
Diam-diam Dewi tersenyum sinis, dia tidak benar-benar tulus meminta maaf pada Daisha. Hanya dengan maksud dan tujuan tertentu sajalah dia berbaikan dengan menantunya itu.
"Beruntung wanita bodoh itu mau memaafkan aku. Jika tidak, aku akan terus dihantui rasa takut karena tinggal bersamanya. Sekarang, hanya tinggal bagaimana aku menguasai Dareen, agar dia tidak terus menempel pada wanita itu."
Dewi bermonolog sembari berdiri di pinggir jalan menunggu taksi yang akan menjemputnya. Diam-diam tanpa ia sadari dan tanpa disengaja Laila ada di sana, melihat dan mendengar dengan jelas apa yang diucapkan ibu mertua Daisha itu.
Oh, ternyata kau hanya berpura-pura saja, Nenek sihir. Awas kau! Jika tahu siapa Kakak yang sebenarnya, kau akan langsung menggigil panas dingin.
Laila mengumpat kesal, tangannya mencengkeram dahan pohon yang dijadikan tempatnya bersembunyi. Gerahamnya saling beradu, rahang ikut mengeras karena sikap arogan Dewi. Berhadapan dengan wanita itu, membuatnya darah tinggi di usia muda.
Dewi pergi bersama taksi yang menjemputnya, Laila bergegas keluar dan berlari masuk ke dalam rumah. Daisha yang ia cari, ingin melaporkan apa yang baru saja didengarnya.
"Kakak!" panggilnya dengan suara nyaring.
"Kakak di mana?" teriaknya lagi lebih kencang.
Tak ada sahutan, ia mendekat ke pintu kamar Daisha, dan mendengar suara gemericik air dari dalam sana. Laila menuju dapur mencari sarapan.
Beberapa saat kemudian, Daisha telah selesai bersiap. Ia keluar dengan mengenakan setelan blazer berwarna hitam, dipadu dengan kemeja putih. High heels yang tak pernah ia kenakan menghiasi kaki jenjangnya, rambut yang bergelombang dibiarkan tergerai rapi.
"Laila! Kudengar kau datang?" tanya Daisha sembari melangkah menuju dapur untuk menemui adiknya.
Laila yang hendak menyuapkan nasi ke mulut, terhenti ketika melihat sang kakak yang tampak berbeda dari biasanya. Sekalipun Laila belum pernah melihat Daisha dengan dandanan seperti saat ini.
"Wah, Kakak sangat berbeda. Aku hampir tidak mengenali Kakak. Bagaimana dengan kak Dareen nanti, dia pasti akan terkesima melihat istrinya yang tampil berbeda," seru Laila menatap takjub kakaknya itu.
"Benarkah? Bagaimana? Cantik tidak?" ucap Daisha sembari memainkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
"Hhmm ... cantik sekali, tapi Kakak harus ingat. Kakak Sedang hamil muda, dan ibu hamil tidak diperbolehkan memakai sepatu tinggi seperti itu terlalu lama," ingat Laila seperti orang tua yang sedang menasihati anaknya.
Daisha mengangkat alis, tampak bingung dengan pernyataan Laila.
"Kakak tahu, Kakak hanya mengenakan ini ke perkumpulan saja. Selebihnya, Kakak tidak ingin mengenakannya," ucap Daisha sembari mencubit kedua pipi adiknya itu.
Daisha terkekeh melihat kulit pipi remaja itu yang memerah. Laila bersungut-sungut sambil mengikuti Daisha meninggalkan dapur. Teringat pada niatnya untuk melaporkan Dewi, buru-buru ia mengejar langkah Daisha.
"Kakak! Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Kakak," ucapnya saat mereka tiba di ruang depan. Duduk sebentar menunggu Areta menjemput.
"Apa? Apa ini tentang sekolahmu?" selidiknya melirik Laila cemas.
"Bukan. Ini tentang mertua Kakak. Apa dia meminta maaf tadi pada Kakak?" Laila bertanya dengan suara setengah berbisik seolah-olah itu adalah sebuah rahasia besar yang tak boleh diketahui orang lain.
"Iya, ada apa?" Daisha bertanya.
"Kakak percaya?"
Daisha mengernyit mendengar pertanyaan lanjutan dari Laila.
"Sebaiknya jangan. Aku sarankan kepada Kakak jangan pernah mempercayainya. Barusan saja aku dengar dia mengatakan hanya ingin hidup tenang di sini, dan setelahnya dia akan memisahkan Kakak dan kak Dareen. Aku tidak berbohong, telingaku sendiri yang mendengarnya," papar Laila sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan.
Daisha tertegun, hampir saja dia terbuai oleh akting sang mertua. Tangannya mengepal dengan erat, kedua rahangnya bahkan mengeras seiring geraham saling beradu satu sama lain.
"Kau tenang saja, Kakak tidak akan tertipu lagi ... ngomong-ngomong kau tidak pergi ke sekolah? Bolos?" selidik Daisha saat memperhatikan Laila dengan seragam melekat di tubuh juga tas yang menyampir di bahu.
"Bukannya bolos, Kak. Aku tidak suka kelas menari, tapi guru mewajibkan semua murid untuk mengikutinya. Aku tidak bisa menari, Kakak," rengeknya dengan wajah memelas pada Daisha.
Istri Dareen itu menghela napas, menggelengkan kepala sambil berlalu.
"Ya sudah, kau istirahat saja di rumah. Kakak mau berangkat, mobil Bibi sudah di depan," katanya yang diangguki Laila.
Remaja itu merebahkan diri di sofa, bersantai sambil menonton televisi menikmati waktu liburnya.
Daisha tidak dijemput Areta, seorang supir suruhan bibinya itu yang datang dan mengantarnya ke gedung Yeworks Company. Di lobi gedung semua orang telah berkumpul, termasuk Dewi dan Aleena yang sedang berbincang. Sepertinya hubungan mereka kembali menghangat dan baik-baik saja.
Di sana ada pula orang tau Aleena, para pemilik perusahaan ke semuanya berkumpul di tempat itu. Kecuali Bardy dan Dareen yang tak terlihat di perkumpulan tersebut.
Suami Daisha segera menuju ke gedung aula yang dijadikan tempat berkumpul. Di sana ada pula beberapa pemilik perusahaan yang sudah menempati kursi mereka. Langkah Dareen terhenti ketika matanya beradu dengan milik Bardy. Di samping laki-laki itu duduk sekretarisnya yang tak lain adalah wanita yang dilihat Dareen di kamar sang ibu.
Dasar tidak tahu malu, beraninya datang bersamaan.
Ia menggeram, kedua tangannya mengepal, tapi kemudian terurai kembali.
"Selamat datang Tuan Muda Dewantara, kukira Anda tidak akan datang karena sudah ada Tuan Bardy di sini. Mari, silahkan duduk!" sambut seseorang yang mengatur jalannya acara tersebut.
Dareen mengangguk seraya melangkah mendekati kursi. Kedua mata elang itu tak lepas dari sang ayah yang terlihat gugup dan memalingkan wajah darinya. Bardy lebih memilih berbincang dengan rekannya daripada menatap Dareen.
"Kau ada masalah?" bisik Alfin ketika melihat sikap Dareen yang tak biasa terhadap ayahnya.
"Aku tidak akan membiarkan laki-laki tua itu menduduki kursi Presdir. Dia sudah menyakiti ibuku, mereka berdua harus hidup menderita," geram Dareen. Suaranya menguar dari sela-sela gigi yang merapat.
Pandangan matanya membuat wanita di samping Bardy tak dapat berkutik, ia terus menunduk serba salah. Melakukan apa saja untuk membuat kegelisahan dalam hatinya mereda. Sayang, Dareen seperti sebuah ancaman yang mematikan untuknya.
Ruangan dengan beberapa AC super canggih yang terpasang, terasa panas untuk kedua orang itu. Kobaran kebencian menjilat-jilat di kedua manik Dareen, jelas sekali ia tidak menyembunyikannya dari semua orang.
****
Di lobi, suasana asik bergosip ria, tiba-tiba berubah hening tatkala mobil Daisha tiba di sana. Semua mata tertuju pada halaman gedung di mana seorang wanita yang tak biasa keluar dengan elegan.
Siapa yang menduga, jika dia adalah menantu keluarga Dewantara yang kerap direndahkan. Daisha melangkah dengan dagu terangkat, ia tak lagi harus menunduk di hadapan semua orang. Gedung itu miliknya, dan dialah yang akan menduduki kursi tertinggi di dalam sana.
"Eh, bukankah itu menantu Anda, Nyonya Dewi?" tegur salah satu rekan Dewi sembari menunjuk Daisha yang sedang berjalan di depan gedung.
"Benar, dia memang Daisha. Untuk apa dia di sini? Apa dia ingin membuat keluarga kita malu?" timpal Aleena sengit.
Dewi menatap sang menantu dengan rahangnya yang mengeras, ia menunduk tak ingin melihat. Kehadiran Daisha di gedung tersebut hanya akan membuatnya malu saja. Dia hanya gadis desa yang tak tahu apa-apa di dalam perkumpulan mereka.
Tak tahan dengan suara orang-orang yang membicarakan Daisha, Aleena melangkah cepat mendatangi sosok istri Dareen itu.
"Berhenti! Untuk apa kau di sini? Di sini bukan tempatmu, Daisha. Sebaiknya kau pulang saja dan diam di rumah. Jangan membuat keluarga suami kita malu karenamu," usir Aleena secara terang-terangan di depan semua orang.
Daisha diam tidak menyahut, ia melanjutkan langkah, tapi tangan Aleena menahannya.
****
Maafkan author kakak-kakak semuanya, karena Minggu ini disibukkan dengan ujian PAS anak-anak jadi agak kacau updatenya. Maaf sekali lagi.