
"Ada apa ini?"
Suara Dewi menyeruak penuh emosi, ia mengambil langkah cepat dan lebar agar secepatnya tiba di tempat kejadian. Dewi melirik Aleena yang meringis sambil memegangi tangannya yang memerah.
Dia tiba, matanya berputar melirik ketiga wanita yang terlihat sedang bersitegang itu.
"Aleena! Kenapa kau di sini? Cepatlah masuk, semua tamu undangan telah menunggu," titah Dewi sengit.
Aleena terkesiap, selanjutnya merubah raut wajah menjadi menyedihkan.
"Tante, dia menyakitiku. Coba lihat, tanganku sampai merah seperti ini. Bukankah dia jahat sekali?" adu Aleena sambil menunjukkan kulit tangannya yang memerah.
Mata Dewi melebar melihat bekas cengkeraman tangan itu, ia mengetatkan rahang, melirik tajam pada gadis buta yang terlihat tenang dan biasa saja.
"Kau yang melakukan ini?" tanya Dewi penuh amarah.
Aleena tersenyum, ia mencibirkan bibir saat pandangnya bertemu dengan Laila. Gadis remaja itu terlihat kesal, ingin sekali mencabik wajahnya yang berpura-pura menyedihkan.
"Aku tidak melakukan apapun. Dia yang mengangkat tangannya hendak menamparku. Aku hanya membela diri. Maafkan aku, Nyonya. Siapapun pastinya tak akan sudi bila orang lain hendak menyakitinya. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa tanyakan pada penjaga di sana. Mereka saksi hidup dan masih akan menjawab bila ditanyai," jawab Daisha tetap bersikap tenang tak terpancing.
Aleena membelalak, bisa-bisanya gadis buta itu mengatakan kebenaran. Dia menggelengkan kepala saat Dewi menatapnya. Wanita yang berkuasa itu menghela napas, seraya mengedarkan pandangan menatap dua orang penjaga di sana. Keduanya mengangguk pelan meksipun ragu dan sedikit takut.
Diam-diam sepasang mata yang mengintip, tersenyum senang. Rasanya dia ingin tertawa lepas melihat pertikaian empat wanita itu, tapi dia menahannya dan ingin tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Dewi kembali menatap Daisha, tatapan mata seperti sang pemangsa yang tak sabar mencabik korbannya. Ia mengangkat dagu angkuh, memandang rendah kedua wanita penjual bunga itu.
"Sepertinya aku tahu kenapa Aleena sampai melakukan itu padamu. Aku pikir siapapun pastinya tak akan senang bila seorang pengganggu muncul di hadapannya. Dan kau, pasti datang untuk mengacaukan pesta ini, bukan?" cibir Dewi.
Laila membelalak, sungguh tidak terima dengan penghinaan yang mereka lakukan. Mengapa orang-orang kaya selalu memandang rendah mereka yang berada di bawahnya? Dia ingin meluruskan perkara, tapi Daisha mencegahnya.
"Tapi, Kak ...."
Daisha tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dia berucap dengan yakin, "Percayakan pada Kakak."
Laila mencebik kesal, berpaling wajah jengah.
"Maafkan aku, Nyonya. Sepertinya Anda lupa dan aku berkewajiban mengingatkan. Kami datang bukan untuk mengacau, tapi untuk meminta sisa bayaran yang belum dilunasi pagi tadi. Pekerja Anda bilang bahwa Anda sendiri yang ingin bertemu dengan kami secara langsung dan melakukan pelunasan. Sekarang, berikan bayaran kami agar bisa secepatnya pulang dan tentunya tidak mengganggu acara kalian," jawab Daisha dengan senyum tersemat di bibir.
Dewi menghirup udara kesal, dadanya bergemuruh hebat. Sungguh tak menduga, gadis buta itu pandai bersilat lidah. Niat ingin menjatuhkannya ke dalam lubang, tapi dia sendiri yang justru terperosok ke dalamnya.
Dewi mengeluarkan secarik kertas dan pena dari saku, ia menuliskan sesuatu di atasnya sejumlah uang yang diminta Daisha, bahkan dia lebihkan untuk mengusir gadis buta itu dari kehidupan Dareen.
"Ini cek berisi pelunasan bunga kalian, dan juga aku tambahkan untukmu, tapi aku minta kau tinggalkan anakku dan biarkan dia bahagia bersama calon istrinya," ucap Dewi sembari menunjukkan nominal uang yang ditulisnya di hadapan Laila.
Gadis remaja itu meradang, menggeram penuh amarah. Lagi-lagi lidahnya kelu saat mendengar suara tawa Daisha. Tawa yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika, seumur hidup Laila belum pernah mendengarnya. Ia meneguk ludah, rasa cemas segera saja menggelayuti hatinya.
"Ka-kak!" lirihnya terbata. Apakah trauma Daisha kembali? Bagaimana jika iya? Tak ada dokter yang menangani Daisha di sana.
Dewi bergidik ngeri, menganggap Daisha hilang akal karena pertunangan Dareen. Namun, usai tawa itu raib, berganti wajah tegas dan senyum sinis yang kentara.
"Aku tidak menerima cek, Nyonya, lagipula Anda tidak perlu repot menambahkan kelebihannya. Hanya berikan kami uang cash sejumlah yang harus Anda bayar. Setelah itu, aku akan pergi secepatnya dan tidak akan mengganggu acara pertunangan mereka," ujar Daisha tanpa terlihat sedih ataupun terluka.
Ia tersenyum manis, sungguh hal yang membuat mereka semua bingung. Termasuk Laila.
"Jangan menangis, sayang. Hapus air matamu, Kakak baik-baik saja," titah Daisha.
Remaja itu menghapus air matanya, kembali tenang setelah melihat senyum Daisha. Bertanya-tanya dalam hati, seperti apa kehidupan Daisha sebelum mereka bertemu? Sekeras apa rintangan yang telah dilaluinya sehingga dia menjadi sekuat sekarang.
"Merepotkan. Terima saja cek ini, dan pergi sekarang juga!" titah Dewi sembari mengepalkan cek tersebut ke tangan Daisha.
Seseorang yang mengintip di balik sebuah pilar berbunga menggeram marah menyaksikan perlakuan Dewi terhadap Daisha. Tanpa sadar tangannya meremas bunga tersebut hingga membuatnya rusak. Ia tak peduli, hatinya tengah memanas saat ini.
Daisha tersenyum, meraba kertas di tangan. Lalu, merobeknya menjadi dua, kemudian empat dan menghamburkannya ke udara. Tindakan tak terduga Daisha membuat Dewi dan Aleena menahan napas karenanya. Mulut keduanya menganga lebar, berikut bola mata yang hampir keluar.
"Sudah aku katakan, aku tidak menerima cek. Hanya menerima uang cash sesuai dengan jumlah yang harus dibayarkan. Apakah Anda tidak mendengarnya, Nyonya?" ucap Daisha.
Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, mengintimidasi wanita paruh baya itu.
"K-kau ... apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah merobeknya?" Dewi mengepalkan kedua tangan kesal. Ingin rasanya melayangkan tamparan di pipi gadis buta itu.
"Cintaku jauh lebih berharga dari nominal uang Anda tuliskan, Nyonya. Cinta yang aku miliki tak akan bisa tergantikan dengan uang. Aku sama sekali tidak membutuhkan uang Anda. Sama sekali. Karena bagiku, uang bisa dicari dengan mudah, tapi cinta yang telah terpatri dalam jiwa tak akan mudah mati begitu saja. Ingat, Nyonya. Sekeras apapun Anda memisahkan kami, aku tetap akan berdiri tegak di atas kakiku sendiri."
Kalimat yang dilontarkan Daisha dengan penuh keyakinan, membuat seseorang yang bersembunyi di balik pilar itu tersenyum. Tersirat rasa bangga dan kagum pada keyakinan dan kepercayaan Daisha. Memang seharusnya seperti itu, bukan? Jangan menunjukkan kelemahan di depan musuhmu.
Mulut Dewi semakin menganga lebar, sungguh tak mengira gadis itu sangat berani menantangnya, bahkan secara terang-terangan dia menabuh genderang perang di depan khalayak ramai.
Kepalan tangan Dewi semakin kuat, diikuti rahangnya yang juga mengetat. Amarah semakin memuncak, tak rela harga dirinya diinjak-injak. Detik berikutnya, dia tersenyum. Rupanya masih memiliki harapan untuk mengusir gadis buta itu.
"Baik. Kita lihat saja, siapa yang akan berhasil di akhir nanti. Begitu ingatan Dareen kembali, kau yang bukan siapa-siapa akan dilupakannya. Tinggallah penderitaan yang akan kau alami." Dia merogoh saku mengambil sejumlah uang yang diinginkan Daisha.
"Ini, ambillah dan pergi sekarang juga," katanya sengit.
Daisha tersenyum sambil menerima, ia memberikan uang tersebut kepada Laila untuk disimpan.
"Seyakin itukah Anda, Nyonya? Rasanya, aku ingin tertawa mendengarnya. Baiklah. Ayo, Laila. Kita pergi," tandas Daisha seraya berbalik hendak pergi.
"Ternyata kalian di sini. Sangat kebetulan sekali."
Suara seorang laki-laki menghentikan langkah Daisha.
Bagaimana selanjutnya, ya?