
"Nyonya!"
Seseorang berlari memasuki ruangan di mana Areta berada, wanita yang sedang memeriksa laporan sebuah perusahaan itu mengangkat pandangan dan seketika mengerti apa yang telah terjadi.
"Buang saja ke dalam hutan di mana para binatang buas membutuhkan makanan," titahnya tanpa beranjak sedikit pun.
"Baik, Nyonya!" katanya, seraya berbalik dan kembali ke ruangan di mana Cakra berada.
Laki-laki itu telah menjadi mayat, dan Areta sudah tidak menginginkannya lagi. Mereka membuka rantai yang membelenggu tangan dan kakinya. Masih dengan tubuh yang berlumur darah, orang-orang Areta itu membawa jasad Cakra ke bagian belakang villa di mana hutan terdalam berada di sana.
Dibukanya gerbang tersebut, dan dilempar begitu saja ke atas tumpukan mayat lainnya yang sudah membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap yang menyengat. Tanpa menunggu lagi, gerbang itu kembali ditutup agar bau busuk tak menyebar ke dalam wilayah villa.
Areta menyudahi memeriksa dokumen, satu misi lagi yang belum selesai. Mencari pembunuh kedua orang tua Daisha.
"Hanya tinggal satu lagi, tujuanku akan selesai. Bagaimana caraku menemukan pembunuh itu? Hanya Daisha yang jika melihat orang tersebut, dia akan mengenalinya," gumamnya sembari menopang dagu di atas tangan.
Berpikir bagaimana cara memancing pembunuh itu agar keluar dari sarangnya. Berselang, senyumnya berkembang saat sebuah ide muncul. Dia akan membicarakannya dengan Daisha, tapi mengingat resiko yang akan dialami sangatlah besar, Areta menjadi ragu.
"Daisha masih terluka. Aku tidak ingin dia menjadi korban, cukup sudah penderitaan yang dia lalui selama ini. Cukup!" Areta menggelengkan kepala. Menolak idenya sendiri.
Ia membanting diri pada sandaran kursi, menghela napas panjang mengurangi beban pikiran yang bergelayut di kepala. Mencari solusi lain yang tidak membawa Daisha ke dalam misinya. Namun, semua ide yang muncul selalu berkaitan dengan keponakannya itu.
Hal tersebut seolah-olah ada ikatan yang erat antara pembunuh dan keponakannya itu. Tak dihubungkan, tapi tetap terhubung.
****
Sementara di rumah sederhana Daisha, Dareen mengalami dendam dan menderita sakit lambung akibat kebodohannya. Akan tetapi, dia tidak ingin mengikuti saran dokter untuk pergi ke rumah sakit. Dareen hanya menjalani perawatan di rumah oleh istrinya sendiri.
Daisha mengecek suhu tubuhnya untuk ke sekian kali, mengganti kompresan yang mulai dingin, memijat kedua kaki dan tangannya, sampai laki-laki itu tertidur dan dirinya pun ikut tertidur pula.
Hari berganti, malam bertukar dengan siang. Cahaya matahari menyilaukan, mengusik kelopak mata dua insan yang tertidur saling berpelukan. Dareen membuka mata, ia tersenyum melihat sang istri berada dalam dekapan.
Merasa sudah lebih baik, tapi tak ingin beranjak. Sosok Daisha yang ia kira mimpi, nyatanya memang ada di depan mata. Betapa bahagia Dareen, dan berjanji dalam hati tak akan pernah melakukan kebodohan lagi.
****
Di rumah sakit, Dewi yang akan kembali ke rumah mengunjungi ruangan di mana Aleena dirawat. Wanita itu tampak kurus sama seperti dirinya, wajah-wajah orang dalam ruangan tersebut tampak sayu dan tak bersemangat.
Dewi melangkah mendekati ranjang Aleena, wanita itu masih terbaring lemah tak berdaya setelah kehilangan bayinya.
"Bagaimana keadaannya? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Dewi pada ibu Aleena yang hanya diam mematung.
"Semua ini terjadi karena istrinya Dareen. Siapa lagi yang harus bertanggungjawab atas semua yang telah terjadi selain dia. Bukankah Dareen juga pergi darimu? Meninggalkan dirimu demi wanita itu?"
"Lagipula, apa anakmu itu memang membunuh pamannya? Di mana dia sekarang tak satupun ada yang tahu. Kudengar, Bardy juga memerintahkan orang-orang untuk mencari Cakra, tapi sampai detik ini mereka belum juga kembali."
Ibu Aleena menghela napas, berat dan panjang. Ia menjatuhkan pandangan pada anaknya yang masih tak berdaya. Seharusnya mereka kembali saat ini ke rumah, sama seperti Dewi. Namun, melihat kondisi Aleena yang masih belum bisa menerima kenyataan, mereka memutuskan untuk menetap di rumah sakit sampai keadaan wanita itu membaik.
"Kau benar, Bardy sudah melakukan banyak hal untuk dapat menemukan Cakra, tapi sampai saat ini tak ada kabar tentang keberadaan anakku itu." Dewi menatap sendu.
Menunjukkan pada ibu Aleena itu bahwa bukan hanya dia yang bersedih dengan keadaan yang sekarang. Dewi pun amat terpukul, terlebih jika memikirkan tentang Bardy. Suami yang tak ia lihat sejak membuka kelopak mata.
"Kau kenal siapa Helen?"
Dewi mengalihkan pandangan dari Aleena pada ibunya.
"Yah, ada apa? Dia dibawa teman kita untuk bergabung, tapi aku tidak tahu dari mana dia berasal sampai aku mendengar bahwa dia adalah istri dari mafia itu," jelas Dewi diakhiri dengan helaan napas.
"Tidak akan mudah tentunya untuk kita menuntut balas atas apa yang sudah dia lakukan. Kita butuh dukungan dari orang-orang yang mampu melawannya. Bukankah kursi itu masih kosong, kita bisa meminta bantuan kepada mereka dan menempatkan suamimu sebagai pemilik saham terbesar di sana untuk menempati kursi itu. Dengan begitu, akan ada banyak dukungan untuk kita membalas dendam."
Dewi membelalak mendengar ide dari ibu Aleena itu, memang sedikit mustahil, tapi patut dicoba. Apa salahnya berbicara kepada Bardy tentang ini. Cakra adalah anaknya, dia sudah pasti akan melakukan apa saja untuk membebaskannya dari cengkeraman Areta.
"Aku akan membicarakan ini kepada suamiku, terima kasih atas sarannya. Aku titip Aleena, sebaiknya jangan berlama-lama di rumah sakit. Itu akan semakin membuatnya trauma," ucap Dewi sambil mengusap dahi sang menantu.
Helaan napas besannya itu membuat Dewi mengalihkan pandangan padanya. Ia terlihat murung dan bingung.
"Ada apa?" tanya Dewi penasaran.
"Tidak ada. Sebaiknya dilakukan dengan cepat. Lebih cepat lebih baik, bukan?"
Dewi mengangguk atas ucapan ibu Aleena itu. Ia beranjak meninggalkan ruangan sang menantu bersama Bibi yang menunggu di luar.
"Mmm ... Dewi, tunggu!"
Panggilan dari ibu Aleena menghentikan langkah Dewi yang hendak mencapai pintu. Tangan itu pun belum sampai pada pegangan, mengudara sejenak sebelum berbaik ke arah ranjang Aleena lagi.
"Apa kau sudah melihat Bardy?"
Dewi menggelengkan kepala seraya memberitahu, "Sejak aku membuka mata, aku belum melihatnya lagi. Katanya dia sibuk dengan bisnisnya sehingga tak ada waktu untuk menemaniku di rumah sakit," sahut Dewi mencoba untuk tegar dan percaya pada suaminya itu.
"Berhati-hatilah, aku menaruh curiga padanya. Aku sempat melihat dia bersama seorang wanita keluar dari ruanganmu. Aku tidak tahu siapa persisnya, tapi mereka terlihat mesra," ingat sang besan membuat Dewi tertegun beberapa saat.
Ia mengangguk dan kembali berbalik meninggalkan ruangan sekaligus rumah sakit yang membuatnya merasa muak.
Ada lagi? Apa isu perselingkuhan suamiku itu memanglah benar? Kenapa semua mengatakan seperti itu? Sepertinya aku harus menyelidiki isu ini.