
Dareen yang menangis hampir sepanjang malam, tertidur di lantai dengan kepala yang bersandar di tepi ranjang. Ia masih berada di kamar mereka di rumah sederhana Daisha. Berharap istrinya itu akan kembali dan mau memaafkan semua kesalahannya.
Dia sudah menyesali tindakannya, merutuki diri sendiri karena membiarkan Dewi menghina sang kekasih hati. Amat bodoh dan pengecut. Daisha selalu membelanya bahkan selalu menyelamatkannya dari bahaya, tapi ia tak mampu melindungi kehormatan istrinya itu. Dia lemah dan tak berdaya.
Dareen terlihat gelisah dalam tidurnya, peluh membanjiri wajah hingga membuat seprei menjadi basah.
"Daisha!" gumamnya lirih.
Bibirnya yang gemetar berkali-kali menyebutkan nama Daisha. Memanggil-manggil sang istri dengan lirih dan bergetar.
"DAISHA!" Dareen terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal, keringat semakin deras membasahi tubuhnya.
Ia memegangi dada yang bergemuruh, setiap kali hatinya menyebut nama Daisha setiap itu juga denyut jantung terasa sesak.
"Ada apa dengan istriku? Ada apa dengannya? Ke mana aku harus mencarinya? Ke mana?" Dareen mencengkeram rambutnya frustasi.
Kembali menangis putus asa, ia tidak tahu ke mana harus mencari istrinya. Rumah Areta? Tapi di mana? Dia pun tak tahu di mana rumah wanita yang mengaku sebagai bibi Daisha itu.
Hanya menangis yang bisa dia lakukan di dalam kamar mereka seorang diri. Berharap Daisha dalam keadaan baik-baik saja, dan tidak terjadi sesuatu apapun terhadapnya.
****
Sementara di depan ruangan serba putih itu, Areta berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali menggigit kuku, sesekali memainkan jemari. Lidahnya berdecak berulangkali, menengadah sambil menggantung asa pada pemilik kehidupan.
"Tuhan, selamatkan keponakanku. Aku lupa dia hanya memakai pakaian biasa. Maafkan aku Al, maaf," gumamnya sambil menutup wajah menyesali semua yang terjadi.
Tak lama, Laila datang menyusul diantar seorang pengawal dari villa.
"Bibi!"
Areta mendongak, merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan adik Daisha itu. Mereka saling menumpahkan kesedihan, menangisi keadaan Daisha yang sedang ditangani dokter.
Areta melepas pelukan, mengusap rambut Laila yang lembab karena keringat. Keduanya menangis, mencemaskan keadaan Daisha.
"Bibi, kakak di mana? Apa kakak baik-baik saja? Katakan padaku, Bibi, kakak baik-baik saja. Kakak tidak boleh mati!" tangis Laila pilu terdengar.
Areta melipat bibirnya yang basah karena derai air mata, tak kuasa melihat kesedihan terpancar di wajah remaja itu. Kasih sayang mereka begitu besar dan tulus meskipun tak ada ikatan saudara di antara keduanya.
"Tidak, sayang. Daisha wanita yang kuat, dia tidak akan mati dengan mudah begitu saja. Kau jangan berhenti mendoakannya, kita harus kuat demi dia," sahut Areta sambil tersenyum menahan kesedihan.
Laila mengangguk seraya memeluknya kembali. Areta membawa gadis itu duduk, menenangkan diri untuk menguatkan Daisha.
Berselang, pintu ruangan operasi terbuka. Dokter muncul sambil membuka masker yang menutupi wajahnya. Ia tersenyum melihat Areta dan Laila berhambur mendekati.
"Bagaimana keadaannya, Dokter? Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Areta dengan cepat.
Dokter tersebut mengulas senyum, melihat reaksi wajah itu seharusnya mereka merasa lega.
"Bukankah dia Daisha? Keponakan Alejandro?" tanya dokter tersebut membuat Areta dan Laila tercenung karenanya.
"Ba-bagaimana Dokter tahu?" tanya Areta tergagap.
Laki-laki berseragam hijau itu terkekeh kecil, seperti sedang bernostalgia ke masa lalu. Ia menatap dalam-dalam Areta, menelisik wajah cantiknya, seolah-olah mereka saling mengenal dan lama tak berjumpa.
"Dokter itu tidaklah penting saat ini-"
"Hei, itu penting bagiku!" sela Areta pada ucapan Laila tadi. Wanita itu mendengus melihat Laila yang membelalak.
"Bibi, bukan maksudku tidak penting, tapi untuk saat ini keadaan Kakak di dalam sana yang lebih penting," jelas Laila yang dengan cepat menyadarkan Areta.
"Astaga! Benar, bagaimana keadaan Daisha, Dokter?" tanya Areta kembali berwajah panik.
"Tenang saja, Nyonya, dia wanita yang kuat. Dulu, bahkan kondisinya lebih buruk daripada sekarang. Saya rasa secepatnya dia akan pulih, tapi, mmm ... apa dia sudah menikah?" Dokter menatap Areta dan Laila bergantian dengan wajah mengernyit ingin tahu.
"Iya, memangnya kenapa, Dokter?" sahut Laila penasaran.
"Hmm ... dia masih sangat beruntung, peluru itu tidak mengenai perutnya. Jika saja ... saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan di dalamnya," ucap dokter tersebut sembari menghela napas melepaskan beban berat di atas pundaknya.
Kerutan di dahi Areta semakin banyak terlihat, semakin bingung dengan penuturan dokter yang menangani Daisha.
"M-maksud, Dokter?" Gugup, segala praduga mulai menari-nari dalam pikirannya.
"Ya, Nyonya. Keponakan Anda itu sedang mengandung, dan usia kandungannya masih sangat muda sekali. Beruntung, rahimnya begitu kuat sehingga janin di dalamnya tetap bertahan meskipun mendapat guncangan. Dia kuat sama seperti ibunya," jawab dokter sambil tersenyum tulus.
Setulus air hujan mendinginkan para musafir di tengah gurun. Setulus sang mentari yang menghangatkan jiwa manusia di pagi hari.
"A-apa?" Areta menutup mulutnya tak percaya. Begitu pula dengan Laila, mereka tak menduga jika wanita itu tengah berbadan dua.
"Saya sarankan setelah dia pulih, jangan biarkan dia melakukan pekerjaan yang berat. Jika tidak, saya tidak bisa menjamin keselamatan janinnya," ingat dokter membuat wajah cantik itu membelalak ke arahnya.
Air mata Areta jatuh dengan sendirinya, penyesalan datang bertubi-tubi merasuk ke dalam hati. Jika ia tahu Daisha sedang hamil, maka sudah pasti akan mengurung keponakannya itu di dalam kamar villa agar tidak bisa keluar.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, sekarang akan dipindahkan ke ruangan. Kalian bisa menunggunya di sana, saya permisi." Dokter itu berlalu meninggalkan Areta dengan segala penyesalan yang menumpuk di hatinya.
"Aku sangat menyesal. Aku benar-benar menyesal. Maafkan Bibi, sayang. Maaf," rintih Areta menangis dalam pelukan Laila.
"Sudah, Bi. Tidak apa-apa, yang penting sekarang kakak dan janinnya baik-baik saja. Ayo, kita lihat kakak di ruangannya," ucap Laila setengah berbisik di telinga Areta.
Keduanya menuju ruangan di mana Daisha dirawat. Dua kantong cairan berbeda warna terpasang di kedua tangannya. Wanita itu masih terbaring dengan mata terpejam. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena masalah terjadi secara bertubi-tubi.
Areta dan Laila duduk di sofa sambil menatap Daisha. Terpikir tentang keadaan Dareen saat ini, bagaimana jika laki-laki itu tahu tentang kehamilan Daisha?
"Mmm ...." Daisha melenguh. Kelopak matanya berkedut hendak terbuka.
Kedua wanita itu lekas berhambur mendekati ranjang, menunggu kelopak Daisha terbuka.
"Daisha!"
"Kakak!"
Sahut bersahutan suara Areta dan Laila mengisi telinganya yang hampa beberapa saat lalu. Mata itu terbuka, secara perlahan dan hati-hati seolah-olah ia takut tak dapat melihat lagi.
"Kenapa semuanya gelap?"