
Kegelapan malam datang menjemput, di rumah besar itu semua anggota keluarga sedang menikmati hidangan makan malam dengan asiknya. Sepasang pengantin baru itu mendapat pujian karena keinginan mereka untuk memberikan cucu kepada keluarga Dewantara, akhirnya akan tercapai sebentar lagi.
Dewi tampak sumringah makan malam kali itu, makan dengan lahap meskipun dia akui jika masakan Daisha tetaplah lebih enak dari masakan para pekerjanya.
"Sepertinya makan malam kali ini lebih terasa hangat dan bahagia. Aku sangat menikmati makanan ini," celetuk Dewi sembari melahap makanan di piringnya.
Dia bahkan mengambil nasi untuk porsi kedua, tak peduli tubuhnya akan berisi. Bardy mengernyit, dia tahu betul maksud dari ucapan Dewi barusan. Ketiadaan Daisha di meja makan itu.
Bardy tercenung, mulai memikirkan menantunya yang satu itu. Seharian ini dia tidak melihat Daisha. Ke manakah?
"Jangan membeda-bedakan menantu kita. Aleena dan Daisha sudah menjadi bagian dari keluarga Dewantara, keduanya harus mendapatkan posisi yang sama di dalam keluarga. Kau ibu mereka, bersikaplah adil terhadap kedua anakmu," tutur Bardy membuat nafsu makan Dewi tiba-tiba lenyap.
Ia berhenti mengunyah meskipun mulutnya dipenuhi makanan. Menatap nyalang pada suaminya yang telah melanjutkan makan kembali. Tak peduli pada tatapan tajam sang istri seolah-olah ingin mencabik-cabiknya sampai habis.
Aleena dan Cakra menghentikan makan mereka sejenak, saling menoleh dan menghendikan bahu ketika ikut merasakan ketegangan. Keduanya pun tampak terlihat bahagia, berbincang dan bercerita apa saja yang akan mereka jalani ke depannya. Terutama tentang si jabang bayi yang kini bersemayam di dalam perut Aleena.
"Ah ...." Bardy tiba-tiba berucap mengehentikan gerakan mulut Dewi yang hendak berkata-kata.
"Di mana menantu kita yang satu itu? Apa kau melihatnya? Aku dengar, ada seseorang yang ingin mencelakai dirinya. Apakah salah satu dari kalian?" tanya Bardy setelah meletakkan alat makannya.
Dia lihat semua orang telah menyudahi makan mereka. Saatnya untuk berbicara soal kabar tak sedap yang terjadi di rumah itu.
"Apa? Siapa? Aku justru tidak mendengarnya," sela Dewi dengan kerutan di dahinya. Ia tampak bingung karena merasa tidak melakukan apapun terhadap menantunya itu.
Bardy menatap dalam-dalam istrinya, pancaran mata Dewi memang tidak menyiratkan kebohongan. Lalu, matanya beralih pada Aleena. Istri Cakra itu pernah hampir menyakiti Daisha meski gagal.
"Bagaimana denganmu? Apa kau tahu siapa yang mencoba menyakiti Daisha?" tanya Bardy pada menantunya itu.
Aleena juga tampak bingung, bagaimana harus menjawab? Jika tidak, dia memang memiliki pemikiran untuk menyakiti adik iparnya itu. Jika iya, dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Oh, dilema.
"A-aku tidak tahu, Ayah. Aku bahkan jarang berbicara dengannya karena Ibu selalu mengajakku keluar," jawab Aleena melirik Dewi yang mengangguki ucapan menantunya itu.
Memang benar, sejak kejadian Cakra yang dikalahkan Daisha hari itu, tak ada satu pun dari antara mereka yang berani mengusik Daisha. Mereka segan dan selalu memilih menghindar daripada bertemu.
Bardy mendesah, percuma saja bertanya kepada mereka. Keduanya tak akan pernah mengakui kesalahan dan terus menerus berkilah. Ia berdiri, memandang satu per satu dari tiga orang yang terdiam tak berkutik.
Cakra menunduk ketika Bardy mematri pandangan padanya. Ia terlihat gelisah, bola matanya yang tersembunyi bergerak secara liar. Mencari-cari alasan jika ayahnya itu bertanya.
Namun, alih-alih bertanya, Bardy lebih memilih berbalik dan meninggalkan mereka di ruang makan. Ia masuk ke ruang kerjanya melanjutkan pekerjaan yang belum usai saat di kantor tadi.
"Memangnya siapa yang berani menyakitinya di rumah ini? Lagipula siapa yang menyebarkan berita bohong seperti itu?" Dewi menggerutu, hatinya yang telah membenci Daisha, semakin terasa panas dan berbakar.
Diam-diam Bibi menguping dari balik tembok yang memisahkan ruang makan dan dapur. Ia yang menyebarkan berita itu lewat mulut ke mulut dengan maksud supaya Dareen mendengarnya.
Bibi menyandarkan punggung pada dinding dapur, mengenal napas dengan wajah menengadah. Daisha adalah wanita yang baik, tapi kenapa ada banyak orang yang membencinya? Apa karena dia buta?
"Sudahlah, Bu. Ini mungkin saja ada yang ingin mengadu domba kita. Jangan pernah termakan kabar yang tidak jelas seperti ini. Aku khawatir Dareen akan salah faham, dan menjadikan kita bermusuhan nantinya," ujar Cakra menenangkan Dewi.
Mendengar ucapan anak dan menantunya, Dewi tercenung. Berpikir tentang siapa yang ingin mengadu domba mereka. Ataukah itu hanya akal-akalan Daisha supaya mendapatkan tempat yang layak di rumah itu. Licik!
Dewi menghela napas, mengurai emosi yang mengikat hatinya. Siapapun yang menyebarkan gosip itu, dia harus mendapatkan hukuman dan Dewi tak akan segan-segan untuk memberinya hukuman yang berat.
"Ya sudah, sebaiknya kita harus berhati-hati mulai hari ini. Jangan sampai mereka berhasil membuat keluarga kita berantakan. Jika bisa, maka wanita itu yang harus keluar dari rumah ini," ucap Dewi sambil menggeram.
Dia berdiri diikuti Cakra dan Aleena, meninggalkan ruang makan bersama Bibi yang meneteskan air mata. Entah kenapa, hati Bibi merasa yakin bahwa salah satu dari mereka adalah pelakunya.
Bibi menghela napas, memanggil pekerja lain untuk merapikan meja makan dan membersihkan bekas makan para majikan. Sementara itu, dirinya berjalan keluar. Tepatnya ke depan untuk menutup jendela dan pintu. Memastikan semuanya telah terkunci rapat.
Bergerak tanpa mencurigakan para majikan yang masih berbincang soal kabar tak sedap itu. Bibi menuju pintu utama, berniat menutupnya. Namun, ia melihat mobil Dareen memasuki halaman, urung menutup pintu tersebut.
Dareen keluar dari mobil, dengan sebuah buket bunga mawar di tangannya. Sebuah rangkaian bunga yang indah, dan Daisha pasti akan sangat menyukainya.
"Selamat datang, Tuan Muda!" sapa Bibi membungkuk hormat.
"Bibi, apa istriku sudah kembali? Aku tidak menghubunginya seharian ini karena ingin memberinya kejutan," tanya Dareen sambil mengendus bunga di tangannya.
Bibi terlihat gelisah, bagaimana harus mengatakannya kepada Dareen tentang kondisi Daisha yang datang dengan tertatih-tatih.
"Nyonya ada di kamarnya, Tuan. Beliau juga belum makan malam, katanya menunggu Anda kembali," jawab Bibi menunduk dengan gelisah.
Dareen mengernyit melihat tingkah Bibi yang tak biasa. Seketika saja rasa curiga dan cemas menghantui hatinya.
"Ada apa, Bi? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dareen menelisik raut wajah Bibi yang secara tiba-tiba memucat.
"Mmm ... a-anu ... itu, Tuan ...."
"Katakan saja, Bi. Ada apa? Jangan menutupi apapun dariku," sambar Dareen dengan cepat, tapi tidak meninggikan suaranya. Ia tak ingin Dewi dan yang lain mendengar suaranya.
"Nyonya datang dengan kaki yang pincang, Tuan. Saya tidak tahu kenapa, tapi Nyonya bilang beliau tidak hati-hati dan jatuh membentur batu."
Kedua mata Dareen membelalak lebar, tanpa menunggu lagi dia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Membuka pintu dengan cepat, dan tanpa menutupnya lagi berhambur masuk ke dalam kamar.
"Daisha! Astaga!" Ia berjongkok di samping ranjang, melihat wajah Daisha yang pucat dan bergetar.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Dareen cemas.
"Kak, kau sudah pulang? Maaf, hari ini aku kurang enak badan. Jadi, tidak memasak apapun," ucap Daisha dengan pelan dan lirih.
Dareen mengusap dahinya.
"Tidak apa-apa, sayang. Istirahat saja, kau tidak harus melakukan apapun di rumah ini. Tidak!"
Dareen memeluk Daisha, menghangatkan tubuh istrinya yang menggigil.