Mohabbat

Mohabbat
Sambutan



"Tuan, kami menemukan tempat itu!" seru salah seorang musuh yang muncul dari dalam hutan dengan napas tersengal-sengal.


Orang-orang yang menunggu di tepi jalan tersentak senang mendengarnya. Mereka bergegas meninggalkan jalan dan masuk ke dalam hutan sesuai petunjuk dari orang tersebut.


Tak satu pun berada di sana, walau hanya sekedar menjaga mobil-mobil mereka. Setelah memastikan semua musuh pergi, orang-orang Areta yang bersembunyi di sana, bermunculan dan merusak semua mobil mereka.


Mereka tak akan pernah bisa kembali sekalipun dapat keluar dari hutan.


"Tetap berjaga di sini! Kami akan pergi mengepung mereka dari luar!" perintah pemimpin pasukan kepada sebagian anggotanya.


Mereka mengangguk dan kembali ke tempat persembunyian, bersembunyi di tebing dalam kegelapan malam juga pepohonan. Sisanya pergi bergabung dengan yang lain menjaga di luar villa.


"Mereka hampir tiba di gerbang!" lapor salah satu mata-mata yang mengawasi sekitar villa.


Rombongan musuh kembali berkumpul di satu titik, bersama-sama datang menyerang lewat gerbang utama. Mereka pikir, orang-orang di dalam villa tidak mengetahui kedatangan musuh.


"Benarkah ini gerbangnya? Terlihat seperti semak belukar," ucap salah seorang yang memimpin rombongan tersebut.


"Benar, Tuan. Coba Anda lihat!" katanya sembari menyibak semak yang menutupi sebuah gerbang terbuat dari besi.


Kedua pasang mata pemimpin itu berbinar, teramat bangga karena dapat menemukan gerbang istana Alejandro yang tersembunyi. Musuh-musuhnya menyebut sebagai villa siluman ataupun istana siluman.


"Kalian memang luar biasa, pemimpin kita pasti akan bangga terhadap kalian," ucapnya sambil tersenyum lebar.


Mereka merasa senang sebelum berperang, merasa telah menjadi pemenang sebelum pertempuran dimulai. Lengah.


"Mereka berada di depan gerbang! Bersiaplah!" lapor mata-mata Areta lagi kepada rekannya.


Semua yang berjaga di dalam villa telah bersiap di posisi mereka masing-masing. Mereka membuat seolah-olah villa itu sedang tertidur, padahal penjagaan begitu ketat. Di halaman, di balkon lantai dua villa, bahkan di atas atap, pasukan terlatih milik Alejandro telah bersiap siaga.


Mereka bersembunyi di antara kegelapan malam juga pepohonan yang tumbuh di sekitar villa. Mendengar ucapan rekan mata-mata, semua pemimpin mulai menyusun strategi. Di atas, para pasukan pemanah berbaris, di pohon-pohon para penembak jitu pun telah membidik gerbang di mana mereka akan muncul.


Di luar, dua orang pemimpin musuh maju ke dapan, menyibak semak yang menghalangi gerbang.


"Buka, tapi jangan sampai menimbulkan suara," perintahnya.


Dua orang bersiap dengan sebuah mesin pemotong di tangan mereka, mesin yang ramah karena tidak menimbulkan suara.


Namun, belum sampai mata pisau itu menempel pada besi, gerbang tersebut mulai terbuka dengan sendirinya. Sesuai perintah Areta, jangan sampai para musuh itu merusak milik suaminya.


Mereka tercengang, mulai merasa curiga dengan tempat tersebut. Pintu itu terbuka lebar, memperlihatkan keadaan dalam gerbang yang sama gelapnya seperti hutan tadi. Tak ada cahaya lampu, bahkan bangunan itu terlihat seperti bangunan tua yang telah lama tidak ditempati.


"Apa kau merasa curiga?" tanya salah satunya.


"Entahlah, tapi bagus. Ayo, masuk!"


Mereka melangkah perlahan, menengok ke kanan dan kiri dengan senjata di tangan memastikan keberadaan musuh. Seseorang melambaikan tangan meminta mereka untuk masuk.


Suara jeritan yang berasal dari belakang villa menyita perhatian mereka.


"Itu suara pemimpin, mereka mungkin saja sedang menyiksanya."


"Tunggu dulu, kau yakin itu suara pemimpin? Bagaimana jika itu hanya pancingan? Dan di sana terdapat banyak jebakan, kita semua akan mati," sahut yang lain menghentikan niat mereka untuk pergi ke belakang villa.


"ARGH!"


Suara jeritan itu kembali terdengar, semakin keras dan penuh dengan penderitaan. Tanpa berpikir lagi, mereka membagi pasukan menjadi dua. Sebagian pergi ke bagian depan villa, dan sebagian lagi menuju sumber suara di mana pemimpin mereka berada.


Para penembak jitu mulai membidik, satu per satu dari pasukan musuh mulai tumbang, dari yang paling belakang sehingga mereka yang di depan tidak menyadarinya.


Para pemanah bersiap di posisi, pasukan kedua di balkon mulai membidik, dan mereka yang berada di halaman mulai bermunculan dari arah belakang musuh. Pintu gerbang kembali ditutup, semua akses keluar terkunci dengan sempurna.


"Dengar! Begitu masuk, temukan pemimpin terlebih dahulu. Setelah itu, kalian boleh bersenang-senang bersama para wanita yang berada di dalam villa ini!" perintah pemimpin mereka yang disambut anggukan senang.


Beberapa meter lagi mereka tiba di teras villa, hujan panah datang sangat mengejutkan. Mereka mundur secara tiba-tiba, tapi beberapa tak dapat mengelak dan ambruk dengan panah menancap di dada juga kepala.


"Kita diserang!" teriak salah satu dari mereka.


Masing-masing dari mereka mengeluarkan senjata dari dalam jaket, dan menembaki para pasukan pemanah di atap. Namun, lagi-lagi mereka dikejutkan oleh hujan peluru yang datang dari balkon lantai dua.


Musuh kembali terpukul mundur, kali ini lebih banyak dari mereka yang terkapar karena terkena hantaman mesiu. Sang pemimpin membelalak, mulai berang dan menembak secara acak.


Kejutan belum berakhir, ketika sekumpulan orang tersebut mulai kewalahan dengan serangan senjata dari atas, mereka juga mendapat serangan dari bawah. Perang senjata pun tak terelakkan, banyak yang tumbang karena tak dapat menghindari serangan.


Jumlah musuh semakin menyusut, mereka tidak tahu sebanyak apa musuh yang mereka hadapi. Para penyusup itu mulai tersudut, diserang dari berbagai arah. Mereka kira sudah berakhir karena bunyi letusan senjata tak lagi terdengar.


Namun, mereka salah, kemunculan orang-orang dari dalam kegelapan berhasil menggetarkan nyali mereka. Kepanikan mulai menyerang, menembak tak tentu arah, tapi tak satu pun peluru itu menumbangkan tubuh-tubuh penjaga villa.


"Sial! Kenapa tak satu pun ada yang mengenai mereka?!" umpat pemimpin pasukan dengan kesal.


Ia merebut senjata anggotanya, dan menembak salah satu dari pasukan tersebut. Namun, semua itu tak berpengaruh terhadap mereka. Alejandro menghabiskan banyak uang untuk membuat ratusan baju Anti peluru yang akan digunakan orang-orangnya di waktu-waktu tertentu.


Mereka mengangkat senjata secara bersamaan, adu senjata api pun kembali terjadi. Sengit dan brutal. Satu per satu, dua, tiga, dan seterusnya musuh-musuh yang datang mengantar nyawa telah pergi sesuai keinginan mereka datang ke villa tersebut.


"Kumpulkan mayat-mayat itu, dan bersihkan seperti semula rumah kita ini!" perintah sang pemimpin pasukan sembari menggulingkan pemimpin musuh menggunakan kakinya.


Sigap orang-orang tersebut membawa mayat ke bagian samping villa, di sana tersedia sebuah tempat pembuangan mayat langsung ke bagian hutan terdalam dari hutan yang mengelilingi villa. Ada banyak binatang buas di dalamnya, yang tak pernah mengusik manusia di dalam villa.


Sementara rombongan yang lain, telah tiba di bagian belakang villa disambut secara langsung oleh Areta dan Daisha juga sebagian kecil pasukan yang berdiri dengan senjata di belakang keduanya.


"Selamat datang, Tuan-tuan sekalian, di villa siluman milik Alejandro. Aku tak menyangka kalian akan begitu mudah menemukan tempat ini. Salut pada kalian, tapi aku juga menyayangkan kedatangan kalian yang tanpa persiapan sempurna. Kalian terlalu menganggap remeh aku!" sambut Areta dengan senyum tersemat ramah.