Mohabbat

Mohabbat
Pembukaan



Di dalam bathtub yang ditaburi kelopak bunga mawar merah, Daisha sedang berendam menghilangkan rasa lelah akibat pesta pernikahan mereka. Ia memejamkan mata menikmati waktu sendiri yang diberikan Dareen padanya.


Terkenang masa-masa dulu, di mana orang tuanya masih hidup. Dia begitu dimanjakan, disayang, bahkan semut pun tak boleh menyentuhnya. Semua yang dia inginkan pasti akan dia dapatkan. Fasilitas yang disediakan amatlah lengkap. Daisha tak perlu keluar rumah untuk menikmati hidup.


"Aku merindukan kalian, terima kasih atas cinta dan kasih sayang melimpah yang kalian berikan kepadaku."


Daisha bergumam, kemudian masuk ke dalam air untuk beberapa saat lamanya. Dia merindukan segala aktivitas yang dilakukan saat bisa melihat dulu. Berenang, bermain di pantai, melukis, menari dan bernyanyi.


Tok-tok-tok!


"Sayang! Apa aku boleh masuk?"


Suara Dareen yang cukup lantang membuat Daisha tersentak, buru-buru keluar dari air dan mengambil napas dengan rakus.


"Untuk apa? Tunggu aku selesai dulu, kau boleh masuk," teriak Daisha merasa terganggu dengan permintaan suaminya.


"Ayolah, Daisha. Aku juga ingin mandi. Kita mandi sama-sama, ya. Aku berjanji tidak akan melakukan apapun terhadapmu di dalam sana," pinta Dareen lagi membuat Daisha mendengus.


Dia beranjak sambil menyambar handuk yang diletakkan tak jauh darinya. Namun, setelah beberapa saat meraba, Daisha tak kunjung menemukan benda itu. Oh, sial! Di manakah benda terkutuk itu? Dia mengumpat.


Daisha meraba-raba lantai, berpikir benda itu jatuh dengan sendirinya. Sayangnya, memang tak ada handuk di dalam kamar mandi sana.


Aku berharap secepatnya bisa melihat. Ini pasti perbuatan Dareen. Awas kau, Kak!


Daisha tidak berhasil menemukannya. Dia menyembunyikan dirinya di dalam air, dan hanya memperlihatkan kepala saja.


"Kak, apa kau yang mengambil handukku?" teriaknya cukup kuat.


Di luar, Dareen tertawa tanpa suara, menatap handuk Daisha yang diambilnya secara diam-diam. Pipinya merona secara alami, membayangkan gadis itu tanpa sehelai benang pun. Astaga!


"Ada apa? Apa kau kehilangan handukmu? Aku bisa membawakannya," sahut Dareen berpura-pura. Dia kembali tertawa dan menempelkan telinga di daun pintu.


Daisha mendesah, dalam hati menggeram kesal. Dia diam tidak menyahut. Menahan kekesalan sampai-sampai wajahnya menghitam dan berubah jelek.


"Sayang! Apa kau mau aku bawakan handukmu ke dalam sana?" tanya Dareen karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


Bagaimana laki-laki itu bisa masuk? Seingatnya, Daisha telah mengunci pintu kamar mandi tersebut. Apakah ... oh, tidak!


Pintu berderit, Daisha semakin menenggelamkan dirinya ke dalam air. Seandainya bisa melihat, sudah pasti ia akan menutup wajah karena Dareen hanya melilitkan handuk yang menutupi bagian intimnya saja.


"Kenapa kau masuk, Kak?" tanya Daisha tak senang.


Kedua pipinya merona karena malu meski mereka sudah menikah. Dia tidak terbiasa berdua dengan laki-laki di dalam satu ruangan.


"Aku membawakan handukmu, di mana aku harus letakkan benda ini?" katanya melirik sebuah tiang di samping bathub. Lalu, melirik Daisha yang seluruh tubuhnya hampir terendam.


"Letakkan di sana, dan keluarlah dulu, Kak. Aku akan naik," katanya sambil berpaling wajah dari Dareen.


"Baiklah."


Dareen meletakkan handuk Daisha juga miliknya di tiang tersebut. Ia tersenyum aneh, sebelum menceburkan diri ke dalam bathtub.


"A-apa yang kau lakukan?" pekik Daisha buru-buru menyilangkan kedua tangan di dada.


"Kau tak perlu malu, Daisha. Bukankah kita sudah menikah? Tubuhmu halal untukku," bisik Dareen dengan suara yang parau.


Berkali-kali meneguk ludah karena liur terus saja berkumpul di bawah lidah. Secepatnya ingin mereguk kenikmatan yang disuguhkan duniawi untuknya.


"Ta-tapi aku malu, Kak," sahut Daisha sambil menunduk.


"Haha ... maaf, dia tidak sabaran," katanya sambil terkekeh.


Air yang dirasanya hangat dan menenangkan kini berubah menjadi panas seketika dan membakar gejolak dalam jiwa. Mata laki-laki itu menatap sayu pada bibir ranum yang belum tersentuh. Masih terlihat kenyal dan menantang.


"A-apa yang akan kau lakukan, Kak?" tanya Daisha bergetar.


Hembusan napas Dareen begitu dekat menerpa kulit wajahnya. Tak lama sebuah sentuhan lembut dan hangat ia terima di kedua bibirnya. Daisha membelalak, tapi tidak menolak. Dia tahu bagaimana memainkannya. Dulu, sering mencuri waktu untuk menonton drama-drama romantis di kamar.


Daisha memejamkan mata, mengimbangi permainan Dareen. Perlahan, tangannya yang mendekap dada meraba punggung lelaki itu. Dareen diam-diam tersenyum, dan melanjutkan permainan. Dia bahkan berani menyentuh yang lain, bermain-main dengan semua yang dia inginkan.


Desisan dan geliat tubuh Daisha di dalam air membuat Dareen semakin menggebu. Kamar mandi berubah menjadi panas seketika. Dareen melepas pagutan, memberi waktu untuk mereka mengambil udara. Ia menjatuhkan dahinya di atas dahi Daisha, mengecup hidung istrinya itu.


"Aku tidak ingin melakukannya di sini," katanya seraya beranjak naik tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh.


Dareen meletakkan tangannya di belakang tubuh sang istri. Wanita itu memekik.


"Mau apa kau?"


"Aku akan mengangkatmu. Kita tidak akan melakukannya di sini."


Dareen mengangkat tubuh Daisha, beberapa kelopak mawar ikut terangkat dan menempel di permukaan kulit sang istri. Daisha sempat menyambar handuk dan menutupi bagian tubuhnya.


Dengan sangat hati-hati, Dareen meletakkan tubuh Daisha di atas ranjang. Meraba handuk yang dipegang istrinya guna menutupi tubuh yang polos. Melempar benda terkutuk itu ke sembarang arah membuat Daisha menutupi bagian sensitifnya dengan kedua tangan.


Dareen mengangkat tangan tersebut dan menautkan dengan jemarinya. Menyusuri setiap lekuk nan indah yang disuguhkan di depan mata. Daisha pasrah, jika mahkotanya harus diserahkan malam itu juga pada sang suami. Tak mengapa memang itu haknya.


"Kak, apa kau tidak merasa lelah setelah seharian meladeni para tamu?" tanya Daisha di sela-sela Dareen melepas pagutan.


Ia berdesis disaat sebuah gigitan terasa lembut di bagian depan tubuhnya. Dareen mengangkat wajah, menatap Daisha tak sabar.


"Aku lelah, tapi aku juga ingin. Tolong, jangan menolak. Dia sudah tak sabar," katanya, seraya melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda.


Malam penyatuan penuh cinta. Dareen merasa beruntung saat menerobos milik Daisha yang masih tersegel. Terasa sempit menggigit sedikit becek karena cairan merah ikut menyertai.


Daisha merintih, menahan nyeri sekaligus merasakan nikmat di bagian intimnya. Malam panjang untuk sepasang pengantin baru. Kamar hotel menjadi saksi penyatuan cinta mereka.


****


Di tempat lain, Aleena tengah berdua bersama Cakra. Mereka menginap di hotel yang sama meski berbeda kamar. Menyusun rencana apa saja yang akan mereka lakukan ke depannya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Aleena dengan tatapan kosong pada langit kelam.


Cakra mendesah, ada banyak rencana di dalam otaknya yang licik untuk menghancurkan Dareen, tapi ia menjadi ragu saat mengingat Daisha.


"Aku tidak tahu," katanya.


"Bukankah seharusnya sangat mudah menghancurkan mereka? Karena tidak mendapatkan dukungan dari pihak mana pun," ujar Aleena mengingat Dewi yang begitu membencinya.


Cakra tertawa, menatap bodoh wanita di depannya.


"Kau jangan lupa, dia mendapat dukungan dari ayah," ucap Cakra mengingatkan. Dia menenggak habis wine di gelas karena kesal.


"Hanya satu orang saja, tidak sulit bagimu melakukannya," sahut Aleena lagi yang disambut decakan lidah Cakra.


"Satu orang itu sudah cukup membuat posisinya kokoh. Kau lupa, ayah adalah pemegang kuasa tertinggi. Siapapun tak akan berani mengancamnya," ingat Cakra.


Aleena mendesah, pikirannya sedang mengelana ke kamar Dareen membayangkan kedua insan di dalam sana sedang melakukan ritual suci. Keduanya termenung, hanyut dalam pikiran masing-masing.