
Seseorang keluar dari pesawat, berjalan diiringi beberapa laki-laki di belakangnya. Ia nampak gagah dan berkelas dengan three-piece suit-nya yang keren. Kemeja putih dibalut blazer hitam, dipadukan dengan bawahan yang senada juga sepatu yang mengkilap. Tak lupa fedora putih yang menutupi bagian kepala, menambah kesan maskulin pada sosoknya.
Iring-iringan tersebut terus berjalan keluar bandara menuju sebuah mobil yang telah menunggunya. Masuk tanpa banyak bicara, duduk dengan gagah bagai seorang raja yang diagungkan.
Mobil tersebut melesat meninggalkan bandara menuju sebuah rumah megah di bilangan kota Jakarta.
"Tuan, apa kita akan langsung menuju tempat tujuan?" Sang supir bertanya dengan hati-hati.
Laki-laki tersebut melirik, cerutu di bibirnya mengepulkan asap, dilepasnya sebelum ia menjawab pertanyaan sang supir. Siapa yang tak gentar, hanya dengan lirikannya saja sudah mengancam nyawa.
"Jangan singgah di mana pun!" Cukup jelas dan hanya sekali itu saja dia berbicara.
Tak akan ada lagi pertanyaan sampai mereka tiba di tujuan. Gerbang tinggi nan kokoh yang dicat dengan warna hitam terbuka lebar ketika mobil mereka tiba. Para pekerja di dalam bahkan sudah berbaris menunggu kedatangannya.
Ia keluar setelah pintu dibukakan salah satunya. Menatap satu per satu dari para pekerja di rumah besar itu, termasuk para wanitanya.
"Di mana dia?" tanyanya dengan suara maskulin terdengar berat dan serak.
"Nona di kamarnya, Tuan. Beliau tak ingin memakan apapun, dan hanya mengurung dirinya selama tiga hari ini," jawab salah seorang pekerja wanita dengan tubuhnya yang menunduk lagi bergetar.
Laki-laki itu menghela napas, menatap bagian dalam rumah yang sepi. Biasanya, gadis kecil itu akan menyambut ketika ia datang ke rumah tersebut. Kini berubah karena insiden pembunuhan terhadap kedua orang tuanya. Ia melangkah, ketukan kakinya di lantai cukup mengintimidasi para pekerja.
"Tunggu saja! Aku akan masuk sendiri!" katanya pada orang-orang yang berjalan membuntuti.
"Baik, Tuan."
Laki-laki tersebut melanjutkan langkah menapaki anak tangga satu demi satu. Kenangan demi kenangan dari gadis kecil yang ceria itu bermunculan dalam pikiran. Dia rindu pelukannya, celotehnya, juga segala sikap manjanya.
Dendam semakin membara di dalam jiwa, mendapati kenyataan pahit yang menghilangkan semua kenangan bahagia mereka. Ia berdiri di depan sebuah pintu yang terdapat gantungan sebuah boneka pemberiannya.
Tersenyum pahit, pemiliknya di dalam kamar mengurung diri dan meninggalkan dunianya yang ceria.
Tok-tok-tok!
"Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak ingin melakukan apapun!" Suara dari dalam terdengar lirih dan menyedihkan. Disambut isak tangis yang pilu, memanggil-manggil ayah dan ibunya.
"Sayang, ini Paman. Kau tidak ingin bertemu dengan pamanmu ini?"
Laki-laki itu berkata lembut, merayu sang gadis kecil di dalam kamar. Hening. Tak ada sahutan lagi. Ia mencoba sekali lagi, setelahnya terpaksa akan mendobrak pintu kamar itu.
"Sayang, Daisha! Ini Paman, Nak. Bukakan pintunya, kita harus bicara," ucapnya lagi sambil bersiap untuk merusak pintu kesayangan gadis kecil itu.
Ceklak!
Suara kunci terdengar, pintu terbuka perlahan. Seorang gadis kecil dengan penampilan yang kusut berdiri menunduk di depannya. Wajahnya sembab, matanya bengkak dan merah, rambut kusut berantakan. Ia tampak lebih kurus dari sebelumnya.
"Sayang!" Laki-laki tersebut berjongkok di hadapannya, menatap sedih satu-satunya keponakan yang dia miliki.
Daisha kecil mengangkat wajah, menatap pada pamannya itu. Bibir pucat dan bergetar, terlihat menyedihkan. Air jatuh dari matanya, kesedihan jelas tergambar di wajah cantik itu.
"Paman!"
"Daisha! Sayang! Astaga!"
Dengan cepat diangkatnya tubuh Daisha, berlari kembali menuruni anak tangga.
"Kita ke rumah sakit, cepat!"
Hari itu, rumah sakit digemparkan dengan kedatangan sang mafia yang disegani, Alejandro. Daisha diberikan pelayanan istimewa, dirawat dengan baik di rumah sakit tersebut.
Dendam sang mafia membakar dirinya, Daisha adalah satu-satunya saksi pembunuhan Damian dan istrinya. Gadis kecil itu tidak boleh terpuruk, apalagi lemah. Dia harus tumbuh menjadi kuat agar bisa melindungi dirinya.
****
Kedatangan Alejandro mengembalikan sosok Daisha kecil, dilatihnya gadis itu untuk menjadi kuat. Segala pelatihan fisik, pengetahuan tentang semua yang dia ketahui, diajarkannya kepada Daisha, bahkan tentang mengenali segala jenis racun.
Di bawah pengasuhannya, Daisha tumbuh menjadi gadis yang kuat dan cerdas, juga tidak mudah ditindas.
Namun, segalanya berubah, ketika Daisha tanpa sengaja melihat Alejandro bersama seseorang yang lebih muda darinya. Di bukit belakang villa miliknya, mata Daisha menyaksikan sendiri bagaimana pamannya itu ditembak mati.
"PAMAN!"
Jeritannya mengundang perhatian para pekerja di sana, laki-laki yang membunuh Alejandro menoleh dan segera berlari meninggalkan villa.
Daisha mengejarnya, mereka sempat terlibat pergulatan yang sengit. Akan tetapi, penjahat itu berhasil melarikan diri sampai ke mobilnya.
Daisha terus mengejar, berlari di jalan lain untuk mendahuluinya. Tepat ketika itu, dia baru saja tiba di jalan, mobil penjahat tadi menabrak dirinya. Tubuh Daisha terpental, kepalanya membentur aspal jalanan.
Ia sempat melihat sosoknya yang semakin lama semakin memburam dan gelap. Setelah itu tak ingat apapun lagi.
****
"Seperti itulah kisahnya, Bibi. Aku tahu siapa yang membunuh Paman, aku juga tahu siapa yang telah membunuh ayah dan ibu. Aku melihat mereka, tapi kecelakaan itu membuatku buta dan membuatku lemah. Aku memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan pergi mengasingkan diri di sebuah desa terpencil," pungkas Daisha mengakhiri kisahnya yang kelam.
Areta yang mendengar tersedu-sedan dibuatnya. Penyesalan kian menumpuk di hati, perlahan rasa dendam memenuhinya. Ia bertekad untuk mencari para penjahat itu.
"Sayang, Bibi sangat menyesal. Waktu itu Alejandro mengajak Bibi untuk terbang ke Jakarta, tapi karena pekerjaan membuat Bibi menolak ajakannya. Seandainya waktu bisa diputar, Bibi ingin kembali ke masa itu," ungkap Areta sambil terus menangis.
Daisha meraba tangan wanita itu, menggenggamnya dengan hangat, ia tersenyum mengerti.
"Penyesalan tiada guna lagi sekarang, Bibi. Menangis pun tak akan mengembalikan paman dan kedua orang tuaku. Untuk inilah paman melatihku, dia ingin aku tumbuh kuat agar bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Bibi, suamiku telah mendapatkan donor mata. Saat aku bisa melihat nanti, akan aku cari mereka," tekad Daisha sambil mengeratkan genggaman tangan mereka.
Areta mengangkat wajah, menatap manik Daisha yang memancarkan tekad kuat. Dia benar, saat ini bukanlah waktunya untuk menangisi yang telah terjadi. Areta balas menggenggam tangan Daisha, mereka akan bekerjasama untuk mencari para pembunuh itu.
"Bibi tidak akan tinggal diam. Kita akan sama-sama mencarinya dan memberi balasan setimpal kepada mereka. Hutang nyawa dibayar nyawa."
Daisha mengangguk setuju, entah kapan operasi itu akan dilaksanakan, rasanya ia tak sabar. Daisha tidak sendirian lagi, dia bersama Areta saat ini.
Mereka berada di villa Alejandro, tempat Daisha melihat laki-laki itu ditumbangkan seseorang. Pagi tadi, Areta menjemputnya dan meminta izin kepada Dareen untuk mengajaknya pergi jalan-jalan.