Mohabbat

Mohabbat
Cinta



Mobil Daisha memasuki area villa, kemarahan yang telah bergejolak seketika saja memuncak dan meluap-luap. Sebuah mobil yang asing terparkir tak jauh dari halaman depan villa. Benda itu ditabraknya tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri. Daisha keluar, dia tahu di mana pemilik mobil itu berada.


Tangannya sigap menyambar sebuah balok kayu, dan menyeretnya penuh emosi. Suara seseorang yang mencangkul tanah basah tertangkap indera telinganya. Gemericik air yang turun tak dihiraukan, piyama yang membalut tubuhnya telah basah oleh terpaan air dari langit.


Semua itu dia tidak peduli, keinginannya adalah segera menemukan pemilik mobil yang sudah pasti dia.


"Bedebah!" gumamnya saat melihat seorang laki-laki sedang menggali makam sang ayah.


Daisha berjalan cepat dan tanpa suara, balok di tangan diangkatnya bersiap untuk dia pukulkan pada kepala laki-laki itu.


"Mati kau!"


Bugh!


Balok kayu diayunkan tepat mengenai tengkuknya, dia jatuh tersungkur dan sekop di tangan terlempar ke lain arah. Begitu kuat pukulan Daisha hingga darah merembes dari bagian belakang kepala laki-laki itu.


"Sial! Kau datang juga," katanya kewalahan.


Ia beranjak dari tanah, berdiri meskipun tak seimbang. Tertawa melihat Daisha yang berdiri berseberangan dengannya.


"Kau masih tidak puas setelah membunuh orang tuaku? Apa yang kau inginkan dengan menggali kuburan mereka? Kau memang kejam!" bentak Daisha.


Emosi yang menguasai jiwa membuat suaranya tertekan di tenggorokan.


Laki-laki itu masih saja tertawa, terbahak-bahak mendengar umpatan Daisha.


"Mati saja tidak cukup! Dia harus musnah dari muka bumi ini, aku tidak rela tubuhnya masih utuh. Aku ingin tubuh itu hancur tak berbekas. Hancur!"


Dia kembali tertawa, kedua tangannya terbuka lebar membiarkan air hujan menimpa tubuhnya. Wajah menengadah menantang langit, tak peduli petir terus menyambar dengan dahsyat.


Air mata Daisha luruh bercampur dengan air hujan. Dia melangkah pelan dengan menggenggam erat balok kayu di tangan.


"Kau nikmati semua yang ayahku miliki. Ayah membangunkanmu usaha, ayah meminjamkan modal untukmu, semua yang ayah miliki kau gunakan dengan bebas, bahkan ayah tak segan mengangkat derajatmu menjadi kasta terhormat. Lalu, apa yang kau berikan untuk membalas semua yang ayahku lakukan? Kematian, pengkhianatan, rasa sakit juga kecewa. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri tanpa peduli pada mereka yang sudah berkorban banyak untukmu."


Jarak di antara mereka semakin terkikis, dan jarak pandang terbatas karena kegelapan malam juga terpaan air hujan yang kian deras. Daisha berdiri di hadapannya, tapi lelaki itu tak dapat melihat dengan jelas. Selain karena keadaan juga karena ia merasakan pening di kepala akibat hantaman Daisha sebelumnya.


Bugh!


Pukulan kedua mendarat tepat di ceruk leher laki-laki tadi. Dia jatuh terkapar, penglihatannya semakin berkurang, rasa nyeri di bagian leher teramat menyiksa.


Dia merintih, meringis, mengeluh, tapi Daisha tidak peduli. Istri Dareen itu mentulikan telinga tak ingin mendengar jerit kesakitannya.


"Kemari kau!"


Daisha memegang sebelah kaki laki-laki itu, menyeretnya dengan kasar dan tanpa belas kasihan.


"A-ampuni aku ... maafkan aku ... a-aku me-menyesal. To-tolong, maafkan aku!" mohon laki-laki tadi dengan suara terbata dan napas tersengal-sengal.


Namun, wanita itu tak mau mendengar permohonannya. Terus menyeret tubuh itu dan melemparnya ke dalam lubang kubur Damian yang sudah tergali setengahnya. Dia terjengkang, dan sebagian tubuhnya terkubur lumpur bercampur air hujan.


Dia beranjak duduk, menangkupkan kedua tangan seraya memohon, "To-tolong maafkan aku, Nak. Bukankah kita ini keluarga. Sebagai keluarga, kita harus saling memaafkan satu sama lain. Tolong, Daisha, maafkan aku."


Dia hampir berdiri jika saja Daisha tidak menendangnya.


"Kau akan membusuk di sana bersama mayat ayahku, Bardy. Dia pasti senang melihatmu mati di dalam kuburnya," sengit Daisha semakin erat menggenggam balok kayu.


Bardy merayap dan kembali hendak berdiri, tapi Daisha mengayunkan balok itu tepat di kepalanya.


"Kau bunuh ayahku!"


Bugh!


Bardy terpental ke samping.


"Kau bunuh Ibuku!"


Daisha kembali memukul kepalanya hingga ia terjengkang dan menabrak dinding makam bagian belakang. Wanita itu melompat turun dan berhadapan langsung dengan Bardy, ayah mertuanya.


"Kau bahkan membunuh adikku yang belum sempat aku lihat. Kau bajingan!"


Pukulan demi pukulan diterima Bardy tanpa jeda.


"Aku mertuaku, Daisha." Terbata dia mengatakan itu.


"Aku tidak peduli."


"Kau pembunuh!"


"Kau harus mati!"


Daisha terus menerus memukuli Bardy hingga tubuhnya lunglai tak berdaya.


****


Di rumahnya, Dareen disibukkan dengan ketiadaan Daisha. Secara kebetulan Dewi berkunjung di pagi buta karena ingin meminta maaf pada menantunya itu.


"Memangnya pergi ke mana istrimu itu?" tanya Dewi ikut panik mencari Daisha.


"Aku tidak tahu, Bu ...."


Dareen tertegun, mengingat permintaan Daisha semalam yang ingin diantar ke villa.


Dewi menyerahkan kunci mobilnya dan mereka segera pergi ke villa Daisha.


"Bukankah ini mobilmu?" tanya Dewi begitu mereka tiba di villa.


"Benar, sudah aku duga dia nekad pergi sendiri," jawab Dareen seraya membuka sabuk pengaman dan turun memastikan bahwa itu adalah miliknya.


Dewi ikut turun dengan menggunakan payung untuk melindungi diri dari hujan.


"Bukankah itu mobil milik ayahmu?" Dewi mendekati mobil yang ditabrak mobil Daisha.


"Benar."


Aku menemukan pembunuh ayahku.


Kedua mata Dareen membelalak, seketika mengerti kenapa mobil Bardy berada di sana.


"Pak Deni? Di mana laki-laki penjaga villa itu?" gumamnya seraya mengajak Dewi ke halaman belakang villa.


"Argh!"


Langkah mereka terhenti saat mendengar sebuah jeritan menggema di tengah hujan.


"Kau dengar? Itu seperti suara ayahmu," ujar Dewi sembari mempertajam telinga untuk mendengarkan suara jeritan tadi.


Tanpa menjawab, Dareen membawa Dewi ke belakang villa. Di sana, di dalam sebuah kubur, Daisha terlihat sedang memukuli seseorang.


"Pak Deni?" Dareen memekik bertemu dengan laki-laki terikat itu.


"Tolong, Pak. Nona bisa membunuhnya," pinta pak Deni dengan sangat.


"Kau harus mati!"


Serentak Dareen dan Dewi menoleh, keduanya menahan napas melihat balok kayu yang diangkat tinggi kemudian dibanting Daisha menghantam kepala Bardy.


"Tidak!"


"Daisha!"


Kedua bahu wanita itu naik dan turun dengan cepat sebelum tubuhnya termundur dan jatuh menabrak dinding makam. Daisha masih bergeming menatap Bardy yang terbujur kaku dengan darah menggenang di kubur sang ayah.


"Dia pantas mati! Dia harus mati!" racau Daisha dengan pandangan yang tak beralih dari sosok Bardy yang tak berupa.


Dewi berjalan cepat dan membelalak melihat jasad sang suami yang nyaris tak dapat dikenali.


"Kau membunuh suamiku? Kau ...."


Air mata Dewi jatuh dengan sendirinya, ia termundur beberapa langkah sambil menahan napas. Payung terlepas dari tangannya. Sementara itu, Dareen mendekat. Tak tega melihat jasad ayahnya, tapi lebih tak tega melihat Daisha yang meracau seorang diri persis seperti orang gila.


"Sayang. Berhenti! Mari, naik bersamaku," pinta Dareen seraya mengambil tubuh Daisha dari dalam kubur.


Dareen memeluk istrinya, menatap sang ayah penuh kebimbangan. Apa yang harus dia lakukan?


"Kau harus bertanggungjawab dan menyerahkan diri kepada polisi. Yah, kau harus ditangkap," teriak Dewi berapi-api.


"Lalu, kenapa kau tidak meminta suamimu untuk menyerahkan diri pada polisi? Yang dia lakukan lebih kejam daripada ini. Dia ... membantai satu keluarga. Seandainya waktu itu aku tidak disembunyikan Ibu, mungkin aku sudah bersama mereka." Daisha bergetar.


"Ayahku, ibuku, adikku yang masih dalam kandungan dibunuhnya tanpa belas kasih. Padahal, tanpa ayahku dia bukanlah siapa-siapa. Harta yang kau miliki sekarang, tak akan pernah ada tanpa turut campur tangan ayahku. Perusahaan kalian, semua itu dibangun ayahku sebagai hadiah persahabatan antara mereka, tapi suamimu itu tega membalasnya dengan pengkhianatan."


Dareen turut bergetar mendengar penuturan Daisha. Ia tak pernah tahu fakta tentang itu semua. Permasalahan yang terjadi nyatanya tak sesederhana yang ada dalam pikirannya.


"Aku menyaksikan sendiri bagaimana kejamnya laki-laki itu membunuh semua orang yang aku sayangi, termasuk paman."


Daisha menyandarkan kepala di dada suaminya, menangis tersedu menumpahkan kesedihan yang selama ini dia pendam seorang diri. Berpura-pura kuat demi menutupi kelemahan. Berpura-pura tegar, padahal rapuh.


Dewi pun tercengang mendengar kenyataan itu, Bardy sama sekali tak pernah menceritakan tentang itu. Jadi, dia menganggap ucapan Daisha hanyalah sebuah alasan untuknya dapat lolos dari tanggung jawab.


"Aku tidak percaya, kau harus tetap bertangungjawab pada pihak berwajib. Aku akan menelpon polisi," ucap Dewi seraya mengeluarkan ponsel dari tas.


"Jika Ibu menelpon pihak yang berwajib, maka Ibu akan melihatku di dalam penjara. Aku tidak akan membiarkan istriku mendekam di dalam sana. Tidak! Dia tidak akan pernah pergi, dan aku yang akan mengambil tanggung jawabnya. Daisha hanya membela diri, lagipula apa Ibu tidak melihat apa yang dilakukan laki-laki itu? Dia menggali makam kedua mertuaku, Bu. Ini tindak kejahatan yang tak bisa dimaafkan," tegas Dareen sembari mendekap Daisha erat melindunginya.


"A-apa maksudmu?" Terbata Dewi bertanya.


"Maksudnya, untuk akan menebus kesalahan yang ayah lakukan dulu. Aku yang akan menyerahkan diri pada polisi. Lagipula, Daisha tidak boleh pergi ke sana. Dia harus tetap berada di rumah merawat anak kami," tutur Dareen sembari mengusap perut Daisha.


Mata mereka bertemu, pancaran penuh cinta jelas terlihat di kedua mata laki-laki itu. Ia tersenyum, mengecup mesra dahi sang istri yang terciprat darah Bardy.


Di tempatnya, Dewi tertegun. Mendengar kata anak, itu artinya Daisha tengah mengandung dan dia akan memiliki cucu. Sambungan telpon dengan pihak berwajib dimatikannya, batal melaporkan Daisha setelah mendengar penuturan sang putra.


****


Tanpa menunggu besok pagi, Dareen dibantu Pak Deni menutup kembali makam yang digali Bardy. Keduanya juga meminta bantuan beberapa pihak untuk mengurus jenazah Bardy dan menguburnya di sana. Tak apa, biarlah mereka bertemu di sana dan menyelesaikan yang belum tuntas di sana pula.


Hari demi hari dilalui tanpa kendala berarti, Dewi yang perlahan menyadari semuanya meminta maaf kepada Daisha. Seiring berjalannya waktu, kehidupan pun berubah. Kebahagiaan menyambangi keduanya, cinta mereka yang dibangun dengan begitu kokoh, tak terpisahkan. Menyatu dalam rasa yang besar.


Hingga lahirnya putri sulung mereka, seorang bayi perempuan yang sehat dan cantik. Mereka menamainya, Teena Zahera.


\=TAMAT\=


Terima kasih kepada semuanya. Akhirnya finish juga.