
Malam pengantin yang seharusnya mereka gunakan untuk ritual sakral penyatuan cinta, berganti dengan acara berkeliling ruang pesta kembali. Tamu kali ini lebih banyak dari sebelumnya, maklum kolega sang kakak tak kalah banyak seperti ayah mereka.
"Sepertinya malam lebih ramai dari siang tadi, Kak," ucap Daisha mengikuti langkah kaki Dareen meski dirasa sangat lelah usai pesta menyambut para tamu undangan siang tadi.
"Kau benar, kebanyakan dari mereka adalah teman-teman Kakak. Mereka datang dari berbagai macam tempat dengan profesi yang berbeda," sahut Dareen menjelaskan.
Daisha mengangguk. Dulu, dia pun mempunyai banyak teman. Disenangi, bahkan banyak yang meminta bantuan padanya. Bukan hanya karena dia kaya, tapi juga cerdas. Namun, saat kedua orang tuanya meninggal, dan dia dinyatakan bangkrut tak satu pun yang mau berteman dengannya.
Daisha menghela napas, semua itu memang sudah berlalu, tapi meskipun demikian terkadang masih membayang dengan jelas di pelupuk mata. Seolah-olah itu baru saja terjadi.
"Kau lelah? Kita bisa duduk di sana," tanya Dareen diangguki Daisha dengan cepat.
Jujur saja, kedua kakinya tak sanggup lagi melangkah. Dareen membawa istrinya ke sebuah meja di sudut, berjauhan dengan meja yang lainnya. Mereka duduk berdampingan sambil menautkan jemari.
Di mana dia? Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya? Semoga saja mereka adalah orang yang berbeda.
Entah siapa yang sedang dicari dan ditunggu Daisha? Hatinya sibuk menelisik setiap rasa yang hadir. Tak ingin kehilangan sosok yang selalu mengganggu ketenangan rasanya. Itu tidak nyaman dan membuatnya gelisah.
"Di mana kakakmu, Kak?" tanya Daisha setelah beberapa saat mereka terdiam.
Dareen yang sedang menatap para tamu itu menoleh pada istrinya, menilik raut wajah Daisha yang terlihat tegang.
"Ada apa? Kakak belum masuk ruangan, mungkin masih berada di ruangan khusus bersama calonnya," sahut Dareen menerka-nerka keberadaan sang kakak.
"Kakak tahu siapa calon tunangannya?" tanya Daisha lagi ingin melirik Dareen, tapi percuma.
"Yah, kau juga mengenalnya, sayang." Dareen tersenyum ketika melihat kerutan di antara alis Daisha.
"Benarkah? Di Jakarta ini tidak ada yang aku kenal selain keluarga Kakak, dan ... oh atau jangan-jangan ... wanita itu maksud Kakak? Aleena?" tebak Daisha tepat sekali.
Dareen menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak dapat menipu Daisha ataupun membohonginya. Gadis itu benar-benar memiliki kepekaan yang luar biasa. Apakah dia seseorang yang sudah sangat terlatih? Hati Dareen bertanya-tanya tentang siapa yang sebenarnya Daisha.
"Kau memang luar biasa. Selalu tepat dan tidak pernah salah sasaran," ujar Dareen menatap kagum gadis di sampingnya.
Daisha membulatkan bibir, tersenyum aneh tak menyangka Aleena begitu gigih dan tidak menyerah. Daisha tahu ada sesuatu yang direncanakan wanita itu. Jika tidak, tak akan dia menerima pinangan Cakra yang notabene adalah kakak dari laki-laki yang telah menolaknya.
"Jadi benar, ya. Ternyata dia wanita yang gigih dan tidak mudah menyerah, tapi mungkin dengan begitu bisa mengobati hatinya yang sakit karena tak dapat menikah denganmu. Karena sampai kapanpun, aku tak akan pernah melepas milikku," ucap Daisha sembari mengeratkan genggaman tangan mereka.
Dareen meneguk ludah, bulir yang mengalir di tenggorokan terasa berduri dan menusuk-nusuk. Melihat senyum yang lain di bibir istrinya itu, ia tahu Daisha tak hanya mengancam wanita yang menginginkan Dareen, tapi juga dirinya.
Ketenangan mereka terganggu disaat seorang pelayan membawakan minuman untuk mereka.
"Terima kasih." Dareen menerima dan mengambil gelas di depannya, tapi dengan cepat dicegah Daisha saat ia hendak meminumnya.
"Ada apa?" Dareen bertanya bingung, tenggorokannya tiba-tiba saja mengering dan perlu dibasuh sesuatu yang segar.
Laki-laki itu menatap ngeri gelas di tangannya, ia meneguk ludah yang berkumpul guna membasahi tenggorokan. Sungguh, siapakah yang ingin mencelakai mereka?
Daisha mengambil gelas Dareen dan menjauhkan benda tersebut dari mereka. Ia mengambil gelas miliknya dan mendekatkan benda itu pada hidung.
"Kakak coba lihat!" pintanya seraya membawa gelas tersebut ke bawah.
Tak jauh dari mereka terdapat sebuah tanaman bunga sebagai dekorasi. Bunga hidup dan terlihat sehat, Daisha tahu karena dapat mencium aroma dedaunan. Ia menuangkan minuman tersebut ke atas bunga, disaksikan Dareen yang tak berkedip.
Perlahan, tapi pasti. Daun-daun pada bunga itu mulai layu dan berubah kehitaman. Lalu, jatuh ke tanah dan pohon itu pun sekarat. Napas Dareen berhenti beberapa saat, matanya melebar dan detak jantung membuatnya sesak. Dareen menjatuhkan tubuh pada sandaran kursi, memegangi jantungnya yang berdegup kencang.
Benarkah yang dia pikirkan selama ini? Ada yang menginginkan mereka mati, tapi siapa? Apakah salah satu orang yang bermasalah dengannya? Siapa?
Daisha menghela napas, tak sia-sia dia belajar dengan keras saat mendiang sang paman mengajarinya. Jika tidak, tak akan mungkin dia tahu jenis-jenis zat yang berbahaya.
"Bagaimana jika zat itu masuk ke dalam tubuh kita? Kakak bisa membayangkannya, bukan? Ada yang ingin membuat kita celaka, tapi mereka tak akan pernah bisa menyentuh kita. Tuhan ada bersama hamba-Nya yang beriman," ungkap Daisha.
Ia mengepalkan tangannya, membuat retakan kecil pada gelas kaca tersebut dan membuang benda itu ke dalam pot bunga tadi.
"Siapa yang melakukannya?" gumam Dareen lirih dan terbata.
Daisha tersenyum.
"Kita tidak pernah bisa membuat semua orang untuk menyukai kita, Kak. Yang membenci, biarlah mereka tetap pada kebenciannya dengan alasan masing-masing. Semua itu fitrah dan kita tidak dapat menolak. Semua ini bisa saja berasal dari rasa iri dan dengki seseorang yang tak senang melihat Kakak bahagia. Kita tidak tahu, bukan? Dan tidak bisa menebaknya, tapi seiring berjalannya waktu Tuhan pasti akan membuka tabir yang menutupi semua misteri," tutur Daisha dengan lembut.
Ia meraba tangan Dareen yang terasa bergetar, mengusapnya pelan sebelum menautkan kembali jemari mereka. Sebuah sentuhan yang memberikan kekuatan pada hati Dareen yang rapuh. Sentuhan yang menciptakan keyakinan bahwa selama mereka bersama dan saling percaya, tak akan ada hal buruk menimpa.
Dareen menghela napas, menormalkan detak jantung yang sejak tadi bertalu-talu karena syok. Jemarinya menggenggam erat milik sang istri, mencari-cari ketenangan hati. Hanya bersama gadis itu, dia tahu apa arti kepercayaan dan keyakinan.
Daisha memiliki keyakinan yang teguh terhadap Tuhan, dia percaya Sang Kuasa tak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman mengalami hal buruk. Kecuali itu hanya sebuah ujian, untuk menaikkan derajat keimanan mereka.
Dareen mengendurkan genggaman setelah mendapat ketenangannya kembali. Ia menoleh dan tersenyum pada sang istri yang terlihat biasa saja setelah mengetahui kenyataan tentang hal buruk tersebut.
"Terima kasih, aku bersyukur karena dipertemukan dengan dirimu. Terima kasih sudah menerima aku sebagai suamimu meski kau tahu aku hanya laki-laki lemah. Terima kasih."
Dareen mengecup punggung tangan Daisha dan mendekapnya. Ia menengadah berterimakasih kepada Sang Pencipta.
"Kita dipertemukan untuk saling bergantung dan saling melengkapi satu sama lain. Bukan untuk saling menunjukkan kehebatan. Aku juga bersyukur telah menemukan Kakak waktu itu, laki-laki berhati baik lagi lembut."
Daisha menjatuhkan kepala di dada bidang suaminya. Hiruk-pikuk suara banyak orang tak mereka pedulikan, hanyut dalam kebersamaan waktu yang diberikan Tuhan.
"Dia datang lagi!"