
Luka yang diterima Daisha cukup dalam, perlu beberapa jahitan agar luka itu tertutup. Ia terbaring di atas ranjang, beristirahat untuk beberapa saat lamanya sebelum kembali ke rumah.
Areta duduk di kursi sambil menatapnya cemas. Terbersit rasa sesal karena dia tidak membunuh mereka dan hanya memberikan luka saja di beberapa bagian tubuh. Ia menghela napas, semua sudah berlalu. Areta pula meminta beberapa orangnya untuk mencari tahu siapa yang telah mengirim penjahat untuk mencelakakan keponakannya.
"Bibi, kenapa melamun? Adakah yang mengganggu pikiran Bibi?" tegur Daisha sambil memegang tangan Areta yang bertopang dagu.
Wanita itu menoleh, tersenyum dan memegang tangan keponakannya dengan lembut.
"Hhmm ... Bibi hanya menyesal kenapa tidak membunuh mereka semua, tapi kau tenang saja Bibi sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari tahu siapa pelaku dibalik penyerangan tadi," jawab Areta tanpa menutupi semua yang dia rasakan.
Daisha terkekeh, pelan-pelan beranjak duduk untuk kemudian menghela napas panjang.
"Tak perlu melakukan itu, Bibi. Sepertinya aku tahu siapa dalang dibalik penyerangan tadi. Itu pasti Tuan Nugraha yang ingin menyingkirkan aku dari sisi kak Dareen. Yah, aku yakin itu dia karena merasa berkuasa sehingga dia pikir bisa melakukan apa saja." Daisha mencibir.
"Orang-orang yang merasa berkuasa selalu bertindak gegabah. Menyerang tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa lawan mereka. Kematian salah satu orang suruhannya cukup menjadi ancaman. Aku yakin mereka akan mempertimbangkan lagi semuanya," lanjut Daisha diakhiri helaan napas panjang.
Areta tercenung, dia berniat membalas balik dalang penyerangan itu tanpa berbasa-basi. Areta ingin rasanya menghancurkan mereka hingga tak berbekas di dunia ini.
Otaknya berputar, jika ingin membalas, maka jangan tanggung-tanggung melakukannya. Lakukan sampai tuntas hingga tak berbekas. Salah satu sudut bibirnya terangkat, membetuk senyuman menyeramkan. Mengancam mereka yang telah mengusik apalagi menyakiti keponakannya.
"Mmm ... Bibi, aku ingin pulang. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Semua hal yang ada di sini mengingatkan aku pada kejadian dulu. Kita pulang sekarang, Bi," ucap Daisha.
Berada di atas ranjang pesakitan itu mengingatkannya pada kecelakaan waktu dulu. Kematian Alejandro, laki-laki yang membunuhnya. Dia memang sengaja menabrak Daisha. Sebagai saksi satu-satunya tentu saja keberadaan gadis kecil itu sangat mengancam kehidupannya.
Dia pikir dengan menabrak Daisha itu akan membunuhnya? Nyatanya, gadis itu masih hidup sampai saat ini meskipun tak dapat melihat. Apa dia mengetahuinya? Ataukah hidupnya masih setenang dulu?
"Oh, baiklah. Bibi akan berbicara dulu dengan petugas di sini. Kau tak apa Bibi tinggal sendiri?"
Daisha mengangguk, Areta beranjak dari ruangan itu meninggalkan keponakannya untuk menemui para petugas. Dia berbicara kepada mereka soal Daisha yang ingin segera pulang.
Dokter datang untuk memeriksa, memastikan keadaan Daisha sebelum menuruti keinginannya. Setelah mengantongi izin dari pihak rumah sakit, Areta membawa Daisha pulang tanpa berlama-lama lagi.
Dipapahnya wanita itu karena kesulitan untuk berjalan. Luka itu terasa berdenyut, tapi Daisha harus menahannya. Mereka meninggalkan rumah sakit saat lembayung senja mulai memenuhi jagat. Seharian ini Dareen pun tidak ada menghubungi dirinya, mungkin karena pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktunya.
"Bagaimana jika Dareen bertanya? Dia pasti akan menyalahkan Bibi," ucap Areta diiringi helaan napas panjang dan berat.
Daisha tersenyum, membenarkan. Alasan apa yang akan dia katakan kepada suaminya itu jika dia bertanya tentang luka sayatan di kaki. Senyum di bibirnya surut, tarikan napasnya terdengar panjang. Ia menghembuskannya langsung membuang semua beban yang bergelayut di pundak.
"Entahlah, Bi. Aku sedang berpikir. Semoga saja dia bisa mengendalikan diri."
Berharap pada sesuatu yang pasti, Dareen bahkan akan melakukan hal yang tak terduga jika mengetahui perihal penyerangan itu. Areta menghendikan bahu, biarlah Daisha mengatasinya sendiri. Jika Dareen mendatangi dirinya, maka terpaksa Areta membuka semua yang terjadi meski tanpa persetujuan Daisha.
"Kau tak apa sendirian? Biar Bibi antar ke dalam, atau sampai ke kamarmu saja," ucap Areta cemas.
Daisha menggelengkan kepala, membuka pintu mobil bersiap untuk keluar.
"Tidak apa-apa, Bibi. Biarlah pertemuan kita hari ini menjadi rahasia antara kita saja. Aku khawatir jika Bibi terlihat di rumah itu, mereka akan mencari tahu tentang Bibi. Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi, aku tidak ingin Bibi meninggalkan aku sama seperti ayah, ibu, dan paman." Daisha menggelengkan kepalanya.
Ada kesedihan yang memancar di kedua maniknya yang kelabu. Air turut menggenang di kedua sudut matanya. Areta terenyuh, ia memeluk Daisha dengan lembut. Mengerti tentang kekhawatiran yang sedang dirasakannya.
"Baiklah, Bibi akan pulang saja. Berhati-hatilah, sayang. Jangan lupa mengangkat telepon saat Bibi menghubungi," ucapnya setelah mengurai pelukan.
Areta mengusap pipi Daisha dengan hangat, hal itu mengingatkannya pada sosok Ibu dan Areta menginginkan seorang anak. Dia dan Alejandro tidaklah seberuntung pasangan lain. Pernikahan mereka diuji dengan ketidakhadiran si buah hati.
Beruntung, Damian dan istrinya mengizinkan mereka menganggap Daisha sebagai anak. Berkat gadis itu, Areta tahu seperti apa rasanya menjadi seorang Ibu.
"Berhati-hatilah, Bi. Aku khawatir mereka akan melakukan serangan lagi," ingat Daisha sebelum keluar dari mobil.
Areta meninggalkan tempat itu setelah melihat Daisha memasuki gerbang yang dibukakan oleh penjaganya.
"Apakah suamiku sudah di rumah?" tanya Daisha pada kedua penjaga gerbang itu.
"Sepertinya belum, Nyonya. Kami belum melihat mobil tuan muda memasuki gerbang," jawab salah satunya dengan sopan.
"Mmm ... terima kasih."
Daisha melangkah terpincang-pincang. Menyeret salah satu kakinya yang terasa ngilu ketika bergerak. Hal itu membuat kedua penjaga gerbang tadi merasa heran. Beruntung saat itu Daisha mengenakan celana panjang sehingga luka bekas jahitan tidak terlihat.
"Nyonya, apa yang terjadi?" Bibi berhambur mendekat dengan raut wajahnya yang terlihat cemas.
Melihat Daisha yang berjalan tertatih-tatih, ia membantu sang majikan menuju kamarnya.
"Aku hanya jatuh, Bi, karena tidak berhati-hati. Jadi, menabrak sebuah batu dan ngilu," jawab Daisha sambil tersenyum.
Ia merasa beruntung di rumah itu selain Dareen, ada Bibi yang juga perhatian padanya. Memperlakukan dirinya seperti anak sendiri, merawatnya tanpa segan. Bibi membantu Daisha untuk duduk di sofa, mengambilkan pakaian ganti sesuai yang diinginkan wanita itu.
Daisha meminta Bibi pergi meninggalkan dirinya sendiri karena tak ingin luka di kakinya terlihat. Ia mengganti pakaian sebelum memutuskan untuk berbaring. Rasa lelah bercampur sakit membuat tubuhnya lemah. Beristirahat beberapa saat lamanya, mungkin akan mengembalikan tenaga yang terkuras habis.
Ia berpikir mencari alasan apa yang akan dikatakannya ketika Dareen bertanya. Helaan napas berat mengantarkannya ke alam mimpi.