Mohabbat

Mohabbat
Apa Yang Bisa Kau Lakukan?



Di sebuah rumah megah lainnya, sebuah rumah yang dikelilingi pepohonan besar. Seorang wanita duduk berhadapan dengan tiga orang laki-laki berpakaian hitam. Mereka terlihat seperti seorang pengawal dengan tubuh kekar dan besar.


"Aku ingin kalian mencari tahu tentang siapa menantu Dewantara itu? Cari tahu sedetail mungkin identitas wanita tersebut. Aku merasa tak asing dengannya," titah wanita tersebut dengan wajah serius.


Ia tampak berpikir, mencari-cari sesuatu dalam ingatan tentang gadis buta di rumah besar tadi. Dalam hati bertanya-tanya, ingin menyapa, tapi Dewi tak mengizinkan. Nyonya rumah itu tidak menyukai menantunya sendiri. Semua orang tahu alasannya, karena selain buta dia dari kalangan bawah tak sepadan dengan mereka.


"Baik, kami akan memberikan informasinya kepada Anda secepat mungkin. Kami permisi!" sahut mereka seraya beranjak berdiri dan meninggalkan rumah tersembunyi itu.


Ia membalik kursi menghadap jendela, meletakkan jari telunjuk di pelipis, kembali berpikir tentang Daisha.


"Ah, aku lupa siapa nama gadis itu tadi? Kenapa dia begitu tidak asing, aku merasa dekat dengannya." Dia bermonolog di dalam sepi. Sendirian di rumah sebesar itu, tak membuatnya hidup terpuruk.


Ia beranjak dan menapaki anak tangga yang melingkar menuju lantai dua. Masuk ke kamar, berbaring di kasur besar nan empuk. Usianya memang sudah tua, tapi ia terlihat lebih muda dari usia sesungguhnya. Wanita itu pandai merawat dirinya meski tak ada pasangan yang menjadi teman.


"Alejandro, sudah bertahun berlalu, tapi aku tak juga dapat menggantikanmu, sayang." Ia terpejam, segenggaman rindu terus berkumpul mengurung jiwanya dalam sepi.


****


Malam panjang nan menjengkelkan telah berlalu dengan damai. Kedua insan yang terlelap terbuai angan dan alam mimpi, masih bergelung dalam selimut. Rumah besar itu masih tampak sepi, tak satu pun penghuninya terlihat. Hanya para asisten rumah tangga yang telah bergelut dengan pekerjaan mereka di pagi buta.


Daisha melenguh, pagi itu tak selelah pagi sebelumnya. Dia terbangun seperti biasa, merentangkan kedua tangan guna meregangkan otot-otot tubuh yang kaku. Semalam Dareen telah menunjukkan padanya di mana letak kamar mandi, semoga dia masih mengingatnya.


Daisha membuka selimut, meraba nakas di mana jubah tidurnya berada guna melapisi lingerie yang ia kenakan. Daisha meraba udara, berjalan hati-hati menuju kamar mandi. Membersihkan diri sebelum turun menyiapkan sarapan untuk Dareen.


****


Di dapur, tiga orang pekerja sedang disibukkan dengan pekerjaan mereka. Menyiapkan makanan untuk semua anggota keluarga di rumah itu.


"Selamat pagi!"


Suara sapaan Daisha menyentak ketiga pekerja di sana. Mereka serentak menoleh, berkerut dahi melihat menantu baru Dewantara yang dianggap tak berguna itu. Kedua pekerja menahan tawa, mencibir Daisha yang masih berdiri di ambang pintu.


"Nona, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya salah satu pekerja yang lebih tua dari yang lain.


"Mmm ... maaf, Bibi. Bisakah aku membantu? Aku ingin membuat sarapan untuk suamiku," pinta Daisha membuat bola mata mereka melebar hampir keluar.


"Apa yang bisa dilakukan gadis buta seperti Anda, Nona? Sebaiknya, Anda kembali ke kamar dan tunggu saja sampai makanan siap," ejek salah satunya sambil mencibirkan bibir.


Bibi membeliak, ia memukul lengan pekerja yang berbicara tadi memberinya peringatan.


"Tidak sopan. Jangan pernah berbicara sembarangan pada Nona Muda Alvaro. Kalian lupa siapa suaminya?" tegur Bibi garang.


Kedua pekerja muda itu menunduk, meminta maaf meski enggan melakukan.


"Minta maaf pada Nona! Jika tuan muda mendengar, aku pastikan nasib kalian akan berakhir di jalanan," ancam Bibi.


Keduanya mengangkat kepala dengan mata membelalak, menggeleng cepat dan berlari mendekati Daisha seraya meminta maaf padanya.


"Nona, ampuni kami. Kami pantas dihukum, tapi tolong jangan adukan kepada tuan muda, Nona. Tolong ampuni kami," mohon mereka sambil berlutut di depan Daisha.


Wanita itu tersenyum, sudah terbiasa menerima penghinaan seperti tadi. Tak lagi terkejut meski datangnya dari seorang asisten rumah tangga.


"Aku akan memaafkan kalian berdua juga tidak akan mengadukan kalian kepada suamiku, tapi dengan syarat biarkan aku memasak makanan untuk suamiku. Hanya tunjukkan saja letak semua barang yang aku butuhkan," jawab Daisha dengan tegas dan tak terbantahkan.


Ia melangkah masuk dengan tongkat di tangan, meninggalkan keduanya yang masih berlutut di lantai. Bibi panik, bagaimana jika Dareen melihat? Ia juga takut Daisha akan terluka karena pisau atau benda lainnya.


"Ee ... Nona, apa ...."


"Katakan, Bibi, di mana aku bisa mendapatkan bahan masakan yang aku butuhkan. Aku butuh ayam segar, semalam suamiku mengatakan ingin memakan olahan ayam," sela Daisha yang telah berdiri di hadapan Bibi.


Wanita separuh baya itu gugup, tapi tak dapat membantah. Ia menunjukkan kepada Daisha di mana letak semua bahan yang dia butuhkan. Termasuk alat-alat untuk memasak, juga kompor.


"Wah, bukankah kita sering memasak ini juga? Kenapa sepertinya yang Nona buat lebih nikmat?" Pekerja yang mencibir Daisha melirik nona mudanya itu.


Si Gadis Buta tersipu, tersenyum malu-malu. Dia memang tidak memasaknya sendiri, hanya sesekali membantu sambil mengarahkan Bibi.


"Kalian mau coba? Dulu, saat suamiku hilang ingatan, dia sangat menyukai masakan ini bahkan sering memintaku untuk membuatnya. Cobalah, ini enak," ucap Daisha sembari mengambil satu potong ayam dan mengangkatnya ke depan wajah Bibi.


Wanita separuh baya itu melirik kedua wanita lainya, mereka tampak tergiur berkali-kali meneguk ludah ingin merasai masakan yang dibuat Daisha. Daisha mengangguk, mengizinkan mereka untuk mencicipi masakannya.


Bibi mengambil ragu, dan membeliak lebar. Satu gigitan saja, cukup mewakili rasanya.


****


Meja makan itu telah terisi oleh anggota keluarga Dewantara, Dareen menarik kursi untuk istrinya. Mereka duduk berdampingan, berhadapan dengan Cakra dan Aleena. Makanan dihidangkan dengan rapi, membuat mereka tak sabar untuk segera mengecap rasanya.


Bibi membawa makanan terakhir dan diletakkan di hadapan Dareen.


"Silahkan, Tuan. Ini spesial untuk Anda," ucap Bibi seraya membuka tutup saji dan melangkah mundur.


"Wah, ini yang aku rindukan. Ayam bakar madu dibuat dengan penuh cinta. Muuach!" Dareen tersenyum lebar, ia memeluk Daisha dan mengecup dahinya.


Wanita itu tersenyum senang, hati Bardy turut menghangat, tapi tidak dengan Dewi. Kedua orang di hadapan mereka pun tampak mendengus dan mencibir. Masakan biasa, apanya yang istimewa.


Dewi melirik menu lainnya dan menu Dareen yang terlihat mencolok. Ia meneguk ludah, membayangkan rasa yang menari di atas lidahnya. Itu terlihat enak. Bisakah aku mencicipi?


"Bolehkah Ayah mencicipi? Sepertinya itu nikmat," pinta Ayah sembari menyodorkan piringnya ke depan.


"Tentu, aku ambilkan satu untuk Ayah," ucap Daisha sembari mengambil satu potong ayam dan meraba piring milik Bardy.


Sementara itu, Dareen telah melahap dua potong ayam tanpa nasi. Hal itu membuat ketiga orang lainnya tergiur untuk mencicipi.


"Kak, kau tidak membaginya dengan yang lain? Perutmu akan sakit jika kau menghabiskannya sendiri."


Daisha kembali duduk, ucapannya menghentikan gerakan tangan Dareen yang sedang melahap potongan ketiga. Ia melirik ayam di depannya, menghitung jumlah yang ada. Lalu, menyisihkan tiga potong dan memberikannya pada mereka.


"Sebenarnya aku tidak ingin membaginya, tapi istriku yang meminta. Jadi, terpaksa kuberikan masakan istimewa ini kepada kalian," ucap Dareen melanjutkan kembali makannya.


"Kenapa masakan pagi ini begitu berbeda?" celetuk Cakra setelah melahap sepotong ayam.


"Kau benar, mungkin Bibi memiliki resep baru." Dewi ikut menimpali.


"Rasanya memang berbeda, tak jauh beda dari masakan di restoran." Aleena menikmati setiap gigitan.


Dareen mencibir, tapi tetap diam membiarkan. Seandainya mereka tahu siapa yang memasak itu, sudah pasti akan muntah dan menarik pujian tadi.


"Aku sudah selesai, aku harus pergi ke kantor secepatnya," ucap Dareen menyudahi makannya.


Ia berpamitan pada semua orang, diantar Daisha ke teras merasa berpisah untuk pertama kalinya setelah pernikahan.


"Berhati-hatilah di rumah, jangan biarkan mereka menindasmu," ucap Dareen sembari menatap lekat wajah istrinya.


Daisha tersenyum, ia mengangguk pelan tak ingin membuat suaminya itu cemas.


"Tak perlu cemas, kau tahu bagaimana aku, bukan? Pergilah, aku menunggu di rumah," sahut Daisha dengan tenang.


Dareen mengecup dahinya sebelum pergi memasuki mobil. Lambaian tangan Daisha mengantar kepergiannya menuju kantor. Gadis itu melangkah dengan tongkatnya, menuju taman kecil di samping rumah. Duduk di bangku taman sambil mendengarkan gemericik air mancur yang menenangkan.


"Apa yang bisa kau lakukan selain duduk?"