baik-baik saja. Ia duduk di samping istrinya menatap tajam sosok dibalik kipas itu.
"Laila? Kau di sini?" Daisha tersenyum lebar merasakan keberadaan adiknya itu.
"Iya, Kak. Aku mencemaskan Kakak," jawab Laila melirik Areta diam-diam.
"Kakak, Laila. Ini Bibi Helen, Bibiku. Dia bukan orang jahat, beliau tinggal di luar negeri dan sengaja datang ke Indonesia untuk mencariku," ucap Daisha memperkenalkan Areta kepada mereka berdua.
"Bibi, gadis kecil itu adikku ... ah, adik yang aku angkat, begitu," sambung Daisha.
Areta melipat kipasnya dengan elegan, menoleh pada Laila yang berdiri tak jauh darinya.
"Hallo, aku Helen. Senang bisa berkenalan denganmu, gadis kecil. Kau manis sekali," ucap Helen dengan nada mendayu terdengar klasik.
Laila gugup, menatap ragu pada tangan lentik yang terjulur di depan dirinya. Pelan dan gemetar, Laila menjabat tangan tersebut.
"Laila. Senang bertemu dengan Anda, Nyonya-"
"Ah, Bibi! Panggil aku Bibi Helen, seperti Daisha memanggil," tukas Bibi menyela ucapan Laila.
Gemetar bibir gadis itu, tatapan mata Helen yang lembut keibuan mengingatkan Laila pada sosok wanita yang telah melahirkannya.
"Ba-baik, Bibi. Terima kasih," ucap remaja itu.
Helen menarik lembut tangannya, dan meminta Laila untuk duduk di samping tempat duduknya. Ia kembali memutar pandangan, menatap Dareen yang masih terdiam setelah mendengar siapa dirinya.
"Anda tidak ingin menyapaku, Tuan Alvaro?" sindir Helen sembari tersenyum simpul.
Dareen memutuskan pandangan, terlalu malu karena telah mencurigai bibi dari istrinya itu.
"Kak, sapa Bibi Helen." Daisha menyenggol pinggang suaminya, membuat Dareen tersentak.
"Ah, iya. Senang bisa bertemu dengan Anda, Bibi. Maafkan ketidaktahuanku karena telah mencurigaimu." Dareen menunduk sopan.
Helen terkekeh kecil, bahkan tawanya itu pun terdengar elegan. Sungguh, dia layak mendapat gelar bangsawan.
"Tidak masalah, Keponakan. Aku hanya ingin menitipkan Daisha padamu, dia harta keluarga kami yang paling berharga. Jaga dan sayangi dia karena jika sedikit saja kau menyakitinya aku akan membawanya pergi jauh darimu."
Kalimat yang diucapkan Helen bukanlah main-main. Dareen tersentak, dia memang tidak begitu mengenal nama Helen, tapi dia tahu wanita itu bukanlah wanita biasa. Siapa sebenarnya keluarga Daisha?