Mohabbat

Mohabbat
Sesuatu Mencurigakan



"Kau tak apa?" tanya Dareen sembari memperhatikan setiap detail bagian tubuh Daisha.


Gadis itu mengangguk pelan sambil menyahut, "Aku baik-baik saja."


Keempat wanita yang merundung Daisha mencibirkan bibir melihat perhatian Dareen. Merasa jijik dengan gadis yang tak bisa melihat itu. Dia memang cantik, tapi untuk apa jika buta? Tak ada yang patut dibanggakan darinya. Hanya akan membuat malu saja.


Dareen menghela napas, ia percaya Daisha baik-baik saja dan mampu melawan, tapi tetap saja sebagai laki-laki dia ingin menjadi pelindung untuk kekasihnya itu. Wajah Dareen berpaling pada mereka, Aleena segera bersembunyi di balik tubuh salah satu temannya.


"Seperti inikah sikap kalian terhadap orang lain? Kukira kalian lebih bisa bersikap sopan daripada mereka yang berada di jalanan? Bukankah kalian hanya membuat rendah diri sendiri?" ucap Dareen menatap ke-empat wanita itu dengan tajam.


Aleena semakin mengkerut, berharap Dareen tak akan melihatnya. Sementara sikap temannya, tetap mengangkat dagu ke langit.


"Dia memang pantas menerimanya, lagipula kau keterlaluan, Dareen. Apa kau tidak melihat calon tunanganmu bahkan jauh lebih cantik dan lebih sempurna dari wanita itu. Kau sudah dibutakan cintanya, Dareen. Kau memang bodoh," cibir salah satu teman Aleena sambil melipat kedua tangan di perut.


Dareen tertawa kecil. Merasa geli dengan penilaian mereka terhadap kedua gadis itu.


"Maaf, Nona. Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku juga tahu mana yang terbaik untukku dan tidak. Yang kalian lihat berkilau belum tentu emas permata, bisa jadi dia hanya pecahan kaca yang diterpa cahaya matahari. Jadi, jangan pernah menilai rendah seseorang jika tak tahu seperti apa mereka."


Kalimat penuh penekanan itu cukup membuat mereka bungkam. Kesemuanya melebarkan mata dan menggeram. Terlebih saat Dareen memutuskan pergi dari atap sambil merangkul pinggang Daisha.


Rasa cemburu membakar jiwa, meronta-ronta ingin melahap apa saja yang ada di depannya. Sikap Dareen tak seperti orang yang kehilangan ingatan, dia sempat melirik Aleena yang langsung membuang pandangan. Lirikan penuh ancaman, membuatnya gentar dan bergetar.


"Dia sudah tergila-gila pada gadis itu. Aku heran apa yang dilihat laki-laki setampan Dareen dari gadis itu, ya? Selain buta dia juga tidak punya sopan santun. Selalu membalas ucapan dengan berani dan tanpa rasa bersalah," celetuk salah satu dari mereka sambil terus menatap arah ke mana mereka berdua pergi.


"Sudahlah tidak apa-apa. Mungkin Dareen memang bukan jodohku, terima kasih karena sudah membantu. Sebaiknya kita kembali ke pesta, aku cemas para orang tua kita akan mencari," ucap Aleena menjadi seekor kelinci yang lemah, yang sebenarnya dialah rubah licik dan penuh muslihat.


"Yang tabah, ya. Aku yakin kau mampu melewati semua ujian ini. Aku berharap Dareen akan segera mengingat semuanya. Semua yang pernah kalian lewati," sahut salah satu teman sambil mengusap bahu Aleena.


"Terima kasih banyak." Aleena memeluknya, beriringan mereka pergi meninggalkan atap di bawah naungan langit yang mulai menggelap.


Pesta dilanjutkan sampai malam hari, kemeriahan semakin terlihat tatkala seorang artis ternama naik ke panggung dan menghibur semua orang. Hanyut bersama alunan musik merdu nan romantis. Tak sedikit yang menggunakannya untuk berdansa bersama pasangan.


"Kau ingin berdansa?" bisik Dareen di telinga Daisha.


"Aku tidak bisa." Daisha menggelengkan kepalanya.


"Kak, kau tahu di mana Laila? Aku tidak mendengar suaranya sejak memasuki gedung ini," tanya Daisha teringat adiknya.


Dareen menatap aula mencari-cari keberadaan remaja itu. Dia tersenyum ketika melihatnya.


"Dia ada di tengah-tengah, sedang berdansa bersama Alfin," sahutnya memberitahu.


"Benarkah? Alfin teman kakak itu?" Daisha melebarkan mata tak percaya.


Daisha tersenyum, dalam hati berharap untuk kebahagiaan adiknya itu. Apapun yang akan dia lewati, seberat apapun itu, semoga gadis kecilnya mampu dan kuat melewati.


"Dalam laut bisa diukur, dalam hati siapa yang tahu. Kepala boleh sama, tapi isi pastilah berbeda. Aku harap apa yang Kakak katakan memang yang sebenarnya, aku hanya menginginkan Laila bahagia. Dia sama sepertiku, anak yatim piatu dan hidup di jalanan tanpa rumah. Tidur di kolong jembatan, terkadang di emperan toko. Dia juga mengatakan beberapa kali hampir mendapatkan pelecehan, tapi masih diselamatkan Tuhan. Aku ingin dia kuat dan tidak mudah ditindas."


Kalimat panjang yang diucapkan Daisha membuat Dareen berpikir. Terkadang yang sedarah pun bisa saja tak sejalan. Ikatan persaudaraan yang seharusnya lebih kuat dari mereka, terkadang hancur karena suatu alasan.


"Kau benar, kita tidak bisa menilai seseorang hanya melihat dari luarnya saja," timpal Dareen sambil melepaskan pandangan pada semua orang.


Tanpa sengaja matanya menangkap seseorang yang menunjukkan gelagat mencurigakan. Dia memakai hoodie berjalan sambil melihat-lihat ke sekeliling seolah-olah memastikan sesuatu. Setelah itu dia pergi keluar tanpa menoleh lagi.


Dareen ingin memastikan orang tersebut, tapi tak dapat meninggalkan Daisha. Ingin menghubungi Alfin, tapi tidak mau mengganggu waktu pribadinya. Beruntung, dia memiliki salah satu nomor tim keamanan. Dareen meminta mereka yang berjaga di depan untuk membuntuti laki-laki yang baru saja keluar dari gedung pesta.


Namun, sekian lama menunggu, ia tak kunjung menerima informasi perihal seorang laki-laki yang dia maksud.


"Maaf, Tuan Muda. Tak ada seorang pun yang melintas seperti gambaran yang Anda maksud," ucap penjaga tersebut saat Dareen menghubunginya.


Dareen menghela napas, Daisha yang duduk di sampingnya merasakan sesuatu yang tidak baik. Seseorang berniat jahat kepada keluarga Dareen, gelisah segera saja merayap ke dalam hatinya. Ia berdiri hendak berjalan ke sesuatu tempat, tapi ditahan Dareen dengan cepat.


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Dareen sambil mendongak.


Ia baru menyadari bahwa wajah Daisha terlihat basah dan cemas. Kening Dareen terlipat, ia turut berdiri dan menatap sekitar.


"Aku merasa sesuatu akan terjadi, ada yang tidak beres di tempat ini," jawab Daisha dengan lirih.


Dareen kembali mengedarkan pandangan, mencari sosok mencurigakan yang sempat dia lihat tadi.


"Apa? Aku tidak melihat hal yang mencurigakan di sini. Semua baik-baik saja, dan semuanya aman terkendali." Dareen menyembunyikan sesuatu darinya, tapi Daisha memiliki kepekaan yang luar biasa berbeda seperti orang kebanyakan.


"Ada, Kak. Bawa aku ke tempat makanan, sepertinya di sanalah sumber kekacauan akan terjadi," pinta Daisha setelah mengendus hal yang tak enak.


Dareen menuntun sang kekasih mendekati meja panjang yang berisi aneka makanan dan minuman. Menatap sederet menu yang disajikan dan menggugah selera, bahkan hanya mencium aromanya saja sudah membuat mulut ingin melahapnya habis.


Secara kebetulan, empat wanita yang merundung Daisha tadi ada di sana dan beberapa pengunjung lain. Mereka memegang piring kecil berisi makanan dan siap melahapnya.


Mata Daisha melebar, ia mengangkat tangannya tinggi mencegah mereka memakan makanan itu.


"Jangan dimakan! Aku katakan jangan dimakan!" teriaknya membuat bingung semua orang.


"Ada apa? Apa kau ingin mengacau di pesta ini?"


Daisha menegang mendengar suara itu lagi.