
Beberapa saat setelah kepergian Areta, Bardy dan Dareen masih duduk di depan ruang IGD menunggu tim tenaga medis keluar untuk memberikan kabar tentang Daisha. Bardy masih menatap arah di mana wanita seksi itu pergi.
Entah mengapa dia merasa tak asing dan begitu penasaran terhadap sosoknya. Hati terus bertanya-tanya, tapi tidak menemukan jawaban.
"Kau tahu siapa wanita itu?" tanya Bardy berbisik pada anaknya.
Dareen yang sedang menatap pintu ruangan menoleh dengan dahi berkerut. Memicing curiga pada ayahnya yang tak lepas menatap kepergian bibi Daisha itu.
"Dia mengakui sebagai bibi Daisha. Ada apa? Apa Ayah tertarik padanya?" Dareen bertanya sambil memicingkan mata. Seburuk-buruknya Dewi, dia tetap tidak suka jika ayahnya mendua.
Bardy yang mendengar sontak menoleh, bersitatap dengan manik sang putra untuk beberapa saat lamanya sebelum ia menghembuskan napas dan terkekeh.
"Bukan itu maksud Ayah. Mmm ... selain bibinya Daisha, kau tahu siapa wanita itu? Sepertinya dia bukan dari Indonesia." Bardy memperjelas pertanyaannya.
Melihat bentuk wajah dan warna rambut Areta dia yakin wanita yang mengaku sebagai bibi menantunya itu bukan asli Indonesia.
Dareen ikut menatap lorong sepi itu, lengang. Ke mana semua pengunjung rumah sakit? Hanya beberapa orang terlihat lalu-lalang di lorong tersebut.
"Dia teman ibu, katanya hanya kelas bawahan yang kebetulan berteman dengan temannya ibu dan masuk kelompok mereka. Hanya itu yang aku tahu, selebihnya tidak ada," jawab Dareen seraya menempelkan punggung pada sandaran kursi.
"Ibumu? Kau yakin?" Bardy mengernyit, melempar tatapan tak yakin pada anaknya itu.
"Yah, setidaknya itulah yang dikatakan ibu saat aku bertanya," sahut Dareen sambil menghendikan bahu.
Bardy mendesah, turut menjatuhkan punggung di sandaran kursi. Menatap langit-langit lorong sambil memikirkan sesuatu tentang Areta.
Dareen kembali memperhatikan pintu ruangan, lidahnya terus berdecak kesal.
"Kenapa lama sekali? Apa saja yang dilakukan mereka di dalam sana?" gerutunya seraya melipat bibir menahan kesal.
"Ke mana dia pergi? Hal penting apa yang ingin diurusnya dengan berpakaian minim seperti itu?" gumam Bardy masih saja terus memikirkan tentang Areta.
Dareen yang mendengar ucapan ayahnya, menoleh tak senang.
"Ayah tertarik padanya? Kenapa sejak tadi terus memikirkan wanita itu?" selidik Dareen tak lepas dari menatap ayahnya.
Bardy menghela napas, menopang dagu dengan tangannya. Raut wajah memperlihatkan yang dia sedang berpikir keras.
"Bukan seperti itu, Ayah hanya merasa janggal saja dengan sikapnya. Kau lihat wajahnya yang berubah serius dan tegang saat menerima telepon tadi? Dia bahkan pergi tanpa berpamitan dan terkesan terburu-buru. Ayah rasa sesuatu terjadi, tapi entah apa itu? Berhati-hatilah terhadapnya, Dareen." Bardy memperingatkan anaknya itu.
Dia harus selalu waspada meskipun wanita itu mengaku sebagai bibi menantunya. Apapun bisa terjadi, termasuk serangan dari dalam. Dareen terlihat bingung, di satu sisi Daisha begitu mempercayai Areta, tapi di lain sisi ayahnya sendiri mencurigai wanita itu. Oh, sungguh dia dilema.
Belum sempat menjawab, pintu ruangan terbuka dan dokter bersama beberapa perawat keluar menjelaskan kondisi Daisha. Wanita itu segera menempati sebuah ruangan untuk beberapa hari ke depan, dia akan menginap di rumah sakit. Mau atau tidak, Sudi atau tidak.
****
Dareen beranjak, berdiri di samping ranjang tempat Daisha terbaring. Ditatapnya wajah cantik sang istri, sungguh disayangkan begitu banyak orang yang ingin membuatnya celaka.
Perlahan laki-laki itu mendaratkan bokongnya di kursi, memperhatikan luka di kaki Daisha. Sungguh dia lalai, membiarkan istrinya itu pergi sendiri sampai celaka.
"Maafkan aku, Daisha. Sungguh aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Lain kali, aku tidak akan mengizinkanmu pergi tanpa diriku," gumamnya sambil menggenggam tangan Daisha dan menciumnya.
Wanita itu sudah tampak lebih baik, wajahnya yang tadi pucat telah terisi oleh aliran darah. Samar-samar kelopak matanya berkedut, jemarinya yang digenggam Dareen bergerak. Tak lama, mata itu terbuka merasa asing dengan tempat tersebut.
"Di mana ini?" Daisha bertanya. Sebelah tangannya yang lain meraba dan menggenggam tangan Dareen.
Laki-laki itu tampak sumringah, teramat senang mendapati istrinya telah sadarkan diri. Dia mendekatkan wajah pada Daisha, mengecup begitu mesra dahi sang istri.
"Kau sudah sadar? Kau membuatku cemas, Daisha. Kenapa bisa sampai terjadi hal seperti itu? Apa kau tahu siapa yang menyerangmu?" cecar Dareen menatap cemas istrinya itu.
Daisha tersenyum, entah seperti apa wajah suaminya saat ini. Yang pasti dari suaranya ia bisa tahu bahwa laki-laki itu sedang mencemaskan dirinya. Oh, kapan mata ini bisa digunakan kembali? Rasanya dia tak sabar untuk melihat setiap ekspresi wajah suaminya.
"Kau tenang saja, Kak. Bibi pasti sudah menyelesaikan semuanya. Kita tidak perlu mengkhawatirkan apapun," ucap Daisha.
Namun, ucapan tersebut tetap saja tidak membuatnya merasa tenang. Bagaimana Areta akan menyelesaikan semuanya sendirian? Lagipula, dia hanya seorang wanita tanpa laki-laki di sisinya.
"Kenapa sepertinya kau yakin sekali padanya, sayang? Apakah benar Bibimu itu akan menyelesaikan semuanya sendiri?" tanya Dareen meragukannya.
Daisha menepuk-nepuk lembut tangan Dareen yang menggenggam tangannya, mengangguk pelan. Meyakinkan suaminya itu bahwa yang diucapkannya adalah benar.
"Kau benar sekali, sayang. Bibi sudah membereskan semuanya, dan kau ... tak apa jika kau meragukan aku? Tapi kalian tidak perlu merasa cemas lagi. Setidaknya untuk saat ini mereka tidak akan berani melakukan hal bodoh seperti tadi lagi," sambar Areta yang tidak diketahui kedatangannya.
Entah sejak kapan dia berada di ruangan itu, suaranya yang tiba-tiba cukup membuat Dareen terkejut. Ia menatap Areta curiga, hati mulai membenarkan apa yang dikatakan Bardy tentangnya. Dia terlihat seperti wanita kebanyakan, tapi nyatanya dia adalah sosok yang berbahaya.
"Benarkah? Kurasa mereka semua takut pada ancaman Bibi," sahut Daisha turut tersenyum senang.
Dareen dibuat bingung oleh percakapan mereka berdua, menatap bergantian antara istri dan bibinya itu.
"Sejak kapan Bibi di sini? Aku tidak menyadari kedatanganmu, Bibi," tanya Dareen sembari menelisik wajah wanita dengan balutan jubah tidur itu.
"Mmm ... sejak beberapa saat tadi. Kau tidak akan menyadari karena terlalu fokus pada istrimu itu. Ah, sudahlah. Itu tidak penting, untuk sekarang aku akan menginap di sini. Jika ada yang ingin kau bereskan, maka selesaikan terlebih dahulu," ucap Areta seolah-olah bisa menebak isi kepala Dareen.
Lagi-lagi, laki-laki itu terperangah dibuatnya. Areta terkekeh, tapi ia tidak peduli saat ini.
"Kau benar, Bibi. Memang ada yang ingin aku bereskan untuk esok. Bisakah kau jaga istriku sampai aku kembali?" pinta Dareen yang tentunya diangguki oleh Areta dengan cepat.
Malam itu, Dareen meninggalkan Daisha bersama Areta. Ada sesuatu yang harus diselesaikannya.