Mohabbat

Mohabbat
Menolak



"Apa yang kau ingat?" Dewi bertanya setelah beberapa saat terdiam.


Wanita paruh baya itu menelisik wajah sang putra yang berubah murung setelah kedua matanya berbinar terang.


Dareen tersenyum tak ingin ibunya tahu permasalahan di antara kedua anaknya. Biarlah dia simpan sendiri karena Dewi begitu mempercayai Cakra.


"Aku sudah mengingat semuanya, betapa kita dulu hidup dengan rukun dan bahagia. Aku ingat semuanya, Bu," jawabnya berbohong.


Dewi tersenyum getir mendengar penuturan Dareen, matanya berputar ke segala arah. Rumah yang dulu dibelinya dengan cara kredit, rumah yang menjadi saksi perjalanan kehidupan mereka. Kini, menjadi tempat kelam dan terburuk dalam hidup yang tak ingin ia sambangi untuk ke depannya.


Dewi menghela napas, ia menunduk untuk menyembunyikan kesedihan dari anaknya. Dareen diam sambil menelisik wajah Dewi yang berubah sendu.


"Ibu ingin pergi dari rumah ini. Ibu tidak ingin lagi tinggal di tempat di mana Ibu akan selalu terbayang kejadian malam ini. Ibu ingin pergi dari sini," lirih Dewi sembari mengusap sudut matanya yang berair.


Terasa panas kulit wajahnya hingga menjalar ke bagian mata. Hatinya pun ikut bergejolak, mendidih tak terkira.


"Ibu tinggal bersama kami saja, Daisha pasti akan menerima Ibu," sahut Dareen mengiyakan keinginan ibunya.


Mendengar nama Daisha disebut, Dewi mengangkat wajah dengan kedua mata membelalak. Tanpa sadar kepalanya menggeleng, bukan menolak, tapi ia terlalu malu jika harus hidup bersama menantu yang tak diakuinya.


"Tidak, istrimu pasti membenci Ibu. Kau tahu sendiri Ibu selalu memandangnya rendah, menghinanya, sudah pasti dia tidak akan menerima Ibu. Yang ada dia akan merencanakan balas dendam terhadap Ibu. Tidak," tolak Dewi sembari memalingkan wajah dari Dareen.


Laki-laki itu menghela napas, melipat bibir sambil berpikir ke mana harus membawa Ibu?


"Lalu, Ibu mau tinggal di mana?" tanya Dareen menyerah karena tak dapat menemukan tempat yang pas untuk ibunya tinggal.


"Ibu akan tinggal di rumah Aleena sampai kabar tentang kakakmu datang. Ke mana mereka membawa Cakra? Kenapa orang-orang Bardy sampai saat ini belum juga menemukan mereka?" ucap Dewi teringat pada anak sulungnya yang dibawa Areta beberapa waktu lalu.


Sejak kepergian mereka, tak sehari pun datang kabar tentang Cakra. Entah hidup atau mati, di mana jasadnya? Tak ada yang tahu, bahkan Dewi sudah membuat laporan kepada pihak berwajib untuk menangani kasus Cakra yang diculik Areta.


"Aku juga tidak tahu di mana kakak, Bu. Sampai hari ini aku belum mendengar ke mana wanita itu membawa kakak. Semoga kakak baik-baik saja," sahut Dareen melirik tajam ibunya yang terus mengkhawatirkan sang kakak.


Sungguh rasanya tak sudi mendoakan kebaikan untuk laki-laki yang berencana membunuhnya itu. Sekarang dia mengerti akan ucapan Daisha waktu itu bahwa dia akan menyesal karena telah membela Cakra dan tidak mempercayai istri sendiri.


Dareen tersenyum mengingatnya, Daisha memang tidak pernah salah. Apapun yang dilakukannya selalu berdasarkan pertimbangan yang matang. Semua terencana dengan baik dan sempurna sehingga minim sekali mengalami kegagalan dalam setiap misi yang dijalankannya.


Ia menyesal karena tidak membelanya waktu itu dan membiarkan Areta membawanya. Mulai detik itu, dia akan tetap mempercayai Daisha.


"Ya sudah, besok aku antar Ibu ke rumahnya. Kudengar dia masih di rumah sakit sekarang," ucap Dareen menuruti kemauan ibunya.


Dewi kembali menggeleng, Dareen mengernyit tak mengerti.


"Ibu mau malam ini juga ke rumahnya, dia sudah pulang dan sekarang berada di rumah. Antarkan Ibu malam ini juga," pinta Dewi dengan sangat.


Dareen menghela napas, ia mengangguk pelan tanpa membantah. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari hampir menjelang subuh. Ia beranjak sambil membantu Dewi berdiri.


"Ibu ingin aku mengemasi pakaian?" tawar Dareen.


"Tidak, Ibu akan membelinya saja besok siang," jawab Dewi enggan untuk membawa apapun dari rumah itu.


Di perjalanan, hening menyapa keduanya. Tak ada pembicaraan yang berarti di antara mereka. Dewi lebih memilih menghadap jendela, menatap lampu yang berpijar di sepanjang jalan. Dareen sendiri sibuk memikirkan istrinya di rumah sendirian, juga tentang Cakra yang begitu tega terhadap dirinya.


Ia menghela napas, pandanganya fokus ke depan sebelum melirik Dewi yang diam-diam mengusap matanya.


"Ibu yakin akan pergi ke rumah Aleena? Tidak ikut denganku saja?" tanya Dareen memastikan keputusan ibunya.


Dewi bergeming, sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari sederet pohon yang berdiri kokoh di jalanan.


"Tidak. Ibu akan tinggal di sana beberapa waktu lamanya sampai hati Ibu benar-benar tenang. Ibu butuh teman, dan hanya Aleena yang saat ini bisa Ibu jadikan teman untuk mencurahkan isi hati," jawab Dewi sama sekali tidak menyebutkan nama Daisha.


Dareen mendesah, kesal sebenarnya. Mengapa Dewi begitu membenci Daisha? Padahal, dia wanita yang baik dan selalu bisa menghibur disaat gundah melanda. Mereka butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengenal, mungkin Dewi akan menyadari betapa Daisha adalah teman dan pendengar yang baik.


Mobil memasuki kawasan perumahan milik Aleena. Sepi, nyaris tak ada satu pun orang yang berada di luar rumah. Tentu saja, subuh saja bahkan belum datang. Tak akan ada manusia yang berkeliaran di luar rumah.


Mobil menepi di luar gerbang rumah besar itu, Dareen turun dan meminta izin kepada penjaga gerbang untuk bertemu dengan majikannya. Ia diterima dengan baik karena Dewi adalah mertua dari anak sang majikan.


Pintu diketuk, sang asisten yang telah bangun pun membukakan pintu. Ia mengizinkan keduanya masuk, seraya memberitahu Aleena perihal kedatangan sang mertua ke rumahnya.


"Apa? Ibu mertuaku? Untuk apa dia datang ke sini?" ketus Aleena tak senang mendengar kedatangan Dewi.


"Saya tidak tahu, Nona. Nyonya Dewi meminta saya untuk mempertemukannya dengan Anda. Katanya penting," jawab asisten tersebut sambil menundukkan kepala.


Aleena mendengus, kesal karena tidurnya diganggu. Ia menyibak selimut dengan kasar, seraya turun dari ranjang. Baru beberapa jam saja ia tertidur dengan nyaman setelah beberapa hari di rumah sakit.


Dengan langkah yang dihentak-hentakkan, Aleena menuruni anak tangga. Wajahnya masam tak sedap dipandang.


"Aleena! Bagaimana kabarmu, Nak? Maafkan Ibu karena tidak tahu jika kau mengalami keguguran," seru Dewi berhambur sambil memeluk menantunya itu.


Aleena bergeming, terlalu muak rasanya dengan keluarga itu. Ia sudah tak ingin berhubungan dengan mereka, dan tak akan lagi menunggu Cakra untuk kembali bersama.


"Aku baik, untuk apa ke sini?" tanya Aleena dengan nada ketus.


Dareen tersentak, ia melirik dengan dahi berkerut dari kursinya duduk.


Dewi melepas pelukan, terkejut mendengar nada yang tak ramah dari menantu kesayangannya itu.


"I-iya ... maafkan Ibu, tapi bolehkah Ibu tinggal di sini bersamamu. Ibu akan merawatmu sampai kau pulih," pinta Dewi menatap manik tajam sang menantu.


Aleena melirik sinis, dari tatapan matanya menyiratkan jika ia tidak mengizinkan Dewi untuk tinggal bersamanya.


"Tidak bisa! Dan aku tidak butuh perawat. Pergilah, aku masih ingin tidur," sengit Aleena seraya berbalik tak peduli pada teriakan Dewi yang memohon padanya.


Dareen bergeming kesal, tapi ia membiarkan Dewi menyadari bahwa Aleena bukanlah menantu yang baik. Wanita itu menangis, kini ke mana dia harus pergi?


Di saat itu, Dareen beranjak dan merangkul bahunya. Membawa Dewi pergi meninggalkan rumah sang menantu tanpa pamit lagi.


Ke mana aku harus pergi?"