Mohabbat

Mohabbat
Lamaran



Seminggu telah berlalu, acara pernikahan Cakra dan Aleena melibatkan banyak orang. Di sebuah ballroom hotel termegah di kota Jakarta, pesta itu diadakan.


Para tamu undangan datang dari kelas menengah ke atas, saling memamerkan kekayaan juga pasangan yang mereka miliki. Saling membanggakan apa yang dimiliki, bersaing menjadi yang paling dihormati.


Di antara para tamu itu, seorang gadis biasa berjalan sendirian. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari-cari sosok laki-laki yang membawanya ke pesta itu. Ia menggerutu kesal, menghentak kakinya di lantai, sambil sesekali melilau ke segala arah.


Di sana Daisha dan Dareen disibukkan oleh kolega mereka, bercengkerama dengan akrab meski wanita itu hanya diam mendengarkan dan sesekali akan tersenyum bila disapa.


"Tuan Muda Dewantara, saya mempunyai penawaran untuk Anda. Ini jauh lebih baik dari apa yang Anda miliki sekarang," ujar salah seorang dari mereka yang memiliki derajat setara dengan keluarga Dewantara.


Ia melirik Daisha, wanita buta itu hanya diam tak bereaksi. Mereka pikir, Dareen menikahinya hanya merasa kasihan karena dia buta. Juga kabar yang mereka dengar, wanita itulah yang telah merawatnya saat terdampar dulu. Jadi, kemungkinan pernikahan mereka hanya sebatas balas budi semata.


"Maafkan saya, Tuan Nugraha. Saya tidak mengerti maksud Anda. Bisa Anda jelaskan?" sahut Dareen sambil tersenyum sopan.


Daisha tertegun, dia mendengarkan dengan seksama perbincangan kedua orang itu. Lagipula, mereka tak hanya berdua. Ada beberapa pengusaha lain yang ikut duduk di meja tersebut.


Nugraha? Jika tidak salah mengingat dia adalah Cheo Adhitama Grup. Seorang laki-laki serakah dan menjijikkan. Suka mempermainkan perempuan seenaknya. Apa yang ingin dia tawarkan kepada suamiku?


Daisha bergumam, bersikap seolah-olah tak peduli pada perbincangan mereka berdua. Sekali lagi, laki-laki bertubuh tambun itu melirik Daisha. Pancaran matanya dipenuhi hasrat ingin mengecap manis bibirnya.


Dareen menggeram, ia menggenggam tangan Daisha dengan erat. Namun, sentuhan lembut di punggung tangannya, cukup menenangkan hati Dareen.


"Saya ingin menawarkan putri saya untuk menjadi istri Anda, Tuan Muda. Dia jauh lebih baik dari wanita yang saat ini ada di samping Anda, dan tentunya jauh lebih pantas daripada dirinya. Silahkan Anda pertimbangkan, putri saya bahkan jauh lebih cantik dan berpendidikan. Dia lulusan terbaik di luar negri, dan kembali khusus untuk bertemu dengan Anda," ucap laki-laki tersebut sambil memegang tangan gadis cantik nan anggun di sampingnya.


Gadis itu menunduk di hadapan Dareen, dia memang cantik, elegan dan berkelas. Mengenakan gaun pesta model Split Front berwarna hitam yang membuatnya terlihat lebih manis.


"Hallo, saya Lilia. Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan Anda, Tuan Muda," ucap gadis tersebut.


Suaranya merdu mendayu, menggetarkan hati setiap lelaki yang mendengarnya. Lembut terdengar, sungguh tidak dibuat-buat. Ia melirik Daisha, tersenyum tipis mencibir istri Dareen itu.


"Kau hanya menyapaku? Kenapa tidak menyapa istriku juga?" tanya Dareen sambil tersenyum merangkul bahu Daisha.


Lilia tercenung, bibirnya gemetar antara menolak ataukah harus tersenyum. Ayahnya dan semua yang ada di sana, ikut tertegun mendengar sahutan Dareen. Menurut mereka itu tidak pantas, tapi bagi Dareen itu sangat penting.


"Oh, maafkan saya. Salam, Nyonya Muda. Semoga Anda selalu sehat," katanya memaksakan senyum kepada Daisha.


"Tak perlu dipaksakan, Nona. Saya mengerti. Terima kasih karena telah sudi menyapa saya yang buta ini," ucap Daisha dengan sikapnya yang tenang juga tersenyum seperti biasa.


Gadis itu menyelipkan rambutnya yang ke belakang telinga, gugup dan malu karena semua orang kini tengah memperhatikan dirinya.


"Ekhem. Jadi, bagaimana, Tuan Muda?" Laki-laki itu duduk menegakkan tubuh. Menatap Dareen dengan lekat.


"Apa itu artinya Anda memberikan putri Anda yang berharga ini kepada saya? Bukankah Anda tahu saya telah menikah?" tanya Dareen sambil menunjukkan cincin pernikahan mereka.


"Tentu saja semua itu ada timbal baliknya, Tuan Muda. Saya tidak memberikan putri saya secara cuma-cuma," sahut laki-laki tersebut sambil menatap Lilia dengan bangga.


Dareen tersenyum simpul, semua orang yang berada di meja tersebut terlihat tegang dan was-was mendengarkan perbincangan mereka berdua.


"Jadi, imbalan seperti apa yang Anda inginkan, Tuan Nugraha?" tanya Dareen memancing.


Daisha masih terlihat tenang, di mata semua pengusaha itu ia nampak seperti orang bodoh yang tak tahu apapun. Ada yang mencibir bahkan ada pula yang menatapnya jijik. Namun, di antara mereka, ada juga yang merasa iba padanya.


Sungguh malang! Sudah buta, sekarang ia akan digantikan pula.


"Saya tidak akan meminta Anda untuk menceraikan wanita itu karena dia sudah sangat berjasa dalam merawat Anda, tapi saya minta posisi nyonya Alvaro akan menjadi milik putri saya. Hanya itu, selebihnya Anda bisa melakukan apa saja terhadap istri Anda yang lain," ucap laki-laki itu tanpa tahu malu.


"Ah, benar. Apa yang diucapkan Tuan Nugraha sangat benar, posisi nyonya Alvaro memang pantas disandang olehnya. Dia tampak sempurna dan tentunya tidak akan membuat Anda malu bila diajak pergi ke pesta," sahut yang lain menimpali.


Dareen bereaksi, tapi genggaman tangan Daisha yang mengerat membuatnya tenang kembali. Ia melirik sang istri, tersenyum tenang wanita di sampingnya itu. Dareen menghela napas, menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi.


Sementara itu, Lilia tampak menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Dia senang dipuji, dia suka dikagumi.


"Bagaimana, ya? Saya sudah merasa puas memiliki wanita ini. Dia sama sekali tidak membuat saya malu, dia juga cantik. Dalam pandangan saya, dialah wanita tercantik di dunia saya. Ah, bukan ... bukan berarti Anda tidak cantik, Nona. Anda juga cantik, tapi tipe wanita idaman saya adalah wanita yang duduk di samping saya saat ini," ungkap Dareen seraya mengangkat tautan jari mereka dan mengecup tangan Daisha.


Tersipu wanita itu, malu sekaligus senang diperlakukan penuh cinta di hadapan semua kolega bisnis suaminya. Tercenung semua orang, menatap tak percaya pada Dareen yang secara terang-terangan menolak gadis sesempurna Lilia hanya untuk wanita buta itu.


Dareen menatap semua orang yang ada di hadapannya, tersenyum seperti biasa dirinya.


"Saya merasa cukup dengannya. Lewat tangannya dia membuat perut saya kenyang, lewat tawa dan segala celotehnya, dia membuat saya mengerti arti bahagia. Kata-katanya, membuat saya mengerti apa arti keyakinan. Kesetiaannya, membuat saya bisa tahu apa itu percaya. Jadi, siapa lagi yang saya butuhkan, sementara wanita sempurna itu telah saya miliki?" tutur Dareen benar-benar menohok hati kedua orang itu.


Tuan Nugraha menggeram, tangan yang berada di atas paha mengepal dengan sendirinya. Dareen benar-benar telah menginjak harga dirinya.


"Anda sungguh tidak tahu diuntung, Tuan Muda. Saya pikir Anda adalah orang yang cerdas, tapi ternyata ...." Dia menggelengkan kepalanya.


Sementara itu, Lilia tertunduk dalam-dalam. Wajahnya kembali memerah karena malu atas penghinaan yang diucapkan Dareen secara terang-terangan.


"Jika mencintai istri saya adalah sebuah kebodohan, maka saya rela menjadi bodoh, Tuan. Saya sangat mencintainya, cinta yang saya berikan bukan seperti dalam pandangan Anda semua. Bukan karena saya merasa kasihan ataupun balas budi karena telah merawat saya. Sama sekali bukan! Saya mencintainya, benar-benar mencintai dirinya. Jadi, maafkan saya. Harus saya katakan bahwa saya menolak lamaran Anda," pungkas Dareen dengan tegas.


"Kau ...!" Laki-laki itu menggeram marah, tapi tak dapat melakukan apapun.


Dareen berdiri bersama Daisha, mereka berpamitan pada semua orang.


"Silahkan, nikmati pestanya. Kami permisi."


Keduanya menunduk seraya meninggalkan perkumpulan itu sambil bergandengan tangan dengan mesra.