
"Sudah kuduga kedatanganmu hanya akan mengacau. Kenapa kau tidak pergi saja, kembali ke rumahmu sendiri!" bentak Dewi penuh emosi.
Beberapa saat lalu dia baru tersadar dari pingsannya dan langsung mendatangai area pesta. Sungguh tak menduga Daisha membuat kekacauan. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran Dewi.
Daisha bergeming, para gadis itu menatap ragu pada makanan di tangan mereka. Namun, sebagian yang lain justru menatap aneh pada kekasih Dareen itu.
Dewi melangkah pelan, dari raut di wajahnya semua orang tahu wanita paruh baya itu tenaga diliputi amarah.
"Apa yang Ibu katakan itu tidak benar. Daisha tidak membuat kekacauan, dia hanya ingin memastikan makanan di sini aman. Itu saja, Bu," sergah Dareen tidak terima dengan ucapan sang ibu.
Dewi menatap nyalang putra yang sudah tak ia kenali itu. Dareen telah berubah, menjadi pembangkang semenjak mengenal Daisha.
"Tidak katamu? Lalu, untuk apa dia melarang orang-orang memakan ini semua? Ibu memesan semua makanan ini dari restoran yang terjamin kualitas dan keamanannya. Jadi, tidak mungkin makanan di sini akan meracuni semua orang. Mereka bahkan sudah memakannya tadi," kilah Dewi semakin berapi-api.
Ucapannya dibenarkan oleh sebagian orang yang sudah mencicipi hidangan dan mereka baik-baik saja sampai detik itu. Mungkin Dewi benar, Daisha hanya mengada-ada dan ingin mengacaukan acara pesta itu. Kedatangannya saja sudah membuat kacau rencana Dewi.
Dareen menjadi ragu, menatap sang kekasih yang masih bergeming tak bereaksi. Beberapa orang kembali mengambil makanan dan hendak memakannya.
"Tunggu! Kumohon jangan makan makanan ini! Kalian harus memastikannya dulu untuk menghindari hal buruk. Jangan dimakan!" sergah Daisha yang terlihat panik.
Tangan gadis itu terangkat dan sedikit bergetar. Gestur tubuhnya bahkan terlihat gelisah, bergerak tak mau diam. Dia serius, tidak main-main.
Mereka menghentikan gerakan tangan di udara, urung menyuapkan makanan ke mulut. Menatap Dewi meminta penjelasan tentang keamanan semua makanan.
"Dasar tidak tahu diri, kau akan melihatnya sendiri bahwa makanan di sini aman," ucap Dewi seraya mengambil sepotong kue yang berada di dekatnya.
Daisha mendekat sambil meraba udara, dan berhasil memegang tangan Dewi mencegahnya untuk memakan kue tersebut.
"Jangan, Nyonya. Kumohon, percaya padaku. Makanan di sini sudah tidak aman untuk dikonsumsi. Tolong, percaya padaku. Jangan makan makanan ini," pinta Daisha memohon dengan mata yang tergenang air.
Dareen mendekat, bingung harus percaya pada siapa. Pada Ibu ataukah Daisha?
"Lepaskan tanganmu! Aku hanya ingin membuktikan kepadamu juga semua orang bahwa makanan di sini aman," ujar Dewi keukeuh.
Daisha menggeleng, ia mencari keberadaan Dareen untuk memintanya mencegah Dewi memakan kue di tangannya.
"Kak, kumohon. Jangan biarkan ibumu memakan makanan di sini. Firasatku mengatakan makanannya sudah dicampur dengan racun beberapa saat lalu. Percaya padaku, Kak. Kumohon!" pinta Daisha pada Dareen.
Pemuda itu terlihat bingung, ia menatap Dewi yang bersikeras untuk melepaskan tangannya dari cekalan Daisha. Mendengar keributan, beberapa orang datang berhambur untuk mengetahui perkara yang terjadi. Termasuk Laila dan Alfin. Musik pun tak lagi terdengar, terhenti karena kerumunan orang yang mencurigakan.
"Bu, tolong dengarkan Daisha untuk kali ini saja. Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada Ibu. Kumohon, Bu. Setidaknya kita bisa memastikannya dulu," pinta Dareen sambil memegang tangan Ibu mengurai cekalan Daisha sekaligus meletakkan kue di tangannya.
"Kau percaya sekali padanya!" cibir Ibu.
"Bu, beberapa bulan ini Daisha merawatku, dan selama itu pula aku telah menyaksikan beberapa kejadian. Firasat Daisha tidak pernah salah, Bu," sahut Dareen dengan pasti.
Dewi mendengus, tapi juga menurut. Ia bersedekap dada kesal, berpaling dari menatap Dareen. Orang-orang yang hadir juga meletakkan kue tersebut kembali di meja. Khawatir apa yang diucapkan Daisha memang benar adanya.
"Kakak, ada apa?" Laila mendekat dan memegang tangan sang kakak.
Kepanikan segera saja melanda Daisha.
"Laila, kau tidak memakan makanan di sini, bukan?" tanyanya dengan cepat.
Laila yang bingung menatap Dareen penuh tanya.
Daisha membelalak, menggeleng sedih. Air matanya bahkan jatuh, dia berbalik dan menangkup wajah Laila dengan tangan bergetar. Semua orang menatap ke arah mereka. Apa yang sebenarnya terjadi, mereka sendiri tidak tahu pasti.
"Apa kau memakannya? Katakan pada Kakak kau tidak memakannya, Laila!" pinta Daisha sambil menangis.
Laila gugup, dia memang memakannya sore tadi bersama Alfin.
"A-aku memakannya, Kak. Memangnya kenapa?" jawabnya semakin membuat tangis Daisha histeris.
Gadis itu memeluk Laila, erat sekali.
"Kapan, kapan kau memakannya?" tanyanya tak ingin mendengar.
"Sore tadi, Kak Alfin juga memakannya." Laila melirik Alfin yang sama bingungnya seperti dia.
"Ah, syukurlah. Syukurlah!"
Mendengar Daisha yang mengucap syukur semua orang mulai berpendapat di dalam hati mereka.
"Kau dengar! Adikmu bahkan memakannya, dan dia baik-baik saja sampai sekarang. Jadi, apa yang perlu ditakutkan? Jelas-jelas makanan ini aman," bentak Dewi.
Daisha melepas pelukan, kembali berpaling pada ibu Dareen itu sambil mengusap pipinya yang basah.
"Dengar, Nyonya. Sore tadi makanan ini masih baik-baik saja, beberapa saat yang lalu aku merasakan kehadiran penyusup di antara para tamu. Aku curiga, dia menaruh racun ke dalam makanan atau minuman karena aku mencium bau aneh di sini. Kalian memang tidak bisa menciumnya, tapi aku bisa. Aku memang buta tidak dapat melihat, tapi aku bisa merasakan adanya bahaya di sekitarku. Percaya padaku, Nyonya. Makanan ini sekarang sudah tidak aman," jelas Daisha yang dibenarkan sebagian orang.
Dareen membelalak, teringat pada sosok berjaket hoodie yang dia lihat beberapa saat lalu. Mungkinkah itu dia? Penyusup yang dimaksud Daisha. Dareen menatap kekasihnya, meneguk ludah sendiri dengan susah payah. Betapa Daisha luar biasa, sangat berbeda dengan gadis lainnya. Dia memiliki satu kekurangan, tapi tertutup dengan sejuta kelebihan.
"Apa kau yakin?" Dareen bertanya padanya.
Daisha mengangguk.
"Dari mana kau tahu?"
"Mendiang pamanku mengajariku banyak hal. Termasuk mengenal jenis racun dan baunya. Racun yang ditabur di sini mengandung arsenik dan itu zat yang sangat berbahaya bisa menyebabkan kematian pada orang yang terkena racunnya," jawab Daisha.
Dareen dan sebagian orang yang mengetahui zat berbahaya itu, membelalak sempurna. Para wanita menutup mulut mereka yang menganga lebar. Tak percaya ada orang yang setega itu.
Dewi menurunkan kedua tangannya, menatap ngeri makanan yang terhampar di meja panjang itu. Pesta yang seharusnya meriah, berubah jadi mencekam dan mengerikan.
"Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul di sini?" tegur Bardy yang terlambat mengetahui.
Ia menatap bingung semua orang yang mematung, wajah mereka terlihat cemas bahkan sebagian ada yang terlihat ketakutan.
"Ayah, makanan di sini telah diracuni," sahut Dareen sukses membuat Bardy terkesima.
"Jangan bercanda, siapa yang-"
"Tolong! Siapa saja tolong! Tolong anakku!"
Suara teriakan seorang wanita menyita perhatian semua orang. Mereka berhambur mendekati sumber suara itu, dan melihat kejadian tak terduga.
Seorang anak terkapar di lantai, tubuhnya kejang dan membiru.
"Ambulans!"