Mohabbat

Mohabbat
Syok



Semua orang menanti kedatangan pemilik suara tadi, langkah Daisha dan laila pun seketika berhenti, mungkin saja dia berbicara kepada mereka. Dewi dan Aleena tersenyum menyambutnya, seolah-olah tak ada masalah yang terjadi.


"Kalian kenapa di sini?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah Bardy.


Laki-laki dengan setelan jas hitam itu menatap Daisha dan Laila dengan senyum yang tersemat ramah. Hal tersebut membuat Dewi menatap bingung, bertanya-tanya dalam hati apakah mereka sudah pernah bertemu? Senyum keduanya raib, berganti kecemasan.


"Maaf, Tuan. Apa Anda berbicara dengan kami?" tanya Daisha memastikan.


Laila sendiri tak berucap sepatah kata pun, sibuk dengan hatinya yang tak suka tatapan laki-laki tua itu terhadap sang kakak. Sungguh, rasanya dia ingin mencungkil kedua bola mata itu dan memberikannya kepada binatang buas.


Bardy tersenyum, matanya melirik Laila yang berpaling dan terlihat kesal. Tak mengapa untuknya, yang dia pedulikan hanyalah Daisha, gadis yang dicintai putranya.


"Benar, aku berbicara kepada kalian. Oleh karena kalian ada di sini, aku ingin mengundang kalian ke pesta. Di dalam terdapat banyak makanan dan aku ingin menjamu kalian. Bagaimana? Kalian menerima undanganku, bukan?" tanya Bardy.


Dewi berjengit kesal, hati yang sudah terbakar semakin terasa panas membara. Tangannya yang sempat terurai mengepal kembali, menatap tajam laki-laki yang bergelar suaminya itu.


"Aku tidak setuju! Lagipula mengundang gadis buta ke pesta, dia hanya akan mengacau saja juga akan mempermalukan kita. Sekali lagi aku tidak setuju, biarkan mereka pergi secepatnya," tolak Dewi dengan cepat.


Dia meradang, berdiri berhadapan dengan sang suami tak ingin mengalah begitu saja. Bardy tetap terlihat tenang, tak tersulut emosi sama sekali. Mereka memang suami istri, tapi sungguh bertolak belakang.


"Tidak akan ada yang mengacau, mereka juga tidak akan mempermalukan kita. Aku mengundang mereka karena datang dari jauh, lagipula mereka ini temannya Dareen. Apa salahnya mengundang mereka ke pesta?" kilah Bardy semakin membuat Dewi tersulut.


Wanita paruh baya itu tidak terima dengan penolakan sang suami, seumur hidup dia tidak pernah diperlakukan seperti sekarang ini. Dia tidak bisa menerimanya.


"Aku yang melarang mereka untuk hadir di pesta. Lagipula kenapa kau tidak meminta persetujuanku dulu, bukankah seharusnya kita berunding memutuskan bersama-sama?" tanya Dewi tak senang.


Bardy tersenyum, ia menatap sang istri dengan kedua alis yang saling bertaut. Seandainya Dewi bukan wanita yang harus dia jaga kehormatannya, maka tak akan segan untuk membuatnya malu.


Bardy menatap sekeliling, memastikan tak ada yang memperhatikan mereka. Para tamu undangan hampir semuanya datang, terdiri dari kolega bisnis, teman, juga sanak saudara mereka. Setelahnya, Bardy mematri pandangan pada sang istri menegaskan bahwa dialah yang paling berhak memutuskan.


"Untuk apa aku meminta persetujuan darimu, sedangkan kau sendiri merencanakan pesta tanpa meminta pendapatku. Apa kau datang padaku dan bertanya tentang keputusanku sebelum pesta ini digelar?" Bardy menggelengkan kepala kecewa, "aku rasa tidak. Kau bahkan tidak berunding denganku," sambungnya dengan nada pelan, tapi menohok harga diri Dewi.


Wanita itu membelalak, terbesit kecewa juga rasa sesal di hati. Dia memang sengaja tidak membicarakan pesta pertunangan itu kepada keluarga hanya karena tidak ingin ada perdebatan.


Itu adalah rencananya juga Aleena yang memaksakan kehendak dan keegoisan mereka berdua. Pikirnya, setelah bertunangan nanti Dareen perlahan akan menjauhi Daisha dan menerima keputusan Dewi.


Dewi merasa kelu di lidah, tak mampu menyahut kata-kata yang diucapkan suaminya. Hanya kedua tangan saja yang terlihat semakin memutih, tak peduli kukunya yang sedikit panjang menancap di kulit.


"Mmm ... terima kasih atas undangannya, Tuan. Kami sangat tersanjung, tapi kami mohon maaf karena tidak bisa memenuhinya dikarenakan kami harus segera kembali ke rumah. Apa Anda tidak keberatan?" ucap Daisha tetap lemah lembut seperti biasa.


Sekejap saja, dia terlihat seperti gadis lemah dan detik berikutnya dia berubah menjadi seorang pemangsa yang kejam. Sungguh seperti seekor rubah yang pandai bersandiwara.


"Oh, sayang. Aku sangat keberatan, aku tidak menerima penolakan dan memaksa kalian untuk datang ke pesta. Tenang saja, kalian tamu istimewaku tidak akan ada yang berani mengusir kalian," jawab Bardy membuat Daisha dan Laila gelisah.


Apa yang sedang mereka rencanakan? Apakah akan membuatnya untung ataukah justru berakhir dengan keburukan? Ia gamang, menimbang rasa dalam hati dengan bimbang.


Bardy melirik tajam, senyum di bibirnya raib berganti urat-urat kekesalan yang menonjol.


"Pelankan suaramu. Aku rasa bukan mereka yang membuat malu, tapi kau. Kau yang tak bisa menjaga sikap, kau yang selalu memandang rendah orang lain. Setahuku, Dareen mencintai Daisha bukannya Aleena. Hanya gadis ini yang ingin dia nikahi bukan yang lain. Pesta pertunangan ini ... kau bahkan tidak membicarakannya dengan anak kita itu."


Bardy tersenyum getir menyaksikan sendiri keegoisan sang istri. Dia benar-benar wanita yang keras kepala, tak peduli pada perasaan orang lain.


"Sudahlah, pesta untuk Dareen, bukan? Lagipula, apa kau tidak melihat cincin di jari gadis ini? Mereka sudah bertunangan," ucap Bardy lagi sambil mengangkat jari Daisha dan menunjukkan cincin putih yang tersemat di sana.


Mata Dewi melebar, dadanya bergemuruh hebat. Sungguh tak menduga, suaminya sendiri yang akan berkhianat. Dia syok, kehilangan pasokan udara di paru-paru dan jatuh tak sadarkan diri.


Bardy menghela napas, ia mengangkat tubuh Dewi dan membawanya masuk ke sebuah ruangan diikuti Aleena yang merasa cemas.


"Kau tunggu saja di sini, jaga istriku baik-baik. Jika kau tinggalkan, maka aku tak akan segan untuk memberimu hukuman," titahnya dengan tegas. Aleena mendengus kesal.


Bardy meninggalkan ruangan, kembali ke tempat Daisha dan Laila berada. Kedua gadis itu terlihat gelisah setelah menyaksikan perdebatan alot mereka.


"Kak, bagaimana ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini?" Laila berdecak gelisah.


"Tenang, Laila. Kita ikuti saja alur cerita yang mereka buat. Kakak sendiri tidak menduga akan seperti ini jadinya." Daisha turut gelisah.


Ingin pergi saja, tapi tak enak pada ayahnya Dareen. Mereka hanya berdiri menunggu kelanjutan cerita itu. Tak lama, Dareen yang merasa kesal dengan ibunya, berniat pergi meninggalkan pesta.


Namun, para penjaga tidak membiarkannya pergi, mereka menjaga ketat gedung tersebut hampir di setiap sudutnya. Dareen berdecak kesal, Dewi benar-benar membuatnya terkurung.


Alis Dareen saling bertemu ketika mata menatap pada satu arah. Dia melihat seorang gadis dengan tongkat di tangan, bertanya-tanya apakah itu kekasihnya? Dareen membawa langkah mendekati sosok tersebut, ia bahkan melawan para penjaga yang hendak membawanya kembali masuk.


"Daisha!" panggil Dareen untuk memastikan matanya tak salah melihat.


Daisha yang mendengar, perlahan menoleh. Dareen membelalak melihatnya. Dia berlari mendekat, senang sekaligus cemas.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dareen saat tiba di depan gadis itu.


"Aku mengantar pesanan bunga tadi pagi ke gedung ini dan sekarang meminta sisa bayaran pada pemilik pesta. Aku tidak menyangka jika pesanan bunga yang kami terima itu untuk pesta pertunangan kekasihku sendiri," ucap Daisha dengan senyum tersemat.


Dada Dareen bergemuruh hebat, secepat kilat menyambar tangan gadis itu dan menggenggamnya. Raut wajahnya terlihat cemas, sekaligus takut. Ia takut Daisha akan pergi meninggalkannya.


"Daisha, aku bisa jelaskan semua. Kau jangan salah faham, sayang. Aku ... aku ...."


"Jelaskan saja, aku akan mendengarkan. Lagipula aku sudah bertemu dengan calon tunanganmu dan mengatakan jika kita sudah bertunangan lebih dulu," sahut Daisha seraya tersenyum.


Cincin yang sama tersemat di jari manis Dareen, mereka memang sudah bertunangan. Bagaimana mungkin? Seperti apa ceritanya?


Mari kita kuak ceritanya. Next episode, ya.