
"Daisha!"
"Kakak!"
Dareen dan Laila berhambur mendekatinya, remaja itu memeluk sang kakak dengan perasaan cemas yang membuncah. Dareen mengusap-usap punggung istrinya yang terus menangis sesenggukan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" tanya Dareen sambil mengerutkan dahinya.
Dokter dan tim tersenyum, mereka tahu itu hanyalah luapan kebahagiaan dari seorang Daisha.
Tangis wanita itu perlahan mereda, ia pun mulai menenangkan diri dan segala perasaannya. Setelah lima tahun tak dapat melihat, akhirnya dia menemukan dunianya lagi.
Daisha menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia pejamkan mata, bersiap untuk melihat mereka yang ingin dilihatnya.
"Sayang! Buka matamu, ini sudah tidak apa-apa," ucap Dareen nyaris seperti bisikan.
"Benar, Kak. Ini sudah tidak apa-apa," sahut Laila menimpali.
Daisha menggeleng, ia menggigit bibirnya ketika tangis hendak pecah kembali. Dareen berpaling pada dokter, tatapannya menyiratkan pertanyaan tentang kondisi sang istri.
"Dokter, apa yang terjadi?" tanyanya cemas.
Dokter tersenyum tenang seraya menjawab, "Tenang, Tuan. Nyonya hanya sedang menyesuaikan diri dengan penglihatan barunya. Sebentar lagi beliau akan membuka mata."
Dareen kembali beralih pada istrinya setelah mendapat jawaban dari dokter. Menunggu dengan cemas apa yang akan terjadi selanjutnya.
Daisha memberanikan diri untuk membuka mata, buram dalam penglihatan. Perlahan bayangan di penglihatannya mulai berubah menjadi jernih dan berupa.
Hal pertama yang dia lihat adalah senyum manis seorang gadis yang memiliki lesung pipi kecil di kedua sisinya. Ada genangan air di pelupuk indah itu, bibirnya yang merah alami berkedut hendak menangis.
"Laila?" Dalam pandangannya itu adalah adik kecil yang selama ini ia rawat.
Jatuh air mata Laila, gadis itu memejamkan mata sebelum memeluk kakaknya.
"Kakak! Kau mengenaliku?" katanya bergetar.
Mereka menangis sesenggukan, sungguh senang akhirnya dunia Daisha kembali. Di antara taburan air mata, satu sosok laki-laki berwajah tampan muncul. Kulitnya yang putih memerah, mata hitam menatap tajam pada maniknya.
Ada senyum yang bergetar di kedua bibir itu, gurat kecemasan masih terlihat jelas di wajahnya. Ia memandang tepat pada kedua manik Daisha. Memastikan bahwa mereka saat ini memang sedang bersitatap.
Daisha tersenyum, kulit wajahnya memerah akibat tatapan dalam suaminya. Ia menunduk membenamkan kepala di bahu Laila. Menghindari rasa malu yang tercipta akibat perasaannya yang membuncah.
Dareen ikut tersenyum, wajah laki-laki itu pun semakin merona karena hati yang kian berbunga. Tak henti hatinya berucap syukur atas karunia yang tak terhingga ia dapatkan.
Laila melepas pelukan, sedikit menjauh memberikan ruang untuk Dareen mendekati istrinya. Remaja itu berpindah ke sisi Alfin, memandang sepasang suami istri yang bersiap mengarungi dunia baru mereka.
Daisha mengangkat pandangan, bekas tangis masih meninggalkan jejak di mata dan pipinya. Ia menunggu sang suami mendekat, perlahan sambil menyunggingkan senyum manis yang ia miliki.
Daisha tertegun, wajah Dareen mengingatkannya pada seseorang, tapi entah siapa. Pandang mereka bertemu, untuk beberapa saat lamanya tak ada yang mereka lakukan selain hanya saling menatap satu sama lain.
"Bolehkah aku memastikan wajah ini?" tanya Daisha lirih.
Daisha menangis tersedu, memeluk tubuh Dareen penuh haru. Sungguh, ia tak pernah menduga bersamanya akan dengan mudah mendapatkan semua yang ia impikan.
Menikah, dapat melihat, dipuja dan dipuji, disanjung dan dihormati. Di saat semua laki-laki yang mencibir dan mengejek dirinya, Dareen adalah sosok malaikat yang mengangkat derajatnya. Melindungi dirinya dari segala ejekan, juga marabahaya.
"Suamiku ... kau sungguh suamiku," lirih Daisha sambil terus menangis.
Dareen menganggukkan kepala, tak mampu menyahut karena lidah terasa kelu. Ia amat bahagia dengan keberhasilan operasi Daisha. Mulai detik ini, sudah memikirkan tentang anak.
Kehadiran si buah hati akan menambah kebahagiaan mereka. Lengkap sudah kehidupan Dareen, kebahagiaan yang ia impikan setelah dihancurkan orang yang sangat dia percayai.
Dareen melepas pelukan, menangkup wajah Daisha dengan kedua tangan. Mata mereka bergulir ke kanan dan kiri, saling memancarkan kebahagiaan yang tak terbatas. Dareen mengecup dahi sang istri dan memeluknya kembali.
Tanpa sadar Laila menjatuhkan kepala di bahu Alfin, terenyuh menyaksikan cinta yang kuat di antara mereka. Di tengah guncangan ujian, mereka saling percaya satu sama lain. Ia berharap suatu hari akan menemukan cinta yang sama seperti kakaknya.
"Baiklah, kami permisi dulu. Selamat untuk Nyonya, pergunakan pemberian Tuhan dengan sebaik-baiknya. Kami permisi," ucap dokter tiba-tiba.
Dareen melepas pelukan, berpaling pada laki-laki yang berseragam putih itu.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih karena telah melakukan yang terbaik untuk istriku," ucap Dareen penuh haru.
Dokter tersenyum dan mengangguk, mereka berpamitan untuk tugas selanjutnya. Laila mendekat, memeluk Daisha senang. Pandangan wanita itu berpijak pada sosok laki-laki lain. Berparas manis dengan kulit kuning langsat yang bersih.
"Apa kau lelaki tua yang sering diceritakan adikku?" tanya Daisha sambil tersenyum.
Laila meringis, berpaling wajah dari tatapan Alfin dan menyembunyikannya di balik punggung Daisha. Sementara itu, Alfin tertegun mendengarnya. Menatap tajam pada adik Daisha itu tidak terima dengan sebutan tua darinya.
"A-apa ... apa aku memang setua itu?" pekiknya tidak terima.
Dareen terkekeh melihat wajah yang semerah udang rebus itu. Alfin mengepalkan tangan menahan rasa malu.
"Ah, salam, Nyonya. Saya Alfin, asisten Tuan Muda dan yang selama ini ditugaskan Anda untuk merawat gadis nakal itu," ucap Alfin sambil membungkuk di depan Daisha.
Laila membelalak, segera menjatuhkan pandangan pada Alfin yang diam-diam tersenyum. Tatapan matanya mengancam, dia tidak pernah berbuat nakal kecuali pada dirinya.
Daisha berpaling pada adiknya, bertanya lewat sorot mata.
"Apa kau memang nakal akhir-akhir ini?"
Laila menggelengkan kepala, menatap tajam pada Alfin sambil memelas pada kakaknya itu.
"Tidak, Kak. Aku tidak berbuat nakal. Sungguh, laki-laki tua itu berbohong, Kak," ucap Laila sambil memeluk tangan Daisha.
"Sudahlah, Alfin. Sebagai yang tertua sebaiknya kau mengalah saja. Dia hanya anak kecil yang suka meledek. Terima saja," sela Dareen yang sukses membuat kedua pasang mata mereka membelalak.
Selanjutnya, Daisha teramat senang. Dengan penglihatannya yang sekarang, dia bersyukur dipertemukan dengan mereka yang saat ini menjadi keluarga.
Siapapun pemilik mata ini, aku sangat berterimakasih padamu. Semoga kau tenang di alam sana. Aku akan menggunakan pemberian ini dengan sebaik mungkin. Mencari pembunuh orang tuaku, juga pamanku.
Sekilas wajah Daisha berubah layaknya iblis yang kejam. Namun, kemudian kembali tersenyum dan tertawa bersama mereka.