
Dareen berdiri mematung tak jauh dari pintu, memperhatikan ibunya yang masih menangis di sofa. Meratapi nasib diri yang berujung pada penderitaan. Pandangan matanya sendu, teringat pada Daisha saat beberapa hari lalu yang mengalami perundungan dari sang ibu.
Apakah dia menangis? Sama seperti Ibu saat ini?
Pertanyaan itu muncul begitu saja memenuhi rongga dada. Ia menghela napas, berjalan mendekati sofa di mana Dewi menumpahkan segala tangisnya. Dareen memberi isyarat kepada Bibi untuk pergi meninggalkan mereka.
Bibi mencium bau benda terbakar, ia secepatnya pergi ke lantai dua sambil mengajak dua pekerja lainnya. Beruntung, api itu tidak menyebar sehingga dengan mudah dapat dipadamkan oleh ketiganya.
"Kasihan sekali nyonya. Dia memang sombong, tapi tidak pernah memperlakukan kita dengan kasar. Dia juga baik memerintah sesuai pekerjaan kita," celetuk salah satu dari ketiga pekerja itu sambil melihat kepulan asap hitam yang muncul dari celah pakaian tersebut.
"Nasib manusia tiada yang tahu. Apa yang telah digariskan Tuhan, itulah yang harus kita terima dan kita jalani. Terkadang, kita berharap seekor kupu-kupu cantik, tapi Tuhan memberikan kita sebuah kepompong. Semua itu tak lain, hanya agar kita bersabar dan berusaha untuk meraihnya," sahut Bibi bijaksana.
Mendengar itu, kedua pekerja muda yang bersamanya menoleh dengan wajah terkagum-kagum. Melihat sang kepala asisten yang begitu telaten dalam mengajari mereka mengerjakan pekerjaan yang akan mereka jalani.
"Kenapa Ibu bijak sekali?"
"Benar, aku merasa terpukul karena seringnya mengharapkan sesuatu tanpa mau berusaha dan bersabar dulu."
Bergantian kedua orang itu mengucap tanpa sadar, mengagumi sosok tuanya yang semakin bijak menyikapi kehidupan.
Bibi menoleh sambil tersenyum, ia menggerakkan kepalanya sebagai isyarat untuk mereka membereskan bekas bakaran di lantai.
Keduanya tersenyum lebar hingga deretan gigi mereka tampak dengan sempurna. Lanjut melakukan pekerjaan membersihkan lantai dan semua pakaian terbakar itu.
Di lantai satu, Dareen dengan hati-hati duduk di belakang Dewi. Ia mendesah melihat punggung wanita itu yang tak henti bergerak naik dan turun. Sungguh pilu, bahkan ia dapat merasakan bagaimana pedihnya menjadi ibu. Dalam hati berjanji tak akan pernah membuat Daisha menderita seperti yang dilakukan ayahnya.
Dareen mengusap punggung Dewi lembut, wanita itu memang pernah membencinya, tapi ia tak pernah menyimpan dendam dalam hati. Bagaimanapun Dewi adalah ibunya dan akan tetap menjadi ibunya.
"Bu!" Suara Dareen melirih dan bergetar.
Dewi menoleh, air mata memenuhi kedua pipinya yang memerah. Penderitaan itu jelas terpancar dari kedua manik Dewi. Isak tangisnya semakin menjadi, ia berhambur memeluk sang putra.
"Kenapa ayahmu melakukan ini semua terhadap Ibu? Kenapa dia tega berselingkuh? Apa kurangnya Ibu? Ibu selalu mematuhi perintahnya, selalu menuruti keinginannya. Apapun Ibu lakukan untuk membuatnya bahagia, tapi kenapa dia tega melakukan ini?" racau Ibu menumpahkan tangisnya di pelukan sang putra.
Dareen memejamkan mata, setetes air jatuh membasahi pakaian Dewi. Sungguh, perih yang dirasakan ibunya itu membuatnya harus ikut merasakan. Teringat pada perselingkuhan yang dilakukan Aleena dengan sang kakak, teringat pada keduanya yang melakukan sebuah rencana.
Tiba-tiba ingatannya kembali, Dareen sedikit merasa pusing, tapi ia menahannya agar Dewi tidak merasa cemas. Ingatan di mana dia tanpa sengaja mendengar perbincangan kakak dan kakak iparnya itu di sebuah parkiran mall.
Rencana pembunuhan terhadap dirinya untuk merebut kursi Presdir di perusahaan utama milik keluarga Dewantara. Dukungan dari Aleena yang notabene adalah tunangannya itu semakin membuat Dareen meradang.
Satu tahun silam, di mana kecelakaan yang membuat Dareen terjatuh dari atas jembatan itu terjadi.
Di sebuah parkiran mall, di mana Dareen tak sengaja memergoki Aleena dan sang kakak sedang berjalan bergandengan tangan. Dareen terus membuntuti mereka dan mendapatkan kejutan saat tiba di parkiran mall tersebut.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Aleena sambil mengalungkan kedua tangan di leher Cakra.
"Hmm ... aku akan merebut kursi Presdir dari tangannya, tapi untuk mendapatkan itu aku harus melenyapkannya," jawab Cakra menatap tajam wajah Aleena.
Seharusnya gadis itu terkejut, tapi ia justru tersenyum sinis setuju dengan perkataan Cakra.
"Benar. Jika kau ingin menduduki kursi itu, maka kau harus membunuhnya. Itulah jalan satu-satunya untukmu dengan mudah mendapatkan kursi itu." Aleena tersenyum tanpa perasaan.
Diam-diam Dareen menggeram, hatinya panas terbakar. Bukan karena perselingkuhan mereka, tapi karena rencana busuk mereka itu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menahan segala gejolak yang membara.
"Kau lihat saja nanti, kita tak perlu lagi bersembunyi dari semua orang. Kematian Dareen akan memberikan kita keluasan untuk bermesraan. Kita akan menikah dan menikmati semua kemewahan milik keluarga Dewantara. Yah, hanya kita berdua," ucap Cakra lagi semakin terlihat sifat serakah dalam dirinya.
"Kau yakin hanya kita berdua? Bukankah kau sudah memiliki calon istri lainnya?" tukas Aleena sembari memainkan jari telunjuk di dada laki-laki itu.
"Siapa? Wanita itu bukan siapa-siapa, dia hanya kujadikan mainan saja. Setelah itu, dia akan kutendang jauh."
Keduanya tertawa senang, tak sadar Dareen telah berdiri di sana melihat mereka berdua. Ia tak lagi bersembunyi. Aleena yang tertawa senang, lekas menyurutkan senyuman. Tangannya dengan cepat terlepas dari leher Cakra dan menunduk sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
Cakra mengernyit, ia menoleh ke belakang tubuhnya dan terkejut melihat sosok Dareen berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berbalik dan merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.
"Oh, Dareen. Kau di sini?" tegurnya tanpa tahu malu.
"Apa yang kalian rencanakan tak akan pernah berhasil kalian dapatkan. Kalian memang jahat, pantas akhir-akhir kau sulit dihubungi, Aleena. Ternyata, kau asik berselingkuh dengan kakakku. Tidak tahu malu, sungguh menjijikkan!" cibir Dareen.
"Mulai detik ini kau tidak lagi menjadi tunanganku, Aleena. Kau bebas menentukan pilihanmu dan jangan pernah berharap kau bisa kembali lagi padaku! Aku yang akan mengatakannya pada kedua orang tua kita." Dareen berbalik dan pergi menuju mobilnya.
Aleena mengangkat wajah, panik dan cemas menjadi satu. Ia tak ingin rencana pertunangannya gagal dan semuanya menjadi hancur.
"Cakra, bagaimana ini? Dia akan mengatakan ini semua kepada orang tua kita. Ini tidak bisa dibiarkan, dia tidak boleh memberitahukan semua ini kepada mereka. Kau harus mencegahnya, Cakra," ucap Aleena panik.
Cakra beranjak, ia meminta Aleena untuk pulang menggunakan taksi, sedangkan dia mengejar Dareen dengan mobilnya. Maka terjadilah kejar-kejaran antara dua mobil itu. Dareen di mobil berwarna putih miliknya, dan Cakra di mobil berwarna hitam.
Dareen memejamkan matanya mengurangi rasa sakit akibat ingatan yang tiba-tiba kembali. Tanpa sadar pelukannya menjadi erat di tubuh Dewi, menyalurkan emosi yang meluap-luap.
Dewi mengurai pelukan, merasakan sesuatu yang lain dari anaknya itu. Mata mereka saling menatap satu sama lain, saling menghantarkan ketenangan pada jiwa masing-masing.
"Aku ingat sekarang, aku mengingat semuanya sekarang. Bagaimana aku bisa terjatuh dari atas jembatan hingga tercebur ke dalam sungai dan ditemukan Daisha. Semuanya aku ingat, aku sudah mengingat semuanya, Bu."
Dareen memberitahukan ibunya dengan senang, tapi kesedihan semakin mendalam ia rasakan ketika tahu bahwa kakaknya sendiri yang ingin melenyapkan dirinya dari dunia ini.