Mohabbat

Mohabbat
Rencana



Di tempat lain, sepasang laki-laki dan perempuan duduk termangu di sebuah ruangan yang cukup luas. Keduanya tengah menikmati masa liburan mereka, libur dari kegiatan perkantoran. Di depan mereka, dua botol minuman teronggok kosong, juga puntung-puntung rokok yang berserakan, menyebarkan aroma apek tak sedap.


Lenguhan dan helaan napas menjadi pengisi suara di antara hening yang menyapa mereka. Tak ada kata yang saling bersahutan, mereka sedang terlena dalam buai alam hayal tentang kenikmatan hidup yang sebentar lagi akan mereka reguk.


"Kau akan datang ke perkumpulan itu?" tanya sang wanita dengan suara parau dan lesu.


Setengah sadar karena pengaruh alkohol yang ditenggaknya, tubuhnya nyaris tak berbusana, dibiarkan begitu saja.


"Sudah pasti, aku tidak akan melewatkan kesempatan itu. Semua aliansi mendukungku untuk menduduki kursi itu. Sejak beralihnya perusahaan itu ke tangan orang lain, sejak itu pula kursi Presdir dibiarkan kosong. Aku sebagai pemegang saham terbesar tak akan melewatkan itu semua," sahut laki-laki itu.


Mereka berdua tengah mabuk kepayang hingga tak peduli pada setiap jengkal tubuh yang tak tertutup. Tawa menggelegak diikuti bunyi cegukan yang khas.


Mereka tak lain adalah Bardy dan wanita selingkuhannya. Menikmati waktu bersama tanpa memikirkan dosa serta akibat yang akan mereka terima.


Bayangan kursi Presdir telah terpampang jelas di depan matanya, perusahaan terbesar yang mengayomi perusahaan-perusahaan kecil itu akan menjadi miliknya sebentar lagi. Ditambah dukungan dari setiap orang yang meminta Bardy menjadi ketua mereka.


****


Yeworks Company. Mobil Areta baru saja tiba di depan gedung tinggi menjulang itu, ia ingin melihat Daisha duduk di kursi kebesarannya setelah mengantar Laila pergi ke sekolah. Saat ini, remaja itu tinggal bersama Areta dan menjadi tanggung jawabnya.


"Nyonya!" tegur laki-laki tua yang menemani Daisha tadi begitu melihat Areta memasuki ruangan Presdir.


"Kau? Di mana Daisha? Kenapa hanya kau dan anakmu saja?" tanya Areta menatap bingung ke setiap sudut ruangan itu.


Laki-laki tadi menghela napas, bagaimana menjelaskannya kepada Areta tentang Daisha yang tak ingin melakukan pekerjaannya. Menilik dari wajah tua itu, Areta seketika mengerti. Ia menghela napas, sulit sekali memberitahukan keponakannya itu tentang betapa pentingnya kursi Presdir.


"Ya sudah, aku mengerti," ucap Areta seraya membanting diri di sofa.


Ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut, memikirkan Daisha yang semaunya sendiri.


"Terima kasih, Nyonya," sahut laki-laki tersebut.


Areta mengangkat wajah, menatap laki-laki yang masih berdiri tak jauh dari meja kerja.


"Bagaimana nanti? Apa semuanya telah siap?" tanyanya.


"Sudah, Nyonya. Semuanya sudah saya siapkan."


Areta mengangguk puas, tapi masih merasa cemas mengingat Daisha yang belum tentu mau mengikuti permainannya.


"Itu bagus, semoga saja anak itu mau ikut bersamaku," gumamnya diakhiri helaan napas panjang dan berat.


Mereka duduk berdiskusi tentang perkumpulan yang akan dilakukan aliansi untuk membahas soal kursi Presdir yang kosong. Hanya ada satu nama yang menjadi calonnya, dan itu tak lain adalah Bardy.


"Bagaimana pun kita harus membuka rahasia yang selama ini kita simpan, Nyonya. Nona Daisha harus hadir dan memperkenalkan diri sebagai ketua di perusahaan ini."


Kecemasan yang sama sedang dipikirkan Areta pula. Ia akan merayu Daisha untuk ikut bersamanya ke perkumpulan itu.


"Hah ... anak itu!"


****


Di perjalanan, Daisha berkali-kali melirik jam yang melingkar di tangannya. Berharap semoga kedua manusia di rumahnya belum terbangun. Oleh karena terburu-buru, Daisha hampir saja menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang. Beruntung, ia sigap menginjak rem dan mobil berhenti mendadak.


"Ugh!"


Daisha mengeluh sambil memegangi perutnya yang berdenyut nyeri. Ia lupa ada seseorang yang sedang berjuang untuk dapat hidup di dalam rahimnya.


"Perutku!" Daisha menarik napas untuk mengurangi rasa sakit. Dilakukannya berulang-ulang sampai rasa nyeri itu hilang.


Peluh membanjiri wajahnya, merembes hingga ke punggung. Membasahi kemeja yang ia kenakan. Dilepasnya blazer untuk mengurangi rasa sesak. Dielusnya perut supaya janin di dalamnya menjadi tenang.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu lupa," gumamnya lirih.


"Syukurlah," ucapnya lega seraya kembali terpejam.


Daisha menegakkan tubuh setelah rasa sakit itu hilang, ia menghela napas kemudian menjalankan mobilnya dengan pelan. Berhati-hati dan akan selalu ingat bahwa ada kehidupan di dalam rahimnya.


"Kau harus kuat, sayang. Ayahmu belum mengetahuinya," gumam Daisha sembari memperhatikan jalanan di depan.


Mobil merayap pelan ketika berada di jalan menuju rumahnya. Ia mematikan mesin, dan keluar dengan hati-hati. Menutup pintu dengan pelan, berjalan mengendap memasuki rumah sambil memegangi perutnya.


"Nyonya!" tegur asisten di rumahnya menatap cemas Daisha yang meringis.


Buru-buru Daisha meletakkan dari telunjuknya di bibir meminta sang asisten untuk tidak bersuara keras. Melihat majikannya yang tampak kesakitan, ia lekas membantu untuk berjalan menuju ruang tengah.


"Mereka belum bangun?" tanya Daisha setelah duduk di sofa dengan napas kembang-kempis.


"Belum, Nyonya. Sepertinya mereka sangat lelap, bahkan ponsel tuan dari tadi terus berdering, tapi tidak membangunkan pemiliknya," ucap sang asisten memberitahu.


Daisha mengangguk, lalu berkata, "Bi, antar aku ke kamar mandi dan ambilkan baju ganti. Cari di jemuran saja, tidak apa-apa," titah Daisha yang segera dilaksanakan olehnya.


Wanita paruh baya itu berdiri di depan kamar mandi menunggu Daisha sampai keluar.


****


Di kamar, Dareen melenguh saat cahaya matahari menerpa wajahnya. Ia meraba bagian samping tubuh, merasakan kehadiran Daisha. Kelopak mata itu dengan cepat terbuka dan memeriksa tempat Daisha. Kosong.


Ia beranjak sambil merentangkan kedua tangan, mulutnya terbuka lebar kala menguap panjang.


"Sayang! Kau sudah bangun?" Panggil Dareen.


Suaranya terdengar parau khas bangun tidur, ia melirik jam di dinding kemudian berdecak kesal. Percuma saja pergi ke kantor, sudah sangat terlambat dan Alfin pasti marah besar padanya. Hari itu rapat besar akan digelar, membahas pertemuan aliansi untuk menentukan pilihan.


Karena kejadian semalam, Dareen berubah pikiran untuk menyetujui ayahnya menduduki kursi tersebut. Seseorang yang sudah berani menyakiti seorang wanita, tidak pantas menduduki posisi ketua.


"Sayang!" panggil Dareen lagi karena tak ada sahutan dari Daisha.


"Ada apa? Aku di depan!" Suara Daisha setengah berteriak menyahut panggilan suaminya.


Dareen beranjak turun untuk menemuinya, tersenyum melihat Daisha duduk ditemani sang asisten. Ia membanting diri di samping Daisha, merebahkan kepalanya pada pundak sang istri dengan manja. Wanita paruh baya yang bersama mereka segera saja beranjak karena tak ingin mengganggu keduanya.


"Tidak ke kantor?" tanya Daisha usai ditinggal pergi oleh sang asisten.


Dareen menggeleng seraya menyahut, "Tidak. Aku malas, lagipula ini sudah siang dan Alfin pasti sangat marah besar." Dareen membenarkan kepalanya mencari kenyamanan.


"Bagaimana dengan ibu?" lanjut Daisha bertanya lagi.


"Ibu?" Dareen seolah-olah lupa bahwa semalam dia datang membawa Dewi.


"Kau lupa? Bukankah kau datang bersama ibu semalam, Kak?" jelas Daisha mengingatkan.


Dareen mengangkat kepalanya sebentar, tapi kemudian bergelayut kembali di lengan sang istri.


"Mungkin masih tidur, biarkan saja. Kau masak apa?" Dengan manja dan sambil memainkan rambut Daisha ia bertanya.


"Mandi dulu, bangunkan ibu dan kita sarapan," ucap Daisha.


Dareen beranjak, sebelum pergi ia memandang sang istri sambil menelisik.


"Kau ... berdandan?"


Daisha memegangi wajahnya, tapi Dareen terkekeh sambil berbalik dan berlalu.


"Aku suka!" serunya dengan riang menciptakan semu merah di wajah wanita itu.