
Mereka tiba di villa setelah Laila puas bermain dan berbelanja. Hari masihlah siang, ada waktu sebentar untuk beristirahat sebelum mendatangi gedung pesta untuk meminta sisa bayaran.
Dareen menatap nanar gadis di depannya, digenggamnya tangan Daisha seolah-olah tak ingin ada perpisahan lagi. Berkali-kali juga jakunnya naik dan turun, meneguk ludah menahan gelenyar rasa rindu yang datang menyeruak.
Beberapa saat bertemu, beberapa Minggu harus menahan rindu. Sungguh berat memang, tapi itulah perjuangan dalam mempertahankan cinta yang mereka pupuk hingga tumbuh dengan subur.
"Daisha, maafkan aku karena tidak bisa mengantarmu. Sebenarnya aku ingin, tapi aku harus segera kembali. Maafkan aku," ungkap Dareen menahan perasaannya yang kalut.
Daisha tersenyum, bukannya ia tak berat berpisah dengan sang kekasih. Hanya saja, gadis buta itu merasa cukup walau pertemuan mereka sangat singkat. Dia percaya saat cinta mereka diikat oleh sesuatu yang suci, tak akan mereka berpisah untuk waktu yang lama.
"Tidak apa-apa, Kak. Ingat, jangan mencari kami di sini, karena setelah menerima pembayaran kami akan segera kembali," sahutnya mencoba menahan rasa yang menggebu.
Dareen tidak menyahut, cukup lama ia memandang wajah sang kekasih dan mematrinya dalam hati. Ia memeluk Daisha sangat erat, menciumi lekuk lehernya, menghirup aroma tubuh gadis itu yang serupa dengan bunga-bunga segar miliknya.
"Aku mencintaimu, Daisha. Sangat mencintaimu," lirihnya bergetar.
Daisha mengangguk, menyusut air yang tiba-tiba jatuh dari pelupuk mendengar ungkapan isi hati Dareen. Cukup lama laki-laki itu memeluknya, tak peduli penjaga villa yang melihat, tak acuh pada tetangga Daisha. Seandainya waktu berjalan lambat, dia masih ingin menghabiskannya bersama.
Dareen melepas pelukan, menangkup wajah Daisha dengan kedua tangan. Disapunya pipi mulus itu dengan ibu jari, terasa lembut nan halus.
"Aku pergi, kau berhati-hatilah. Pinta Laila untuk segera menghubungiku begitu kalian tiba di rumah. Aku tak akan pernah berhenti memikirkanmu jika belum menerima kabar dari kalian," pinta Dareen yang disambut anggukan kepala gadis itu.
Satu kecupan mendarat mesra di dahi Daisha sebelum laki-laki itu menjauh dan masuk ke dalam mobil. Ditatapnya Daisha penuh kerinduan, kemudian pergi dengan hati yang berat. Daisha masih di sana, mematung sambil menatap kepergian mobil sang kekasih hingga hilang dibalik gerbang villa.
Pak Deni sigap menutup gerbang tersebut, gerbang yang sebenarnya tak pernah terbuka. Kedatangan Daisha beberapa waktu lalu bersama Dareen, itulah pertama kalinya gerbang dibuka setelah sekian tahun lamanya.
"Kak!" tegur Laila sambil memeluknya dari belakang, ia turut merasakan apa yang terjadi pada hati sang kakak.
"Masuk, Kak. Bukankah kita harus bersiap-siap pergi?" bisiknya lirih.
Daisha mengusap tangan Laila yang melingkar di dadanya, tersenyum dibalik hati yang gelisah. Ia berbalik mengajak sang adik untuk bersiap pergi.
****
"Apa maksud Ibu? Pertunangan? Siapa yang akan bertunangan?" Seorang laki-laki berbicara dengan nada tinggi melengking. Menggema di ruangan yang tak seberapa luas.
"Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi? Kakakmu sudah memiliki calon istri dan dia sepadan dengan kita, mereka sebentar lagi akan menikah. Kau tahu, siapa calon istri kakakmu? Dia orang kaya keempat di negeri ini," jawab wanita paruh baya dengan bangganya.
Laki-laki yang tak lain Dareen itu mendengus, mengusap wajah gusar dengan sesuatu yang tiba-tiba.
"Siapa yang akan menjadi tunanganku?" tanya Dareen gelisah. Ia menatap nyalang wanita paling berjasa dalam hidupnya itu, sungguh Dewi terlalu memaksakan keinginan walaupun menyakiti hati putranya sendiri.
Dewi tersenyum, melangkah pelan mengikis jarak antara dirinya dan sang putra. Ditatapnya manik Dareen yang diliputi amarah, dia tetap terlihat tenang karena berpikir semua orang akan tunduk dan menerima keputusannya. Bukankah selama ini begitu?
"Aleena, dia calon tunanganmu. Jika kalian menikah nanti, maka dua perusahaan besar akan bersatu dan posisi kita di dunia bisnis akan semakin kokoh. Semua orang akan menghormati keluarga kita, tak ada lagi yang akan memandang kita rendah. Jadi, bersiaplah sebentar lagi acara akan dimulai," jawabnya sembari menepuk pelan dada Dareen membersihkan kemeja dari noda bekas Daisha.
Dia berbalik dan melangkah pergi dengan dagu terangkat. Senyum kemenangan tercetak cukup jelas hingga memancar di wajahnya yang mulai menua. Dia sedang menunggu mangsa untuk dilahapnya hingga habis.
Secara kebetulan, sebuah mobil mewah tiba. Beberapa orang keluar dengan tampilan mereka yang elegan. Terakhir, seorang gadis bergaun putih dengan taburan mutiara yang melingkarinya. Dia tampak cantik dan anggun, tentunya seksi.
Daisha dan Laila menyingkir dari jalan, mereka tak berniat menerobos masuk ke dalam gedung. Manik gadis remaja itu membesar ketika bertatapan dengan gadis bergaun putih. Dia tersenyum mencibir, memerintah semua orang untuk lebih dulu masuk ke dalam gedung.
Sementara dia, berjalan pelan dan penuh kepercayaan diri mendekati keduanya. Ia menatap Daisha dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang dikenakannya. Gaun tanpa lengan berwarna zamrud, dengan panjang yang menutupi lutut, dipadu dengan blazer, sebenarnya cukup cantik. Sayangnya, dia hanya gadis buta.
Gadis yang tak lain Aleena itu mencibir, melipat kedua tangan di perut, menatap angkuh gadis buta di depannya.
"Jadi, kalian datang ke pesta ini? Baguslah, kalian akan turut menjadi saksi pertunanganku hari ini," katanya melirik bergantian kedua gadis itu.
Laila mendekap tangan Daisha, tubuhnya terasa bergetar dan menegang. Daisha menepuk-nepuk tangan gadis remaja itu untuk membuatnya tenang.
"Oh, jadi kami menerima pesanan bunga untuk pesta pertunangan Anda, Nona. Kami ucapkan selamat dan semoga Anda menikmati untaian bunga dari kami," sahut Daisha dengan senyum tersemat.
Lagi, wajah wanita itu mencibir.
"Kau tahu siapa yang akan menjadi tunanganku, bukan?" tanyanya sedikit mencondongkan tubuh ke dekat Daisha.
Gadis buta itu terkekeh mendengarnya, membentuk kerutan di dahi Aleena.
"Anda pikir aku peduli, Nona? Aku bahkan sudah bertunangan lebih dulu dari pada Anda. Anda lihat cincin ini? Ini cincin pertunangan kami," ungkap Daisha sembari menunjukkan cincin putih yang tersemat di jari manisnya.
Mata Aleena membelalak lebar, tangannya dengan cepat turun dan mengepal erat. Hatinya mulai gelisah, apakah mereka sudah bertunangan lebih dulu? Tidak! Itu tidak boleh terjadi.
Laila tersenyum puas melihat wajah Aleena yang memucat, tapi gadis sombong itu tak ingin termakan oleh bualan si buta. Ia tersenyum sinis, menganggap Daisha membual dan berhalusinasi.
"Omong kosong, kau hanya mengada-ada karena begitu tergila-gila padanya. Ingat, kau hanya seorang gadis buta yang miskin, tak sepadan dengan keluarga kami. Jangan pernah berpikir kau diterima di sini, tak ada siapapun yang sudi menerima gadis buta sepertimu," ejek Aleena kembali tersenyum angkuh penuh kemenangan.
Namun, senyum yang diukir Daisha, tak terlihat meragukan. Maniknya yang kosong memancar penuh keyakinan. Sekali lagi berhasil menggoyahkan keangkuhan Aleena.
"Aku yakin tunanganku ada di sini, Anda akan menemukan cincin yang sama di jarinya. Oh, jangan terkejut! Aku hanya ingin berpesan, bersiap-siaplah untuk merasakan patah hati," sahut Daisha berbisik lirih di ujung kalimat.
Aleena menggeram, kepalan tangannya mengerat, wajahnya menghitam penuh amarah.
"Kau!"
Tangannya yang melayang di udara hendak menampar Daisha terhenti ketika tangan lain menahannya. Penjaga di depan gedung bahkan bereaksi hendak melerai, tapi mereka tertegun ketika melihat tangan Daisha yang mencengkeram tangan lancang Aleena.
"Argh!" Aleena merintih ketika Daisha memaksa tangannya untuk turun. Dia meringis kesakitan.
"Kau pikir bisa menyakitiku? Aku memang buta, tapi aku tidak lemah seperti dirimu. Kuperingatkan untuk tidak bermain-main denganku! Aku tak akan segan membalas setiap kejahatan yang kau lakukan," tegas Daisha sembari menghempaskan tangan Aleena cukup kuat hingga membuatnya termundur beberapa langkah sambil memegangi tangannya.
"Ada apa ini?"