
Di sebuah gedung tinggi menjulang, seorang laki-laki berambut putih karena usia sedang disibukkan dengan pekerjaannya sebagai direktur utama. Dia memeriksa semua dokumen dan menandatanganinya.
Seseorang mengetuk pintu, ia menjeda pekerjaan.
"Masuk!" katanya, dan menunggu kedatangannya.
Seorang laki-laki berpakaian resmi melangkah masuk, membungkuk sebentar memberi salam.
"Ada apa?" tanyanya sambil kembali membuka dokumen yang dia periksa.
"Kami bertemu Nona. Nona mengatakan ingin bertemu dengan Anda, Ketua. Ada hal yang harus dibahas," ucap si pelapor yang sukses membuat laki-laki itu terperangah.
Pena di tangannya jatuh, tubuhnya secara spontan berdiri dan menegang.
"A-apa yang kau katakan? Ka-kalian bertemu dengannya? Di mana?" tanyanya terbata.
Seluruh bulu di tubuhnya meremang, otot-otot terasa kaku hingga lidah pun kelu.
"Benar, Ketua. Beliau meminta bertemu dengan Anda. Mari, saya antar!" katanya lagi seraya menyingkir dari jalan.
Tanpa menunggu dan berpikir, laki-laki berumur itu menuruti perkataannya untuk pergi menemui seseorang. Gelisah di sepanjang perjalanan, terobati ketika ia tiba di taman.
Di sana, pada sebuah bangku ia melihat dua sosok gadis sedang bercengkerama dan seorang pemuda yang berdiri di belakang mereka. Salah satu gadis itu amat ia kenali. Kaki tuanya melangkah lebar dan cepat, ingin segera tiba di tempat duduk tersebut.
"Daisha!"
Mendengar suara yang memanggilnya, Daisha dan Laila menghentikan percakapan. Ia mengenali pemilik suara itu.
"Paman, akhirnya kau datang. Aku sudah menunggu Paman sejak tadi," ucap Daisha sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.
Yang membuat bingung laki-laki itu adalah, pandangan Daisha yang terlihat kosong dan mengarah ke sembarang arah.
****
"Paman, aku ingin sebuah rumah untuk ditempati adikku," ucap Daisha pada laki-laki berumur itu
Ia datang beberapa saat setelah Dewi pergi meninggalkan taman. Laki-laki itu duduk berdampingan dengan Daisha, memperhatikan dengan saksama gadis yang baru dilihatnya setelah sekian tahun lamanya.
"Itu sangat mudah, tapi bisa kau jelaskan ke mana selama ini kau pergi? Kau menghilang begitu saja setelah Al meninggal. Apa yang terjadi?" tanya laki-laki itu sambil menatap Daisha sedih.
Gadis kecil yang kini menjelma sebagai wanita cantik itu tersenyum, ada banyak orang yang merindukan dirinya. Akan tetapi, dia tidak bisa kembali untuk beberapa tahun lamanya karena trauma yang kerap datang menyerang.
"Paman yang memintaku pergi. Lagipula, aku tidak bisa kembali karena terlalu takut dengan kejadian masa lalu," jawab Daisha diakhiri helaan napas panjang.
Laki-laki yang dipanggil paman itu melirik Laila, gadis remaja yang disebut adik oleh Daisha. Gadis berparas sederhana, tapi tampak jujur dan polos. Ia menjatuhkan lagi pandangan pada Daisha, ada banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari gadis itu.
"Apa kalian hidup berdua selama ini? Bagaimana kehidupan kalian? Dan di mana kalian tinggal?" cecar laki-laki itu.
Tersirat kecemasan di pancaran matanya yang sayu, terlebih melihat keadaan Daisha yang buta. Itu adalah hal yang sangat mengejutkan untuknya.
"Benar, Paman. Laila yang selama ini menjagaku," jawab Daisha membuat kedua mata remaja itu membelalak lebar.
"Oh, jadi namanya Laila? Kau ingin aku menyiapkan satu rumah untuknya, kau akan segera mendapatkannya," ucap laki-laki itu dengan yakin.
"Terima kasih, Paman," tutur Daisha sambil tersenyum simpul.
Alfin yang tak tahu apa-apa soal laki-laki itu, hanya diam mendengarkan. Setelah ini dia akan melaporkan kepada Dareen apa yang dilakukan Daisha. Seperti itu perintah dari atasan.
"Daisha, Paman ingin membahas soal-"
"Tunggu!" sergah Daisha menyela ucapan laki-laki tua tadi. Ia memutar kepala ke arah Laila berada.
"Bisa kalian pergi! Aku harus berbicara dengan Paman," pinta Daisha.
Ditemani Alfin, Laila pergi meninggalkan Daisha. Mereka menuju sebuah cafe terdekat untuk mengisi perut. Lagipula, Laila masih sangat senang bermain. Alfin menyukai segala tindakan polosnya. Diam-diam jatuh cinta pada adik Daisha itu.
"Ada apa, Paman?" tanya Daisha setelah memastikan keduanya pergi.
Laki-laki tua itu menghela napas, menatap Daisha dengan iba juga banyak tanda tanya.
"Kapan kejadiannya?" tanya laki-laki itu.
"Setelah paman Al meninggal dunia," jawab Daisha singkat.
"Oleh karena itu kau meninggalkan Jakarta sendirian? Kau bahkan menjual rumahmu. Kau tahu, aku mencarimu ke seluruh sudut negeri. Pandainya kau bersembunyi dari pamanmu," ujar laki-laki itu sedikit kesal, tapi juga merasa lega melihat keadaan Daisha.
Wanita itu tersenyum, bukan tanpa sebab dia melarikan diri dari Jakarta. Semua itu dia lakukan untuk menghilangkan trauma yang kerap datang dan membuatnya takut. Terlebih, saat laki-laki yang disebut paman Al itu meninggal. Tak ada yang menguatkan Daisha lagi, dia merasa sendirian di dunia. Lalu, pergi untuk mencari ketenangan hidup.
"Aku tidak bersembunyi, Paman. Hanya orang-orang Paman saja yang tidak dapat menemukan keberadaanku. Aku tinggal di desa di daerah Jawa barat. Memenuhi hidup dengan berjualan bunga dan membuka lahan untuk kebun bunga. Aku bertemu Laila dan mengangkatnya sebagai adik. Dialah satu-satunya teman dalam kegelapanku selama ini, Paman," ungkap Daisha disambut ******* berat dari laki-laki itu.
"Sudahlah, yang penting aku bisa melihatmu lagi. Kudengar kau menikah dengan anak bungsu Dewantara? Apa itu benar?" tanya Paman memastikan.
"Benar, Paman. Belum lama ini kami menikah. Apa Paman tidak mendapat undangannya?" tanya Daisha heran. Tidak mungkin perusahaan sebesar Yeworks Company tidak diundang.
"Ada, hanya saja Paman malas untuk datang. Dua pewaris perusahaan Dewantara saling bersaing memperebutkan posisi Presdir. Paman malas berurusan dengan perusahaan seperti itu," sahut laki-laki itu.
Daisha mendesah, memang benar yang dikatakannya. Mereka saling bersaing dan bermusuhan, terlebih Cakra yang merasa tidak puas hati dengan apa yang dia miliki.
"Aku bukan menikahi pewaris Dewantara, Paman. Yang aku nikahi adalah laki-laki yang aku cintai. Tak peduli dia seorang pewaris atau bukan, aku mencintainya," tutur Daisha pasti dan yakin.
Paman tersebut mengulas senyum, dia tahu betul seperti apa perangai Daisha. Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal pikirannya sampai saat ini.
"Daisha, tidakkah kau ingin kembali ke perusahaan? Kursi utama tetap kosong dan menunggu pewarisnya," tanya laki-laki itu sembari menatap lekat wajah keponakannya.
Daisha menghela napas dalam, sampai-sampai dagunya terangkat tinggi. Ia tidak ingin lagi terlibat dengan urusan bisnis keluarga. Dia memiliki bisnis sendiri meskipun kecil.
"Dengan keadaanku yang buta ini? Jangan konyol, Paman. Aku hanya akan menjadi bahan cibiran dan ejekan para dewan. Aku serahkan perusahaan itu kepada Paman, pinta saja si Sulung menduduki kursi itu. Jangan dibiarkan kosong terlalu lama karena hal itu akan memicu masalah cepat atau lambat," jawab Daisha yang seketika membuat pikiran Paman dipenuhi masalah-masalah yang akan muncul di kemudian hari.
"Baiklah, Paman. Hanya siapkan sebuah rumah sederhana di dekat sekolah Laila. Agar dia tidak perlu berjalan jauh ataupun menaiki kendaraan umum. Aku permisi, dan terima kasih atas waktu Paman yang berharga ini," ucap Daisha seraya berdiri menyudahi pertemuan.
"Baiklah. Jika kau mengalami masalah, jangan sungkan untuk menghubungi Paman. Pintu rumah kami terbuka lebar untukmu, Nak."
Paman turut beranjak, ia mendekat dan memeluk Daisha melepas kerinduan.
"Terima kasih, Paman."