
Tawa menggelitik dari seorang wanita menyita perhatian. Suara gemerasak dedaunan kering yang sengaja diinjak menambah kesan misterius pada sosoknya. Jubah tidur berwarna hitam berkibar-kibar kala angin malam menerpa. Rambutnya yang pirang menari-nari bagai ribuan tangan yang siap menerkam para mangsa.
Sosok anggun nan seksi muncul di bawah keremangan lampu taman di halaman rumah besar itu. Tuan Nugraha dan Lilia sontak menegakkan tubuh saat melihat bayangannya. Wajah cantik alami tanpa polesan make-up itu mulai terlihat.
Daripada menyeramkan, sosoknya lebih terlihat seperti seorang gadis penghibur. Bagaimana tidak? Dia datang ke sarang musuh hanya dengan sebuah lingerie yang ditutupi jubah panjang saja. Oh, dia sangat menggoda.
Tuan Nugraha bahkan tak berkedip, sesekali menjilati bibirnya sendiri. Maklum, kesendirian tanpa pasangan hidup membuat hasratnya tiba-tiba memuncak melihat suguhan menggiurkan di depan mata. Dadanya naik dan turun dengan cepat, menahan gejolak yang terus melecut mencapai puncak.
Sementara kelompok preman itu menegang. Tubuh mereka bergetar, sebagian bahkan terkencing di celana. Teringat pergulatan mereka siang tadi. Wanita itu lebih menyeramkan daripada binatang buas.
"Kau harap yang terkapar di sana dia? Sayang sekali, kau harus menelan kekecewaan," ucap Areta sembari terus mengayunkan kaki jenjangnya yang putih lagi mulus.
Tuan Nugraha mengernyit, bukankah wanita itu terlihat lemah. Dia terlalu berani datang hanya seorang diri. Bibir laki-laki tua itu tersenyum miring, mencibir Areta yang mengantarkan dirinya ke sarang harimau.
"Oh, Nona. Kau sungguh berani datang ke rumahku sendirian, tapi tak mengapa. Aku bisa menjamumu dengan sangat baik," sahut Tuan Nugraha sembari berkedip nakal dan menjilat bibirnya lagi.
Areta mengangkat alis, menatap sosok tua di sana dari ujung kepala hingga ujung kakinya yang terlihat gemetar. Ia terkekeh sambil menutup mulut, gerakan tangan serta kakinya benar-benar membuat kelelakian Tuan Nugraha semakin tak sabar.
Areta melenggok dan terus mendekat, napas Tuan Nugraha semakin memburu dibuatnya. Matanya awas tak berkedip, sayang jika ia harus kehilangan buah ranum di hadapannya itu. Peluh mulai merembes keluar, turun dan menetes menghujani lehernya.
Dengan jarak yang tak terlalu dekat saja, sosok Areta sudah membuatnya kepanasan. Lilia di sampingnya diam tak bergerak. Sama angkuh seperti lelaki yang kini sedang terhipnotis oleh kecantikan Areta.
Dengan gemulai tangannya menyentuh dada Tuan Nugraha, merayap sampai ke bahu mengitari tubuh tua yang kian berguncang itu. Areta terkekeh geli, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nugraha. Hembusan napas yang hangat membuat seluruh bulu di tubuhnya meremang.
Ia terpejam, membayangkan sesuatu yang lebih akan dilakukan Areta. Sayangnya, sebuah bisikan menyentak kesadarannya.
"Kau ingin bermain-main denganku? Sekuat apa dirimu hingga menginginkan tubuhku ini? Apa milikmu segagah Alejandro? Ataukah lebih?" Areta tersenyum ketika Tuan Nugraha menjauh darinya.
Wajah laki-laki tua itu berubah pucat pasi, keringat semakin membanjiri tubuhnya.
"K-kau ... siapa kau?!" sentaknya dengan jari telunjuk terangkat.
"Tuan, dialah wanita yang kami maksud. Dia yang membantu wanita buta itu," bisik salah satu dari preman suruhannya itu.
Perlahan tubuh Areta yang sedikit membungkuk kembali berdiri tegak, tawa yang nyaring menggelegak membuat bulu kuduk mereka merinding. Bergidik Lilia dibuatnya, wanita itu lebih menyeramkan daripada hantu-hantu yang dia lihat di dalam film.
"Jadi, kalian masih mengingatku? Rupanya pertemuan kita meninggalkan kesan yang mendalam untuk kalian. Terima kasih, aku sungguh tersanjung," ucap Areta diiringi tawa indah yang menggema di halaman rumah itu.
"Kenapa kalian diam saja? Dia hanya sendirian, balas kematian teman kalian itu!" bentak Tuan Nugraha sambil mendorong tubuh yang berada di dekatnya.
Areta mengalihkan pandangan pada sesosok mayat yang terkapar di atas tandu. Bibirnya membulat, matanya membelalak, alisnya terangkat, dia terlihat sedang mengejek.
Hening menyapa untuk beberapa saat lamanya sebelum tawa Areta kembali menggelegak.
"Tapi kalian tenang saja, aku akan melayani kalian jika ingin bermain-main denganku."
Areta mengibaskan jubahnya ke belakang, menampakkan betis hingga sebagian pahanya yang putih. Lagi-lagi lelaki tua itu meneguk ludah basi, kesulitan seolah-olah terhalang oleh sebuah kerikil.
"Kurang ajar! Kau harus membalas kematian teman kami!" teriak salah satu dari mereka, seraya berlari dengan tangan terkepal menyerang Areta.
Dengan begitu mudahnya, wanita itu menghindar bahkan menangkis setiap serangan. Dia terlihat tenang, lincah, juga gesit. Semua serangan dihindarinya tanpa kesulitan berarti. Bosan, Areta balas menyerang. Ia memutar tubuh sembari menyiapkan tenaga di kakinya.
Sebuah tendangan sangat kuat melayang begitu cepat dan tak terelakkan. Kaki Areta mendarat di ceruk lehernya. Wajah itu berputar ke lain arah sebelum jatuh tersungkur mencium tanah. Areta berdiri tegak kembali, menatap berani kelompok preman yang tak bereaksi.
Nyali mereka menciut melihat laki-laki yang menyerang Areta terkapar tak sadarkan diri. Cukup satu serangan untuk Areta menumbangkan lawan. Matanya yang dibingkai bulu lentik itu menatap tajam Tuan Nugraha. Tak satu pun dari mereka berani beranjak, bahkan setiap selangkah kaki Areta berayun, mereka mundur secara reflek.
"Aku tidak sekejam wanita itu, tapi aku bisa lebih kejam dari binatang buas saat orang lain mengusik keluargaku. Aku peringatkan, jika kau masih menginginkan namamu malang melintang di dunia bisnis, maka jangan sekali-kali lagi menggangunya ataupun kebahagiaan yang dia miliki. Jangan pernah!"
Wajah Areta berpaling pada Lilia, sontak membuatnya menunduk dan mundur beberapa langkah. Wanita seksi itu bagai malaikat maut yang kapan saja dapat merenggut kehidupan mereka.
"Jangan pernah bermain-main dengan ancamanku, aku selalu senang membantai setiap mereka yang berani menantang. Aku sarankan padamu, Tua Bangka. Lain kali, lihat dulu siapa musuhmu, susun strategi sebelum kau memerintah sekelompok orang untuk melakukan sesuatu padanya."
Areta berjalan pelan, tapi tak mendekat. Sosok yang pada awal kedatangannya membuat Tuan Nugraha terpesona, kini saat dia hendak pergi berhasil menggetarkan jiwanya. Bukan getaran cinta yang dia rasakan, tapi sebuah ketakutan akan kehancuran yang kapan saja bisa datang.
"Hati memang tak pernah memilih pada siapa dia akan melabuhkan rasa. Terlalu memaksa itu tidaklah baik, apalagi sampai melakukan segalanya untuk sebuah keinginan. Itu tidak akan pernah berakhir baik. Kau masih muda, cantik dan berbakat. Aku yakin ada banyak pria yang menginginkan dirimu. Yang kau menginginkan Dareen itu bukanlah cinta, tapi sebuah nafsu keserakahanmu. Berhenti di sini, atau tanganku yang akan menghentikan kalian!" ancam Areta sembari mengangkat kepalan tangannya.
Ia meremas udara dengan kuat, menunjukkan bahwa ancamannya bukanlah kosong. Tuan Nugraha meneguk ludah takut. Sungguh, setelah ini dia tak akan berani mengusik Daisha lagi.
Areta berbalik, berjalan dengan gagah di bawah tatapan ketakutan dari semua orang yang ada di halaman rumah besar itu.
Ketika langkahnya terhenti, sontak menyentak Tuan Nugraha dan yang lainnya.
"Jaga tempat ini, jika mereka terlihat mencurigakan jangan segan untuk menghancurkan semuanya!" titahnya entah pada siapa.
Mata lelaki tua itu membelalak, pun dengan Lilia. Keduanya tak percaya pada yang didengar telinga, bertanya-tanya bukankah dia datang sendiri?
Tak lama, sekelompok laki-laki berseragam hitam berbaris mengelilingi rumah besar itu. Senjata di tangan mereka mengancam nyawa. Tuan Nugraha dan Lilia gemetar melihat itu, begitu pula dengan kelompok preman tersebut.
Satu gerakan dari mereka, membuat semuanya berlari terbirit-birit.
"Sungguh sial!"