Mohabbat

Mohabbat
Muak



"Laila, kau harus pulang. Biar kak Dareen yang menginap di sini. Kau bisa kembali lagi besok," pinta Daisha.


Malam itu, Laila yang duduk di samping ranjang Daisha dengan menjatuhkan kepalanya di tepi ranjang, tertidur pulas. Daisha tidak tega, lagipula esok ia akan pulang dan rencananya akan memberikan kejutan pada adik kecilnya itu.


Daisha mengusap rambut Laila, mengguncang tubuhnya pelan, tapi tetap saja remaja itu tak terusik. Mungkin dia terlalu lelah dengan kegiatan barunya, atau belum terbiasa melakukannya.


"Laila, kau tidur?" tanya Daisha setelah beberapa saat tak mendapat jawaban dari remaja itu.


Tak lama pintu terbuka, dua orang laki-laki memasuki ruangan. Dareen berjalan pelan mendekati ranjang Daisha, dan Alfin berdiri sambil menggeleng di belakang Laila.


"Apakah dia tertidur?" tanya Dareen melirik remaja yang menjatuhkan kepala di tepi ranjang istrinya.


"Benar, Kak. Bisa kau bangunkan dia? Pinta dia untuk pulang saja," sahut Daisha.


Dareen melirik Alfin yang tengah memperhatikan adik Daisha itu.


"Alfin, bawa Laila pulang. Dia butuh istirahat yang benar," titah Dareen yang segera saja dilaksanakan Alfin tanpa bertanya ataupun membantah.


Dengan hati-hati Alfin mengangkat tubuh Laila dan membawanya keluar. Dareen beralih duduk di kursi, memandangi wajah Daisha yang tersenyum sedari tadi. Malam itu, Daisha lebih bersinar dari sebelumnya. Cantik dan aura di dalam tubuhnya memancar keluar.


Dareen mengambil tangan sang istri, menggenggamnya juga menciuminya dengan mesra. Hal itu selalu membuat Daisha merasa dicintai. Hatinya berbunga, rasa bahagia pun selalu datang menyapa.


"Sayang, dokter mengatakan bahwa operasi sudah bisa dilakukan. Lusa kau akan menjalani operasi, apa kau siap untuk melakukannya?" ungkap Dareen sembari memperhatikan reaksi Daisha.


Wanita itu tercenung, mulutnya sedikit terbuka, kedua mata melebar. Daisha amat terkejut mendengar kabar baik tersebut, tapi juga senang bukan main. Air menggenang di pelupuk, berkumpul membentuk gumpalan sebelum jatuh menghujani pipi.


"Kau tidak sedang bercanda, Kak? Kau berkata serius, bukan?" lirih Daisha meraba sang suaminya.


Senyumnya terbit meskipun air mata berjatuhan. Dareen menumpuk kedua tangan Daisha, mengecupnya berulang kali. Melihat air mata bahagia yang jatuh itu, hatinya ikut berbahagia.


"Tentu saja, untuk itu dokter menyarankan agar kau tetap di sini sampai operasi dilakukan. Tunggu sebentar lagi, Daisha. Semua keindahan akan dapat kau nikmati, sayang," ucap Dareen sembari menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan.


Daisha menangis tersedu, hal yang ditunggu-tunggunya selama lima tahun lebih ini, akhirnya akan ia dapatkan. Dunia yang pernah ditinggalkannya akan kembali menyapa dan memberi warna dalam pandangan.


Ia menangis bahagia, mendekap tubuh suaminya semakin erat. Kebahagian memuncak, tak sabar rasa hati ingin segera dapat melihat wajah orang-orang yang selama ini berada di sekitarnya. Memberikan kebahagiaan, menciptakan senyuman meskipun dunianya gelap gulita dan tanpa warna.


Malam itu, malam penuh haru. Di dalam otak Dareen mulai berencana. Berangan-angan tentang seorang anak yang sudah lama ia inginkan. Setelah ini, dia akan mengajak Daisha berbulan madu dan menghabiskan waktu bersama tanpa ada yang mengganggu.


Malam semakin larut, gulitanya bertambah pekat. Ada banyak kejahatan tersembunyi di dalamnya. Mengintai dan membuntuti siapa saja yang menjadi targetnya.


Di sebuah bangunan terpencil, seorang laki-laki terlihat gelisah. Berjalan mondar-mandir tiada henti. Seolah-olah ada yang sedang ditunggunya. Di sekeliling bangunan tersebut, berbaris orang-orang berseragam dengan tegak dan waspada.


Gejolak dendam bercampur amarah jelas terlihat di kedua matanya yang memerah. Kedua tangan mengepal, menatap berapi-api pada langit malam yang pekat.


****


Di rumah besar Dewantara kembali terasa sepi setelah dua hari lamanya Daisha tidak kembali ke rumah. Para pekerja merindukan majikan muda mereka yang kerap memberikan menu baru kesukaan Dareen.


"Bu, apa Nyonya masih lama di rumah sakit? Aku merindukan Nyonya," celetuk pekerja paling muda yang dulu pernah mengejek Daisha.


Mereka berada di ruang makan, membereskan meja panjang itu dari sisa makanan dan peralatan yang kotor bekas makan semua anggota keluarga.


"Entahlah, kita doakan saja semoga Nyonya lekas sehat kembali dan bisa berkumpul bersama kita di rumah ini lagi," ucap Bibi.


Jauh di lubuk hati, ia juga merindukan kehadiran Daisha. Ingin rasanya pergi ke rumah sakit sekedar menengok ataupun menemani, tapi Dewi sudah pasti tidak akan memberikan izin untuk pergi.


Di ruang keluarga, Bardy dan Dewi sedang berkumpul bersama Aleena. Bercengkerama layaknya keluarga yang bahagia. Berencana memberikan nama kepada cucu mereka yang masih berada di dalam kandungan.


"Tak terasa sebentar lagi kita akan memiliki cucu, usia kita bertambah semakin tua. Beruntung, Aleena begitu subur sehingga dia dengan cepat dapat mengandung. Tidak seperti menantu yang satunya itu, sudah lama menikah belum juga ada tanda-tanda akan memiliki anak. Hidupnya dipenuhi drama ini dan itu, menjijikkan," ucap Dewi mengusap perut Aleena sambil tersenyum dan berubah jelek ketika mengingat Daisha.


"Mungkin mereka belum berencana memiliki anak. Lagipula, yang terjadi pada Daisha bukanlah sebuah drama. Ada seseorang yang menginginkan dia mati," sahut Bardy teringat pada cerita Areta tentang sekelompok orang yang tiba-tiba menyerang mereka.


Dewi mendengus, tak peduli pada ucapan suaminya itu. Baginya, Daisha tetaplah menantu tak berguna dan menyusahkan. Membuat semua orang susah karena kekurangannya itu.


"Baguslah, biar saja dia begitu," celetuk Dewi tak acuh.


Bardy menghela napas, melirik istrinya dengan sedih.


"Kau tidak memikirkan anakmu? Jika istrinya itu pergi, maka kebahagiaan di wajahnya juga ikut pergi. Dia tak akan lagi memiliki harapan hidup karena cintanya begitu besar kepada Daisha. Ayolah, Dewi. Aleena dan Daisha adalah menantu kita. Mereka seharusnya mendapatkan posisi yang sama tidak berat sebelah. Kau harus mulai menerima Daisha, Dewi," pinta Bardy.


Rasa kecewa kian menggunung di hatinya, menatap sedih pada wanita yang telah dinikahinya sesama tiga puluh tahun lebih itu. Sifatnya berubah setelah kehadiran Daisha, keegoisannya meningkat drastis dan dia juga menjadi orang yang paling tidak peduli terhadap sesama.


"Aku tidak akan pernah menerimanya sebagai menantu! Dareen tetaplah anakku, tapi wanita itu hanya orang asing yang datang dan merusak kebahagiaan di rumah ini. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimanya!" tolak Dewi dengan tegas.


Membicarakan soal Daisha selalu membuat hatinya bergejolak panas. Dia tak senang nama wanita itu disebut di rumahnya, terlebih di hadapan dirinya.


"Cukup, Bardy. Aku muak mendengar namanya, aku tidak ingin wanita itu disebut-sebut di rumah ini. Aku tidak sudi mendengar namanya. Baguslah Dareen membawanya pergi, aku harap dia tak akan kembali lagi ke rumah ini!" ketus Dewi tanpa menutup-nutupi kebenciannya terhadap Daisha.


Ia beranjak mengajak Aleena untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. Bardy menggelengkan kepala, mendesah berat menatap punggung sang istri yang kian menjauh.