
Keadaan malam yang sunyi, tanah yang becek akibat guyuran hujan, juga angin yang berhembus dingin menusuk hingga ke tulang sumsum. Dua kelompok manusia saling berhadapan dengan senjata di tangan masing-masing mereka. Mungkin hanya Daisha yang berpakaian biasa, kaos dan celana panjang juga sepatu yang menutupi kaki setelah sebelumnya hanya mengenakan sandal biasa.
Sambutan Areta disambut keheningan, baik malam maupun dari kelompok lawannya. Akan tetapi, ia tetap memasang senyum menawan, yang cukup membuat beberapa di antara mereka tergiur akan kemolekan tubuhnya. Paras yang cantik nan menggoda, tingkah gemulai juga anggun, tubuh seksi lagi indah, siapa sangka usianya sudah melewati kepala empat.
"Terima kasih sambutannya, Nona. Kami tersanjung," ucap sang pemimpin kelompok musuh turut tersenyum pula.
Areta terkekeh, semua orang memanggilnya dengan sebutan Nyonya, baru kali ini telinga mendengar panggilan Nona untuk wanita seusia Areta. Ia merasa geli sendiri, pun dengan Daisha yang tersenyum samar sambil melirik ke arah bibinya.
"Jadi, apa tujuan kalian datang ke tempatku ini? Tanpa diundang dengan resiko nyawa yang menjadi taruhannya." Areta melangkah, mengikis jarak dengan pemimpin musuh sambil berlenggok memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Kudengar kau membawa pemimpin kami. Kami ingin mengambilnya dari sini," jawab laki-laki itu sambil mengikuti langkah Areta dengan ekor matanya.
Areta berhenti, menatap dalam kedua manik hitam di depannya yang memancarkan tekad juga hasrat di waktu bersamaan.
"Oh ... aku hanya ingin bermain dengannya. Lagipula, dia sudah merenggut nyawa suamiku. Aku tidak berniat mengembalikannya pada siapapun, dia harus menebus semua kesalahannya di masa lalu," jawab Areta tanpa keragu-raguan ataupun rasa takut melihat banyaknya orang bersenjata di depan mata.
Laki-laki itu mengepalkan tangan, menggeram dalam hati. Ia menatap tajam pemilik wajah cantik itu, mengintimidasi sosoknya yang hanya terlihat seperti semut. Benar-benar meremehkan.
"Dengar, Nona. Aku tidak ingin menggores kulit wajahmu yang cantik itu, atau membuatnya memar. Begini saja, aku memiliki penawaran untukmu," ucap laki-laki itu memandang rendah pada Areta.
Areta memegangi pipinya, sekilas terlihat sendu, tapi kemudian tertawa kecil.
"Penawaran? Hmmm ... sepertinya menarik," sahut Areta sambil berpikir, "penawaran seperti apa yang ingin kau lakukan? Jika tidak ada keuntungan bagiku, maka aku tak akan menerimanya," sambung Areta sambil berkacak pinggang.
Pemimpin kelompok itu tersenyum, ia maju ke hadapan sehingga hanya menyisakan jarak beberapa jengkal saja dari Areta.
"Aku menantang salah satu dari kalian berduel denganku. Jika menang, maka kalian boleh melakukan apapun terhadap kelompokku, tapi jika kalah, bangunan ini berikut orang-orang yang ada di dalamnya akan menjadi milikku, termasuk dirimu yang harus menjadi istriku. Bagaimana?" tanya laki-laki itu sambil membentang kedua tangan.
Areta tidak terkejut sama sekali, terutama di bagian akan dijadikan istri. Sudah banyak laki-laki yang melamarnya selama ini, tapi tak satu pun dapat menggantikan posisi Alejandro di hatinya. Ia tersenyum sinis, tentu saja menerima tantangan itu.
"Baik, aku menerimanya. Aku sendiri yang akan melawanmu," sahut Areta dengan yakin.
Laki-laki itu tertawa terbahak, mendengar seorang wanita yang berlagak akan melawannya. Melihat itu, Daisha menggeram, juga pasukan Areta yang berbaris di belakang. Tidak terima pemimpin mereka direndahkan.
"Bibi!"
Daisha melangkah dan berdiri di sisi Areta, ia melepaskan senjata yang dibawanya tidak berniat menggunakan benda itu.
"Ada apa?" tanya Areta sembari memandang wajah keponakannya.
"Paman sudah melatihku dengan sangat keras selama ini, dia menjadikan aku kuat untuk melindungi diriku sendiri juga orang-orang yang aku sayangi. Biarkan aku yang melawannya, Bibi, agar usaha paman tidak sia-sia. Aku berjanji tidak akan membiarkan mereka merebut milik paman ini!" tekad Daisha tanpa ragu.
Areta mengangkat alis, memindai tubuh Daisha yang hanya dibalut pakaian biasa. Kepalan tangannya terlihat tak sabar, hembusan napasnya sedikit tertahan. Dada bergemuruh, luapan emosi terlihat menyembul di ubun-ubun.
Areta menganggukkan kepala, wanita di hadapannya memiliki dendam yang sama. Dendam atas kematian sang mafia.
"Baiklah, tapi berhati-hati padanya. Mereka yang menantang selalu melakukan kelicikan demi mendapat apa yang mereka inginkan. Jangan sampai lengah, mereka terlalu memandang kita rendah. Buktikan bahwa kekuatan kita jauh lebih besar dari yang mereka miliki," ucap Areta setelah menimbang beberapa saat keinginan Daisha.
Istri Dareen itu mengangguk pasti, akan selalu mendengar nasihat dari sang bibi untuk tidak lengah. Ia berbalik dan maju ke hadapan. Mereka menghentikan tawa, menatap remeh pada Daisha.
"Oh, jadi kau yang akan menjadi lawanku. Bukankah kau wanita buta itu? Jadi, sekarang kau merasa kuat karena telah melihat lagi? Baiklah, aku tidak akan segan terhadapmu, Nona," ucap laki-laki itu setelah melihat Daisha berdiri dengan posisi siap.
Menerka ke mana arah serangannya, mengira seberapa kuat serangan yang akan dilakukan laki-laki itu.
Sebuah tinju melayang tepat di wajah Daisha, wanita itu menyamping dan menangkap tangan lain yang hendak menyerang perutnya. Ia menunduk ketika tangan itu kembali menyerang sambil melakukan serangan balik meninju dada laki-laki itu.
Rasa panas membakar dalam dada, seolah-olah menghanguskan ulu hatinya. Laki-laki itu termundur sambil memegangi dada yang terasa nyeri. Belum menyerah, dia kembali berdiri tegak dan bersiap melakukan serangan lagi.
Areta tersenyum melihat kelincahan gerakan Daisha juga perhitungannya yang tepat. Ia merasa bangga terhadap keponakannya itu.
Laki-laki itu kembali menyerang, pergulatan sengit pun gak terelakkan lagi. Teknik yang diajarkan Alejandro memang berbeda, setiap serangannya tak terbaca dan menghindar dengan cepat. Tendangan Daisha melayang, menghantam ceruk leher dari pemimpin kelompok tersebut.
Ia terpukul mundur sambil memuntahkan cairan bening dari mulutnya.
"Tuan!" Mereka bereaksi.
"Jangan ada yang ikut campur! Dia yang menantang duel ini, cukup lihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang?!" sergah Areta melihat reaksi dari anggota laki-laki itu.
Tak ada yang bisa mereka lakukan, hanya menonton dengan gelisah dan cemas. Daisha kembali menyerang, ia tidak berniat mengampuni laki-laki itu sama seperti saat menyerang Cakra.
Lintasan cerita ketika pamannya dibunuh begitu saja membayang dalam ingatan memberinya kekuatan lebih. Daisha melayangkan pukulan mematikan tepat di bagian jantungnya. Laki-laki itu kembali ambruk di tanah, menyemburkan banyak darah dari mulut.
Dia langsung diam tak berkutik, mati di tangan Daisha. Areta sendiri tidak pernah menduganya, sedikit tertegun melihat kebrutalan sang keponakan. Akan tetapi, setelah mengingat Alejandro wanita itu mengerti mengapa Daisha melakukannya.
"Tuan!"
Mereka berteriak, kekalahan sudah di depan mata tak dapat mereka tolak. Wajah-wajah putus asa itu terangkat memandang geram pada Daisha yang masih berdiri dengan kedua tangan terkepal dan napas yang memburu.
Tiba-tiba.
Dor!
"Argh!"
Daisha termundur saat salah satu dari kelompok itu menembaknya. Ia jatuh, beruntung Areta sigap berlari dan menopang tubuhnya.
"Daisha!"
Ia meradang melihat wajah meringis sang keponakan yang kesakitan. Areta berpaling pada kelompok itu, matanya merah menyala.
"Jangan beri ampun mereka, berikan kesakitan yang luar biasa pada setiap kepala, terutama padanya yang berani melukai keponakanku!" titah Areta dengan wajah yang memerah marah.
Mendengar perintah itu, orang-orang yang berbaris di belakang tadi melempar senjata dan mengeluarkan bilah-bilah golok dari belakang tubuh mereka. Berjalan ke depan, menjadi tameng untuk kedua wanita itu. Sayatan demi sayatan akan memberikan rasa sakit yang perlahan dan pasti daripada biji mesiu yang ditembakkan.
Areta meninggalkan medan tempur membawa Daisha ke rumah sakit secepatnya. Perang senjata kembali terdengar, peluru yang mereka tembakkan tak dapat melukai satu pun dari orang-orang Areta.
Satu orang itu ditangkap dan diikat di tiang di samping Cakra. Sisanya, telah menjadi mayat dan dikumpulkan dengan yang lain.
"ARGH!"
Cakra membuka mata ketika sebuah jeritan mengusik telinga. Ia membelalak ngeri, melihat seseorang seperti sedang dikuliti hidup-hidup.