Mohabbat

Mohabbat
Kerinduan



"Kau tidak bisa menolak, Dewi. Aku akan menikahkan mereka berdua secepatnya. Tidak ada yang boleh menolak keputusanku."


Bardy membelakangi istrinya sambil berpangku tangan. Menatap hampa pada hamparan kegelapan malam melalui jendela kaca. Beberapa saat berdiskusi, masing-masing dari mereka kembali ke rumah. Bardy meminta Daisha untuk menginap di rumahnya, tapi gadis itu menolak.


Ia lebih memilih menginap di villa miliknya sendiri, dan meminta supir yang disewa untuk kembali ke desa membawa mobil Daisha.


"Kau egois, Bardy. Kenapa kau sangat ingin mereka menikah, padahal masih banyak di luar sana wanita yang lebih baik daripada dirinya dan dari keluarga terpandang. Mereka sepadan dengan kita, tidak seperti gadis kampungan itu yang tidak jelas asal usulnya," bentak Dewi tidak terima.


Menatap tajam punggung Bardy yang bergeming di dekat jendela. Laki-laki itu membalik tubuh, melemparkan tatapan pada sang istri yang memberengut kesal.


"Apa kau tidak menginginkan anak-anak mendapatkan kebahagiaan mereka? Kau tidak lihat Dareen begitu bahagia di samping gadis itu. Sebagai ayahnya, aku tidak ingin kebahagiaan yang dia miliki hilang oleh karena keegoisanmu, Dewi," sahut Bardy dengan nada rendah berharap Dewi akan mengerti bahwa hati tak dapat dipaksakan.


Sungguh tak dinyana, Dewi mengangkat wajah dengan bola mata yang melebar. Rahangnya mengeras kedua tangan terkepal kuat.


"Tapi aku ibunya, aku yang telah melahirkan dia. Aku yang lebih berhak menentukan dia hidup dengan siapa, aku yang menentukan kebahagiaannya. Aku ... ibunya!" sentak Dewi semakin meradang.


Di belakang tubuh, kedua tangan Bardy terkepal dengan erat. Menahan gejolak emosi yang meluap-luap mencapai ujung kepala. Sekejap saja, lahar panas itu pasti menyembur membakar apa saja yang ada.


"Seharusnya sebagai ibu kau menyadari kesalahanmu, Dewi. Seorang ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap anak, apalagi memaksa mereka untuk menikahi gadis yang tidak mereka cintai. Bukankah kau dengar sendiri, gadis yang kau anggap baik sempurna dan dari keluarga terpandang itu berniat menghancurkan hidup Dareen."


Bardy memperdalam tatapannya, menekan pertahanan Dewi yang mulai goyah. Dengan kelebihan Daisha yang mampu mengetahui adanya bahaya di sekitar mereka, itu sudah membuat hati Dewi terkagum padanya. Hanya saja, ia terlalu gengsi untuk mengakui.


"Ingat, Dewi. Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan mereka termasuk kau! Kau tidak mengenal siapa Daisha, dia bukan gadis seperti yang ada dalam pemikiranmu. Berhati-hatilah untuk ke depannya, karena gadis itu sangat berbahaya," ancam Bardy seraya meninggalkan istrinya sendiri.


"Sepertinya kau mengenal betul siapa gadis itu? Apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Bardy? Katakan, siapa sebenarnya gadis itu?"


Suara Dewi yang terdengar putus asa menghentikan langkah Bardy yang hampir mencapai pintu. Dia tercenung untuk beberapa saat lamanya.


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas ini lagi. Tidurlah, kau butuh istirahat." Bardy melanjutkan langkah membuat Dewi menggeram penuh amarah.


"Sial! Sebenarnya apa yang disembunyikan tua bangka itu! Aku harus mencari tahu siapa gadis buta itu sebenarnya? Mengapa Bardy begitu membelanya?" Dewi bermonolog sambil menggeram.


Sementara itu, Bardy pergi ke ruang kerja, mengunci diri di dalam sana. Berbaring di atas sebuah ranjang kecil yang sengaja disiapkannya untuk saat-saat seperti itu. Bardy menatap langit-langit ruangan dengan tatapan sendu. Terbayang satu sosok yang amat ia rindukan kehadirannya.


"Damian, apa kau baik-baik saja di sana? Kuharap kau sudah berbesar hati atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Kau tahu, kau memiliki putri yang cantik dan berani. Sayangnya, kau pergi lebih dulu. Aku bahkan tidak pernah tahu di mana kau dikebumikan, Damian. Jika aku tahu, aku sangat ingin mengunjungimu. Sungguh." Bardy bermonolog, air menggenang di pelupuk mata menandakan ia tengah menahan kesedihan.


Teringat pada Damian, ayah Daisha, sahabatnya. Dialah yang telah membantu bisnis Bardy berkembang, pinjaman modal yang tak sedikit, bahkan Damian tak pernah memintanya kembali.


Ia menghela napas, merubah posisinya menjadi miring. Mencoba membayangkan kembali masa-masa mereka muda dulu. Kedua orang tua mereka bahkan begitu akrab hingga tak ada jarak lagi yang mengikis persaudaraan mereka.


Bardy tersenyum, mereka adalah orang-orang baik dan orang baik selalu bertemu dengan nasib yang buruk.


****


Di villa, Daisha baru saja tiba diantar Dareen. Mereka terpaksa menginap untuk memenuhi permintaan ayah Dareen.


Dareen tercenung, merenungi setiap kata yang diucapkan Daisha. Lama ia menatap Daisha, gadis itu pun terlihat cemas dan gelisah. Entah apa yang akan terjadi esok, tapi Dareen percaya firasat Daisha selalu nyata.


"Ya sudah, aku akan kembali. Terima kasih sudah memperingatkan aku, dan untuk yang terjadi tadi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja kau tak di sana," tutur Dareen sembari menggenggam tangan Daisha.


Gadis itu tersenyum, mengangguk pelan sambil membalas genggaman tangannya.


"Langsung tidur, kau juga butuh istirahat," ucap Dareen sambil mengusap pipi Daisha dengan lembut. Gadis itu kembali mengangguk, mereka berpisah untuk malam itu dan sampai waktu yang ditentukan.


Daisha masuk ke dalam villa setelah mendengar suara besi bergerak. Pintu gerbang yang ditutup pak Deni. Ia terus berjalan ke kamar mandi sekedar untuk mencuci muka dan berkumur.


"Kakak! Kakak baik saja?" tegur Laila memapak langkah Daisha.


Ia merasa cemas semenjak kedatangan mereka di Jakarta, Daisha banyak berubah. Dia tidak lagi lemah bahkan trauma yang dulu selalu datang, kini seolah-olah tak pernah ada.


Daisha mengangguk, tersenyum sambil mengusap kepala Laila dengan lembut.


"Memangnya kenapa? Apa Kakak tidak terlihat baik hingga kau bertanya seperti itu?" Daisha balik bertanya, tangannya yang bergetar meraba wajah Laila.


"Kakak sangat ingin melihatmu, seandainya pendonor itu ada, Kakak akan sangat berterimakasih padanya. Terima kasih sudah menemani dunia Kakak yang gelap ini. Kau pelita dalam gelapnya penglihatan ini," ujar Daisha sambil memeluk Laila penuh kasih sayang.


Laila membalas erat, ia bahkan menangis pelan karena rasa haru yang memenuhi hatinya. Seharusnya dia yang berterimakasih pada Daisha karena wanita itu telah memungutnya dari jalanan dan menjadikan hidupnya lebih baik seperti sekarang ini.


"Ah, sudahlah. Sebaiknya kita tidur. Kakak ingin tidur denganmu malam ini," ucap Daisha sembari melepas pelukan dan menggandeng tangan Laila.


Keduanya melangkah pelan menuju kamar Daisha yang berada di lantai satu villa. Untuk kamar Laila sendiri, ia tempatkan di lantai dua.


"Mmm ... bagaimana hubunganmu dengan Alfin? Kakak dengar dia sedang mendekatimu," tanya Daisha membuat pipi Laila merona hangat.


Ia menggigit bibir malu, berpaling wajah, padahal Daisha tak bisa melihat rona merah di pipinya.


"Biasa saja, Kak. Dia laki-laki berumur, Kak. Aku masih remaja dan akan bersekolah. Mungkin dia hanya main-main saja, orang tua memang selalu seperti itu, bukan?" sahut Laila kembali menggigit bibirnya kuat.


Ia melirik Daisha yang tersenyum aneh, menggoda sekaligus mengejeknya.


"Apa dia memang setua itu? Tua mana ayah kak Dareen dan Alfin?" selidik Daisha benar-benar menggoda adiknya.


Laila merenung, Alfin tidaklah terlihat tua meski usianya tak jauh beda dengan Dareen. Dia memiliki paras wajah sederhana, terkesan manis apabila tersenyum.


"Hhmm ... mungkin di bawah ayah kak Dareen, Kak. Jika dibandingkan dengan kekasih Kakak itu, maka berada jauh di atasnya. Dia tua," bisik Laila yang disambut tawa menggelikan Daisha.


Keduanya menutup pintu dan berbaring di ranjang yang sama.