Mohabbat

Mohabbat
Situasi Berbeda



"Cari tahu siapa gadis itu! Dari mana asal-usulnya? Seperti apa kehidupan keluarganya? Aku harus memiliki alasan untuk menolaknya selain hanya karena buta," titah Dewi pada seseorang yang duduk di kursi ruang tamunya.


Garis di wajah wanita itu terlihat tegang dan keras, matanya berkilat-kilat penuh amarah. Sesekali mengepalkan tangan kuat-kuat saat teringat pada gadis buta yang dibawa putranya.


"Sudah jelas dia buta, apa lagi? Kau butuh alasan seperti apa lagi untuk menolaknya?" tanya laki-laki itu dengan sikap tenangnya.


Dewi berpaling dari jendela, menatap nyalang sosoknya yang tengah menyesap rokok di tangan.


"Jika alasannya hanyalah buta, Dareen telah menentangnya. Dia bahkan mengancamku akan pergi meninggalkan rumah ini jika saja aku menolak. Aku membutuhkan dukungan yang kuat untuk mempertahankan keputusanku. Jadi, kuharap malam ini kau akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Pergi dan datangi rumah mereka, awasi dan dapatkan informasi sedetail mungkin tentang mereka."


Dewi berbalik setelah memberikan perintah lanjutan, tak lama muncul kembali dengan sebuah benda berwarna coklat di tangan. Dilemparnya benda tersebut ke atas meja, cukup tebal dan membuat laki-laki di kursi itu menyeringai lebar.


"Waw! Aku suka ini. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan," katanya melirik Dewi dengan kedua manik yang bersinar.


Diraihnya amplop tersebut, diintip, dan dicium dengan penuh kebahagiaan. Ia beranjak sambil tertawa terbahak-bahak. Dewi melipat kedua tangan di perut, mendengus kesal menatap punggung laki-laki preman itu.


"Kita lihat saja, apakah cinta kalian sekuat tekad kalian. Dareen, kau tidak bisa menentang Ibu, Nak. Kau harus menuruti semua yang sudah Ibu rencanakan untuk hidupmu. Menikah dengan Aleena, gadis itu bahkan rela menyerahkan seluruh hartanya untuk dapat menikah denganmu," gumam Dewi sambil tersenyum licik.


Teringat akan suaminya yang sedang di perjalanan pulang, Dewi berbalik dan menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan sang suami. Berdandan cantik agar tetap menarik di mata laki-laki yang telah tiga puluh tahun lebih mengarungi bahtera rumah tangga.


"Aku akan membicarakan soal gadis buta itu dengannya nanti. Aku tidak ingin Dareen lebih dulu mengatakan tentang itu kepadanya. Oh, suamiku, kau harus mendukungku. Bukankah kau mencintaiku?" katanya sambil menatap cermin yang memantulkan gambar dirinya.


Dia masih terlihat cantik meskipun keriput terlihat di beberapa bagian wajah. Selalu tampil sempurna sebagai wanita terlebih di hadapan sang suami.


****


Sementara di jalan, Bardy berjanji kepada Dareen untuk merahasiakan pertemuan mereka. Berpura-pura tidak tahu tentang gadis buta itu sampai waktunya tiba.


"Tuan, apakah membiarkan tuan muda bersama gadis buta itu tak akan memicu masalah? Apa Anda tidak merasa cemas reputasi keluarga Anda akan menurun?" tanya sang supir setelah ikut dalam pertemuan mereka tadi.


Bardy yang sedang membaca-baca berita di surat kabar yang ia temukan di mobil, tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari sederet huruf yang dipangkunya.


"Aku tidak terlalu peduli pada hal itu, yang aku pikirkan adalah putraku dan kebahagiaannya. Dia terlihat bahagia, cinta yang besar juga terpancar jelas di kedua matanya. Aku tidak ingin anakku kehilangan itu semua. Kau tidak perlu cemas, lagipula seseorang dengan kekurangan pastilah membawa kelebihan yang tak dimiliki orang biasa," sahut Bardy penuh keyakinan.


Ia menghela napas, melirik sang supir yang usianya tak jauh berbeda.


"Kau memiliki seorang putri, bukan? Bagaimana perasaanmu sebagai ayah ketika ada seseorang yang menolak kekurangan putrimu? Bukankah kita semua hanyalah manusia biasa yang memiliki kekurangan? Aku, kau, dia dan semua orang, tak dilahirkan sempurna tanpa membawa aib. Jadi, kenapa harus mempermasalahkan keadaannya yang buta? Aku yakin, dia pun tak ingin seperti itu," ungkapnya bijaksana.


Ia menepuk bahu laki-laki di sampingnya, senyum tersemat di bibir yang telah keriput, apa lagi yang dia inginkan di masa tua itu? Selain kebahagiaan putra-putranya. Si Pengemudi tertegun mendengar sebuah petuah dari sang majikan.


"Bagaimana keadaan putrimu? Apa dia sudah lebih baik?" tanya Bardy teringat pada anak gadis sang supir yang beberapa hari lalu terserang sakit.


"Sudah lebih baik, Tuan. Sekarang dia sudah di rumah, terima kasih atas perhatian Anda, Tuan," jawabnya sambil mengangguk pada sang tuan.


Bardy hanya tersenyum, memberikan tatapan hangat pada laki-laki yang telah bekerja padanya itu selama bertahun-tahun itu.


****


Di tempat Daisha, mobil yang mengantar mereka tiba saat sang mentari tenggelam di peraduannya. Keahlian Alfin memang tak diragukan, ditambah ia tahu jalan pintas tanpa harus terlibat kemacetan.


"Terima kasih banyak sudah mengantar, Kak. Mampir dulu sebentar, kalian pasti lelah," ucap Daisha setelah turun dari mobil.


Sementara itu, Laila membuka pintu dan menyalakan semua lampu. Keadaan toko mereka masih sama persis seperti saat ditinggalkan. Tak ada yang kurang ataupun berpindah tempat.


"Sebenarnya aku ingin, tapi aku harus secepatnya kembali untuk membicarakan rencana pernikahan dengan Ayah. Jangan jauhkan ponsel itu darimu, dan jangan pernah mengabaikan panggilanku. Apa kau mengerti? Aku pasti akan sangat merindukanmu." Dareen memeluk Daisha erat.


Belum lagi berpisah, rasa rindu telah hadir menduduki singgasana rasa. Berat terasa harus meninggalkan mereka berdua di desa.


"Tunggu aku, Daisha. Aku akan datang bersama ayah dan ibuku untuk melamarmu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," pinta Dareen dengan penuh perasaan.


Daisha mengangguk, jauh di lubuk hatinya ia pun amat mencintai Dareen. Hanya saja, yang masih mengganjal di pikiran gadis itu sikap Dewi yang menolak kehadirannya. Akankah Dareen bertahan dalam keyakinan cintanya? Ataukah berpindah haluan menuruti keinginan sang ibu?


Namun, semua itu ditepisnya untuk sementara waktu. Saat ini, perasaannya tengah meluap. Berada dalam pelukan sang kekasih, hati yang gamang tak lagi merasakan gelisah.


Dareen melepas pelukan, mengecup dahi sang kekasih dengan segenap rasa dalam hati. Alfin menatap penuh haru, sepanjang karirnya menjadi asisten Dareen, tak sekalipun ia melihat tuannya itu mencintai wanita seperti dia mencintai Daisha saat ini.


Keduanya berpisah untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Benda pipih yang diberikan Dareen digenggam Daisha dengan erat. Ia tak akan menjauhkan benda itu darinya.


"Kak, maaf, tapi kenapa aku merasa aneh dengan sikap ayahnya kak Dareen, ya? Dia selalu memperhatikan Kakak sejak duduk bersama kita, apakah itu wajar?" ungkap Laila setelah mereka berada di dalam rumah.


Duduk di sofa merenggangkan otot-otot tubuh yang menegang.


"Entahlah, mungkin saja dia baru melihat gadis buta seperti Kakak, bukan? Kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran orang lain. Sikap yang dia perlihatkan, belum tentu sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Jadi, tetaplah berbaik sangka agar hati kita tenang." Daisha tersenyum, mengusap kepala sang adik yang berada di pundaknya.


Dalam hati Daisha pun merasa cemas mendengar ucapan Laila. Hanya saja, untuk saat ini ia tak ingin terburu-buru menilai laki-laki tua itu.