Mohabbat

Mohabbat
Firasat



"Bibi!"


Daisha memegang tangan wanita paruh baya yang tengah mengobati luka memar di kakinya itu. Ia menoleh, menatap majikannya dengan dahi yang mengkerut.


"Ada apa, Nyonya?" tanyanya penasaran.


Daisha tersenyum, mengurai perlahan sentuhan tangan mereka sebelum mengatakan permintaannya, "Bibi, tolong jangan beritahu Kakak tentang sebab luka ini. Jika dia bertanya katakan saja aku jatuh terpeleset."


Bibi tertegun, kepalanya menggeleng tak tega. Dalam hati dia memang akan mengadukan itu kepada Dareen, tapi sekarang bimbang sendiri. Daisha memintanya untuk tidak jujur.


"Bibi, kumohon! Jangan mengatakan yang sebenarnya," ucap Daisha lagi memelas.


Bibi berpaling dari menatap wajahnya, menghela napas berat sambil menunduk memandang luka memar di kaki putih sang majikan.


"Baiklah, tapi jika sudah keterlaluan terpaksa saya akan mengatakannya kepada tuan. Nyonya tidak bisa meminta saya untuk menyembunyikan semuanya," tegas Bibi tak tega melihat Daisha yang diperlakukan dengan semena-mena.


Gadis buta itu tersenyum, mengangguk maklum memberi pengecualian. Lagipula, dia rasa mulai hari itu tak akan ada yang berani mengganggunya lagi.


"Tinah! Di mana kau? Kenapa dapurku berantakan sekali!"


Suara teriakan dari Dewi menggema hingga ke kamar Daisha. Bibi membelalak, gerakan tangannya yang sedang mengompres lebam di kaki sang majikan terhenti karenanya.


"Pergilah, Bi. Jangan sampai nyonya marah kepada Bibi," ucap Daisha seraya mengambil handuk kecil dari tangan Bibi.


"Terima kasih, Nyonya. Jika begitu, saya permisi."


Wanita itu dengan cepat beranjak dan berlari menuruni anak tangga setelah menutup pintu kamar Daisha. Di lantai satu, Dewi tengah menunggu sambil berkacak pinggang. Bibi meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah, memelankan langkah, berjalan dengan kepala tertunduk.


"Apa yang kau lakukan di atas sana? Kenapa meninggalkan pekerjaanmu begitu saja?!" bentak Dewi begitu Bibi berada di hadapannya.


Tubuh wanita itu bergetar dengan sendirinya, jemari yang saling bertaut di depan, terasa lembab karena keringat. Gugup dan takut dengan tempramen Dewi yang keras.


"M-maaf, Nyo-nyonya. Saya dari kamar tuan muda mengantar nyonya muda karena kakinya terluka," jawab Bibi takut-takut.


Dewi mengernyit, tapi tidak mengendurkan otot-ototnya yang tegang. Matanya menjegil, tajam menusuk.


"Alasan!" cibirnya.


Bibi mengangkat wajah, menggeleng dengan cepat.


"Tidak, Nyonya. Tadi, nyonya muda di ... ah, terpeleset di halaman belakang dan kakinya tergores juga lebam. Saya membantunya untuk ke kamar dan sedikit mengobati lukanya. Sungguh, Nyonya. Saya tidak berbohong," ucap Bibi lagi meski takut, ia tetap menjelaskan.


Dewi menurunkan tangannya dari pinggang, semakin murka karena sahutan Bibi.


"Kurang ajar! Beraninya kau menimpali ucapanku!"


"Ibu!"


Teguran Dareen menghentikan tangan Ibu yang telah mengudara hendak menampar Bibi. Wanita paruh baya itu menunduk dengan tubuh bergetar hebat. Peluh bermunculan bercampur dengan air mata yang turut berjatuhan.


Dewi menurunkan tangan kesal, berpaling pada si bungsu yang melangkah memasuki rumah.


"Kenapa Ibu mau menampar Bibi? Kesalahan apa yang telah Bibi perbuat?" tanya Dareen menatap tak suka pada ibunya.


Ia merangkul pundak Bibi, menenangkan wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil itu.


"Dia berani membantah Ibu. Menimpali ucapan Ibu membuat alasan yang tidak masuk akal," sahut Dewi sembari mendengus kesal.


Ia berpaling dari Dareen, kesal karena emosinya tak dapat ditumpahkan.


"Alasan? Alasan apa?" Dareen mengkerutkan dahi bingung.


"Apa? Tanyakan saja padanya. Dapur seperti medan perang, berantakan. Peralatan berserak belum dirapikan, tapi dia asik di kamarmu bersama si Buta itu!" jawab Ibu dengan nada tinggi melengking.


"Dia istriku, Bu, dan dia punya nama. Jika Ibu tidak ingin menganggapnya sebagai menantu, setidaknya jangan panggil dia dengan panggilan yang buruk!" Dareen meradang, tapi tidak meninggikan suaranya.


"Lalu, apa aku harus memanggilnya tuan putri? Begitu?" Dewi tidak menurunkan emosinya sama sekali. Juga tidak menutupi kebenciannya kepada Daisha.


Dareen mengepalkan tangannya menahan gejolak emosi yang meletup-letup. Rasanya amarah yang dia pendam selama ini telah mencapai puncaknya dan bisa meledak kapan saja.


Ia menghela napas, menghembuskannya dengan pelan. Mengurai segala emosi yang hampir saja menguasai hati dan jiwanya.


"Hah, sudahlah. Percuma berbicara dengan Ibu." Dareen menoleh pada Bibi, wanita itu masih menunduk tak berani mengangkat wajahnya.


"Katakan ada apa, Bi? Kenapa Ibu bisa sampai marah? Dan kenapa Bibi sampai meninggalkan pekerjaan?" tanya Dareen dengan lembut dan hati-hati.


Bibi semakin bergetar, kedua mata Dewi melotot lebar hampir-hampir melompat keluar. Dareen mengerti apa yang sedang dirasakan pengasuhnya itu. Ia mengusap pelan bahu Bibi menenangkan.


"Katakan saja, Bi. Jangan takut. Apa ini berkaitan dengan Daisha?" tanya Dareen lagi.


"Ta-tadi, nyo-nya muda terpeleset. Kakinya tergores dan lebam, saya meninggalkan pekerjaan karena membantu nyonya muda untuk beristirahat di kamarnya. Saya mohon ampun, Nyonya!" ucap Bibi sambil memohon.


Dareen membeliak, rasa cemas seketika saja memenuhi relung hatinya. Ia mencoba menenangkan hati, memejamkan mata sambil menghela napas.


"Sudahlah, Bu. Biarkan Bibi kembali bekerja dan Ibu lakukan apa yang mau Ibu lakukan."


Dareen mengakhiri pertikaian mereka, ia meminta Bibi kembali pada pekerjaan dan menyuruh Dewi kembali ke kamarnya. Dengan langkah seribu, laki-laki itu berlari ke kamarnya.


Membuka pintu dengan cepat dan kasar hingga membentur dinding kamar, membuat Daisha yang baru saja berbaring hendak beristirahat tersentak kaget.


"Daisha!"


"Kakak! Ada apa? Terjadi sesuatu? Kenapa membuka pintu begitu keras?" tanya Daisha sembari beranjak duduk.


Dareen melihat sang istri dengan bibir yang gemetar, melirik kaki yang tertutupi selimut, ingin segera melihat luka yang dikatakan Bibi. Ia berlari, menyibak selimut dan melempar sembarang.


Dareen tertegun ketika melihat sendiri luka yang dimaksud Bibi. Ia melirik nakas, di sana terdapat sebuah wajah juga handuk basah berikut kotak obatnya. Pastilah Bibi yang melakukannya.


Laki-laki itu duduk di dekat kaki sang istri, Daisha diam menunggu apa yang akan dilakukan suaminya.


"Apakah sakit?" tanya Dareen sembari mengusap pelan lebam yang membiru di kaki istrinya itu.


Daisha menggeleng dengan bibir tetap tersenyum.


"Sudah tidak sakit lagi. Bibi sudah mengompresnya," katanya sambil memegang tangan Dareen yang mengusap-usap kakinya.


"I-ini ...."


Dareen berhenti pada luka yang ditutup plester.


"Tidak apa-apa, hanya luka gores. Bibi sudah mengobatinya. Tenanglah, aku tidak selemah itu. Ini hanya luka kecil tidak akan membuatku menangis," ucap Daisha sambil menarik lembut tangan suaminya.


Dareen mengangkat wajah, menatap sang istri yang terlihat baik-baik saja. Ia tidak terlihat kesakitan, bibirnya yang manis tetap tersenyum menenangkan hati Dareen.


"Apa kau ke halaman belakang? Jangan pergi ke tempat di mana aku belum membawamu," pinta Dareen sambil menangkup wajah Daisha dengan lembut.


Ia mengecup dahi sang istri seraya memeluknya dengan hangat.


"Aku hanya ingin tahu saja, tapi tak sengaja menginjak lantai yang basah dan terpeleset," jawab Daisha berbohong.


Dareen mengangguk, mengerti akan istrinya. Daisha melepas pelukan, sedikit heran kenapa Dareen kembali ke rumah.


"Kenapa Kakak pulang? Adakah yang tertinggal?" tanya Daisha.


"Tidak ada. Aku hanya merasa tak enak hati dan sangat ingin pulang untuk melihatmu. Ternyata, memang terjadi sesuatu terhadapmu. Aku akan di rumah hari ini menemanimu saja," jawab Dareen seraya menarik kepala Daisha ke dalam dekapan.


Hari itu, tak ada yang mereka lakukan selain memuaskan diri di dalam kamar.