Mohabbat

Mohabbat
Keputusan



"Putuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan ini!"


Suara lantang Daisha menyentak semua orang yang ada di aula tersebut. Ia memberikan sebuah map kepada laki-laki tua yang menjabat sebagai ketua di Yeworks Company. Data perusahaan yang menurut Daisha tidak layak berkerjasama.


"Nona!"


"Nona Daisha ... tapi kenapa?"


"Benar, kenapa tiba-tiba memutuskan hubungan dengan kami?"


"Bagaimana dengan saham kami di perusahaan ini?"


Satu per satu dari mereka angkat bicara, kecuali orang-orang yang sudah mengenal Daisha sebelumnya. Mereka semua menunduk, menerima keputusan sang pimpinan baru.


Hanya satu orang yang terus menatap ke arah wanita itu. Ia Dareen, yang tak lagi peduli pada perusahaan milik keluarganya. Hanya satu yang dia pikirkan saat ini, yaitu Daisha. Mata, hati, juga pikiran dipenuhi oleh istrinya itu.


Daisha tersenyum pada semua orang, matanya berhenti di kedua manik Dareen. Tatapan suaminya itu sulit diartikan. Daisha diam-diam mereguk ludah, berpikir bagaimana menjelaskan ini semua pada suaminya itu.


"Aku tidak perlu menjawab, masing-masing diri kalian dapat menjawabnya sendiri. Kontrak kerjasama kalian tidak berlaku di hadapanku. Introspeksi diri itu penting, perusahaan ini butuh rekan yang bukan hanya sekedar rekan bisnis. Cukup! Kurasa kalian bisa menemukan jawabannya sendiri," ungkap Daisha dengan tegas.


Semua orang mengeluh, mulai berpikir mencari jawaban. Beberapa merasa cemas, beberapa berpikir tentang kesalahan apa yang telah dilakukan.


"Paman, jika perlu, beli saham mereka. Aku tidak ingin nama-nama yang tertera di sana terlibat dalam perusahaanku," pungkas Daisha seraya berdiri dari kursi dan meninggalkan ruangan bersama Areta.


Ia melirik suaminya, tatapan yang menyiratkan kebingungan. Lalu, matanya beralih pada seseorang. Menatap laki-laki itu dengan nyalang dan nafsu membunuh yang kuat.


Jika ada kesempatan berhadapan denganmu, tak akan aku melepaskanmu lagi!


Daisha mengancam dalam hati. Ia berpaling dan terus keluar ruangan. Areta membawanya ke ruangan Presdir, ia tahu keponakannya itu butuh sendiri untuk menenangkan hati.


Daisha membanting diri di atas sofa, menghela napas pendek-pendek mengurangi sesak yang merebak dalam dada. Ia harus menahan napas di dalam ruangan itu.


"Hah, sial! Dadaku sesak sekali. Aku gugup, Bibi," katanya sambil memegangi dada yang kembang-kempis.


Areta tersenyum bangga padanya seraya memuji, "Kau luar biasa. Bibi bangga padamu. Kau pantas menduduki kursi itu, kursi peninggalan ayahmu yang dititipkan pada ketua untuk kau duduki."


"Bibi akan meninggalkanmu sendiri, kau butuh waktu menenangkan diri," ucap Areta sembari berbalik dan pergi dari ruangan Presdir.


Daisha menjatuhkan kepala pada sandaran sofa, memejamkan mata lelah. Bukan lelah secara fisik, tapi lelah secara mental karena ia belum benar-benar siap berkecimpung di dunia bisnis itu.


Dareen yang gelisah mengikuti Daisha keluar, tapi ia tidak tahu ke mana istrinya itu pergi. Dareen terus berjalan tanpa arah hingga ia bertemu dengan Areta. Istri mendiang Alejandro itu mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Ia akan mengizinkan mereka berdua berbicara.


"Bibi! Daisha ...." Dareen tak mampu melanjutkan kata-kata. Lidahnya kelu, tatapan matanya menyiratkan kebingungan.


"Dia ada di ruangan Presdir sedang menenangkan diri. Tanyakan dengan lembut alasannya, jangan membuatnya bertambah stres," ucap Areta seraya meninggalkan Dareen yang segera melanjutkan langkah menuju ruangan yang dimaksud Bibi Daisha itu.


Dengan perasaan yang tak menentu, Dareen meniti langkah menemui istrinya. Ia berdiri dengan hati yang gelisah di depan pintu tersebut. Pintu yang diperebutkan para pemilik saham termasuk dirinya.


Ia menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Padahal hanya akan bertemu sang istri, tapi rasanya seperti akan bertemu dengan orang nomor satu di negara ini.


"Bibi, kau kembali?" tanya Daisha tanpa membuka matanya.


Ia mengernyit disaat aroma yang menyambangi hidungnya berbeda dengan aroma Areta. Aroma yang tak asing, yang selalu ia hirup di setiap waktu. Memabukkan, membuatnya merasa ingin lagi dan lagi.


Daisha membuka mata, dan mendapati Dareen berdiri di hadapannya.


"Kakak!"


Pandangan mereka bertemu, cukup lama karena laki-laki itu hanya bergeming tanpa mengalihkan pandangan dari sosok sang istri.


"Aku bisa menjelaskan semuanya," lirih Daisha dengan perasaan yang tak menentu.


Ia menatap gugup suaminya, ada rasa tak enak juga gelisah dari pancaran maniknya yang hangat. Terlebih saat Dareen tak melakukan apapun dan hanya mematung di hadapan.


"Bukan maksudku menyembunyikan identitas sebenarnya tentang aku. Aku sungguh tidak bermaksud, lagipula aku sudah menyerahkan kursi ini kepada paman, tapi semua orang yang setia kepada ayah menginginkan aku untuk mendudukinya. Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku takut," jelas Daisha diakhiri lehernya yang bergerak karena meneguk ludah pun kesulitan ia lakukan.


Dareen masih bergeming, sungguh tak menduga Daisha masih bersikap sama terhadapnya. Ia pikir, istrinya itu akan berubah karena memiliki kehormatan lebih tinggi darinya. Ia pikir, Daisha akan berpaling dan mencari pasangan yang sepadan dengannya.


"Kau masih mengenaliku?" tanya Dareen ambigu.


Daisha tertegun mendengar pertanyaan dari suaminya itu. Ia berpaling enggan menjawab. Pertanyaan konyol.


"Katakan, apa kau masih mengenaliku?" tanya Dareen lagi semakin menekan.


Ia membungkuk dan mencengkeram lembut dagu Daisha. Menghadapkan wajah itu padanya, menatap manik yang selalu membuatnya mabuk itu dengan tajam.


Daisha bergeming, balas menatap Dareen tak kalah tajam. Berselang, bibir mereka bertemu. Dareen menyerangnya dengan sedikit liar. Daisha membiarkan suaminya itu, membalas dan mengikuti permainan Dareen.


Beberapa saat mereka saling memagut, menumpahkan rasa yang bergejolak dalam hati. Perlahan Dareen merebahkan tubuh Daisha di sofa tanpa melepas tautan bibir mereka. Entah seperti apa perasaannya saat ini, Dareen sendiri tidak mengerti.


Laki-laki itu melepas pagutan, keduanya saling memburu udara dengan rakus. Mata mereka bertabrakan, penuh hasrat dan gejolak yang membuncah.


"Kau masih mengenali suamimu sendiri? Katakan, Daisha. Apa kau masih mengenaliku sebagai suami?" tekan Dareen menuntut.


Daisha meletakkan kedua tangannya di pipi sang suami, menyentuh lembut bibir itu dengan ibu jari, tatapannya berputar menelisik setiap detail wajah itu.


"Tentu saja. Apa kau pikir semua ini bisa membuat cintaku berkurang padamu? Kau pikir aku akan lupa siapa diriku, Kak? Tidak! Aku tetaplah aku. Di hadapanmu aku adalah seorang istri. Kau suamiku, semua ini tidak dapat merubah statusmu sebagai pemilik diri ini. Kau puas!" terang Daisha tegas dan penuh penekanan.


Dareen tersenyum puas, sungguh manis bibir istrinya itu.


"Bibirmu memang sangat beracun, tapi manis dan aku suka," ucapnya lirih di telinga Daisha.


"Aku menemukan pembunuh orang tuaku," sahut Daisha membuat Dareen tersentak.


"Siapa?"


"Kau akan tahu nanti."