Mohabbat

Mohabbat
Kembali Ke Rumah



Hari itu, setelah mengantar Laila mendaftar sekolah, juga mengajaknya bermain sampai benar-benar puas, Dareen membawa Daisha ke rumahnya. Mereka tiba hampir larut malam, di pukul dua puluh dua tepatnya.


Tak dinyana saat tiba di rumah, Dewi sedang mengadakan pesta sambutan untuk calon menantunya, Aleena. Ada banyak tamu yang datang memenuhi seisi rumah meskipun hanya teman-teman sosialita dari Dewi.


Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kaya, istri-istri pejabat, juga pengusaha di Jakarta. Tampilan mereka elegan, seolah-olah sedang berlomba memarkan kekayaan. Mobil-mobil mewah terparkir rapi di halaman rumah, tas-tas yang mereka gunakan kesemuanya adalah dari merk ternama yang hanya ada satu di dunia.


Mereka berbincang di ruang tengah yang disulap menjadi tempat pesta meriah. Meja panjang berisi aneka macam makanan dan minuman tersaji dengan sempurna. Di baliknya sederet pramusaji berseragam berdiri melayani. Belum lagi para pelayan yang berlalu-lalang mengantar makanan dan minuman, juga mengambil yang sudah ditinggalkan.


Benar-benar pesta para bangsawan dengan musik klasik mengalun yang dibawakan penyanyi solo kenamaan. Tentunya Dewi menghabiskan banyak uang untuk pesta tersebut. Dia tahu, hari itu Dareen akan membawa Daisha ke rumah, dan sengaja membuat pesta untuk Aleena agar Daisha merasa tersisih.


Namun, itu semua tak berpengaruh padanya, dia tetap terlihat santai dan tenang juga biasa saja. Oh, apa karena dia buta? Hingga tak bereaksi seperti yang diinginkan Dewi karena tak bisa melihat.


"Kak, apakah di rumah Kakak ini sedang apa pesta?" bisik Daisha saat mendengar hiruk-pikuk suara manusia dan alunan musik dimainkan.


"Benar, mungkin Ibu yang membuatnya. Para tamu di dalam semuanya teman-teman ibu," jawab Dareen sembari mengeratkan lingkaran tangan Daisha di lengannya.


Mereka berdua memasuki ruang pesta, Dareen sama sekali tidak berniat menyapa ataupun bergabung ke dalam pesta. Dia tahu, pesta itu bukan untuknya ataupun untuk menyambut Daisha.


Namun, saat langkah kaki mereka tiba di bawah tangga dan hendak menapak, sebuah suara ejekan menghentikannya.


"Nyonya Dewi, apa itu menantu Anda yang buta? Sayang sekali meski cantik, tapi tidak berguna. Untuk apa?"


Daisha menunduk, tubuhnya secara alami bergetar mendengar penghinaan dari orang asing yang sama sekali tak dikenalnya. Dareen turut merasakan emosi yang bergejolak. Di sana, Daisha tidak sendiri, bagaimana jika dia sendirian? Apakah mereka akan bersikap lebih berani?


"Sudahlah, tidak usah dipedulikan. Biarkan saja mereka, anak itu memang keras kepala," sahut Dewi yang tak acuh pada perasaan anak kandungnya sendiri.


Seharusnya seorang ibu membela anaknya, seharusnya seorang ibu tidak menghina pilihan anaknya. Akan tetapi, Dewi tidak mencerminkan sikap seorang ibu dan mengedepankan gengsinya. Dia tidak sudi mengakui Daisha sebagai menantu di rumah Dewantara.


Dareen mengepalkan kedua tangan dengan erat, tapi Daisha menahan emosinya. Dia menggelengkan kepala ketika Dareen menatapnya.


"Nyonya Dewi, mengapa Anda tidak membuat pesta sambutan untuk menantu Anda yang baru itu juga? Sepertinya ada yang memaksa masuk ke dalam keluarga Dewantara," ujar yang lain semakin membuat suasana memanas.


"Apakah akan ada kisah Cinderella versi metropolitan? Seperti di film-film FTV itu?"


Mereka terbahak, tawa dari orang-orang kaya memang tidak biasa. Mereka tetap terdengar elegan dan menahan image sebagai wanita terhormat juga terpandang.


"Biarkan saja. Tidak usah terbawa emosi, aku lelah setelah seharian ini bermain bersama Laila. Bisakah kita langsung ke kamar saja? Berada di sini membuat kepalaku pusing," ucap Daisha berbisik lirih di telinga Dareen.


"Hanya karena dirimu aku diam. Jika tidak, aku pastikan akan membungkam mulut-mulut iblis itu," ucap Dareen dengan kesal.


Daisha tertawa kecil sambil menggeleng, hal itu sontak saja mengundang perhatian dari mereka. Kedua alis wanita-wanita terhormat itu saling bertaut, heran dengan tawa Daisha yang terdengar ringan dan tenang. Dia sama sekali tidak terlihat emosi dan santai seperti biasa.


"Diam bukan berarti kalah. Diam adalah senjata yang ampuh untuk membungkam mereka yang banyak bicara. Jadi, jika ada yang merendahkan, cukup diam dan jangan diladeni," tutur Daisha dengan lembut sambil mengeratkan lingkaran tangannya.


"Kau benar, sayang. Alangkah lebih baiknya kita sekarang ke kamar menghabiskan waktu berdua," sahut Dareen seraya mengajak Daisha untuk melanjutkan langkah yang sempat tertunda.


Kenapa mereka terlihat biasa saja? Sepertinya gadis itu hanya berpura-pura kuat. Kita lihat saja, seberapa lama kau bertahan di rumah ini?


Dewi menggerutu kesal, rencananya membuat Daisha tersisih gagal. Nyatanya, wanita itu tetap bersikap tenang bahkan setelah menerima penghinaan dari mereka. Rencana apalagi yang tersusun di otaknya yang licik itu?


"Sudah, tidak usah memperdulikan mereka lagi. Kita lanjutkan saja pestanya, bintang di pesta ini ada di sana," ucap Dewi sembari menunjuk Aleena yang tengah berbincang dengan teman-temannya.


Tanpa mereka sadari, salah satu tamu undangan begitu memperhatikan Daisha. Dia menatap lekat-lekat istri Dareen dengan tatapan yang tak biasa. Dalam hati bertanya-tanya tentang Daisha yang tak begitu asing di matanya.


Pesta berlanjut, sepasang pengantin itu pun melanjutkan aktivitas mereka di dalam kamar. Rumah besar itu dikuasai oleh para wanita, teman-teman ibunya. Nyaris tak ada pria di dalam pesta selain petugas keamanan yang berjaga di teras.


"Sayang, kau tidak marah sama sekali terhadap mereka?" tanya Dareen sambil menyusun baju-baju Daisha di dalam lemari.


Wanita itu duduk di tepi ranjang, dilarang Dareen melakukan apapun. Ia tersenyum mendengar pertanyaan sang suami.


"Tidak sama sekali. Untuk apa? Bukankah mereka semua tidak mengenalku, dan tidak tahu siapa aku? Jadi, wajar saja mereka menghinaku seperti itu. Jika mereka tahu siapa aku, tak akan mereka menghinaku seperti tadi," jawab Daisha tetap tenang.


Dareen tertegun, kenal atau tidak menurutnya seseorang tidak pantas merendahkan orang lain. Terlebih mereka tidak mengenal siapa yang telah direndahkan itu. Terkadang, manusia bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Setelah merasakan akibat yang fatal, barulah menyadari tindakannya yang salah.


Ia melanjutkan pekerjaan menyusun pakaian, ingin meminta bantuan para asisten di rumah, tapi mereka sedang disibukan oleh pesta ibu. Jadilah, dia melakukannya sendiri dengan cepat dan membawa Daisha merebahkan diri untuk menjelajahi alam mimpi.


"Aku rindu tinggal di desa. Di sana terasa damai dan tak ada yang merendahkan dirimu. Apa sebaiknya kita tinggal di sana saja?" ungkap Dareen sambil memeluk tubuh sang istri yang berbaring berhadapan.


Tangan Daisha terangkat, meraba pipi Dareen dengan lembut. Ia tersenyum, jauh di lubuk hatinya dia pun ingin kembali tinggal di desa. Menetap di sana, membangun keluarga sederhana yang bahagia.


"Kebahagiaan itu kita yang menentukan sendiri. Tak peduli di mana pun kita tinggal. Jika kita tidak sibuk dengan urusan orang lain, maka kita akan merasakan kebahagiaan."