
Beberapa hari telah berlalu, Daisha beraktifitas seperti biasanya. Terkadang pergi kekantor jika dibutuhkan, kesemuanya yang bekerja tetaplah lelaki tua itu.
Keputusan Daisha memutuskan hubungan kerjasama dengan beberapa perusahaan juga pemilik saham, akhirnya terlaksana. Banyak para pengusaha yang berada diambang kebangkrutan setelah pemutusan tersebut. Termasuk perusahaan kedua orang tua Aleena juga milik Cakra, dan milik Dewi sendiri. Terlebih milik Bardy yang ruang geraknya bahkan dibatasi Daisha.
"Jadi, punya kalian juga? Aku tidak menyangka dia begitu kejam. Memutuskan kerjasama tanpa meminta pendapat kita. Apa ini adil?" geram ibu Aleena.
Pada dasarnya perusahaan milik mereka memang sudah merosot, dengan Bardy yang menjadi pimpinan, mereka berharap akan dapat membangun kembali perusahaan itu. Namun, semuanya gagal karena kedatangan Daisha.
"Ini semua salah kita. Kita memang pantas mendapatkannya," sahut Dewi sembari menghela napas panjang membayangkan perlakuannya terhadap Daisha selama ini.
Saat ini, mereka berkumpul di rumah Dewi. Ia terpaksa kembali ke rumah itu karena malu berhadapan dengan menantunya. Aleena dan kedua orang tuanya menemani Dewi membahas soal pemutusan hubungan kerjasama dengan perusahaan mereka.
"Apa? Kenapa jadi salah kita? Memang apa kesalahan yang kita lakukan?" hardik wanita itu tak senang.
Ia menatap berang ke arah Dewi, melotot lebar hampir-hampir kedua matanya melompat keluar.
"Apa? Kau tidak mendengar dia berkata apa? Dia mengatakan jika kita sendiri yang tahu jawabannya. Pikirkan saja olehmu, apa kau selama ini memberikan kontribusi yang baik terhadap perusahaan itu? Kau juga membuli pemiliknya. Kau masih tidak tahu apa salahmu?" Dewi balas membentaknya.
Ia mendengus, berdecih tak senang. Kebencian terhadap Daisha semakin bertambah. Juga merasa kesal terhadap Dewi yang seolah-olah mendukung Daisha.
"Aku sendiri belum tahu bagaimana kabar suamiku? Di mana dia berada hingga saat ini aku belum juga mengetahuinya," keluh Aleena sembari menjatuhkan kepala di sofa.
Dewi tertegun, ia pun ingin melihat anaknya itu. Akan tetapi, setiap orang berkata bahwa jika seseorang telah berada di tangan Areta maka kecil kemungkinan akan selamat. Untuk itulah dia tidak terlalu berharap, bahkan pihak berwajib saja seolah-oleh bekerja dengan lambat dalam kasus hilangnya Cakra.
"Suamimu tidak selamat, aku mengikhlaskan engkau untuk menikah lagi. Jangan menunggu Cakra karena kecil kemungkinan dia akan selamat. Jangan menyiksa dirimu sendiri, Aleena," lirih Dewi.
Ia berpura-pura tegar padahal hatinya tidak bisa menerima semua itu. Lalu, bagaimana lagi? Selain hanya pasrah pada takdir yang telah merenggut putra sulungnya.
Aleena mengangkat wajah, kedua matanya memerah dan air jatuh begitu saja darinya. Ia menangis sesenggukan, membenamkan kepala pada sofa. Perih rasa hatinya bagai dihujam belati tak kasat mata.
"Mungkin saat ini, bukan hanya kita yang merasa gelisah, tapi ada banyak lagi di luar sana. Istri Dareen itu cerdik, tanpa berkata-kata dia langsung bertindak dengan bukti yang kuat. Kita yang lengah dan terlalu terlena oleh kehidupan sehingga tidak menyadari kehancuran perlahan datang mendekat," tutur Dewi begitu bijaksana.
Sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah pada nasib.
****
Di tempat lain, seorang laki-laki merasa gelisah. Ia berjalan bolak-balik di kamar, surat pemutusan itu telah sampai di tangannya. Ia tidak menduga jika semua itu pasti akan terjadi.
"Sial! Kenapa semuanya jadi begini? Kau memang selalu menyusahkan, Damian. Kau selalu memiliki apa yang ingin aku miliki, sedangkan aku tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan. Sekarang, bahkan anakmu juga melakukan hal yang sama. Aku tidak bisa menerimanya. Kau harus kuhancurkan!" geram laki-laki tersebut sembari mengepalkan kedua tangan.
Ia pergi dari kamar, masuk ke dalam gudang. Mengambil sebuah sekop dan membawanya pergi bersama mobil miliknya.
"Hmm ... beruntung aku membuntuti mereka waktu itu. Hingga aku tahu di mana kau dimakamkan," gumamnya sembari tersenyum penuh kebencian.
Mobil itu melaju di jalan yang mengarah ke villa Daisha, di mana kedua orang tuanya juga Alejandro dimakamkan. Secara kebetulan, Areta dan Laila tidak ada di sana dan sedang menginap di villa milik suaminya.
****
Di tengah malam Daisha merasa gelisah, sesuatu mengusik ketenangannya hingga membuat kedua matanya terbuka begitu cepat.
Ia melirik Dareen yang masih terlelap, dorongan untuk membangunkan suaminya itu begitu kuat. Lalu, memutar pandangan pada jam dinding yang menggantung memastikan waktu.
"Jam satu. Apa aku harus membangunkannya?" gumam Daisha dengan mata yang kembali melirik suaminya.
Ia beranjak duduk membuat ranjang mereka berderit, mengusik Dareen yang terlelap. Laki-laki itu meraba keberadaan sang istri, mengernyit ketika kaki Daisha yang dipegangnya.
Dareen membuka mata, menyipitkannya ketika melihat sang istri.
"Sayang, kenapa tidak tidur?" tanyanya dengan suara parau.
Daisha menggigit bibir gelisah, gamang dengan keinginannya sendiri. Dareen sedikit beranjak ketika melihat kegelisahan di wajah sang istri.
"Hei, ada apa? Katakan, apa yang membuatmu gelisah seperti sekarang ini?" tanyanya kembali sembari menekuk siku menahan bobot tubuh.
"Aku tiba-tiba ingin ke makam ayah dan ibu. Kakak bisa mengantarku ke sana?" ucap Daisha tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.
Dareen tersenyum, ia menarik tangan Daisha yang saling bertaut dan menggenggamnya. Menatap sang istri penuh cinta juga perhatian yang tak terbatas.
Wanita itu menurut, tidur tanpa membantah. Akan tetapi, kegelisahan hati semakin menjadi. Mata sulit untuk dipejamkan.
Aku tidak bisa berdiam diri saja di sini. Aku harus pergi. Ayah, Ibu, kenapa hatiku gelisah. Aku harus pergi.
Keringat dingin bermunculan, tak bisa diam kerana hati terus gelisah. Berkali-kali menengok ke arah Dareen, suaminya itu kembali terlelap terbuai di alam mimpi.
Perlahan Daisha mengangkat tangan Dareen dari perutnya. Meletakkannya di atas guling, turun dengan hati-hati dan berjalan mengendap mengambil jaket juga menyambar kunci mobil.
Daisha memastikan suaminya masih terlelap dari balik pintu yang terbuka. Menutupnya pelan seraya terburu-buru keluar dari rumah. Beruntung, mobil Dareen terparkir sedikit jauh dari pintu rumah.
Daisha mengendarai mobil secepat yang dia bisa, jalanan lengang nan sepi menjadi temannya. Lampu-lampu jalanan seolah-olah menari mengiringi kepergiannya.
"Aku harus cepat, aku harus cepat!" serunya pada diri sendiri.
Daisha menginjak pedal gas lebih dalam, kekhawatiran semakin meraja di hatinya. Ia mengambil ponsel yang sengaja dibawa dan menghubungi Pak Deni serta istrinya.
"Sial! Kenapa Pak Deni tidak bisa dihubungi? Apa yang terjadi di sana? Tuhan, semoga tidak terjadi apapun," mohon Daisha sembari menambah kelajuan mobilnya.
Beralih pada panggilan lain, baik Areta maupun Laila, keduanya tak bisa dihubungi. Daisha membanting ponselnya dengan kesal, terus mempercepat laju mobil menuju villa miliknya.
Sementara itu di villa, seorang laki-laki berdiri sambil memanggul sekop di pundaknya. Menatap dua gundukan di bawah kaki dengan senyum sinis tersungging.
Di sisi lain, Pak Deni dan istrinya terikat di sebuah pohon tak sadarkan diri. Lelaki itu mengayunkan sekop dari bahu ke tanah. Pandangannya tak beralih dari kedua gundukan yang ada di sana.
"Kalian memang bodoh. Aku memanfaatkan kalian hanya untuk kepentinganku sendiri. Aku juga yang menyuruhnya untuk menghabisi Alejandro karena aku tahu dia begitu berambisi untuk menduduki posisinya. Alejandro lebih kaya daripada kau, Damian. Aku lebih suka padanya, tapi sayang, dia begitu menyayangimu sehingga aku terpaksa harus membunuhnya juga meskipun bukan dengan tanganku sendiri."
Ia menghela napas, nisan bertuliskan Damian juga Alejandro yang berjarak hanya beberapa meter itu kini tak berdaya di hadapannya. Terutama mafia itu. Dia hanya tinggal serpihan tulang saja yang tak terbungkus kulit. Bisa apa?
"Tapi meskipun kalian sudah pergi jauh, tetap saja nama kalian dihormati, diagungkan, bahkan disanjung semua kalangan. Aku tidak bisa menerima itu, aku tidak rela kalian mendapatkan gelar kehormatan dari semua orang. Kini, aku tidak akan membiarkan jasad kalian menyatu dengan bumi. Kalian harus aku musnahkan. Harus! Haha ...."
Ia mengayunkan sekop di tangan mengais gundukan tanah itu. Nisan bernama Damian terbongkar dan terlempar dari tempatnya. Gemuruh di langit tak ia pedulikan, petir menyambar seolah-olah murka atas apa yang ia lakukan. Namun, itu semua tak menyurutkan niatnya menggali kedua makam itu.
"Keparat! Hentikan, sialan!" teriak Pak Deni sembari meronta dari ikatan.
Disusul sang istri yang juga mulai sadar dari pingsan.
"Hentikan, bajingan! Kau pasti akan mendapatkan hukuman, Tuhan akan menghukummu!" Dia kembali berteriak dengan air mata yang bercucuran.
"Haha ... aku tidak peduli! Aku tidak peduli!" sahut suara laki-laki itu menantang langit.
"Kau jahat sekali, Tuan. Salah apa tuan Damian kepada Anda? Beliau banyak berkorban untuk Anda selama hidupnya, tapi kenapa Anda begitu tega padanya," jerit istri pak Deni histeris.
Keduanya terus memberontak mencoba melepaskan diri dari ikatan. Setetes demi setetes air mulai berjatuhan dari langit, menghujam bumi. Dia tidak peduli, terus menggali dan menggali meski air menimpa tubuhnya.
"Tuhan akan murka padamu, aku bersumpah kematianmu tak akan ada satupun yang menangisinya. Kau penjahat!" Pak Deni kembali berteriak.
Mereka tidak berdaya, hanya menatap dengan air mata bersimbah makam sang tuan digalinya.
"Kumohon jangan lakukan itu!"
Keduanya menangis terus mengumpat dan menyumpah-serapahi aksi laki-laki itu.
"Ya Tuhan. Nona, cepatlah datang. Cepatlah datang, Nona."
Mereka menangis sesenggukan.
Sementara Daisha harus berjuang melawan gelapnya malam yang tertimpa hujan. Berkali-kali mobilnya akan menabrak, tapi ia selalu berhasil menghindarinya.
Kumohon, kuatlah demi Ibu, Nak. Kuat!
****
Hai, hai. Maaf ya author gak bisa update seperti biasa. Ini episode-episode terakhir dari Daisha. Akan ada yang pergi, dan akan ada pula yang datang. Seperti itulah dunia.