
Hari pertama tinggal di rumah sang menantu yang tak diinginkan terasa canggung bagi Dewi. Ia masih duduk di ranjangnya meskipun telah terbangun. Tempat tidur itu terasa nyaman walaupun tak sebesar kamar mandinya di rumahnya.
Kamar mandi di dalamnya bersih dan segar, sama sekali tidak bau. Diam-diam Daisha juga telah menyiapkan pakaian ganti beberapa helai untuknya. Di dalam sana juga ada meja rias yang mirip dengan meja belajar. Ia menatap cermin, memperhatikan dirinya yang terlihat lebih tua dari sebelumnya.
"Kenapa aku harus tinggal di sini bersamanya? Apa dia akan meracuniku? Atau memukuliku seperti dia memukuli Cakra? Apa yang akan dia lakukan? Apa yang sedang dia rencanakan? Oh, Tuhan. Lindungi hanba-Mu yang tak berdosa ini dari balas dendam menantuku," gumam Dewi sambil menengadah ke langit-langit kamar.
Di depan kamarnya, Daisha berdiri dengan tangan terangkat mengudara hendak mengetuk pintu. Ia urungkan niatnya memanggil Dewi ketika mendengar celotehan wanita di dalam sana. Daisha tersenyum menunggu beberapa saat.
Tok-tok-tok!
Pada akhirnya ia mengetuk sambil memanggil Dewi, "Nyonya, mari sarapan. Sebenarnya makan siang karena matahari telah naik hampir mencapai puncak. Kami menunggu di meja makan."
Daisha berbalik tanpa menunggu jawaban dari Dewi, menghampiri Dareen yang sedang menunggunya untuk makan. Hari itu, mereka tidak berencana pergi ke mana pun, tapi Daisha ingin memeriksakan kandungannya setelah kejadian pagi tadi.
"Kak, kau tidak akan ke kantor, bukan?" tanya Daisha sambil menyiapkan makanan di atas piring suaminya.
"Tidak, kenapa? Apa kau rindu padaku?" goda Dareen sambil memeluk pinggang sang istri yang berdiri di sampingnya.
Daisha mendengus, jika ditanya soal rindu mungkin saja dia yang paling berat merasakannya.
"Rindu ... jangan tanya kata itu lagi. Aku ingin Kakak mengantarku ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan," ucap Daisha sambil menyerahkan piring berisi nasi dan lauk pauk kepada Dareen.
Laki-laki itu menerima, menatap bingung pada istrinya. Berpikir beberapa saat tentang pemeriksaan. Apa yang akan diperiksa? Sedangkan istrinya itu baik-baik saja. Ia tertegun begitu tatapan matanya berpijak pada kedua manik Daisha.
Benar, belum lama ini dia baru saja melakukan operasi mata. Mungkin dia akan memeriksakan matanya karena dirasa ada kesalahan.
"Kak? Kenapa melamun?" tegur Daisha melihat Dareen yang terus diam dan terbengong sambil menatapnya.
"Ah, tidak. Baiklah, setelah ini aku antar ke rumah sakit," ucapnya langsung menyetujui.
Keduanya akan memulai makan ketika Dewi datang dalam diam dan duduk di kursi bersebrangan dengan mereka.
"Bagaimana tidur Ibu? Nyenyak?" tanya Dareen sambil melakukan suapan pertamanya.
"Yah, lumayan," jawab Dewi singkat.
"Makanlah, Bu. Ini semua Daisha yang memasaknya," ucap Dareen sambil menunjuk pada deretan makanan yang tersaji di meja makan.
Dewi memperhatikan setiap makanan, ia melirik piring Daisha dan mengambil apa yang dimakan menantunya itu. Menurutnya, makanan yang dimakan Daisha tidaklah mengandung racun.
Keduanya tak menyadari ketakutan Dewi, mereka tidak memperhatikan wanita itu yang terus saja mencuri pandang pada sang menantu. Makanan Daisha memang selalu enak untuk dinikmati, sebenarnya dia ingin memakan yang lainnya juga, tapi takut ditaburi racun karena tak ada di piring istri Dareen itu.
"Kau meminum susu?" tanya Dareen melirik segelas susu di depan istrinya.
Daisha melirik, itu adalah susu untuk ibu hamil. Ia meminumnya untuk memberi nutrisi pada janin di dalam perut.
"Iya, aku suka. Kakak mau susu juga?" jawabnya.
Dareen menggeleng seraya menjawab, "Tidak. Aku tidak suka susu yang itu."
Ambigu. Daisha mengernyit, tapi kemudian mengerti. Ia terkekeh kecil sambil melanjutkan kembali makannya. Tanpa mereka sadari Dewi terus memperhatikan interaksi keduanya yang saling menampakkan kebahagiaan di wajah mereka.
"Aku selesai, aku akan bersiap dulu," ucap Daisha seraya meraih gelas susunya, tapi cepat-cepat disambar Dewi.
Daisha tertegun, begitu pula dengan Dareen ketika melihat Dewi menghabiskan susu tersebut.
Itu susu khusus untuk ibu hamil.
Daisha tertawa dalam hati, sekarang dia mengerti, Dewi memakan apapun yang dimakannya. Dewi bahkan merebut susu itu dan tidak menyentuh air di dekatnya. Tak lain karena dia takut diracuni.
"Bu, itu milik istriku. Kenapa Ibu tidak mengatakan jika ingin susu? Daisha pasti akan membuatkannya," tegur Dareen tak senang.
Dewi tercenung, ia menjauhkan gelas tersebut darinya tanpa rasa berdosa sedikit pun.
"Ibu hanya ingin meminumnya. Apa salah?" ketus Dewi tanpa menatap mereka berdua.
"Tapi-"
"Sudahlah, Kak. Tidak apa-apa, tidak usah diperpanjang. Hanya segelas susu aku bisa membuatnya lagi. Ya sudah, aku akan ke kamar dulu," sergah Daisha menyentuh lembut tangan suaminya.
Ia mengangguk ketika Dareen menatapnya dengan kesal. Kesal pada ibunya sendiri.
"Jangan diperpanjang."
Seperti itu gerakan mulut Daisha sebelum ia pergi meninggalkan meja makan dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
"Eh, Ibu dengar kalian akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa? Kenapa? Apa ada masalah dengan matanya?" tanya Dewi setelah Daisha menghilang dibalik pintu ruangan.
"Aku juga tidak tahu. Lain kali jika Ibu ingin susu sebaiknya katakan saja, jangan merebut seperti tadi. Seperti anak-anak saja," tegur Dareen sambil berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Dewi sendirian di meja makan.
Ia tak acuh, menghendikan bahu tak tahu malu. Terus melirik meja makan, dan mendapati Daisha yang tidak meminum apapun.
"Ternyata benar, dia ingin meracuni aku. Lihat, dia bahkan tidak meminum air ini. Beruntung aku merebut susunya," gumam Dewi sambil mengelus dada.
Ia berdiri sambil membawa gelas itu ke belakang rumah.
"Aku akan menaburnya ke tanaman di sana, jika memang ada racun, tanaman itu pasti akan langsung mati."
Asisten yang samar mendengar, menggelengkan kepalanya heran. Ia hanya diam dan melakukan tugasnya dengan baik, membereskan meja makan.
Dewi sibuk dengan eksperimennya, ia mencari-cari tanaman untuk disiram dengan air racun tersebut. Di sana ada banyak tanaman bunga, Daisha pastilah merawatnya dengan baik sehingga mereka tumbuh dengan subur.
Dewi menyiramkan air tersebut pada salah satunya, dan menunggu bunga itu layu. Sekian lama menunggu, tak ada reaksi yang terjadi.
"Aku tahu, ini bukanlah racun yang membuat mati seketika, tapi reaksinya perlahan akan membuatku lumpuh dan tidak bisa melakukan apapun. Ini lebih buruk daripada mati secara langsung," gumamnya sambil bergidik ngeri.
Ia melempar gelas tersebut ke dalam semak, berbalik dan berlari kecil untuk kembali ke rumah. Berpikir sebaiknya, jika ingin makan dan minum ia memesan saja secara online dan tidak makan masakan Daisha.
Dewi duduk di ruang tengah sambil melihat televisi. Menikmati waktu santainya. Matanya melirik pada sebuah toples yang berisi makanan, terus bergidik enggan menyentuhnya.
Hidupnya tak tenang, selalu dihantui kematian. Dia takut Daisha akan membalas dendam karena rasa sakit hati atas semua penghinaan yang dia lakukan.
"Kami pergi, Bu. Istirahat saja di rumah," pamit Dareen dengan pakaian santainya.
Ia bersama Daisha yang selalu tampil seperti biasa. Dewi mengangguk tanpa menyahut ataupun melirik. Membiarkan keduanya pergi meninggalkan dirinya sendiri di rumah. Bosan, tentu saja. Dia mulai menyusun rencana untuk datang ke perkumpulan itu menggantikan Bardy.